Pernikahan Kilat

Pernikahan Kilat
Bab 8 Di Sekolah


__ADS_3

Sudah menunggu kelanjutannya ya...


selamat membaca...


Suara adzan Shubuh terdengar dari mushola dekat rumah Hani. Hani yang mendengar adzan berusaha membuka mata, meskipun berat rasa kantuknya tapi dia segera bangkit dari ranjang.


Di lihatnya jam dinding yang ada di atas rak buku . Menunjukkan pukul 04.17 menit.... sambil masih mengantuk Hani berjalan keluar kamar. Dia menuju kamar mandi.


Di lihatnya Ibu Hani sedang sibuk di dapur, memasak pesanan catering untuk di antarkan pagi ini sebagai sarapan oleh pemesannya. "


"Kenapa ibu tak membangunkanku, biasanya ibu membangunkan jam 03.00 pagi untuk meminta bantuan menyiapkan pesanan konsumen ibu." batin Hani.


Hani bergegas menuju kamar mandi mengambil air wudlu kemudian kembali ke kamarnya, mengganti piyama tidurnya lalu melaksanakan sholat shubuh.


Setelah berdoa Hani melepas mukena, dan melipat sajadahnya. Kemudian membereskan tempat tidur. Selesai semuanya dikerjakan, Hani pun bergegas keluar kamar dengan maksud membantu ibunya menyiapkan rantang rantang tempat masakan.


"Ibu.... mengapa ibu tidak membangunkan Hani di awal bu.? biasanya ibu bangunkan Hani.., " tanya Hani pada ibunya sambil mengelap tutup rantang.


Ibu yang mendengar Hani tiba tiba sudah berada di dapur tersenyum pada Hani.


"Gak papa... hari ini ibu sudah selesai lebih cepat..karena kemarin ada bi imas yang membantu ibu memotong motong bahan dan membuat persiapan bumbu, jadi pagi ini Alhamdulillah sudah selesai dengan tepat waktu.. "jelas ibu Hani.


" Apakah ibu memanggil bi Imas untuk bekerja di sini bu ?" tanya Hani lagi.


"Iya Hani mulai hari ini karena pesanan ibu lumayan rame. Jadi ibu rasa butuh tenaga ekstra. " jawab Mita.


Hani senang ibu sudah ada temannya, sebenarnya sudah sejak lama Hani meminta ibunya untuk mencari orang agar bisa membantu di dapur.


Tapi ibu Hani menolak karena merasa masih bisa mengerjakannya sendiri.


Hani merasa kasihan pada ibu jika kelelahan makanya Hani sedikit memaksa ibunya itu untuk mencari tenaga yang bisa menemani dan membantu ibu.


"Ibu sholat dulu ya nak.. tolong masukkan lauk dan sayuran ini ke tempatnya.! " kata ibu Hani meninggalkan dapur.


Hani yang sudah tau tugasnya langsung saja dengan cekatan membereskan semuanya. Dan akhirnya selesai.....


Setelah membereskan dapur, Hani membangunkan Aldo di kamarnya, Menyuruhnya sholat dan mandi kemudian mengajaknya sarapan.

__ADS_1


" Sudah mendingan dek..,? " tanya Hani pada Aldo. " Sudah kak... " jawab Aldo singkat. "


Jangan jajan sembarangan, bukannya ibu dah nyiapin bekal " kata Hani lagi.. " Aldo cuman jajan es kak, pengen... lihat temen temen beli es,, Aldo pengen juga,.. " Aldo bercerita.


"Dek... gak papa jajan tapi di lihat lihat dulu kalo sekiranya membuatmu sakit kasian ibu kan, pesanan ibu sudah mulai rame dek,, jika kamu sakit ibu tidak bisa bekerja dengan tenang, kamu ngerti kan.. mangkanya lain kali jangan di ulangi ya.. " perintah Hani,,


Aldo hanya mengangguk angguk dan menyesali perbuatannya kemarin siang.


Setelah sarapan Hani pun mandi dan bergegas berangkat sekolah dengan diantar ibunya. Ibu mengantarkan Aldo duluan baru kemudian mengantar Hani.


Di sekolah Hani...


Hani berjalan menuju kelasnya di ujung dekat ruang Osis.


Pagi ini suasananya sejuk banget. Sambil bernyanyi nyanyi sendiri Hani berjalan di lorong sekolah.


Pemandangan pagi ini.. sudah biasa dia lihat setiap harinya...


Ada yang piket pagi di kelasnya,, ada yang santai di depan kelas,, ada Adik kelas yang tengah bergosip di pagi hari. Ada yang sibuk menyalin PR dan tugas lainnya.. Ada yang sibuk menyisir rambut, bahkan tak sedikit adik kelas atau teman seangkatan yang menyapa dirinya sekedar menanyakan kabarnya.. Sungguh suasana yang dia rindukan jika dia lulus nanti.


