
Lanjut lagi yuk...
Malamnya telah tiba...
Hani berkumpul bersama keluarganya di ruang keluarga sambil menonton berita di TV.
Aldo adik Hani lagi kangen sama kakaknya, dia tiduran di pangkuan Hani. Mereka duduk di karpet bawah.
Sementara ibu serius menyimak berita. Duduk di atas sofa. Dan Bi Imas yang sudah mulai terserang rasa kantuk duduk manis di karpet bawah ikut menyimak berita meskipun terkadang setengah tertidur sambil duduk.
Terdengar suara deru mobil memasuki halaman rumah Hani. Aldo yang mendengar langsung melihat keluar melalui jendela ruang tamu.
"Kak.. kak ada Mas Arman, dan Tante Arni datang.. " teriak Aldo lalu membukakan pintu untuk Arman dan Arni.
"Assalamualaikum anak cakep... kamu gak belajar ? oh ya ibu dan kakak ada? " Arni menyapa Aldo dengan ramah.
"Waalaikumsalam tante... tadi sore sudah belajar te... oh ya silahkan masuk dulu, ibu dan kakak ada kok sebentar Aldo panggilkan.. ayo mas silahkan duduk juga" Aldo mempersilahkan Arman dan Arni duduk setelah menyalami mereka, Aldo masuk ke dalam.
Di dalam, rupanya Ibu Hani mengetahui bahwa yang datang adalah keluarga besan dan menantunya segera bersiap keluar.
Hani membantu Bi Imas di dapur, menyiapkan minuman dan kue untuk suguhan.
"Ohhh Arni... tumben malam malam, kenapa tidak menelponku dulu jika akan kemari, setidaknya akan ku masakkan sayur lodeh ikan asin kesukaanmu,, " Ibu Hani menyapa besannya itu.
Arni tertawa renyah.. "Maaf dadakan nih Mita., maunya sih besok ke sini cuman ini urusan penting,tentang pernikahan Arman dan Hani." jelas Arni pada Mita.
Hani keluar dengan dua cangkir teh hangat serta kue bolu buatan Ibu Hani. Hani menyalami Arni dan Arman. Mempersilahkan hidangannya, Kemudian pamit masuk, pesan ibu kepada Hani tadi, untuk tidak ikut menemui mereka sebelum ibu memanggil.
Arni melanjutkan perbincangan serius itu.
"Begini Mita.. maksud kedatangan kami kemari itu adalah Arman ingin memberitahukan padamu dan Hani bahwa tanggal 6 Agustus malam, Arman akan berangkat tugas ke Papua." Arni menjelaskan langsung maksud dan tujuannya datang malam malam.
Mita sedikit terkejut bukannya tanggal 6 Agustus adalah bertepatan dengan tanggal pernikahan Arman dan Hani yang telah di daftarkan di KUA.
"Ibu... pernikahan kami akan tetap di laksanakan pagi harinya bu, hanya saja saya akan langsung berangkat bertugas." Arman menjelaskan pada ibu mertuanya yang masih terdiam.
"Iya Mita... kamu tidak perlu mengkhawatirkan segala sesuatunya sudah kami atur, yang penting akad nikah tetap berlanjut seperti rencana kita sebelumnya. " kata Arni.
__ADS_1
"Baiklah... kalo ibu bagaimana baiknya saja, semoga pernikahan ini membawa berkah dan kebahagiaan buat keluarga kita semua,, Insyaallah Hani menerima dengan ikhlas. " Ibu Hani berkata sambil tersenyum, meskipun dalam hatinya sedikit sedih memikirkan puterinya tersebut.
Di hari pernikahan puterinya harus rela di tinggal tugas oleh suami. Namun ini adalah resiko dari seorang istri prajurit yang berikrar setia pada sumpah dan janjinya pada negara.
Mita memanggil Hani untuk keluar dan bertemu dengan Arman dan Arni. Hani duduk di samping ibunya. Wajahnya sedikit tegang seperti pertama kali bertemu saat acara lamaran pertunangan beberapa tempo yang lalu.
"Ndukkk... Nak Arman akan berangkat tugas ke Papua tanggal 6 Agustus nanti, setelah akad nikahmu, Kamu harus mendukung suamimu nduk dan memberikan doa yang terbaik untuknya. " Mita berkata pada Hani.
Deg..
Hani tertegun mendengar berita tersebut.
Namun dia berusaha bersikap tenang, agar ibunya tidak khawatir. Hani mengangguk terdiam lalu mencuri pandang pada Arman.
Arman tersenyum nanar padanya.
Arni yang memperhatikan Hani pun turut merasakan kesedihan yang Hani rasakan meskipun tak terucap, namun cukup terasa di batin Arni.
Di mana,, di hari pernikahan umumnya, kedua pengantin merasakan bahagia. Di sini,, di pernikahan kilat adiknya akan ada kebahagiaan yang tak biasa.
Hani yang sedikit bersedih pun mulai berusaha untuk tegar menerima semuanya.
