Pernikahan Kilat

Pernikahan Kilat
Bab 31 Persiapan.. lancar


__ADS_3

Ketemu lagi, lanjut yuk...


Setelah pengumuman kelulusan...


Setelah pengumuman kelulusan beberapa waktu yang lalu, hampir semua siswa sibuk untuk memilih ke jenjang pendidikan selanjutnya, memilih Perguruan Tinggi, mengikuti tes kedinasan, sesuai dengan pilihan masing masing.


Lain hal nya dengan Hani, Hani kini tengah sibuk dengan persiapan pernikahannya. Meskipun begitu dia merasa bahagia, ini adalah pilihan hidupnya. Bisa menikah, dan untuk membahagiakan ibu dan keluarganya Hani sudah bisa puas. Hanya saja ada sedikit rasa yang mengganjal di hati. Dan ingin Hani sampaikan kepada calonnya nanti.


Pagi ini di rumah Hani...


Hani tengah bersiap siap di kamar, Arman akan datang menjemputnya. Hari ini akan ada prosedur yang harus Hani dan Arman jalani di kantor Arman sebagai syarat ijin pernikahan.


"Assalamualaikum..." terdengar suara Arman di luar. Hani sampai tidak mendengar suara mobil Arman yang sudah sampai rumah.


"Waalaikumsalam.. Mas Arman.. Kak Hani Mas Arman datang.. " Kata Aldo sedikit berteriak, karena Hani masih di kamar.


Ibu yang sedari tadi sibuk dengan pesanan keluar dari dapur menyambut Arman dan mempersilahkan masuk.


"Nak Arman sudah sarapan ?" tanya Mita pada Arman.


"Sudah bu, sebelum berangkat tadi di rumah sempat sarapan kok" kata Arman.


Hani segera menyelesaikan ikatan rambutnya. Kini rambut Hani tak lagi berponi. Hani merubah penampilannya atas saran ibunya.


Jika nanti di rumah Hani bisa bergaya sesuai keinginan hati, namun jika sudah bersama Arman untuk urusan kantor akan lebih baik Hani sedikit berpenampilan dewasa. Begitu nasehat ibu kemarin, yang tahu bahwa hari ini putrinya akan mengunjungi kantor Arman.


Hani keluar kamar, membawa beberapa berkas yang di perlukan. Arman yang melihat penampilan baru Hani tak berkedip.


Akhirnya mereka berdua berpamitan pada Ibu dan Aldo untuk segera berangkat.


Selama di perjalanan Arman mencuri curi pandang pada Hani. Sedangkan Hani sendiri sibuk dengan rasa groginya itu. Takut sekali jika nanti ternyata Hani tidak dapat mengikuti ataupun menjawab pertanyaan. Namun saat Hani melihat Arman yang tengah terciduk mencuri pandang darinya..


"Mas Arman kenapa sih ? Apa ada yang salah dengan penampilanku ini mas ?" tanya Hani.


"Enggak kok sayang... Hani anggun sekali hari ini."Arman melirik kembali sembari tersenyum Hani yang merasa kurang pede tadinya akhirnya merasa lega.


Ini baru pertama kalinya Hani berpenampilan formal seperti begini, Mengenakan Kemeja putih lengan panjang, Rok Hitam panjang dan sepatu hitam dengan tinggi 5 cm. Rambut yang biasanya di geraikan tanpa jepit ,tali rambut atau dikuncir ekor kuda saja, Hari ini Hani ikat sedikit rambut ujung kanan dan kiri kemudian menyatukan ke belakang dengan jepit. Dan penampilan Hani sukses membuat Arman terpana untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


Sesampainya di kantor, Arman memarkirkan mobilnya, kemudian mengajak Hani turun. Hani turun dari mobil Arman, yang sudah berada di samping pintu mobil.


Hani memperhatikan sekeliling area. "Kok nampak serem yah, apa karena aku grogi." Hani sedikit deg degan...


"Yuk... dek gak usah tegang, hanya sebentar kok, nanti jawab saja sesuai pertanyaan, dan ikuti prosedur yang ada. Ini masih awal hanya cek kesehatan." Arman menggandeng tangan Hani untuk masuk menuju suatu ruangan. Melewati lapangan yang begitu luas, plus ada kegiatan yang tengah berlangsung di sana.


Beberapa pasang mata memperhatikan kedua pasangan ini..


"Bukankah itu Kapten Arman.. akhirnya Kapten akan menikah juga" bisik salah satu dari mereka. Disertai anggukan rekan yang lainnya.


Banyak rekan rekan Arman yang terkagum pada sosok gadis yang berjalan di samping Arman. Kesan sederhana namun anggun, terlihat sekali pada Hani.


