Pernikahan Kilat

Pernikahan Kilat
Bab 32 Tante.


__ADS_3

Berlanjut nih...


Sesampai di rumah Arman..


"Masuklah ke dalam dulu dek ! mas akan memasukkan mobil ke dalam garasi." Arman menyerahkan kunci rumah kepada Hani.


Sampai di dalam rumah, sambil menenteng tas nya Hani masuk ke kamar Arman untuk berganti baju.


Hani mengeluarkan baju santainya dari dalam tas. Menaruhnya di ujung ranjang.


Kemudian berjalan menuju cermin besar yang menghadap ke ranjang. Memandang sejenak penampilannya,,


"Apakah aku pantas, apakah tadi penampilanku tidak memalukan Mas Arman, Shasa pernah cerita padaku, katanya Posisi Mas Arman di markas itu penting. Dia seorang pelatih senior disana, tadi saja banyak yang memperhatikan kami," batin Hani bergumam tak percaya diri.


Hani menghela napas panjang,, lalu segera membuka kemeja dan rok sepan selutut itu. Hingga menyisakan semacam rok panjang selutut khusus daleman. Hani biasa menggunakannya jika memakai gaun atau rok agar nyaman saat mengenakan gaun atau rok tersebut.


Tiba tiba Arman masuk kamar begitu saja, dan melihat Hani berganti baju.


Arman dan Hani sama sama terkejut. Apalagi Hani sempat berteriak...


"Mas.... ihhh kenapa langsung masuk sih.." Hani sibuk menarik baju santai yang ada di ujung ranjang dan akan dia kenakan, namun gagal.Dia menutupi dadanya dengan kemeja yang sudah terlepas.


Arman menguasai diri, berjalan mendekati Hani.


"Stop mas stop disitu... jangan mendekat.. " teriak Hani panik.


Arman tersenyum dan kembali meneruskan langkahnya. Hani kembali panik saat tahu Arman berjalan ke arahnya.


"Santai dong.. Gak usah panik gitu sayang,, mas cuman bantuin kamu ambilin ini.. " kata Arman sambil mengambil baju santai Hani yang tadi gagal diraihnya.


"Lain kali kunci kamar atau ganti baju di kamar mandi, mengerti" Arman memberikan baju Hani dan sedikit berkata tegas.


Arman meninggalkan Hani menuju lemari. Mengambil seragamnya, karena dia akan kembali ke markas.


Hani yang gugup mengambil baju santainya lalu cepat cepat dia kenakan selagi Arman tidak melihatnya.


Sementara Arman tersenyum, dalam hatinya membatin.. " Dasar gadis polos.Lagi lagi dia ceroboh..."


Arman berjalan menuju kamar mandi, terdengar suara gemericik air.


"Rupanya Mas Arman sedang mandi." batin Hani sambil melipat pakaian yang tadi dia kenakan.


Setelah mandi Arman keluar dengan mengenakan kaos singlet dan celana boxer. Sambil mengeringkan rambutnya. Hani menoleh tidak sengaja melihat Arman yang berpakaian begitu Hani pun membuang muka mengalihkan pandangannya kembali pada baju yang di lipatnya.

__ADS_1


"Deg.. deg... deg.... " jantung Hani mau copot.


Arman melirik Hani, kemudian mengenakan seragamnya dan akan bersiap ke markas.


Tiba tiba Arman duduk mendekati Hani yang berada di tepi ranjang sambil melipat pakaiannya tadi.


"Apakah ini akan di bawa pulang? di sini rumahmu juga Hani. Kamu bisa mencucinya di sini, sebentar lagi kan bakalan tinggal disini. Ada mesin cuci dekat ruang dapur, kamu bisa menggunakannya. " Kata Arman memperhatikan Hani yang masih asyik dengan melipat bajunya itu.


Hani berpikir... lalu menoleh pada Arman.. "Benar juga ya mas,, baiklah aku akan mencucinya nanti. Makasih mas udah mengijinkan. " Hani tersenyum manissss sekali sampai sampai jantung Arman berdebar keras.


"Gadis ini..ingin sekali rasanya mencium bibir mungilnya itu. ahh sudahlah sekarang bukan waktunya bermesraan, masih ada tugas yang menungguku" seru Arman mencoba menghilangkan pikirannya sendiri.


"Baiklah sayang mas berangkat dulu ya,, sudah di tunggu.. " Arman hanya mengecup kening Hani seperti yang biasa dia lakukan.


Hani sedikit kecewa karena telah berharap lebih pada Arman yang memandangnya seperti waktu Arman pertama kali mengecup keningnya saat setelah mandi.


"Hati hati di jalan mas.. " Hani mengantar kepergian Arman. Arman mengangguk dan tersenyum, membelai pipi calonnya itu.


Hani merasakan kasih sayang Arman yang tulus. "Mas sebentar... " Hani menarik lengan Arman... Arman pun berbalik menghentikan langkahnya yang tertahan.


Hani menarik lengan Arman agar mendekati dirinya. Sedikit berjinjit... (maklum tinggi Hani hanya sebatas bahu Arman)


Dan... Cup😘.. Satu ciuman mendarat di pipi laki laki berseragam doreng tersebut.


