Pernikahan Kilat

Pernikahan Kilat
Bab 51 Akhirnya terjadi..


__ADS_3

Lanjut baca lagi ya kak... mohon dukungannya, jangan lupa like❤..komen.. vote.. dan bintang 5 nya ya readers.. salam sehat selalu....


Sesampainya di rumah Arman....


Keduanya masih membisu, Arman menutup pagar, sementara Hani membawa masuk belanjaannya.


" Huh kenapa sih mas Arman marah begitu, ketemu sama mantannya kan harusnya aku yang marah, ehh malah dia begitu.. " gerutu Hani berjalan menuju dapur.


Hani mengeluarkan barang belanjaannya,, dan meletakkan di tempat tempat yang sudah tersedia.


Hani mencuci sayuran dan buah. Lalu meletakkan buah di atas meja makan. Sementara ikan yang sudah di bersihkan di pasar tadi di taruh di wadah untuk di cuci.


Arman sibuk memasukkan sepeda motor ninja warna merah tersebut di dalam garasi, sambil sekalian memanasi mobil.


Membersihkan sebentar kemudian masuk kembali ke dalam rumah, untuk menemui Hani.


Arman menyusul istrinya di dapur. " Dek... tolong kalo sudah segera ke kamar, mas mu bicara, Taruhlah semua itu di kulkas. Nanti mas bantu membersihkannya.!" perintah Arman pada Hani.


Hani mengangguk mengiyakan, memasukkan sebagian sayur dan ikan yang sudah dia cuci untuk di tata di lemari pendingin.


Hani mencuci tangannya dengan sabun karena bau amis ikan masih belum hilang.


Setelah itu dia menuju kamar utama, ada Arman yang menunggu duduk di meja kerja dekat jendela kamar.


Hani mendekat pada suaminya itu. Duduk di sofa., menunggu apa yang akan Arman katakan padanya.

__ADS_1


Hani hanya diam memperhatikan suaminya yang belum mengatakan satu patah katapun.


Dengan sabar dia menunggu, tidak berani berbicara, sebenarnya itu kebiasaan Hani yang hanya diam ketika ada masalah, memendamnya sendiri dalam hati.


"Dik... mas mau tanya.. apakah beberapa hari yang lalu kamu ke rumah Resti untuk mengantar orderan ?" Arman menatap Hani yang juga menatap dirinya.


"Iya mas,, kemarin dulu Hani mengantarkan pesanan rendang ke rumah Tante itu, memangnya kenapa mas? " Hani bertanya balik.


"Apakah dia mengganggumu,? atau dia mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaanmu dek? " tanya Arman lagi.


Saat berbicara Arman hanya fokus pada bibir Hani yang mungil. Dia tidak melepaskan pandangannya pada wanita yang tengah duduk santai bersandar pada sofa di samping meja kerjanya tersebut.


"Enggak mas,, dia gak menggangguku, tapi maaf mas.. hanya saja.. emmm aku gak suka dia berkata merendahkanmu, menyalahkanmu, saat dia tahu aku istri mas, dia kira aku kerja sebagai kurir pengantar makanan online, tante itu bilang katanya mas membiarkanku bekerja tidak memberikan uang untukku, aku kesal padanya lalu aku bantah semuanya. Lalu aku berpamitan pulang. Hatiku sakit mas, di kala ada orang yang tidak mengetahui kebenaran lalu dia mencoba coba menerka sendiri semau mereka. " Hani menceritakan semua kejadian yang sebenarnya sudah dia lupakan.


"Kenapa adek gak cerita ke mas..? Harusnya Hani cerita pada mas,, mas gak suka jika harus mendengar dari orang lain seperti tadi" tanya Arman lagi.


Arman berdiri dari kursinya, mendekati Hani dan duduk bersimpuh di depan kekasih hatinya.


