
Lanjut yukk....
Hari Minggu di rumah Arman....
Minggu pagi setelah sholat shubuh Arman kembali merebahkan tubuhnya di ranjang. Pikirannya melayang entah kemana,, Pernikahannya bersama Hani tinggal selangkah lagi..
Hani yang gadis polos teman keponakaannya itu telah sukses mengisi hatinya. Saat melihat Hani tersenyum, rasa bahagia yang sangat besar dia rasakan. Mungkin ini yang namanya jodoh. Karena meskipun pernah mengenal dan dekat dengan beberapa wanita,Arman tak sekalipun merasakan bahagia yang besar, sebesar ketika dia menghabiskan waktu bersama Hani.
Rasa ingin mengayominya sangat kuat pada Hani. Dan yang membuat Arman merasa nyaman adalah kejujuran Hani, sikap yang apa adanya, gadis yang tangguh dan mandiri... meskipun terkadang masih cengeng dan manja. Maklum saja usianya masih 18 tahun.
Sebenarnya Arman merasa kasihan pada Hani. "Mungkin dalam impian Hani ingin mendapatkan seorang suami yang bisa kapan saja meluangkan waktu untuk selalu berada di sisinya. Lain halnya dengan diriku, aku seorang abdinegara,, sebagian hidupku juga untuk bangsaku. Tentu saja aku sangat mencintai Hani sepenuhnya, dan aku juga mencintai tanah airku." batin Arman.
Tak mudah untuk Arman bisa selalu berada di sisi Hani, menemani dia sepanjang waktu, ataupun saling bertukar cerita lewat ponsel setiap saat, setiap waktu, saling mengabari, menanyakan sedang apa, bagaimana, ini itu bahkan sekedar memberi pertanyaan tidak penting yang biasa dilakukan layaknya pasangan muda lainnya. Arman masih belum bisa melakukan hal ini bersama Hani.
Kesibukannya pada pekerjaan yang dia cintai ini terkadang membuat dirinya lupa pada sosok yang setia menunggu kabar darinya. Rasa bersalah yang tertumbuk di hati Arman, ketika melihat pesan masuk dari Hani sedari siang bahkan dia membacanya setelah larut malam disaat Hani telah terlelap bersama mimpi mimpinya.
"Aku heran kenapa gadis ini tidak pernah protes padaku? dia tidak pernah marah padaku bahkan menanyakan mengapa semalam tidak membalas wa ku? hal ini membuatku makin merasa bersalah.. tapi aku bangga padanya dia yang kucari selama ini, sosok seorang istri prajurit yang bersedia mendampingi suaminya dalam segala resiko." Arman mengingat wajah Hani, diraihnya ponsel di atas nakas.
Arman mengetik pesan....
"Assalamualaikum sayang... selamat pagi... sudah bangun ? apakah shubuhnya udah dilaksanain? " Arman mengirimnya pada Hani.
Tak selang beberapa menit pesan masuk di ponsel Arman.
"Waalaikumsalam... sudah mas,,, Hani sudah sholat , bagaimana tidur mas malam ini? " balas Hani dari jauh.
"Lumayan... hanya gak begitu terlalu nyenyak" jawab Arman.
"Loh kenapa bisa,, apakah banyak nyamuk atau mas lagi lapar, biasanya kalo Hani lapar tidurnya gak nyenyak π" Hani kembali membalas.
"Bukan bukan.... bukan karena nyamuk juga bukan karena lapar,, tapi karena sedang rindu seseorang πsaja " tulis Arman sambil senyum senyum sendiri.
"Siapa mas...? " Hani yang mulai curiga pada Arman. Berprasangka bahwa yang membuat Arman tak nyenyak tidur karena merindukan seseorang, dan Hani berpikir wanita itu pasti Tante Resti yang sedang calon suaminya ini rindukan.
"Pasti Tante Resti.....huft... kenapa masih merindukan dirinya,, tapi biarlah wajar saja di rindukan secara memang nyaris sempurna si tante yang bernama Resti itu" batin Hani.
"Seseorang yang telah lama ku rindukan Hani. Aku sangat rindu padanya...apakah kamu tahu Hani.. aku sangat ingin bertemu dengannya.." Arman kembali membuat Hani sedikit emosi.
Namun perkataannya itu tidaklah membuat Arman sadar jika calon istri kecilnya itu salah paham.
__ADS_1
"Kalo mau ketemu, ketemu saja om daripada rindu.. Hani gak papa kok.. " Hani membalas dengan bahasa lembut, meskipun sedikit emosi.
"Beneran gak papa bertemu.. emang boleh? " Arman kembali bertanya. Padahal sebenarnya Arman takut mengganggu gadisnya yang besok akan Ujian Nasional.
"Iya.... " singkat Hani membalas.
"Kalo begitu Mas siap siap dulu yah... Assalamualaikum cantik.. " Arman menutup perbincangannya di wa.
"Waalaikumsalam.... " Hani membalas salam.
Hani menggenggam ponselnya dengan kesal, menghela napas panjang. Pikirannya tiba tiba kalut,,
"Aihhh bukannya sudah mau menikah masih saja merindukan mantan,, bukannya sang mantan juga sudah bersuami... sebegitu besarkah rasa sayang Mas Arman kepada Tante Resti" Dengus Hani sembari memeluk gulingnya. Dan kembali memejamkan mata.
Hari minggu ini, Hani sendiri di rumah bersama Bi Imas. Sedangkan Ibu dan Aldo adiknya sedang pergi ke rumah saudara yang menggelar hajatan.
