Pernikahan Kilat

Pernikahan Kilat
Bab 17 Ikut Alur


__ADS_3

Lanjut....


Setibanya di tempat langganan cilok Hani, Arman menghentikan motornya.


Hani pun turun dari motor dengan berpegangan pundak Arman.


" Om mau yang pedas gak? mau di campur tahu gak? " tanya Hani pada Arman.


"Sedang saja jangan terlalu pedas dek... campur tahu boleh juga. " Jawab Arman masih di atas motornya.


Hani mengangguk kemudian berjalan meninggalkan Arman yang akan memarkirkan motornya.


Hani menuju si penjual cilok langganannya.


Hani dan sahabat sahabatnya sering nongkrong di seputaran alun alun kota untuk sekedar membeli cilok yang letaknya di dekat taman kota, Tempat khusus pedagang kaki lima berjualan.


" Pak... ciloknya 3 ya lima ribuan., campur tahu ya pak.. "kata Hani semangat, sambil memberikan uang lima belas ribu rupiah kepada Pak cilok. Hani membelikan Aldo satu bungkus, karena adiknya itu juga suka cilok.


" Oke neng... bumbunya apa nih? " tanya penjual cilok.


" Campur kacang pak,, punyaku pedas ya, yang dua sedang saja.. " jawab Hani.


" Oke... siap.. " kata penjual cilok segera melayani pembelinya.


Arman menyusul Hani yang tengah asyik memperhatikan penjual cilok meracik cilok pesanannya.


" Emmm lezat nihhh... " gumam Hani.


Tiba tiba tanpa Hani sadari Arman sudah berdiri tepat berada di belakang Hani.


Hani yang bingung dengan calon suaminya itu bertanya... "Om kok di belakang Hani sih sini di samping aja,, "


Hani menarik tangan Arman. Namun Arman tidak berpindah di sampingnya. Justru menggenggam tangan Hani dengan posisi tetap di belakang Hani berdiri.


Arman memegang tangan Hani dari belakang. Seraya berbisik...


"Sayang... lagi datang bulan kah? Kenapa ada noda darah di rok kamu dek, Kamu tadi tidak menduduki apa apa kan selama di rumah Shasa..? " Arman berbisik agar penjual ciloknya tidak mendengar.


Sontak saja wajah Hani memerah dan kaget.


" Ommmm.... " kata Hani malu.


Belum sempat Hani menoleh ke roknya ke belakang, Arman pun melarangnya.


" Diam saja jangan berbalik ya.. " kata Arman pada Hani, kemudian Arman melepaskan jaketnya, memakaikannya pada pinggang Hani hingga menutupi rok Hani.

__ADS_1


Iya.. Hani tidak terasa jika datang bulan. Saat Arman berjalan menuju Hani yang tengah membeli cilok, dia melihat rok Hani ada sedikit noda darah di situ. Arman mengira Hani sedang datang bulan. Tapi ternyata justru Hani tidak menyadari jika dirinya sedang haid.


Untung saja di sekitar situ masih sepi pembeli.


" Pantas saja perutku sakit ...kram om... " bisik Hani pada Arman yang mengikatkan jaketnya pada pinggang Hani., dengan posisi masih di belakang tubuh Hani.


Arman tersenyum dan berkata... " Gak papa dek... untung gak ada yang lihat".


Hani deg degan, bunyi jantungnya terdengar keras, Arman tersenyum muncul pikiran bandel dan menggoda calon istrinya itu. Arman meniup lembut tengkuk Hani, Hani pun merinding dan senyum senyum malu.


" Jangan gitu om... malu " Kata Hani tersipu. Hani menarik tangan Arman untuk agar berdiri di sampingnya, karena Arman rasa rok Hani sudah aman dari pandangan orang lain


yang tertutup jaket, maka Armanpun pindah di samping kekasih kecilnya itu.


Setelah selesai cilok di bungkus kemudian di serahkan kepada Hani. Arman yang akan mengeluarkan dompetnya, di halangi Hani dan berkata.. " Hani udah membayarnya om"


Lalu mereka berdua segera pergi meninggalkan tempat itu, Sebenarnya Hani masih ingin duduk duduk di sana,menikmati sore sambil maem cilok. Pengalaman pertama ku harusnya bareng orang yang mulai dia sayangi.


Tetapi keadaannya berbeda sekarang, gara gara bocor akhirnya gagal deh.


Mereka berdua segera pulang, dan berniat memakan ciloknya di rumah Hani saja bersama Aldo.