"Hani... maafkan mas.. tapi mas janji akan kembali dengan selamat demi cinta kita,mas tahu kamu menyembunyikan kesedihanmu itu di depan semua orang, tapi kamu tak pandai menyembunyikan dariku" Arman membatin dalam hatinya yang sakit seperti teriris sembilu memandang wajah gadis lugu itu.
"Hani sayang... Hani mau mahar pernikahan apa nanti? " tanya Arni sambil menyeruput tehnya.
"Terserah tante saja... " Jawab Hani sopan.
Setelah di rasa cukup berbincang bincang akhirnya mereka pamit pulang. Arman berpesan bahwa besok pagi akan menjemput Hani untuk menghadiri sidang nikah di kantor.
Hani mengangguk paham, mengulurkan tangan menyalami Arman dan Arni.
Hani dan Mita mengantarkan sampai ke halaman depan rumah.
Malam itu berlalu begitu saja, bersama dengan kesunyian hati Hani. Kepasrahannya menerima semua ini.
"Bukankah ini hanya sebentar Hani, Arman hanya akan pergi demi Tugas Negara yang mulia. Tentu kamu harus bangga mempunyai suami seorang prajurit yang setia. Sudah menjadi tugasmu mendukung apapun yang terjadi" Hati Hani berkata demikian.
__ADS_1
Hani memandang foto dirinya yang tengah bersanding dengan Arman yang mengenakan seragam dinas itu. Terselip rasa bangga. Akhirnya Hani pun dapat tersenyum dan larut dalam tidur malamnya.
Terjawab sudah teka teki selama ini. Apa yang ingin Arman sampaikan sewaktu kemarin, setelah pengakuan cintanya pada Hani dan penjelasan tentang wanita masa lalunya itu namun tak sampai hati Arman menyampaikannya.
Dan terjawab juga rasa penasaran Hani tentang telepon tadi siang di rumah makan saung itu, bahwa telepon tersebut mengabarkan tentang keberangkatan Arman tugas ke Papua.
Keesokan harinya,
Arman menjemput Hani untuk sidang pernikahan. Pakaian seragam hijau istri tentara Hani kenakan. Hani tampak cantik, meskipun badannya mungil namun tak mengurangi kesan anggun dan manisnya.
Arman bangga memiliki Hani, mereka pun berpamitan pada Ibu Hani memohon doa agar dilancarkan untuk acara hari ini.
Sidang berjalan dengan lancar. Dan kedua pasangan ini mendapat selamat dari beberapa rekannya.
Setelah beberapa hari kemudian..,
H-2 Pernikahan
Hari ini...segala persiapan pernikahan Hani dan Arman tengah di persiapkan..
Setelah kemarin Hani dan Arman menjalani sidang nikah di kantor, dan menyelesaikan berbagai dokumen sebagai persyaratan pernikahan seorang abdinegara.
Kini Hani menjalani tradisi pingitan menurut orang Jawa. Calon pengantin di larang bertemu dulu. Hani hanya mengikuti apa yang menjadi adat di keluarganya yang notabenenya dari keluarga berdarah Jawa.
Seharian Hani di dalam kamar, sesekali dia meminta Aldo adiknya untuk menemani. Beruntung saja Aldo libur sekolah setelah Ujian kenaikan kelas. Dia habiskan waktu di kamar dengan bersenda gurau dan bercanda gila gilaan dengan adik kesayangannya itu.
Aldo berusaha menjadi adik yang baik. Begitu pula Hani sebaliknya.
Hani juga tak lupa mengundang sahabatnya melalui wa.
Meskipun sedikit kaget,, Pras, Felli dan Roni memahami alasan Hani. Pras patah hati namun dia bahagia jika melihat Hani bahagia. Dia akan sekalian berpamitan pada Hani di Hari pernikahannya untuk mohon doa mengikuti tes masuk POLISI.
Sementara itu Shasa, Felli dan Roni sibuk memilih dan mencari kado pernikahan untuk Hani. Mereka kompak hadir di acara pernikahan Hani besok lusa. Pras dengan berbesar hati memenuhi undangan gadis yang sempat beberapa tahun mengisi hatinya itu.
"Terimakasih Hani... selama ini kamu sudah mengajarkanku arti menyayangi tanp harus memiliki, aku tahu kamu rasa sayangmu, perhatianmu padaku hanyalah sebatas persahabatan, dan aku juga tahu kamu tulus ikhlas melakukannya, Hani kamu memang wanita terbaik yang aku temui selama ini. kamu tetap akan aku kagumi sampai kapanpun. Semoga bahagia Hani,,, doaku selalu untukmu.. Kirim salam buat Om Arman yang mungkin saat ini sedang ikut membaca, sampaikan salamku katakan.. bagi tipsnya untuk menjadi abdinegara 😀" tulis Pras pada secarik kertas yang akan dia kirimkan pada Hani beserta kado pernikahan khusus dari Pras dan akan di kemas rapi.
Bersambung dulu yah.. tunggu pernikahan Hani akan di gelar sebentar lagi nih.. ikutin terus kisah selanjutnya.
__ADS_1