Pernikahan Kilat

Pernikahan Kilat
Bab 60 Pusing


__ADS_3

Lanjut lagi masih di 💕Pernikahan Kilat 💕 yuk berikan like ❤ komen, vote dan bintang 5 nya yah kakak.. salam sehat selalu,, selamat membaca.


Beberapa bulan berlalu, rumah tangga Arman dan Hani berjalan dengan mesra dan tenang. Demikian pun keluarga ibu Hani dan bundanya Shasa semuanya di karunia kesehatan.


Saat ini Shasa dan Hani mengikuti kuliah online seperti yang di sarankan bundanya, Shasa ikut mendaftar bersama Hani. Tante sekaligus sahabat terbaiknya.


Mereka berdua benar benar menikmati, masa masa bersama itu, tidak menyangka sejak SMP hingga kini pun masih menimba ilmu di tempat yang sama.


Shasa juga sering membantu usaha catering Hani. Jika ada waktu luang dia datang ke rumah Ibu Hani, di sana dia membantu ibu, dan Hani yang menerima layanan via online juga. Hal ini sedikit demi sedikit membuat Shasa melupakan kegagalannya, dan sibuk dengan rutinitas barunya.


Jika hari Sabtu tiba mereka berdua akan duduk manis mengikuti materi kuliah yang diberikan secara online. Dan untuk hari Senin sampai Kamis Hani yang sibuk dengan pesanan cateringnya, dibantu Shasa mengantarkan kepada beberapa costumer.


Terkadang jadwal Hani tidak dapat di prediksi, Hani yang seorang istri tentara juga wajib mengikuti kegiatan ibu Persit di kantor. Sehingga dia harus benar benar bisa membagi waktu dengan baik.


Namun Hani bersyukur dan tidak menyangka bahwa ada sahabatnya yang menemani hari harinya di kala sibuk, terima orderan. Dan mereka kini bisa pergi bersama juga untuk membantu Arni mengurusi bisnis keluarga.


Bukan tanpa alasan lain jika Shasa memutuskan untuk mengambil kuliah online ini karena hubungan Shasa dengan Dafa makin erat. Dan sudah di ketahui, mereka mendapat restu dari orangtua Shasa.


Tentu semua sudah digariskan oleh Tuhan, jalan hidup masing masing.Akan ada pelangi setelah hujan badai. Begitu kata Hani pada sahabat sekaligus keponakaannya itu.


Keluarga Shasa merasa berterimakasih karena Dafa telah berhasil membuat Shasa bangkit kembali dan mau untuk meneruskan studinya. Karena orangtua Shasa sempat khawatir, jika putri tunggal mereka akan mogok dan menolak untuk kuliah lagi. Setelah berhasil meyakinkan Shasa, babang Dafa berjanji untuk selalu setia menemani Shasa untuk sama sama berjuang.


*****


Minggu pagi ini di rumah cendana...


Seperti biasa, setelah sholat shubuh berjamaah, Hani duduk di samping suaminya yang sedang mengaji. Di lihatnya jam masih menunjukkan pukul 04.30.


Dengan mukena putih tulang miliknya Hani bersandar di bahu kekar milik suaminya.


Lantunan ayat ayat suci Al Quran, membuat Hani merasa tenang. Hani sendiri sudah membaca beberapa ayat, namun tiba tiba dia merasa pusing dan kabur pandangannya. Maka dia putuskan untuk mengakhiri bacaan Al Qurannya.


Setelah selesai membaca Arman menutup kita suci tersebut, dan memperhatikan istri yang masih bersandar mesra di bahu lengan tangannya.

__ADS_1


"Kenapa dik..? apa sakit ?" tanya Arman menoleh ke samping masih dengan memegang al quran di tangannya.


Hani yang memejamkan mata melirik Arman dengan tatapan mesra...


"Cuman pusing dikit mas... tadi pas ngaji dapat beberapa ayat udah pusing dan kabur, gak biasanya begini.. " kata Hani masih sambil melingkarkan tangannya di lengan laki laki berbaju koko.


Arman meletakkan kitabnya di atas tempat Al quran yang terbuat kayu di depannya. Lalu memegang kening Hani.


"Gak demam sayang, mungkin kurang tidur dik, jangan terlalu capek tiap harinya, kurangi saja terima pesanannya, Hani kan bisa sambil lalu mencari karyawan untuk mengantar pesanan costumer. Gak mesti kudu mlaku dhewe yo... " Arman mengangkat dagu istrinya, menatap lalu mendaratkan ciuman di bibir imut Hani.


