
Lanjut...
Pagi itu di rumah Hani...
Hani berada di dapur bersama Bi Imas. Bi Imas sedang menanak nasi kuning pesanan, sedangkan Hani yang asyik menghias tempat tumpeng dengan daun pisang dan beberapa untaian kacang panjang.
"Wahhh... akhirnya hampir selesai nih.. tinggal sentuhan terakhir... si daun selada keriting berikutnya, ibu sedang pergi ke pasar untuk membelinya.." Hani berkata puas melihat karyanya.
Setelah meletakkan di atas meja makan, Hani menuju ruang keluarga untuk menonton TV.
Sambil menghidupkan TV Hani duduk di kursi lalu mengambil ponselnya.
Hani melihat layar gawai tersebut, memeriksa pesan masuk.
"Ya Allah.. penggilan tak terjawab hingga 7 kali.. ini nomer siapa ya? biar aku telpon balik." kata Hani.
Hani mencoba menghubungi nomer asing tersebut. Dia pikir pasti sangat penting hingga 7 kali menghubungi dirinya.
Nada tersambung...
Beberapa kali berdering dan ada suara dari sana... "Hani.... Hani ini ibu.. ibu meminjam hp dari Mak Dullah, Ibu gak bawa hp dan dompet ibu ketinggalan nak tolong bisa antar ke kios Mak Dullah? Dompet ibu ada di atas buffet dekat rak buku. " suara Ibu Hani menyahut dari sana.
Hani pun paham lalu melirik di atas buffet dan benar... ternyata ibu meninggalkan dompet dan juga hpnya disana.
"Baiklah bu... tunggu sebentar di sana Hani akan mengantar dompet Ibu. " Hani menutup ponselnya. Lalu bergegas ke kamar mengambil jaket dan tas kecilnya, serta dompet dan ponsel ibu.
Hani berpamitan pada Bi Imas.." Bi.. Hani pergi antar dompet ibu sebentar yah.. dompet ibu ketinggalan nih" kata Hani pada Bi Imas. Wanita paruh baya itu mengangguk dan mengantar Hani sampai ke depan rumah.
"Mbak naik apa ?" tanya Imas pada Hani. Naik becak saja Bi.. di depan jalan pasti ada becak lewat nanti.
Bi Imas membantu Hani mencari becak, setelah beberapa menit kemudian terlihat abang becak yang biasa mangkal di pos kamling tak jauh dari rumah Hani datang dari arah seberang jalan.
Hani memanggilnya dan memintanya untuk ke kios Mak Dullah. Kios Mak Dullah ini adalah langganan ibu Hani belanja bahan kebutuhan seperti beras dan bawang. Tempatnya tak begitu jauh dari pasar.
"Mang antarin ke kios Mak Dullah ya... "Hani berkata pada mamang becak tersebut.
"Baik neng.., kok tumben neng naik becak bukannya Bu Mita tadi keluar rumah mengantar Mas Aldo sekolah, kenapa neng yang ke kios Mak Dullah? " tanya mamang becak.
"Iya nih dompet ibu tertinggal, untung masih belum sampai pasar, masih di kios Mak Dullah deket.. " cerita Hani,, Mamang becak manggut manggut paham.
Hani menikmati perjalanannya dengan becak,, lama sekali dia tidak naik becak.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian sampailah Hani di tempat tujuan. Hani segera membayar becak dan berkata.. " Gak usah di tunggu ya mang, Hani nanti pulang sama ibu, makasih" Hani menyodorkan uang kepada Mamang becak.
"Baik neng Hani makasih" jawab Mamang becak.
Hani turun dan menuju kios Mak Dullah yang ramai pembeli. Hani mencari ibunya. Di lihatnya sepeda motor matic milik ibu terparkir di depan kios.
"Hani... " suara Ibu memanggil, ternyata ibu tengah duduk di dalam kios. Hani menghampiri ibu lalu menyerahkan dompet pada ibu. Mita membayar uang belanjaannya pada Mak Dullah.. Dan mengucapkan terima kasih.
Ibu mengajak Hani pergi dan berjalan ke motornya menaruh belanjaan lalu menuju pasar.
"Lama gak ke pasar.. " gumam Hani,.....
"Hani tadi ke sini naik becak ya ?" tanya Ibu Hani.
"Iya bu... bu.. nanti pulangnya beli cenil ya.." pinta Hani pada ibunya.
Mita mengangguk dan tersenyum lalu melanjutkan perjalanan ke pasar yang letaknya dekat dengan kios Mak Dullah.
Setelah membeli beberapa sayur dan kebutuhan lainnya. Ibu mengajak Hani membeli cenil dan jajanan pasar kesukaan Aldo.
Saat membeli jajanan pasar.. Pandangan Hani tertuju pada sosok wanita yang berdiri di dekatnya.
"Ohhh itu Tante Resti iya aku ingat itu Tante Resti. " batin Hani.
