
Lanjut yuk...
Suasana pagi di rumah Hani....
Shasa mengajak Hani untuk keluar kamar menemui kedua keluarga yang sudah menunggu dari tadi.
Shasa menggenggam erat tangan sahabatnya itu. Tangan Hani dingin, berkeringat dan sedikit gemetar.
"Jangan nervous beb.. santai saja... " kata Shasa menenangkan Hani.
Hani mengangguk pelan. Berjalan menunduk.
"Jangan nunduk tokk,, ayo yang pede Hani.. kasik senyum manismu itu. " lagi lagi Shasa memberi semangat.
Hani mendongakkan kepalanya melihat ke depan, sambil berjalan perlahan.
Sungguh cantik Hani berbalut kemeja merah tua dipadu kain songket motif menambah kesan elegan meskipun model baju kebaya Hani sederhana sekali.
Keluarga Shasa dan Arman, serta beberapa tamu yang hadir , melihat kedatangan Hani.
Hani yang anggun tersenyum pada semua orang.
"Masyaallah cantiknya... " kata Ibu Shasa sambil menyenggol lengan adik laki lakinya itu. Arman tak berkedip melihat Hani.
Setelah Hani duduk, acara pun di mulai.
Sambutan demi sambutan telah di sampaikan oleh kedua belah pihak. Keluarga Arman di wakili oleh Arya kakak iparnya, sedangkan keluarga Hani di wakili oleh Pakdhe Ridho sekaligus Pak RT yang masih family dengan Ibu Hani.
Setelah proses acara sambutan selesai, maka acara permintaan lamaran yang akan di lakukan Arman pada Hani di mulai.
Arman dan Hani berdiri berhadapan. Sebelum berbicara pada Hani, Arman meminta ijin dan restu kepada Arni dan Arya kakaknya lalu meminta ijin dan restu pula kepada Ibunda Hani. Dan kedua keluarga mereka memberi ijin Arman melamar Hani dan merestui hubungan mereka berdua.
'" Bismillah... Adinda Hani Ananta Putri... apakah dinda bersedia menerima lamaranku dan siap mendampingiku sampai maut memisahkan kita dengan segala kekurangan?" tanya Arman pada Hani dengan menatap Hani, berbicara tegas dan berwibawa, meminta Hani untuk menjadi istrinya.
Sementara Hani menatap Arman dengan tajam lalu tersenyum dan berbicara...
"Om Arman.. eh salahhh..." Hani masih menyebut om sehingga semua yang hadir di sana tertawa melihat Hani.
__ADS_1
Begitu pula dengan Arman tersenyum. " Duh bikin gemas Hani ini.." batin Arman.
Hani masih bingung dan malu , akan tetapi terus melanjutkan perkataannya, setelah sahabatnya berbisik dari belakang memberitahu Hani apa yabg harus dia ucapkan.
"Maaf grogi... kata Hani masih tersenyum malu, akan tetapi setelah melihat Arman timbul rasa percaya dirinya.
"Kakanda Arman Ardi Wijaya...Hani Ananta Putri siap menerimamu dengan segala kekurangan sampai akhir hayat dan maut memisahkan kita" kata Hani sambil terus menatap Arman.
" Alhamdulillah akhirnya..... " kata kata yang keluar dari sebagian tamu yang hadir pagi itu. Mereka turut senang dan mendoakan agar acara pernikahan yang aka di gelar akan lancar dan mereka berdua berjodoh.
"Insyaallah till jannah..." doa mereka semua.
Hani lega sekali, sementara Arman tak bisa melepaskan pandangannya pada calon istrinya itu, sampai tangan kakak perempuannya menyenggol lengan Arman.
Arman yang kaget dan berusaha menutupi kekagetannya itu tersenyum, melihat Arni dan Shasa sudah berdiri di sampingnya sambil membawa kotak perhiasan untuk Hani...
Begitu pula Ibu Hani sudah berdiri berjajar bersama Aldo yang membawa kotak tempat cincin pertunangan milik Arman.
Waktunya tukar cincin. Arni, Kakak Arman memasangkan cincin pada pada Hani yabg sekarang menjadi menantunya sekaligus adik iparnya, lalu memasangkan kalung pada leher Hani. Hani yang sudah cantik nampak bertambah anggun dengan kalung mungil di lehernya. Lalu Hani mencium punggung tangan Arni, Arni pun memeluk dan mencium kening Hani.
Selanjutnya Ibu Hani juga memasang cincin yang di bawa Aldo, dan memasangkannya pada Arman. Arman mencium punggung tangan mertuanya itu, Mita pun memeluk haru menantunya.
Tiba tiba Hani ingat almarhum ayahnya, seandainya Ayah masih di sini tentu akan bahagia sekali.
"Ayah... putri ayah sekarang sudah ada yang jagain di sini... ayah jangan khawatir lagi ya.. insyaallah Om Arman akan menjagaku, menjaga Ibu dan menjaga Aldo, menajaga keluarga kita yah... Ayah yang tenang di sana, beristirahatlah dengan damai... " batin Hani sambil menangis.
