Pernikahan Kilat

Pernikahan Kilat
Bab 33 Berjanji..


__ADS_3

Hai... berlanjut nihhh...


Jam menunjukkan pukul 15.20


Hani dan Shasa sudah selesai beberes, dan mandi. Hani berada di kamar Arman, setelah mandi dia sholat ashar. Sementara Shasa duduk santai di ruang tengah sambil menonton TV.


Tak berapa lama Arman datang, dan Shasa yang membukakan pintu, karena Hani masih berada di kamar Arman.


Setelah berbincang sebentar dengan keponakannya itu, Arman menuju kamar, meninggalkan Shasa yang kembali asyik dengan acara infotainmen.


Arman masuk kamar, melihat Hani yang masih mengenakan mukena sedang sujud melaksanakan sholat.


Arman mengambil handuk dan pakaiannya di dalam lemari, lalu bergegas mandi.


Selesai sholat Hani melipat sajadah dan mukena, dia mendengar Arman sudah pulang dan tengah mandi saat ini.


Hani menyisir rambutnya, tak lama Arman selesai mandi dan akan bersiap sholat juga.


"Mas sudah pulang dari tadi? " tanya Hani melihat Arman menggelar sajadahnya.


"Iya dek,, bagaimana sudah selesai semua persiapannya untuk nanti malam? " tanya Arman.


"Beres mas,, hanya tinggal belum buat minumannya,, kopi juga sepertinya habis." jawab Hani.


"Sebentar lagi kita keluar ke minimarket mas sholat dulu. " ajak Arman pada Hani kemudian.


Setelah selesai melakukan aktifitasnya, Arman dan Hani keluar rumah untuk membeli beberapa kebutuhan yang kurang untuk acara nanti malam. Hani berpamitan pada Shasa. Dan menanyakan apakah Shasa ada titipan yang akam dibeli.


Mereka berdua mengendarai Motor Arman menuju minimarket yang letaknya tak jauh dari rumah Arman.


Sesampainya di mini market, Hani dan Arman sibuk memilih barang.


Ada minuman bersoda pesanan Shasa, beberapa kotak jus kemasan. Kopi susu, dan beberapa macam camilan.


Tengah asyik kedua pasangan itu berbelanja., Tiba tiba seseorang menabrak Hani tidak sengaja.


Brakkkk... "Aduh" pekik Hani.


Arman meletakkan keranjangnya di lantai dan menolong Hani yang terjatuh di sampingnya.


"Maaf dek.. "sahut orang itu meminta maaf.

__ADS_1


Arman segera menolong Hani dan ingin rasanya marah kepada orang yang menabrak tunangannya itu.


Saat semua mata saling bertemu.


Deg.....


"Arman... " sahut orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Resti.


"Resti... "gumam Arman masih dengan posisi membantu Hani berdiri.


Hani yang melihat Resti dan sadar bahwa yang menabraknya barusan adalah mantan kekasih calon suaminya itu hanya bisa melongo.. dan terkejut.


Hani segera menguasai diri, lalu bangun dengan bantuan Arman.


"Arman.. gak nyangka nih kita ketemu di sini,, apa kabar kamu,,? oh ya aku ingin mampir ke rumahmu sebenarnya, ingin berterimakasih atas kejadian tempo hari. Kamu menolongku waktu itu. " kata kata Resti membuat Hani menunduk tidak enak.


"Ahhh... lupakan kebetulan saya pas lewat... sudah berlalu tak perlu diingat lagi, " sahut Arman sambil melirik Hani yang terlihat gerah dengan pertemuan ini.


"Emmm Arman kamu masih tidak berubah masih sama seperti yang dulu, bahasamu terlalu formal, jangan begitulah kita kan sudah lama kenal. " Resti mulai bersikap genit pada Arman.


"Ya Allah.. kenapa bertemu dengan tante ini di sini,, membuatku sakit kepala,, mana genit lagi, sudah bersuami pula masih suka genit,, apakah tidak merasa bersalah sudah menabrak seseorang masih saja genit" Hani bergumam dalam hatinya.


Hatinya mulai bercampur aduk dengan perasaan takut dan khawatirnya... "Mudah mudahan Mas Arman gak lagi jatuh cinta kembali,, alih alih mengingat ingat kata kata CLBK.. cinta lama bersemi kembali.. " pikiran Hani melayang yang tidak tidak.