"Muda sekali calon Kapten,,,kira kira berapa usianya ?" mereka kembali berbisik.


"Huh kepo.. tugas kita bukan gosip disini ayo kita lanjutkan!" sahut yang lain,, dan akhirnya mereka yang duduk di balkon dekat ruang pemeriksaan membubarkan diri. Dan kembali menuju lapangan.


Arman yang tahu sedari tadi jika di perhatikan hanya diam dan tetap fokus. Tangannya tak melepaskan genggaman tangan dingin Hani.


Setelah melalui berbagai acara pemeriksaan dan kelengkapan dokumen., Arman mengajak Hani meninggalkan tempat dan pulang ke rumah.


"Kapten... kapten... "teriak seseorang memanggil.


Arman dan Hani menoleh ke belakang,.


"Selamat siang kapten.. " memberi hormat,, Ternyata Dafa, adik leting Arman waktu itu.


Arman membalas salam dan hormat Dafa.


"Kamu rupanya,, sedang apa di sini ?, harusnya kamu latihan bersama mereka di lapangan." kata Arman berwibawa.


"Begini kapten.. saya hanya menyampaikan beberapa pesan rekan rekan, bahwa jika di ijinkan kami ingin berkunjung ke rumah kapten, setelah sekian lama kita tidak ke sana. Sebentar lagi kan kapten akan menikah jadi kami rasa, akan ada sedikit ucapan perpisahan dari kami yang tentunya sudah jarang bisa main kesana lagi." Dafa melirik Hani, dan menjelaskan dengan sedikit gugup.


Arman berpikir sejenak, Hani yang masih menggenggam tangan Arman mengkode. Sambil mengusap jempolnya di genggaman tangan Arman yang tak langsung memberikan keputusannya. Mengiyakan permintaan Dafa.


Bukan tanpa alasan Hani mengkode Arman, namun Hani tidak enak saja, malu, sudah menjadi pusat perhatian rekan rekan Arman di lapangan.


"Baiklah saya terima, saya ada waktu nanti malam. Segera kembali berlatih saya akan segera menyusul nanti" jawab Arman tegas.

__ADS_1


"Siap laksanakan.. "Dafa senang sekali Arman menyetujui usul rekan Arman itu.


Setelah itu kedua pasangan ini kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan pulang.


Di dalam mobil....


Hani memejamkan mata., bernapas lega..


"Banyak sekali prosedurnya... huft...rasanya seperti akan melaksanakan ujian nasional kemarin, tapi kemarin gak setegang ini." Hani membatin.


Arman melirik Hani, membelai kepala gadis itu. "Kenapa sayang... wajah kamu dari tadi mas perhatiin kok tegang banget, senyummu tadi juga terkesan dipaksakan.? tanya Arman sedikit khawatir.


"Gak papa mas.. gak pernah setegang ini,, jangan khawatir,,aku akan selalu berusaha mas... "Hani memeluk lengan laki laki itu meyakinkannya.


"Kita pulang ke rumah ya,, nanti malam Dafa dan beberapa teman mungkin akan berkunjung ke rumah. Sayang apakah kamu mau bantu mas kan ?" tanya Arman.


"Tentu saja mas.. tapi kita pulang ke rumah dulu ya, Hani akan mengambil pakaian Hani masak Hani harus pake baju mas lagi yang ada akan jadi pusat perhatian terus seperti di lapangan tadi." kata Hani pada Arman.


Arman mengangguk dan terus melajukan mobil ke rumah Hani.


Setelah membawa beberapa baju, dan berpamitan pada ibunya Hani dan Arman berangkat.


"Kami jalan dulu bu,, salam buat Dik Aldo. " pamit Arman.


"Iya nak hati hati,, Hani.. ini ada beberapa masakan dan kue nanti kamu hidangkan di sana yah" Ibu Hani memberikan tas besar berisi aneka hidangan.


Ibu Hani tahu jika akan ada teman Arman datang nanti dari menantunya saat meminta ijin membawa Hani pulang ke rumahnya.


Hani mengangguk senang, mencium ibunya, Arman membantu membawakan tas Hani lalu mereka berangkat.


Hani senang karena beberapa persyaratan pernikahan telah di selesaikan dengan lancar. Begitu pula Arman yang lega dengan semua proses pemeriksaan kesehatan tadi.


Mereka berdua fokus pada pikiran masing masing,, mobil Arman melaju perlahan membelah ramainya lalu lalang kendaraan.


Di selingi lagu lagu almarhum Didi kempot membuat Hani makin larut dalam pikirannya.


Bersambung dulu yahhh..... 🤗

__ADS_1


__ADS_2