
Lanjut lagi masih di 💕Pernikahan Kilat 💕 yuk berikan like ❤ komen, vote dan bintang 5 nya yah kakak.. salam sehat selalu,, selamat membaca..
Masih di kamar utama milik Arman dan Hani sekarang..
Setelah mandi, Arman berpakaian lalu mendekati Hani membangunkannya.
"Sayang bangunlah.. ayo mandi gih... ku tunggu sholat berjamaah ya sudah adzan dhuhur. " ajak Arman
Hani terbangun mengucek kedua matanya. Di lihat sang suami duduk manis di samping ranjang dengan rambut basah, dan wajah yang segar.
"Tampan benar suamiku... mudah mudahan jodoh dunia akherat.. aamiin " batin Hani.
"Emmm mas... jam berapa ini, kenapa badannku sakit semua.. " Hani masih belum sadar benar dengan kejadian tadi pagi.
"Udah siang dek,, ayo mandi besar dulu terus sholat mas menunggu yah... " perintah Arman berdiri lalu duduk di sofa, sambil memeriksa ponselnya, dia menunggu Hani .
Hani mengangguk, menggeliat, melihat jam lalu akan membuka selimut yang menutupi tubuhnya itu.
Betapa terkejutnya Hani, melihat dirinya tengah telanjang bulat.
"Ya Allah.. ternyata tadi sudah benar benar terjadi.. "batin Hani, mencoba mengingat ingat peristiwa di kamar.
Hani tersenyum senang, dan malu bercampur aduk, tugasnya sebagai istri sudah dia tunaikan dengan baik. Di liriknya Arman yang asyik dengan benda berbentuk persegi panjang itu.
Hani bangun dan menyingkap selimutnya,,
"Aawww....." teriak Hani merasakan perih di area sensitive bagian bawah.
Arman terkejut mendengar teriakan Hani, melempar ponsel di sofa, mendekat ranjang.
"Kenapa sayang..?...apa ada yang sakit,,? apa yang sakit ? "Arman bertanya khawatir.
Hani kembali menutupi tubuhnya dengan selimut ketika Arman mendekat.
Arman duduk kembali, di tepi ranjang.
"Gak papa mas.. cuman masih sakit, perih itunya.. "lirih Hani.
__ADS_1
"Itunya... " bisik Arman lirih, berpikir keras maksud perkataan istrinya.
"Ya Allah baru ngehh ternyata area Hani sakit akibat ulahku memaksakan sesuatu tadi" batin Arman ingat.
Arman berusaha membuka selimut Hani, namun Hani menolak.
"Wes lah dek,, jangan malu,, mas tadi udah lihat semuanya.. mana mas lihat yang sakit, maafin mas yah dek.. " Arman kembali membuka selimut yang dipegang Hani menutupi tubuh polosnya tersebut.
Saat di buka, Arman terkejut, ada noda darah di sana, Darah perawan Hani. Arman senang bukan main. Di jaman seperti ini pergaulan bebas remaja tak jarang merusak kesucian mereka. Dia bersyukur dengan ini, dia berharap keponakan satu satunya Shasa juga bisa menjaga miliknya sampai pernikahannya nanti tiba. Tiba tiba Arman teringat Shasa sang keponakan.
"Hani pandai menjaga miliknya." Batin Arman.
Dilihatnya lagi bagian Hani yang bengkak, di bawah selimut.
"Ya Allah kenapa sampai bisa begini, maafin mas yah dek,, mari mas bantu ke kamar mandi.. " Arman akan menggendong Hani.
Namun Hani menolak.
"Hani bisa mas, Hani bisa sendiri, ini memang agak perih tapi Hani akan berusaha sendiri." kata Hani masih menutupi dengan selimut tubuh mungilnya.
Arman tak mau mendengar ocehan istrinya, tanpa banyak kata, diangkatnya tubuh Hani di bawa ke kamar mandi, di dudukkan di closet tertutup.
"Angkat kakimu dek.. !" perintah Arman.
Hani menolak, dan menutup miliknya dengan kedua tangan kecilnya.
"Uhhh mas Arman suka maksa sih,, emang suka gitu ya tentara.?. " batin Hani memandang Arman dengan tajam.
Arman tidak memperdulikan tatapan Hani. Laki laki berusia 29 tahun itu lantas menyingkirkan tangan Hani, sedikit memaksa membuka selakangan kaki Hani, menaikkan kaki Hani di atas pangkuannya, dengan sedikit menjongkok di depan Hani, lalu mengkompres area yang bengkak tersebut dengan telaten.