Arman yang melihat Hani menitikkan airmata segera menghapusnya dengan jarinya, dan mengecup kening Hani perlahan. Riuh dan tepuk tangan terdengar dari yang hadir saat itu.
Shasa memeluk Hani sahabatnya,, begitu juga Aldo. Sekarang mereka adalah satu keluarga, senang rasanya karena Shasa selalu saja merasa sendiri.
Sebagai anak tunggal, Shasa selalu merasa kesepian. Setiap hari Bundanya sibuk bekerja, sedangkan Ayahnya di luar kota.
Setelah mereka berdua duduk kembali, maka acara selanjutnya adalah ramah tamah keluarga.
Sambil menikmati hidangan yang telah di persiapkan kedua keluarga ini saling mengobrol dan memberi selamat kepada pasangan Hani dan Arman ini.
" Selamat ya bro... gak nyangka aja sama Hani,, gadis ini sebenarnya udah sempat membuatku ingin mengenalnya loh sejak ke rumah kamu kemarin,, ehh kalah cepat rupanya aku.. " Kata Agus Setiawan teman Arman yang waktu itu pertama kali Hani ke rumah Arman sempat melirik Hani dan kagum.
__ADS_1
Arman tertawa lepas.. " Alhamdulillah.... ini namanya jodoh... Arman sengaja mengundang dua orang teman dekatnya untuk ikut acara lamaran, yaitu Agus dan Dafa.
" Selamat ya bang... selamat ya Hani, maafkan saya jika waktu pertama bertemu kurang ramah, sekarang sudah jadi ibu komandan saya.. maafin saya Ibu Hani.. " Dafa menyalami Hani dan Arman.
Hani pun ikutan tertawa mendengar kata kata Dafa. Dia lun menganggukkan kepala sambil mengacungkan jempolnya.
Shasa yang berada di samping Hani, melihat Dafa segera mendekat lalu berkata.. " Eh Om Dafa kenapa gak sekalian minta maafnya ke aku,, jelek jelek begini aku ini keponakaan tersayangnya kapten Arman,, awas aja kis suruh omku memberi hukuman kalo gak minta maaf padaku" kata Shasa tertawa.
Dafa yang melihat Shasa pun ikutan tertawa. "Iya maaf kan saya ya... " kata Dafa.
Mereka semua berfoto bersama, Hani dan Arman nampak bahagia, meskipun Hani sedikit canggung saat Arman memeluk pinggangnya untuk berfoto, Hani pun dengan senang hati menerima pelukan itu.
Tak ketinggalan Aldo dan Shasa ikutan berfoto bersama, mulai dari gaya bebas sampai gaya gila gilaan yang di ciptakan Shasa bersama Aldo dan kedua teman Arman, Dafa dan Agus.
Hal yang sama yang di rasakan Arni, Arya dan Mita adalah kebahagiaan tiada tara, Saling mengucap terima kasih, dan saling suport.
Acara pagi itu akhirnya selesai, meskipun sederhana tetapi penuh makna.
Sebelum keluarga Shasa dan Arman berpamitan pulang. Arni berpesan pada menantu sekaligus adik iparnya, untuk slalu menjaga kesehatan karena sebentar lagi ujian. Dan selesai pengumuman kelulusan akan segera diadakan acara akad nikah.
Arya ayah Shasa menyerahkan tanggal pernikahan Arman dan Hani pada Pakdhe Ridho , perwakilan pembicara keluarga Hani.
Keluarga Hani menyetujui tanggal pernikahan itu, dan ditetapkan sebagai tanggal akad nikah Arman dan Hani.
Setelah itu keluarga Shasa dan Arman berpamitan kepada Ibu Hani.
Keluarga Hani mengantarkan sampai ke halaman bersama Hani yang bahagia sekali.
Tidak lupa Bi Imas dan Pak Kardi membawakan beberapa buah tangan untuk di bawa pulang oleh keluarga Shasa dan Arman. Hani dan keluarga membalas lambaian tangan Arni dan Shasa di atas mobil Ayah Shasa, sedangkan Arman dan kedua sahabatnya itu naik mobil Arman yang di kemudikan sopir di kantor Arman.
Acara pertunangan Hani dan Arman telah usai, kesederhanaan tak mengalahkan khidmatnya acara itu.
Pakdhe Ridho dan istrinya pun meminta ijin pulang, begitu juga perias Hani, Mbak Rina.
Keluarga Hani sabtu ini tengah berbahagia, tak henti hentinya rasa syukur mereka panjatkan pada Allah...
Akhirnya Hani bertunangan, meskipun acara perjodohan ini berawal dari sebuah tragedi Shasa yang jatuh di toilet sekolah, akan tetapi membawa hikmah besar,, dan semoga sampai di pelaminan nanti berjalan lancar acaranya aamiin....
__ADS_1
Bersambung dulu yahhh 🤗🤗