Setelah sholat shubuh tadi ibu berangkat bersama rombongan Pakdhe Ridho dan keluarganya. Hani memilih tidak ikut karena besok Ujian Nasional dan Hani ingin beristrahat saja H -1 Ujian.
Di tengah lelap tidurnya, Hani mendengar suara motor di halaman. Namun Hani masih setengah sadar, berat untuk membuka mata.
"Siapa datang pagi pagi begini... ahhh barangkali aku mimpi, mana ada sepagi ini tamu,, kecuali pemesan yang mengambil cateringan, dan sudah janjian sama ibu., biar deh ada Bi Imas.. " Hani meneruskan tidurnya karena merasa seperti mimpi dia kembali menarik selimut bergambar "winnie the pooh".
Hani bergerak pelan namun tak membuka matanya. Kemudian dia merasakan ada yang mencium keningnya. Barulah dia sedikit tersadar.
Berusaha membuka beban yang sangat berat di matanya itu. Perlahan...
Hani terkejut bukan main hingga mata yang tadi penuh beban menjadi ingin keluar dan meloncat melihat sosok yang tengah duduk di tepi tempat tidurnya sekarang.
"Mas...... Mas Arman ngapain ada di sini? " tanya Hani masih sambil memegang selimut menutupi tubuhnya.
"Bukannya Mas Arman pergi menemui orang yang mas rindu? kenapa di sini? " Hani kembali tak percaya calon suaminya itu duduk di situ dengan manisnya.
"Lah ini... sedang mas lakukan,.. lihatlah.... pergi menemui wanita yang tidak dapat membuat mas tidur nyenyak semalam."jawab Arman sambil masih mengelus rambut Hani.
"Apakah wanita itu aku? bu...bukan tante itu?" tanya Hani pada Arman dengan mata membulat.
"Tentu saja kamu sayang... kamu yang mas rindu,, maafin mas ya... beberapa hari ini mas sibuk, hanya bisa mengantarmu ke sekolah saja tapi belum bisa menemani Hani pulang sekolah. " jawab Arman sambil mencubit hidung Hani gemas.
"Ohhh begitu,,, iya gak papa mas.. Hani sudah senang kok mas bisa antar Hani dan adik ke sekolah, pulangnya kan sudah mas kasik uang buat naik ojol.. "Hani tersenyum senang.
__ADS_1
"Ahhh ternyata aku sudah suudzon pada Mas Arman." Hani senyum senyum sendiri.
"Sayang hari ini mau ke mana,? Mas ada banyak waktu menemani calon istri mas ini?" tanya Arman yang masih duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan sekeliling kamar Hani.
"Kita di rumah aja mas.. Hani gak lagi pengen keluar rumah besok Senin kan perang... lagian ibu tidak di rumah, Hani harus jaga rumah takut ada yang tamu ibu untuk pesan catering. Oh ya mas ngomong ngomong mas kenapa tiba tiba bisa masuk ke kamar Hani? " Hani baru tersadar.
"Bi Imas yang membukakan pintu, dan mengatakan dirimu kembali tidur setelah sholat, Bi Imas menyuruh datang ke sini saja membangunkanmu Hani. " kata Arman kemudian.
"Ohh begitu... " jawab Hani.
"Terus kegiatan kita apa hari ini di rumah? Ini masih pagi sayang" tanya Arman lagi.
"Kita lihat saja nanti.. " jawab Hani semangat.
"Ya udah ayo bangun tuan putri masak rebahan melulu, nanti mas ikutan rebahan juga. "canda Arman.
Hani akan bangun dari kasurnya, akan tetapi saat akan membuka selimut, kemudian dia ingat bahwa saat ini Hani hanya mengenakan kaos dalaman tank top dan celana pendek sepaha.
Setelah sholat dan mengantar ibunya di depan tadi, Hani yang masih ingin kembali tidur akhirnya melepas pakaiannya. Sudah menjadi kebiasaan Hani tidur dengan baju seperti ini.
Hani malu dan masih menutupi tubuhnya dengan selimut, "Mana mungkin aku bangun baju seperti ini di depan Mas Arman.. malu dan gak sopan" batin Hani.
"Mas... mas tunggu luar ya Hani mau ganti baju dulu, gak enak kalo mas ada di dalam kamar Hani. "Hani memberanikan diri.
Arman menoleh pada Hani lalu memperhatikan selimut yang masih menempel.
"Dek... kamu lagi pake baju seksi yah.. "goda Arman.
Hani tersipu malu,, lalu mengkode Arman untuk segera keluar kamar. Arman berdiri sambil terus tersenyum.
"Kalo keluar kamar, jangan lupa tutupin pintunya ya mas...! "pinta Hani.
"Gadis lugu ini bener bener membuatku gemas, awas saja kalo sudah sah... " Arman berjalan keluar kamar Hani dan menutup pintunya.
Hani segera bangun dan mengganti pakaiannya bergegas.
Hari ini Hani tidak menyangka akan di temani Arman di rumahnya,, Membuat Hani menjadi semangat. Karena Hani menghabiskan waktu dengan memasak sarapan nasi goreng ayam,, membuat kudapan pancake, menikmati tahu isi sayur buatan Bi Imas,, lalu Arman menemani Hani belajar untuk persiapan besok Ujian.
Arman senang karena dia dapat menebus rasa bersalahnya dalam beberapa hari ini. Arman benar benar menjadi penyemangat Hani sekarang ini. Mood boster... πππ
__ADS_1
bersambung dulu yahh ditunggu kelanjutannya.... π