
Berlanjut yah... tapi sebelumnya author ingin mengucapkan "Dirgahayu Indonesiaku".... Merdeka.... ๐ฎ๐ฉ
******
Rumah cendana...
Hani mengawali harinya seperti biasa. Hari ini hari Jumat. Hani masih berbaring malas di ranjang. Di liriknya jam di ponsel menunjukkan pukul 04.40 . Perut Hani yang tiba tiba kram, membuatnya malas untuk turun kasur.
Hani memegang ponsel, memandang benda berbentuk persegi panjang tersebut.
Pagi ini rindu banget pada Arman, beberapa minggu yang lalu terakhir memberi kabar, sampai detik ini belum ada lagi kabar darinya.
Medan yang terjal, hingga jaringan yang susah di dapat di daerah Arman bertugas membuat mereka jarang berkomunikasi.
Hani melangkah turun dengan memegang perutnya yang masih kram., menuju kamar mandi. Dia merasa tamu bulanannya datang menjenguk. Biasanya memang begitu jika akan datang bulan slalu saja merasakn kram di perut dan seputaran pinggang. Bahkan dulu waktu di bangku SMA Hani hampir tiap bulan sekali absen pada pelajaran olahraga, dan tidur di ruang UKS.
Dan benar saja, darah haidnya menempel di atas sprei warna biru muda itu.
"Uhh bocor rupanya.." gerutu Hani.. Dia pun berlari kecil ke kamar mandi dengan membawa pakaian ganti.
Setelah di kamar mandi...
" Benar saja aku lagi halangan pagi ini, libur sholat " Hani bergumam, mengambil pembalut di kotak yang bertengger di dekat wastafel di dalam kamar mandi.
Selesai merampungkan kegiatannya di kamar mandi, Hani segera keluar, dan kembali berbaring.
"Ahh malas sekali sepertinya hari ini, biarkan saja aku bebaring seharian ini,,nanti sajalah mengganti spreinya,, oh ya akan ku kabari Aldo dan Ibu agar tidak menungguku datang." seru Hani mengambil ponselnya.
Diketiknya pesan untuk ibu, dan meminta maaf tidak datang ke rumah.
Beberapa menit setelah itu Hani kembali memejamkan mata dan tertidur.......
Ibu yang membaca pesan Hani, memaklumi keadaan putrinya. Beliau pun segera mengantar Aldo ke sekolah dan berbelanja ke pasar, untuk berbelanja kebutuhan bahan di catering miliknya tersebut.
*****
__ADS_1
Sementara Arman dan rombongan pasukannya telah tiba di landasan pacu.
Seusai upacara pelepasan, semua pasukan bergegas, dan bersiap untuk diantar pulang kembali ke bataliyon asalnya masing masing.
Arman mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. Memencet sebuah nama dan melakukan panggilan telepon.
"Tut... tut.. tut... "
Belum ada jawaban dari sana. Arman menghubungi Hani, rupanya Hani tertidur dan tidak mendengar bahwa ponselnya bergetar.
Arman pun menelpon kakak perempuannya.
"Assalamualaikum mbk,, apa kabar? " tanya Arman mengawali percakapannya.
"Waalaikumsalam,, masyaallah dik.. piye awakmu sehat, ono ngendi saiki? " Arni senang menerima telepon dari adik laki lakinya itu.
"Mbak,, aku sudah di bandara, sebentar lagi menunggu giliran untuk pulang. "jawab Arman.
"Loh mendadak banget beritanya, apa Hani sudah tahu?"Arni balik bertanya pada Arman.
"Biar kami jemput Hani dek, aku bawa Acep untuk membawa mobilmu bersama Hani, agar langsung ke bataliyon menunggumu di sana... "kata Arni pada adiknya itu.
Acep adalah sopir keluarga Arya, Acep bekerja pada orangtua Arya ya mertua Arni tentunya. Arya memang berpesan pada Arni jika membutuhkan tenaga sopir bisa memanggil Acep. Karena orangtua Arya yang sepuh itu juga jarang kemana mana, hanya saja Arya sengaja memperkerjakan Acep di sana untuk sewaktu waktu mengantar kedua orang tuanya ke dokter ataupun sekedar ingin jalan jalan.
