Pernikahan Kilat

Pernikahan Kilat
Bab 47 Kembali tertunda


__ADS_3

Lanjut lagi yahhh....


Markas besar...


Dua puluh menit mobil yang Hani kendarai bersama Pak Acep masuk halaman parkir bataliyon.


Hani sibuk mencari kakak ipar yang katanya sudah sampai terlebih dahulu di sana.


Setelah menelpon Arni, Hani pun mengikuti petunjuk yang diberikan Arni untuk sampai di tempatnya menunggu saat ini.


Di lihatnya di sana, Kakak ipar perempuannya, bersama ibu dan adik laki lakinya sudah duduk menunggu kedatangan Hani. Kali ini mereka menjemput tanpa Shasa dan Arya.


Shasa masih ikut proses tes kedinasan sedangkan Arya memang berdinas di luar kota, seminggu sekali baru bisa pulang ke kotanya.


Lama Hani menunggu bersama keluarganya. Hati Hani resah memandang benda persegi panjang itu, seolah olah hanya benda itu saat ini yang menarik hatinya.


Mbak Arni, Ibu Hani masih sibuk mengobrol, Aldo sibuk dengan ponsel barunya. Hani menghela napas panjang, mengapa aku tidak sabar ya. menunggu kali ini membuatku hampir gila.


Matanya memandang ke jalan beraspal, terhenti ketika melihat mobil patwal memasuki area bataliyon, disertai beberapa truk militer di belakangnya. Akhirnya yang ditunggu tunggu datang juga. Mata Hani berbinar.


Tak hanya Hani, Aldo pun antusias dan memberikan ponselnya pada Ibu Hani lalu mendekat pada kakaknya yang sedari tadi berdiri dekat mobil.


Pasukan turun dari truk militer, berjalan membentuk barisan, mereka di sambut dengan komandan bataliyon, dan apel pembubaran pun di laksanakan dengan lancar.


Keluarga besar dari prajurit yang ikut bertugas sudah bersiap siap bertemu.


Pembubaran pasukan di sertai yel yel penyemangat.. satu persatu dari mereka mendapat ucapan selamat dari komandan. Acara selesai, Hani dan keluarga menjadi penonton dari kejauhan. Karena seragam dan wajah mereka yang corak oleh coretan body painting maka susah untuknya mencari suaminya itu.


Sampai tiba tiba sosok tinggi besar, berdiri di hadapannya.


"Hani..... " ucap laki laki tersebut yang tak lain adalah Arman. Hani masih ragu, memandang takut salah.


Arman memeluk Hani tiba tiba. Hani bengong ternyata benar dia Arman, laki laki yang menikahinya 4 bulan berjalan.


"Ini mas Arman dek... kamu cantik dengan penampilan baru ini.. " Arman melepas pelukannya dan memandang Hani.


Hani kini tampil berbeda, kali ini dia telah mengenakan hijab. Arman senang sekali karena tahu Hani mengikuti saran Arman beberapa waktu lalu saat Arman dan Hani tengah menjalani proses pengajuan nikah. Arman yang tidak begitu suka melihat Hani menjadi pusat perhatian beberapa rekan rekannya. Tak bisa di pungkiri, Hani yang imut itu mampu menarik perhatian laki laki. Seakan tak rela gadisnya di lihat, Arman mencoba meminta Hani menutup auratnya setelah menikah nanti dan itupun jika Hani benar benar siap melakukannya.

__ADS_1


Dan ini hadiah termanis buat Arman, isterinya pun memenuhi permintaannya tersebut.


Lama saling berpandangan., Hani pun segera mengajak Arman menemui ibu, mbak Arni dan Aldo yang menunggu di dekat mobil mereka.


Rasa rindu terobati sudah di saat keluarga mereka saling bertemu. Ucapan syukur tiada henti mereka panjatkan, karena Arman dan pasukannya kembali tanpa kurang suatu apapun juga.


Setelah puas melepas rindu di sana, Arni mengajak sahabatnya Mita dan Aldo untuk pulang bersama Pak Acep dengan mobil Arni. Sementara Arman membawa mobilnya sendiri bersama Hani pulang ke runah Cendana.


"Dek... Insyaallah besok sore hari Sabtu akan ada acara syukuran di sana, kebetulan Mas Arya kan pulang, undanglah beberapa temanmu, nanti mbak kabari lagi, " Arni berpesan pada Hani. Hani pun mengangguk paham.


Suasana sepanjang perjalanan begitu hening. Entah memulai darimana kedua insan yang dirundung rindu ini sama sama membisu. Wajar saja... hubungan mereka ini begitu cepat terjalin, gak sempat untuk pacaran, hanya bertemu saat antar sekolah, dan jarang jemput karena sibuk kegiatan latihan. Untuk jalan berdua saja sangat susah di lakukan, intinya mereka tidak melalui proses yang namanya pacaran. Jadinya Hani sedikit canggung sementara Arman merasa kaku harus memulai dari mana. Heran juga padahal udah menikah masih canggung juga.