Sepanjang jalan Hani merasa senang, sekaligus malu. Begitu perhatiannya Arman pada dirinya. Benar benar menjaganya dengan baik. Semoga saja Allah menjodohkanku dengannya sampai surga. Aamiin 👫🤲


Sesampainya di rumah, Hani membuka pintu dan mengucap salam, kemudian mempersilahkan Arman masuk dan duduk.


Hani menuju dapur, ternyata hanya ada Bi Imas di sana.


" Bi... ibu dan adik kemana? " tanya Hani.


" Ibu mengantar pesanan mbak, kalo Mas Aldo nya mengaji. " jelas Bi Imas.


Hani tersenyum dan berterimakasih pada Bi Imas. Lalu Hani mengambil 2 gelas untuk membuat sirup.


" Ada tamu tah mbak? biar sini Bi Imas saja yang membuatkan " tanya Imas pada Hani.


"Ada Om Arman bi..Biar saya saja bibi kerjain yang lain ya. " jawab Hani sopan kemudian Hani menaruhnya di baki, dan membawanya keluar.


Imas yang melihat Hani tersenyum dan bergumam... " Masak ke calon suaminya manggil om,, ada ada saja mbak Hani ini, "


Hani melihat Arman tersenyum dan meletakkan baki di atas meja lalu mempersilahkan Arman untuk minum.


"Om.. Maaf ya Hani tinggal dulu ke dalam... mau mandi sebentar.. Aldo masih ngaji om,, silahkan di minum dulu sirupnya. " Kata Hani pada Arman yang tadi sempat mencari Aldo untuk di ajaknya ngobrol.


Arman mengangguk paham. Lalu Hani segera meninggalkan Arman sendiri di ruang tamu.

__ADS_1


Tak selang berapa lama, Hani sudah kembali ke ruang tamu untuk menemui Arman.


Arman yang melihat Hani tersenyum dan memandangnya.


" Loh om ayo di minum sirupnya kenapa di biarin aja,,, yuk om di makan ciloknya.." kata Hani sambil mengeluarkan cilok dari dalam plastik kresek.


Arman mengangguk lalu mengambil cilok yang di sodorkan Hani. Di lihatnya Hani yang asyik makan cilok.


" Makin imut jika makan... bener bener gemes" batin Arman.


"Pelan pelan dek... " kata Arman sambil mengusap bumbu yang tercecer di ujung mulut Hani.


Hani kaget dan menghentikan makannya. Saling memandang sesaat, sejenak Hani tersadar dan keduanya tertawa bersama lalu melanjutkan makannya.


Malam harinya.. di rumah Hani..


Setelah makan malam, Hani belajar di kamarnya,... sedangkan Aldo dan ibu serta Bi Imas akan menonton drakor di TV. Acara yang memang mereka tunggu.


Malam itu mereka sibuk masing masing dengan kegiatannya. Ibu sambil beristirahat menghibur dirinya dengan menonton drakor. Sedangkan Hani sibuk dengan belajarnya karena Senin sudah try out.


Hani berusaha fokus ujian, ingin mendapatkan nilai terbaik. Meskipun sekarang mungkin tujuan dan alur hidupnya akan berubah semenjak perjodohan itu. Keinginannya untuk tetap bekerja setelah sekolah masih tetap melekat, namun sekarang apakah boleh dan diijinkan bekerja jika dirinya telah menikah dengan Arman.


Semua masih menjadi misteri,dan Hani tidak punya keberanian untuk menanyakan langsung pada Arman, karena memang belum ada ikatan resmi antara dirinya dan Arman.


Seminggu kemudian...


Hani, Shasa dan teman temannya telah selesai melalui try out. Kini mereka tengah mempersiapkan Ujian lainnya dan Ujian Ujian Praktek di sekolah.


Akan tetapi mereka tetap berusaha, menjalani ujian dengan penuh semangat.


Jumat sore.. di rumah Hani..


Ibu memanggil Hani di teras rumah.


Hani duduk di samping kiri ibunya, sedangkan Aldo duduk di samping kanan.


" Hani... besok keluarga Nak Arman akan datang kemari untuk melamarmu.. "kata ibu pada Hani.


Hani terdiam ..." Kenapa secepat ini bu? "


"Bukankah Ibu Shasa sudah mengatakan jika Shasa telah keluar rumah sakit maka akan menyegerakan melamarmu nak.. Hani besok siap siap ya... " jelas ibunya sambil tersenyum.


Hati Hani senang tapi juga sedih bercampur jadi satu. Rasa nano nano.


Hani ingin membahagiakan ibunya di sisi lain Hani juga ingin bekerja dan kuliah.

__ADS_1


Biarlah semua berjalan mengikuti alur.....


bersambung dulu ya...


__ADS_2