Pernikahan Kilat

Pernikahan Kilat
Bab 38 Akad Nikah...


__ADS_3

Ketemu lagi... yuk dilanjut..


Hari pernikahan Hani dan Arman.. 👫*


Keesokan paginya, masih di rumah Hani.


Akhirnya tiba Hari Sakral ini, Hani yang sudah siap dengan busana kebaya pengantin warna putih dipadu kerudung yang menjuntai panjang, aroma bunga melati yang semerbak, menambah kecantikan wajah Hani.


Ibu yang berdiri di samping Hani berusaha menahan airmata itu. Dia tidak ingin putrinya melihat airmata itu. Karena airmata ini airmata sedih mengingat almarhum ayah Hani dan Aldo.


"Kamu cantik nduk... elingo... sebentar lagi awakmu jadi seorang istri. Seorang Istri iki kudu patuh lan setia. Ojo sak karepe dhewe ojo nggawe wirange wong tuwo. Yo nduk.. " nasehat Ibu Hani dalam bahasa Jawa.


Hani mengangguk paham, sambil tersenyum menghampiri ibu dan Aldo lalu memeluknya.


Sejenak terpaku dalam haru, tiga sosok manusia itu menghabiskan rasa itu sebelum acara berlangsung. Hingga membuat perias pengantinnya ikutan terharu.


Tok... Tokk... Tokkkk.....


Seseorang mengetuk pintu,, memberitahu bahwa mobil penjemput pengantin sudah datang. mereka bertiga bergegas keluar kamar Hani.


Pernikahan akan di langsungkan di masjid. Masjid Agung yang letaknya tidak jauh dari rumah Hani.


Sebuah mobil sedan warna hitam dihias bunga indah di ujungnya. Mobil penjemput pengantin wanita sengaja dipersiapkan oleh keluarga Arman untuk membawanya ke lokasi akad nikah.


Hani masuk mobil bersama ibu dan Aldo.


Di lihatnya sang sopir.. ternyata Om Agus.. teman calon suaminya. Hani mengangguk sambil tersenyum menyapa. Ternyata sahabat Arman ini mendapat kepercayaan menjemput calon mempelai.


"Selamat pagi bu.. apakah sudah siap.. ? kita akan segera berangkat ke masjid." Agus menyapa Ibu Hani sambil melihat Hani yang duduk di bangku belakang. Sementara Aldo duduk bersamanya.


"Iya nak... silahkan. " jawab Ibu Hani.


Agus melajukan mobilnya dengan perlahan, diikuti beberapa mobil dibelakang mobil pengantin, rombongan dari kerabat Hani yang akan ikut serta menghadiri.

__ADS_1


Mobil pengantin memasuki halaman masjid. Nampak beberapa orang keluarga Shasa menunggu disana. Hani dan kerabatnya segera turun dan menuju masjid.


Tak di lihatnya kekasih Hani. Hani mencoba mencarinya di antara kerabat Shasa yang menyambut. Namun tak terlihat sosok Arman disana. Hanya beberapa sahabat dan rekan Arman dengan berpakaian dinas turut hadir disana.


Hani di ajak masuk ruangan sisi Masjid Agung, dan duduk di sana.


Beberapa saat..


Terdengar suara Aldo, adik laki laki Hani bersuara.. Ahhh rupanya Aldo melakukan tugasnya sebagai saudara laki laki untuk menikahkan kakaknya., dia menyerahkan pada wali hakim untuk menikahkan kakak perempuannya itu. Dia mewakili ayahnya.. Iya... karena harusnya ayah Hani yang menikahkan, kini Aldo lah wali Hani.


Tak terasa airmata Hani mengalir...


"Sudah dewasa cara berpikir adikku... terima kasih dik sudah memberikan tanggung jawab itu.. " lirihnya.


Masih di dalam ruangan sisi masjid Hani bersama perias duduk di sana. Sedangkan ibu dan kerabat yang lain duduk di luar menjadi saksi acara akad.


"Saya terima nikah dan kawinnya Hani Ananta Puteri binti Hardi Ananta dengan mas kawin tersebut di bayar TUNAI"


Sah.......... lantunan doa terdengar menggema di sisi lain ruangan masjid. Hani hanya dapat mendengarnya dengan trenyuh dan mengangkat kedua tangannya turut berdoa.


Tak lama kemudian, terdengar suara seseorang melangkah ke arah ruangan Hani. Dan ternyata Shasa, Felli dan kerabat Shasa datang membawa Hani untuk bertemu dengan Arman yang sekarang sah menjadi suaminya.