Arman mengakhiri panggilannya karena truk militer telah menanti untuk mengantarnya kembali ke bataliyon. Perjalanan memakan waktu 3 jam untuk sampai tiba di sana.
Arni segera menelpon Arya, memintanya menghubungi Acep, untuk kemudian ke rumah Hani.
Hani yang sempat tertidur setengah jam, seperti ada yang membangunkannya.
Di lihat ponsel di dekat bantal, betapa terkejutnya Hani melihat panggilan tak terjawab dari Arman. Hani menelpon balik.
Panggilan tersambung....
"Assalamualaikum mas... maaf tadi menelponku? " tanya Hani setelah nada panggilan di terima.
__ADS_1
"Waalaikumsalam sayang.. iya tadi mas menelpon, adek dari mana? "tanya Arman sambil tersenyum.
"Maaf mas.. Hani ketiduran lagi tadi, perut Hani kram jadi Hani mager yang mau ke mana mana, Hani sengaja berbaring eh tau tau ketiduran lagi,, maaf yah.. mas sehat? kok ini sepertinya mas sedang di jalan? " tanya Hani pada suaminya.
"Loh sakit, gak papa papa tapi kan? Iya dek.. mas sehat.. ini lagi di jalan, dek kamu kangen gak sama mas..? " Arman belum memberitahukan kepulangannya itu.
" Mas kenapa tanya begitu.. Ya kangen lah malahan tadi pagi kangen pake banget.." seru Hani malu malu.
"Hehehe aku juga kangen sama istri kecilku ini,, tunggu yah sebentar lagi mas sampai.. bersiaplah dek jemput mas di markas yah! Assalamualaikum" Arman segera menutup teleponnya karena suara berisik kendaraan di jalan, selain itu dia ingin membuat penasaran si Hani.
"Waalaikumsalam... loh mas.. hallo hallo mas Arman... mas... kok di tutup. " gerutu Hani.
"Apakah aku bermimpi,, suamiku sudah akan datang, apa aku terlalu merindukannya sehingga khayalan ini begitu nyata." Hani bengong sambil masih duduk di atas ranjang.
Tiba tiba Mbak Arni menelpon, mengatakan bahwa satu jam lagiakan ada Pak Acep sopir keluarga Arya datang ke rumah. Dan akan menjemput Hani dengan mengendarai mobil Arman. Hani yang baru percaya mendapat kabar ini langsung berteriak girang dan meloncat loncat di atas spring bed besar yang dia tiduri.
"Awwwww... masih sakit.. "Hani meringis memegang perutnya.
Segera Hani mandi, dan bersiap. Membersihkan kamar utama, mengganti sprei yang terkena noda darah haidnya itu dengan sprei yang baru.
Menuju dapur dan memeriksa persediaan makanan yang ada di lemari es. Setelah di rasa cukup Hani meninggalakan dapur, berganti pakaian dan bersiap karena sebentar lagi Pak Acep akan datang.
Tak lama Pak Acep datang dengan di antar ojek online. Tanpa basa basi, Hani membuka pintu pagar dan mempersilahkan masuk menuju garasi untuk memanasi mobil pajero warna hitam milik Arman.
"Selama ini hanya saya panasi saja pak, mudah mudahan tidak rewel yah.. " kata Hani pada Pak Acep.
"Tidak kok non.. kondisi mobil mas Arman normal, non Hani rutin manasi mobil rupanya" kata Pak Acep masuk ke dalam mobil., lalu mengeluarkannya dari dalam garasi.
"Mangga non.. jika sudah siap kita berangkat, ibu Arni sudah menunggu di markas." ajak Pak Acep sembari membantu Hani menutup garasi.
Hani mengangguk, berlari kecil, mengambil tas di dalam, mengunci pintu dan segera berangkat bersama Pak Acep.
Sepanjang perjalanan hati Hani sangatlah senang. Tak di sangka kabar baik ini datang dengan cepat. Bahkan mas Arman tidak mengabari siapapun jika telah usai menjalankan tugasnya menjaga perbatasan.
"Alhamdulillah Ya Allah.. "senyum Hani mengembang di wajah putihnya itu. Nampak ada yang berbeda dari penampilan Hani hari ini.
__ADS_1
Mau tahu yah... yuk simak terus kelanjutannya nanti yah.. bersambung ๐ค๐ค