Suara Shasa dan Felli terdengar sampai luar kelas. Ternyata di kelas sedang ramai membicarakan acara perpisahan kelas 12.


Hani memasuki kelas langsung di sambut Shasa, Felli dan teman temannya..


Mereka berdiskusi... sedangkan Hani menjadi pendengar setia, karena sebenarnya dia kurang tertarik dengan acara seperti itu,, Dia akan merasa sedih jika ada acara perpisahan.


Dia tidak suka dengan kata perpisahan.. membuat sesak di dada,, pengalamanlah yang menjadikannya seperti itu.


"Hani nanti kamu temani aku perwakilan kelas maju ke panggung memberi kata sambutan dan perpisahan.. ya.. " kata Prasetyo ketua kelas.


Hani menatap Prasetyo dan berkata,, "Tidak ..tidak.. tidak mau... Gak ada orang lain tah kok aku tok sih, cari kandidat lain Pras"


" Yang lain udah pegang peran masing masing Hani..Ayolah ini kan terakhir kalinya kamu ngasik kenangan di sekolah kita ini." jawab Prasetyo.


Setelah di bujuk dengan alot Hani pun terpaksa menerimanya.. Bel waktu pelajaran berbunyi..


Riuh suara siswa dan semuanya segera kembali ke bangku masing masing.

__ADS_1


Hani yang duduk dengan Prasetyo segera menyiapkan buku matematika. Pelajaran pertama Matematika pasti menguras pikiran lagi.. semangat Hani...


Setelah beberapa saat bel jam istrahat pertama berbunyi.....


Setelah Pak Hadi mengakhiri pelajarannya dan berjalan keluar kelas. Shasa segera menarik Hani untuk ke kantin. Felli, Prasetyo dan Roni pun mengekor di belakangnya. Jadilah mereka satu geng menuju kantin.


Hani membeli bakpao dan beberapa permen lollipop, sedangkan Shasa yang belum sarapan memesan nasi pecel.


Teman Hani yang lain pun sibuk dengan pesanan masing masing.


"Kamu gak makan Han.. ? " tanya Prasetyo sambil memakan baksonya. "Aku bawa bekal tadi juga udah sarapan di rumah kok" sahut Hani.


Prasetyo yang melihat luka di tangan Hani terkejut, kenapa baru menyadari dari tadi kan duduknya sebangku..


Pras bertanya... "Tanganmu kena minyak lagi ya? Hani tersenyum dan mengangguk. "Bisa hati hati gak sih" Prasetyo berkata lagi.


Shasa yang sedari tadi asyik dengan nasi pecelnya mendadak berkata. " Heh Hani itu udah hati hati,, emangnya ada ya orang yang sengaja agar tangannya kena cipratan minyak, lagian itu udah di obati sama Om Arman... " Shasa kesal pada Prasetyo.


Prasetyo memang menyukai Hani, tapi Hani hanya menganggap sebagai teman saja dan tidak membuka hatinya pada siapapun. Dan Shasa sebagai sahabat dekatnya tau alasan Hani seperti itu.


Prasetyo yang mendengar Shasa berkata begitu cuman bisa manyun manyun aja sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Pras dan teman teman yang lainnya terkejut mendengar nama Om Arman. "Loh kok bisa om kamu sih Sha yang ngobatin Hani?" tanya Roni..


"Iya iya kenapa bisa sih, " Felli ikutan kepo. "Udah ceritanya panjang kapan kapan aja aku ceritain sekarang lagi gak mood" sahut Shasa cuek sambil melirik Hani yang melamun.


Hani tiba tiba teringat Om Arman., saat Shasa menyebut nama Arman. Hani teringat ketika mata Arman menatapnya tajam dan kesal.., hanya karena saat itu Hani menolak di obati tangannya.


Hani jadi bergidik takut,, "serem juga ya ku kira Om Arman gak bisa marah, kelihatannya sabar tapi ternyata bisa marah kesal begitu yah.. ihhh gak mau ketemu lagi ahhh serem... " batin Hani sendiri.


Shasa yang mendengar Hani bergumam sendiri, menyenggol tangan sahabatnya yang tengah menopang dagu itu.


Buyar dan ambyarlah lamunan Hani dan tidak lagi berani lagi memikirkan Arman yang susah di tebak karakternya, begitu menurut Hani... Pikiran melayang kemana mana sedangkan dirinya masih setia berada di sekolah saat ini 🤩🤩


bersambung...


kepoin terus ya sahabat kelanjutannya

__ADS_1


__ADS_2