"Amboii cantiknya istri Arman ini, tak salah dia pilih istri.. samawa ya nak" kata salah satu kerabat Shasa memperhatikan Hani.


Hani tersenyum manis dan menyambutnya dengan salaman.


Shasa dan Felli mengajak Hani keluar...


"Kemana saja kalian .. tadi kenapa tidak bersamaku? aku ditinggal sendiri... " bisik Hani kepada kedua sahabatnya yang mengapit dirinya berjalan menuju ruang masjid utama.


"Aku masih harus mengabadikan momen ini sayang... aku lagi mendampingi om ku satu satunya yang sudah kamu rebut hehe" kata Shasa sambil mengangkat kedua jarinya ✌


Sesampainya disana... Hani melihat sosok yang dia rindu, rindu karena beberapa hari ini mereka lalui tanpa komunikasi. Dia nampak gagah dengan setelan jas dinas resminya. Arman tidak memakai jas pernikahan tetapi dia mengenakan seragam dinas berjas resmi.

__ADS_1


Semua mata memandang ke arah Hani yang berjalan anggun. Di liriknya di barisan tamu undangan pria, banyak rekan Arman berpakaian dinas, serta ada Pras dan Roni yang sibuk mengambil gambar. Demikian pula di sisi tamu undangan wanita., semua sibuk mengambil gambar dirinya.


Arman menoleh ke belakang, berdiri menyambut mempelai wanitanya,, dan menatap ke arah Hani, yang datang ke arahnya dengan mengenakan kebaya putih dengan kerudung ornamen batu permata yang sederhana namun terkesan elegan.


"Masyaallah... terimakasih Gusti menganugerahkan hal terindah dalam hidupku " batin Arman.


Arman menyambut Hani. Hani tidak berani menatap Arman dari dekat. Jantungnya tidak henti berdebar.


Saatnya menerima nasehat pernikahan dari penghulu dan saksi nikah yang tak lain atasan Arman dan Pakdhe Hani.


Setelah itu Arman menyematkan cincin nikah di jari Hani. Sedangkan cincin pertunangan dari Arman telah lebih dulu di pindahkan ke jari kanan Hani. Arman menyerahkan mas kawin. Hani mencium punggung tangan suaminya, setelah menerima Maharnya. Kemudian Arman mengecup kening istrinya.. Mereka bersua foto dengan buku nikah seperti layaknya pasangan yang menikah.


Kemudian kedua pasangan di tuntun untuk sungkeman kepada kedua orangtua mempelai. Ibu Hani.. kemudian Mbak Arni kakak Arman dan Mas Arya suaminya.


Banyak wejangan yang di berikan pada pasangan pengantin baru ini.


Ucapan selamat mereka dapatkan dari rekan, kerabat dan sahabat. Tak lupa sahabat Hani berfoto bersama, meskipun Pras sedikit canggung namun dipaksanya tersenyum bahagia berfoto di samping Hani.


Hani menepati janjinya, dia memberikan bunga pengantin kepada keempat sahabatnya itu. Hani sengaja mengambilnya dari buket bunga tangan yang dia pegang. Biar adil begitu rupanya pemikiran Hani bijaksana.


Akhirnya acara telah selesai. Beberapa kerabat memohon pamit. Ibu Hani, Aldo dan Bundanya Shasa juga pulang menuju rumah masing masing., karena akan mempersiapkan diri untuk upacara pelepasan pasukan yang bertugas ke Papua. Hani dan Arman kembali pulang ke rumah Arman bersama dengan mobil pengantin.


Beberapa waktu kemudian Hani sudah sampai bersama Arman dan Agus yang membawa mobil pengantinnya.


Arman dan Hani turun dari mobil, dengan di bantu Agus. Arman mengucapkan banyak terimakasih kepada Agus yang sudah menemaninya hingga usai acara, menjemput Hani dan keluarga di rumah.,sampai mengantarnya pulang ke rumah Arman.


"Makasih bro... atas bantuannya... aku tidak akan lupa begitu saja. " kata Arman memeluk Agus saat Agus berpamitan pulang.


"Sudahlah bang... kita seperti saudara disini.. abang sudah ku anggap seperti kakakku sendiri... Samawa ya bang... Mbak Hani selamat yah sekali lagi.. titip Abang kesayangan kami... " Pesan Agus sambil menyalami Hani.


"Baiklah bang... bersiaplah karena sebentar lagi kita akan bersiap upacara." Agus juga bersalaman pada Arman dan segera pergi.


Hani mengucapkan terimakasih dan tersenyum pada Agus, turut mengantarkan Agus.

__ADS_1


Bersambung dulu yahhh ditunggu kelanjutannya...


__ADS_2