
Lanjut yah
Suasana di meja makan....
Setelah semua sudah siap, Arman pun memanggil Shasa dan teman teman Arman. Sedangkan Hani yang memang sudah beneran lapar menunggu di meja makan sembari menuangkan air di gelas.
"Wahhhh makan besar nihhh...... " kata Shasa senang. Hani pun yang melihat kedatangan Shasa segera melambaikan tangannya,, "Bergegaslah Sha... lapar " Hani sambil memegang perutnya.
Teman teman Arman pun segera bergabung, Suasana sore itu begitu menyenangkan. Mungkin ini pengalaman pertama kalinya Hani makan bersama orang lain tapi tidak meninggalkan kesan persaudaraan. Serasa pulang ke rumah saudara di kampung.
Setelah acara makan selesai, Hani dengan di bantu Shasa segera membereskan makanan dan piring piring di meja.
"Biar kita yang beresin om tenang aja... Om silahkan tunggu di ruang tengah saja" kata Shasa pada Arman.
Arman hanya mengangguk, lalu pergi meninggalkan meja makan. Sekilas Shasa melihat tangan Hani yang melepuh terkena minyak panas tadi.
"Hani mengapa bisa sampai bisa begitu.. " Shasa menarik tangan Hani dan melihatnya.
Gak papa kok Sha cuman kenak minyak dikit tadi waktu menggoreng ayam, ini udah biasa tak jarang aku mendapatkan hal sperti ini saat membantu ibu di dapur" Hani menarik tangannya dan segera berlalu menuju dapur.
Shasa segera menghampiri Arman yang masih tengah berbincang dengan Agus Dafa dan beberapa temen yang lain.
"Om.... sebentar ada perlu.. " Shasa mengkode Arman.
Arman yang melihat keponakannya itu segera berdiri dan mendekati Shasa.
" Tangan Hani kena minyak panas om punya salep gak..? " tanya Shasa.
"Ya Allah lupa ..Shasa Om lupa tadi om akan memberikan salep pada Hani, namun Hani menolaknya karena Hani ingin segera makan" jawab Arman berlalu dari depan Shasa.
Shasa mengekor omnya itu.
Arman menuju kotak P3K di ruang tengah.lalu mengambil salep untuk luka bakar. Dan mencari Hani yang masih mencuci piring di dapur.
Di dapur...
Hani yang asyik mencuci piring sambil mendendangkan lagu Mahen.... tidak mendengar langkah kaki Arman dan Shasa.
jangan lagi rindu cinta ku tak mau ada yang terluka,, bahagiakan dia aku tak apa... Biar aku yang pura pura lupa........
__ADS_1
Arman yang mendengar suara merdu Hani berhenti sejenak ikut menikmati nyanyian gadis polos itu.
"Om Arman kenapa? " tanya Shasa melihat wajah tampan omnya itu. "Ahhh tidak tidak.. tidak papa kok.. suaranya bagus ya nduk.. " kata Arman pada Shasa.
"Wajar om.. Hani kan juara nyanyi terus.. pastilah suaranya merdu.. " Shasa menjawab santai.,, lalu segera menghampiri Hani yang tidak menyadari kehadiran dua orang itu.
"Belum selesai ? sini ku bantu Hani,, kamu di carik Om tuh... " Shasa menunjuk Arman yang berdiri di depan pintu dapur.
Hani menoleh terkejut dan melihat wajah Shasa bertanya tanya. Shasa yang tahu arti tatapan sahabatnya itu mengkode agar Hani segera ke Arman.
Hani berjalan menuju Arman. Arman menatap Hani.
" Nih wajah kenapa tiba tiba serius banget yah.. tadi di dapur dan di meja makan masih fine fine aja... Apa aku bikin kesalahan" batin Hani.
Hani pun jadi gak enak hati pada Arman.
Setelah Hani sampai di depan Arman tanpa banyak bicara Arman menarik lengan Hani dan mengajak Hani duduk di meja makan. Hani hanya diam saja, lalu Arman menatap Hani dengan tajam. menghembuskan napas panjang,, mengoleskan salep ke tangan Hani dengan lembut, tapi tatapan matanya masih serius.
"Aauuuuu.... perih " Hani mengeluh pelan karena takut melihat wajah serius Arman. Dan tidak berani melihat wajah Arman.
Arman yang mendengar keluhan Hani sedikit gugup lalu meniup niup tangan Hani yg terkena minyak panas tadi...
"Ommmmmm...... maaf " kata Hani kemudian. Memberanikan diri berbicara dengan hati hati bagaimanapun juga dia baru mengenal sosok orang di depannya itu.
Arman yang mendengar Hani berbicara tidak menghentikan aktifitasnya. Dia tetap melanjutkan mengobati dan meratakan salep di tangan Hani.