"Dek... lain kali ceritakan semua jika ada yang menyangkut pernikahan kita, rumah tangga kita, mas gak mau ada kesalah pahaman kelak, mas takut saja, mas gak mau kamu selalu terluka dan sakit. Hani maafin mas yah bukan bermaksud kasar tadi menarik tangan Hani. Hanya mas gak suka aja ,risih lihat wanita itu mengganggu sarapan pagi kita tadi. Sekarang Hani mau menuruti semua permintaan mas ini kan..? " jelas Arman, dan mengacungkan kelingking kanannya, meminta Hani berjanji.


"Mas gak mau dia mengganggumu, dan rumah tangga kita, Hani tau dia itu mantan mas kan... dan pergi begitu saja saat mas sedang berjuang untuk masa depan mas, ternyata dia memilih pria lain. Dan yang bikin mas tambah kesal suami dia itu kakak leting mas Arman waktu di pendidikan. Suaminya gak tau dek dia dulu pacar mas, kasihan sekali dia. " Arman berkata panjang lebar.


Hani mendengarkan suaminya itu, dan sudah paham dengan apa yang pernah dia ceritakan padanya.


"Itu hanya masa lalu mas... mas jangan takut, dulunya Hani merasa kesal sekali, cemburu dan sakit hati, tapi setelah Hani pikir pikir tidak ada gunanya, bukankah dia juga telah memiliki kehidupan sendiri bersama orang yang dia pilih. Sekarang mas pun demikian. Sudah menikah denganku. Apakah mas masih akan mengejar cintanya? tentu saja tidak bukan.. Biarkan saja dia begitu, yang penting kita bahagia mas... " kata kata Hani yang bijak membuat Arman trenyuh.

__ADS_1


Aku berjanji mas... bakalan nurut apa yang mas minta selagi itu baik" Hani kembali berkata.


Hani tersenyum.. "Rupanya suamiku ini tadi marah sama wanita itu hehe kirain marah kenapa,, emm makin sayang deh" batin Hani senang.


Hani pun mengangkat jari kelingkingnya juga, mengaitkan pada kelingking Arman.


"Hani janji pada Mas akan menuruti semua perintah mas..kata ibu Hani, surga wanita yang sudah menikah itu di telapak kaki suami,, asalkan suaminya mengajarkan dan membawanya ke jalan kebenaran..Hani harus jadi istri yang baik, perintah ibu begitu.. "janji Hani dengan mata berbinar.


Arman tersenyum puas.. "Baiklah karena sayangku ini sudah berjanji untuk menurut pada suaminya. Sekarang mas mau minta.. Hani mandi bareng Mas Arman!" kata Arman sambil tersenyum licik.


Hani melototkan matanya yang bulat seolah olah ingin mengeluarkannya, mendengar permintaan suaminya itu.


"Mas... kok gitu...gak aahh.. Hani gak mau " protes Hani.


"Loh loh.. Gak boleh protes dek...bukankah baru saja adek berkata dan berjanji untuk menurut pada suaminya.. " jelas Arman menagih janji Hani seraya tersenyum menahan tawa.


"Tapi kan mas ini beda.. ini kan...permintaan mas aneh aneh ahhh... " Perkataan Hani terpotong.


"Ooppp wes... gak enek tapi tapian.. mas mau Hani mandi bareng mas, Hani ku sayang.. masih bau ikan tadi dari pasar.. masak cuman minta mandi bareng aja aneh aneh,, bagaimana kalo mas minta yang lain hayoo" kata Arman seraya mendekat, mencium pipi Hani lalu menariknya ke kamar mandi yang terletak di dalam kamarnya tersebut.


Hani mau gak mau mengikuti permintaan suaminya itu, bagai buah simalakama, baru saja dia berjanji, namun sekarang harus berada di ujung janjinya itu.


"Ahh benar benar suamiku ini, bagaimana aku harus mencari alasan untuk menundanya lagi" Hani berpikir keras saat suaminya menggandengnya menuju kamar mandi.


Arman senang istrinya menuruti permintaanya itu. Dengan senyum penuh kemenangan, telah membawa wanita yang telah sah menjadi istrinya untuk mandi bersama.

__ADS_1


Bersambung dulu yah kakak,, salam sehat selalu 🤗🤗


__ADS_2