Hani mengangguk tanda paham. Saat mereka berdua akan bersiap siap melakukan aktifitas pagi, Hani yang masih melipat mukena merasakan cegukan. Makin lama makin sering Hani bersendawa.


Arman mengambilkan segelas air putih untuk Hani memberikan pada Hani agar dia meminumnya.


Hani meminum air putih yang Arman berikan dengan beberapa kali teguk, namun sendawa Hani masih belum hilang.


Arman mendudukkan Hani di sofa kamar, lalu memijit pundak bahu Hani perlahan. Membuat Hani merasa nyaman. Kemudian mengeluarkan suara angin dari mulut Hai seperti orang glegek'an kata orang Jawa.


"Koyoke masuk angin dek" kata Arman dengan serius masih memijat leher dan bahu Hani.


"Aneh piye toh dik ? mau ke dokter tah ?" tanya Arman sedikit mengkhawatirkan Hani yang jarang mengeluh sesuatu, jika tidak Arman paksa berbicara maka Hani baru mau menceritakannya.


"Mboten mas... cuman aneh aneh aja, Hani juga gak tau juga, udah mas.. Hani mau masak dulu.. apa mas mau olahraga pagi? " tanya Hani tiba tiba teringat akan tugasnya sebagai istri.


"Waduh gara gara pusing lupa bikin kopi buat mas Arman nih " batin Hani merasa tidak enak hati pada Arman.


Bukannya lalai tapi memang Hani lagi pusing, jadi dia masih sedikit gontai melangkah, hanya saja dia paksakan untuk bangun pagi itu.


"Udah masalah masak gak usah masak wis dek, apa mau sarapan di luar tah dik? Hani ikut mas olahraga pagi , terus pulange kita maem." ajak Arman pada Hani.


"Emmmm... gak deh mas,, Hani mau di rumah aja, biar Hani masakin mas, kemarin sore Hani udah pesen gurami, ntar Hani mau bakar,, mas Arman sarapan sama itu aja, bagaimana? " tanya Hani semangat.


"Oke deh, kalo gitu mas tak olahraga dulu yo" jawab arman sambil mengecup kening Hani.

__ADS_1


Beberapa waktu kemudian mereka berdua telah disibukkan dengan pekerjaan masing masing.


Sepeninggalan Arman yang sedang olah raga, Hani sibuk dengan dapurnya. Masak nasi, membakar gurami, membuat sambal, merebus terong dan labu siam, mengiris mentimun untuk lalapan.


Semua menu sudah komplit, meskipun pusing tidak Hani rasakan. Makanan telah tertata rapi di meja makan.


Setelah membereskan dapur Hani mandi, kemudian menghubungi suaminya memintanya pulang untuk sarapan.


Sambil menunggu kedatangan Arman, Hani membuka pintu depan rumahnya, kemudian menyiram tanaman yang tertata rapi di sana.


Sambil bersenandung riang, Hani yang memakai celana panjang kain santai, dan kaos lengan panjang, menutupi rambut dengan hijab pasmina, makin menambah kecantikannya meskipun tampil dengan baju sederhana sekalipun.


Hani yang sengat senang dengan menyanyi, menghiasi pagi dengan ***Fly Me to The Moon


Fly me to the moon


Let me play among the stars


Let me see what spring is like on


A-Jupiter and Mars


In other words, hold my hand


In other words, baby, kiss me***..


Sebait lagu dia lantunkan dengan suara kecil, menemani guyuran air untuk bunga bunga kecil di taman depan rumah cendana.


Terdengar suara deru motor Arman, Hani membukakan pagar untuknya. Setelah masuk, Arman menyerahkan bungkusan kecil pada Hani.


"Dik.. tadi mas beli cenil kesukaanmu.. " kata Arman mencium kening istrinya setelah bersalaman.


Hani menerima dengan senang hati, membawanya masuk ke dalam. Sementara Arman pergi mandi, setelah tahu istrinya yang pandai memasak sudah mempersiapkan menu andalan untuk sarapan pagi ini.

__ADS_1


Hani meletakkan cenil di atas meja makan, menutup pintu ruang tamu.


Bersambung dulu yah... 🤗🤗


__ADS_2