"Dek.. masak apa di rumah?" Arman sukses memecah keheningan itu.


"Emmm anu mas... tadi Hani siapin lalapan, ada lele tinggal goreng aja, nanti Hani buatin sambel yah.. " Sahut Hani mencuri curi pandang pada Arman.


"Wah jadi lapar dek.. gas deh...." seru Arman sambil melajukan mobil kesayangannya itu dengan sedikit menambah kecepatannya.


Setibanya di rumah, Arman memarkirkan mobilnya, da mereka berdua masuk ke dalam rumah. Arman bergegas mandi karena badannya sudah gerah banget, sementara Hani menuju dapur, dan dengan cepat menyiapkan hidangan untuk suaminya itu.


"Enak juga yah... punya istri, mau makan ada yang nyiapin, baju pun sudah tertata rapi. " Arman menuju kamar mandi.


Hani sibuk menggoreng lele dan tempe di dapur, Tiba tiba Arman datang dari belakang dan memeluk tubuh kecil Hani.


Hani terkejut dan sedikit berteriak, karena memang tidak menyadari jika suaminya datang tiba tiba dan memeluknya dari belakang.


"Kangen nih.... emmm cantiknya istriku dengan hijab ini" puji Arman masih memeluk Hani.


"Ahhh mas ada ada saja... makasih mas. oh ya mas ini udah siap ayo maem dulu, katanya lapar.. " kata Hani selesai menggoreng lauk pauk untuk Arman.


Arman dan Hani duduk di meja makan, mereka berdua makan dengan lahapnya, karena Hani juga belum sempat sarapan tadi pagi. Setelah makan dan membereskan meja makan. Hani ijin untuk mengganti pakaianan pada Arman yang masih makan buah di meja makan.


Hani di kamar, memilih pakaian santai, dan menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.


Arman yang sudah selesai menyusul Hani ke kamar. Dan berbaring di ranjang miliknya..


"Ahh betapa enaknya... sudah sekian lama sampai lupa rasanya tidur di kasur empuk.. " batin Arman.

__ADS_1


Hani selesai berganti pakaian, kemudian menyisir rambutnya yang panjang sepinggang. Arman memperhatikan istrinya itu.


Segera dia turun dan menghampiri Hani. Tanpa basa basi Arman menggendong Hani yang tengah duduk di depan meja rias.


Hani hanya diam melihat kelakuan suaminya itu. Arman mendudukkuan Hani di ranjang.


Di sibaknya ke belakang telinga rambut Hani.


Dipandang sejenak, kemudian mencium bibir Hani yang lama dia rindukan.


Hani yang tidak siap menerima ciuman itu hanya terdiam dan memegang lengan suaminya.


Ciuman Arman makin memanas, dia lepaskan rindu yang telah lama dia tahan. Hani yang mulai bisa mengimbangi ciuman Arman semakin membuat Arman bersemangat...


Ciuman Arman turun menuju leher jenjang Hani. Terus bergerak hingga tangan Arman menyentuh kedua barang pribadi Hani yang ranum. Arman menyelusupkan tangannya ke dalam kaos Hani. Hani yang kini sudah menjadi isterinya hanya diam pasrah menerima perlakuan Arman. Karena dia juga memang sama sama saling merindukan.


Saat napas Arman mulai tak terkendali dan ingin membuka kaos Hani. Hani sedikit mendorong tubuh Arman, mengkode untuk mengakhiri.


Arman menghentikan aktifitasnya, lalu memandang Hani dan berkata.....


"Maaf sayang.. mas terlalu bernafsu... apakah mas bisa meminta hak itu sekarang?"


Hani menunduk dan merasa tidak enak pada Arman.. "Maaf mas bukan begitu, Hani masih belum siap saat ini.. Hani... Hani.... Hani sedang halangan sekarang mas, maaf mas harus sabar dulu. "Hani mencoba berusaha menjelaskan pada Arman agar tidak tersinggung.


Deg....


Ambyar sudah keinginan Arman.... Dia harus kembali menahan untuk meminta haknya pada Hani yang sedang kedatangan tamu.


Namun Arman pria yang bijak, dan tak lantas menunjukkan kekesalannya itu di depan Hani.


Dia tersenyum, kemudian mencium pipi Hani membetulkan kembali kaos Hani yang sedikit terangkat ke atas karena ulahnya.


"Mas akan sabar untukmu dek... sekarang temani mas istirahat yuk.. " Arman mengajak Hani berbaring di sampingnya. Hani merasa kasihan pada Arman, harusnya dia bisa memberikan yang Arman minta karena sudah kewajibannya, namun apa hendak di kata... tamu tak diundang muncul tadi pagi bersamaan dengan kedatangan suaminya dari tugas.


"Malam pertamaku tertunda lagi... " batin Arman sembari tersenyum dan memeluk istrinya disamping. Mengecup mesra kening Hani. Hani memeluk Arman dengan erat. Tak lama mereka berdua pun lelap dalam tidurnya.


Bersambung dulu yah... 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2