Hani tersipu malu.. "Berangkatlah mas... anak buah sudah menunggu, hati hati di jalan yah, jangan khawatir urusan di rumah serahkan pada Hani. "kata Hani dengan pipi memerah.


Arman tertawa sendiri dan kemudian mengangguk, sambil berbalik berjalan menuju Motornya. Arman ke kantor dengan mengendarai motor.


"Mas berangkat hati hati di rumah,, hubungi Shasa, ajak kemari jika dia tidak sibuk yah.. Assalamualaikum.. " Arman memberikan amanat sebelum melajukan motornya.


"Waalaikumsalam.. baik big boss.. " sahut Hani tertawa lalu menutup pagar pintu rumah dan menguncinya, setelah Arman berlalu.


Hani masuk ke dalam rumah kemudian mengambil ponsel dan menghubungi sahabatnya itu.


Setelah berhasil menghubungi Shasa, Hani duduk di sofa ruang tamu. Memperhatikan setiap detail rumah yang saat ini dia perhatikan.


"Aku akan menikah... serasa tak percaya,, Ayah... Hani akan menikah,, ayah pasti bahagia disana, ayah bisa lihat Hani menjadi pengantin nanti 😭 walaupun ayah tidak dapat menikahkan Hani dan menjadi wali Hani, tapi Hani yakin Ayah pasti mendampingi Hani saat ijab qabul nanti." lirih Hani.. Tak terasa airmata menetes membasahi pipinya.


Kemudian setelah Hani sibuk beberapa saat dengan lamunannya, dia bangkit dan menuju dapur.


Hani membuka tas bawaan yang diberikan ibunya tadi. Mengeluarkannya satu persatu.


Ada sosis untuk di bakar nanti, ada beberapa kotak asinan buah, tahu isi yang belum di goreng, tinggal menambahkan tepung saja., serta ada beberapa jagung manis.

__ADS_1


Hani berjalan menuju lemari es, dibuka dan diperhatikan isinya.


Hani ingat pesan Arman tadi jika Dafa akan membawa ikan segar untuk dibakar, kita hanya butuh menyiapkan bahan saja.


Hani mulai meracik bumbu dan prepare semua bahan yang diperlukan. Tak butuh waktu lama, karena Hani telah terbiasa dengan pekerjaan ini di rumah.


Ponsel Hani berdering, nampak foto wajah Shasa menghias layar ponselnya. Rupanya telepon dari Shasa, Hani mengangkatnya.


"Assalamualaikum.. iya Sha... kamu di mana, apa sudah berangkat. ?" tanya Hani


"Waalaikumsalam.. aku di depan pagar Hani, tolong bukain nih " jawab Shasa kemudian.


Hani menutup teleponnya, berlari menuju pagar rumah minimalis Arman.


Membukakan pagar, dan melihat Shasa telah menunggu di sana dengan motor maticnya.


Kemudian mereka berdua masuk rumah, kembali memulai pekerjaan yang sudah menanti.


Hani dan Shasa larut dalam aneka perbincangan, yang biasa gadis lakukan pada umumnya. Kadang bergosip, terkadang mengkhayal, tak jarang pula Shasa menggoda Tante iparnya itu.


Rumah Arman ramai dengan canda tawa kedua gadis ini.


"Hani bentar lagi aku mau ikut tes kedinasan, dan jika aku lulus aku akan pergi pendidikan, kamu harus jaga diri, jaga om ku dan jaga anak omku jika kamu sudah hamil nanti.. " pesan Shasa serius.


Sontak perkataan Shasa tadi ,membuat Hani memaksa mencubit lengan Shasa.


"Menikah saja belum kok sudah mikirin hamil, ahh kamu Sha... kenapa sih,, kayak yang mau pergi jauh dan gak bakalan ketemu lagi. " ujar Hani.


"Aku serius loh... Tante.. Tante Hani gitu ntar aku manggil yah.. " Shasa kembali meledek Hani dengan sebutan Tante.


"Shasa.. tolong dong ojo sebut aku tante maneh wes.. emoh aku.. aku masih muda Sha masih 18 tahun mosok dipanggil tante" kata Hani dalam logat Jawanya gusar dengan sebutannya itu.


"Lah emang gitu, kamu tak lama lagi resmi nikah sama Om Arman otomatis jadi tanteku Tante Hani... " Shasa makin menekan kata katanya.


" Huuuu kamu ini,,, Sha ..kalo boleh kamu tetep manggil aku Hani saja yah cukup deh.. aku gak mau tua,, aku menolak menua loh ya,, meskipun aku tante mu nanti, tapi aku tetep sahabatmu,, bahkan usiaku selisih beberapa bulan denganmu. Pokok ora usah panggil tante.. " Hani mulai cemberut.


Shasa menahan tawa mendengar sahabatnya mulai cemberut..


"Oke deh.. aku nurut asalkan syaratnya tiap aku datang kemari kamu harus buatin aku ayam laos oke... " Shasa mengacungkan jempolnya.


Hani yang tadinya mulai cemberut, mulai senyum senyum senang dan menyanggupi permintaan Shasa tersebut.


Bersambung dulu yah... 🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2