Hani memperhatikan wanita itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Nyaris sempurna penampilannya pantas saja Om Arman pernah jatuh cinta pada wanita ini, hingga susah sekali bangkit. Penampilan yang anggun dan terlihat elegan, begitu percaya diri membuat Hani minder.
"Apakah yakin Mas Arman mencintaiku, sedangkan tipe wanita pilihannya adalah yang seperti aku lihat sekarang ini.. begini kalo perjodohan pasti hanya karena Om gak enak sama Tante Arni saja akhirnya mau nerima Hani jadi istrinya. " Hani mulai meragukan Arman.
"Jika dibandingkan dengan diriku tentu saja jauh berbeda" batin Hani masih tak melepaskan pandangannya pada wanita yang mengenakan kemeja dan rok sepan selutut itu.
Hani terus memperhatikan gerak gerik wanita itu terselip rasa sakit di hatinya. Entahlah bagaimana bisa datang rasa sakit itu, sakit saat pertama kali terluka, melihat Arman di peluk olehnya, lalu sakit kedua dimana Shasa menceritakan bahwa wanita ini telah mengkhianati Arman dan lebih memilih menikah dengan pria lain, luka yang ketiga saat tahu suami dari wanita ini adalah teman Arman sendiri.. Bagaimana rasa hancurnya hati Arman saat itu.
Ibu yang sudah selesai membeli jajanan pasar mengajak Hani untuk pulang ke rumah.
Hani menurut pada ibunya dan meninggalkan pandangannya pada wanita itu.
Sesampainya di rumah, Hani sudah tidak berselera lagi memakan cenil. Hani pamit masuk kamar dan merebahkan diri.
Di tatapnya layar ponsel disana.. mendesah panjang dan menutup mata sekejap.
Tiba tiba terdengar suara motor berhenti di halaman rumah Hani. Dengan enggan Hani melihat keluar jendela kamar. Ternyata yang datang Shasa,Pras dan kawan kawannya.
__ADS_1
Bergegas Hani keluar kamar, dan menemui mereka. Shasa, Pras datang bersama Felli, dan Roni.
"Ayo masuklah.. wahh kalian kenapa gak ngasik kabar dulu kalo mau ke sini? untung saja aku dah sampek rumah" Kata Hani senang sekali melihat temannya.
"Kejutan... emang kamu darimana? "tanya Felli..
"Abis antar dompet ibu ketinggalan langsung sklian ikut ibu ke pasar. " cerita Hani.
Shasa yang sudah dari sejak datang tadi langsung ke dapur menemui Mita. Dan keluar dari dalam rumah Hani dengan membawa pisang goreng.
"Ahhh Shasa.. kayak tuan rumah aja... enak banget Sha... mau dong" kata Roni mencomot pisang goreng di piring, di ikuti teman temannya.
Hani masuk ke dalam rumah dan menyiapkan minum.
"Ehhh tuh ada mangga ...Pras sana naik gih ayo rujakan.. "kata Shasa pada Pras.
"Kita kesini kan niat belajar bareng bukan mau rujakan ahh Shasa.. " sahut Pras.
"Rujakan dulu biar semangat... gih naik cepetan aku mau ijin ke tante Mita di dalam pasti boleh.. " Shasa bergegas masuk menyusul Hani yang masih di dapur.
Pras akhirnya menuruti kemauan Shasa, bersama Roni mengambil beberapa mangga muda untuk rujak.
Siang itu suasananya dapat membuat hati Hani sedikit terhibur dan melupakan sejenak wanita pembawa rasa sakit itu. Kebersamaan kelima sahabat ini begitu kental terasa, tertawa bersama sama melepas sedikit beban yang mereka. Memakan rujak, dan mie goreng buatan Ibunya Hani.
Sejenak melepas pikiran tertekan dan takut. Karena Senin besok mereka akan menghadapi Ujian Nasional.
"Haiii gimana kalo abis UN kita renang ya.. " ajak Felli, disertai anggukan setuju dari para sahabatnya yang lain.
Hani ingat wanita itu lagi sehingga dia tak begitu merespon Felli yang asyik berbincang membahas acara renang.
Shasa yang menangkap aroma tak sedap di wajah manis Hani sedikit bergeser dan mulai bertanya.. " Kamu kenapa? "
"Tadi pagi aku melihat Tante Resti di pasar, entah kenapa sakit di sini Shaa.. "cerita Hani setengah berbisik.
"Itu namanya kamu sayang sama Om udah jangan terlalu kamu pikirkan, jangan sampai wanita itu merusak mood belajarmu, kamu sudah janji bukan padaku untuk menutup semua masa lalu itu, mau sampai kapan kamu begini, kamu harus percaya diri Hani" jawab Shasa memelankan suaranya agar tidak di dengar yang lain.
Hani mengangguk...di pandangnya cincin yang melingkar di jarinya.." mungkin ini pertama kalinya aku galau" batin Hani.
Ataukah rasa ini mirip rasa dendam.
bersambung dulu ya.. ππ
__ADS_1