Hani hanya meringis menahan perih, kedua tangannya memegang pundak Arman.
Arman memandang iba pada wanitanya itu. Melihat istrinya meringis menahan sakit menggigit bibirnya.
"Bagaimana mungkin aku melakukannya sampai membuat luka seperti ini." batin Arman kembali mengkompres dengan handuk yang dibasahi dengan air hangat.
"Mandilah dek , mas tungguin di sana yah, cepatlah biar tidak tambah masuk angin!" Arman mengakhiri kegiatannya. Menyuruh Hani segera mandi dan menunggunya di luar kamar mandi tanpa menutup pintu karena takut terjadi sesuatu pada istrinya itu.
__ADS_1
Hani menurut, bangkit berusaha berdiri untuk mandi , rasa perihnya perlahan mulai berkurang setelah di kompres. sementara Arman mengambilkan pakaian Hani di lemari. Menaruhnya di atas ranjang.
"Mas.... bisa minta tolong gak? mas tolong ambilkan Hani daleman di laci lemari.! " teriak Hani. Hani mulai tak lagi malu pada suaminya toh dia sudah tahu segalanya.
Arman yang mendengar, "Iya dek sebentar.. " berkata lalu mengambilkan sesuatu yang diminta Hani. Menyerahkan pada istrinya di balik pintu.
Beberapa menit, Hani keluar kamar mandi dengan tubuh dan rambut basah berbalut handuk, Arman memperhatikan istrinya.
Hani berjalan sedikit berbeda dari biasanya. Membuat Arman merasa bersalah..
"Bagaimana badan seramping itu tadi membuatku khilaf menindihnya,, Maafin aku nduk... habisnya sudah tertahan lama semua ini, makasih untuk semuanya. " batin Arman dalam hati lalu pamit untuk mengambil wudlu dan mereka segera melaksanakan sholat dhuhur berjamaah.
****
Seminggu berjalan dengan penuh kemesraan Hani dan Arman kini telah utuh menjalani pernikahannya tersebut.
Kali ini mereka tengah di sibukkan dengan acara resepsi pernikahan yang sempat tertunda beberapa bulan yang lalu.
Sebenarnya Hani menolak acara resepsi ini, namun kakak iparnya Arni memaksa untuk menyelenggarakan resepsi, karena merasa masih banyak handai tauland yang belum hadir di acara akad nikahan Hani dan Arman.
Resepsi di gelar di sebuah gedung milik relasi Arni kakak perempuan Arman. Arni telah mengatur semua proses acara bersama Mita besan, sekaligus sahabatnya itu.
Beberapa undangan telah di sebar, kepada tetangga kanan kiri, sanak saudara Hani dan Arman, teman teman Hani dan Arman, teman teman Arni, Arya, dan Mita. Pokok semua deh..
Semua sengaja dipersiapkan untuk Arman, adik laki lakinya sesuai janjinya pada kedua orangtua Arni dan Arman.
Hani tak lupa mengundang Pras, Felli, Roni. Shasa yang sudah pulang dari test kedinasan pun ikut senang mendengar acara resepsi yang ibundanya siapkan. Dia sibuk mempersiapkan gaun untuk pesta nanti.
"Bun... Shasa pengen bikin gaun yahh.. di butiknya tante Avanti. Ini kan pestanya om Arman, Shasa pengen tampil mengesankan" kata Shasa pada bundanya.
"Tentu saja nak.. pergilah ke butik tante Avanti nanti bunda akan menelponnya. " ujar Bunda Shasa.
"Makasih ya bun.. wahhh nanti sore aku akan ajak Hani ke sana" kata Shasa senang.
Dia sengaja tampil cantik, ada seseorang yang dia rindu saat ini. Dia merindukan Dafa, tentara yang di kenalnya pertama kali saat di rumah Arman.
Sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan laki laki berperawakan putih sejak terakhir kali mengantarkan kepergiannya bertugas di Papua.
__ADS_1
"Apakah dia merindukanku juga ?" Shasa sibuk dengan lamunannya itu menghela napas panjang. Boleh mengaguminya tapi jangan berharap terlalu besar. Batinnya kembali berkecamuk... hingga akhirnya rasa ngantuk membuainya untuk menemui mimpi mimpi yang telah menunggunya.
Bersambung lagi yah kak ditunggu kelanjutannya 🤗🤗