Hani berkata lagi pada Arman.. " Om kenapa? marah ya...,, maafin Hani ya om kalo Hani punya salah, maafkan Hani yang sudah merepotkan om, maafkan Hani jika banyak bertingkah ,,,maafkan Hani yang... "
Arman menatap tajam ke arah Hani, sehingga Hani menundukkan wajahnya tidak berani memandang wajah serius Arman.
Hani pun tak melanjutkan pertanyaannya.
"Dek.... lain kali kalo terluka jangan menolak untuk di obati seperti tadi. kalau sampai lukanya parah dan serius bagaimana? " tatap Arman tajam.
" Hah... hanya masalah kecil seperti ini saja om udah kayak mau memangsa orang,Hani kira Hani membuat kesalahan besar om..luka sperti ini Hani sudah biasa kok omm..
" Hani yang tadinya takut kini cemberut. Bibir tipis nya pun monyong sperti bebek.
Arman yang melihat wajah cemberut gadis itu ingin sekali tertawa, Tapi dia tahan karena Arman ingin membuat Hani menyadari kesalahannya.
__ADS_1
" Ya sudah lain kali jangan di ulang ya dek.. tidak baik punya sifat keras kepala itu. " nasehat Arman.
Hani hanya manggut manggut saja., mencoba mencuri curi pandang ke arah Arman.
" Sekarang bagaimana dek...apa masih sakit?" tanya Arman memandang Hani. Hani yang melamun memandang wajah Arman menjawab tanpa sadar..
" Dingin.... " sambil terus mengagumi ketampanan tentara itu dari jarak dekat. Arman terkejut dengan jawaban Hani. " apanya yang dingin? " pikir Arman.
" Oh maaf om... dingin yang dingin ini salepnya .." Jawab Hani gugup sambil menunjukkan tangannya yang di oles salep. Memang salep yang dipakai Hani terasa dingin di kulit.
"Padahal yang dingin tuh wajah Om Arman" batin Hani " Ahh gila bagaimana bisa aku menyukai pria dewasa ini"
Arman tersenyum, sambil menutup salep kemudian menyerahkan kepada Hani dan menyuruhnya untuk memakainya lagi nanti jika sudah pulang ke rumah.
Bersama itu Shasa yang sejak tadi berdiri di pintu dapur selesai mencuci piring merasakan keanehan. "Aneh Hani dan Om Arman tiba tiba kenapa mereka ya.. "
Shasa kenal betul sifat keduanya jika tidak benar benar mengenal dekat mereka tidak akan berbicara dengan jarak begitu dekat, apalagi saling bertatapan seperti itu. Bukannya Om dan Hani baru pertama kali bertemu ya, tapi begitu cepatnya mereka berteman layaknya kakak adik.
Hani gadis yang supel dan periang memang suka sekali berteman tapi dia selalu membatasi teman laki laki yang berusaha mendekatinya. Dan Shasa tau betul alasannya.
Sedangkan Om Arman sampai seusia begini masih saja sendiri, masih betah menjomblo.
Mana mungkin ada gadis yang menolak melihat om nya,, tampan, baik dan sudah mempunyai pekerjaan yang membanggakan meskipun Omnya terkadang selalu serius dalam berbagai hal dan sedikit membosankan tapi masak sih gak ada yang mau sama Om Arman. Seingatku Om gak pernah deket sama cewek.. ihh masak iya sih pikiran Shasa bertanya tanya.
Shasa segera menuju ke meja makan lalu ikutan duduk,. Hani yang mendengar adzan magrib mengingatkan kepada keduanya untuk segera sholat. Lalu mereka semua sholat berjamaah bersama teman teman Arman juga. Usai sholat Hani berpamitan pada Arman dan mengajak Shasa pulang.
Arman yang tidak tega melihat dua gadis gadis polos itu pulang dengan motor, karena sudah malam berinisiatif mengantarkan keduanya dengan mobil. Motor Shasa di tinggal di rumah Arman.
Sementara itu teman teman Arman ikut berpamitan juga kembali ke asrama.
Ketiga makhluk Tuhan itu terdiam di dalam mobil. Shasa sudah memberitahu alamat rumah Hani pada Arman. Mereka menikmati pemandangan malam dan terangnya lampu jalan.
Rumah Hani yang searah dengan rumah Arman tak memerlukan waktu lama sampai tiba disana.
Hani turun dan mengucapkan terimakasih dan mengajak mereka mampir. Shasa yang merasa tidak enak pada Tante Mita karena pulang agak malam ikut turun, begitu juga Arman turut mengantar Hani sampai di depan rumahnya.
bersambung...
kepoin terus kisahnya ya sahabat 😍
__ADS_1