Resti yang melihat tangan Arman menggenggam tangan gadis belia yang di tabraknya tadi jadi kepo.


"Hei... siapa gadis ini? ,, maaf ya dek tadi saya buru buru.. " tanya Resti memandang Hani dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan penasaran.


Arman menyahut.. "Emmm Resti... sampai lupa.. kenalkan ini Hani,,, calon istriku,, sebentar lagi kami akan menikah " Arman menjelaskan dengan senyum lebar πŸ˜€.


Resti terkejut bukan main kemudian berpikir menerka nerka.. .. "Kenapa selera Arman berubah, kenapa suka dan tertarik pada gadis ingusan seperti ini. Body tak begitu bagus.. memang sih kulitnya putih dan manis.. tapi benar benar jauh dari ekspektasiku" batin Resti.


"Hani... kenalkan ini Resti, yang Mas ceritakan tempo hari." Arman memperkenalkan Resti pada Hani.


Hani mengulurkan tangannya, meskipun sudah mulai gerah tapi dia berusaha menahan dan bersikap dewasa, serta tak ingin membuat calon suaminya malu.


"Hallo.. saya Hani, tunangannya Mas Arman, senang bertemu dengan anda. Bagaimana dengan luka anda kemarin? apakah sudah baikan? " Tanya Hani dengan kepercayaan diri yang tinggi memperkenalkan dirinya.


Resti menerima jabat tangan Hani..


"Baik sudah lumayan" jawab Resti dengan sedikit gelagapan menyambut sapaan dan uluran tangan Hani.

__ADS_1


"Hah dasarrr... bocah... bagaimana bisa bersikap jumawa seperti itu. "kembali Resti bergumam.


Arman kagum pada sikap Hani, meskipun tahu Hani sedang menahan amarahnya, tapi dia bisa mengendalikan diri.


"Meskipun masih muda belia,, Hani benar benar pandai mengatur sikapnya.. Duh Hani sayang... tambah cinta ❀😍" Batin Arman bangga melihat sikap tunangannya itu,


"Baiklah Res... saya duluan ya,, masih harus mendampingi ibu negara belanja nih., bukannya kamu juga bilang buru buru tadi, salam buat abang...... , kami juga akan mengundang kalian nanti di acara pernikahan kami, di tunggu ya.. " Arman berpamitan pada Resti yang masih berdiri mematung melihat Arman menggandeng mesra tangan Hani sambil menenteng keranjang belanjaan.


Hani tersenyum manis.. dan menundukkan kepala sedikit menandakan berpamitan pada Resti. Lalu mengikuti langkah Arman menuju meja kasir.


"Entah mengapa rasa sakit ini begitu terasa Arman.. mengapa gadis ingusan seperti itu pilihanmu" Resti masih kesal pada mereka dan berlalu membatalkan acara belanjanya dan memilih untuk meninggalkan minimarket tersebut.


Setelah selesai membayar belanjaan, Arman dan Hani pulang.


Di tengah perjalanan Arman merasa hati Hani sedikit tidak enak dan gundah.


"Apakah ada yang akan dibeli lagi dek? " tanya Arman memulai pembicaraan.


Hani menjawab.. " Tidak ada mas, kita pulang saja kasihan Shasa sendirian di rumah."


"Baiklah kita pulang... berpeganganlah yang erat. " kata Arman yang sengaja melajukan motornya dengan sedikit cepat itu, agar Hani mau berpegangan padanya.


Hani yang masih sedikit kesal pada Arman tidak mau berpegangan meskipun Arman mempercepat laju motornya itu.


Arman yang tahu Hani kesal segera meraih tangan Hani di belakang punggungnya agak kasar dan menariknya meletakkan di pinggangnya, dengan posisi seperti Hani memeluk Arman dari belakang.


Mau tak mau Hani memeluk pinggang Arman. Karena Arman kembali mempercepat laju motornya itu.


Hani hanya diam dan masih merasa kesal. Hani menempelkan wajah manisnya pada punggung Arman, tak terasa airmatanya menetes. Arman yang tahu Hani menangis membiarkan kekasihnya meluapkan kekesalannya itu.


"Mengapa setiap kali aku menangis dan sakit, akan merasa nyaman bila berada di dekat laki laki ini" batin Hani masih sambil memeluk Arman yang berkonsentrasi dengan laju kendaraannya.


Arman memahami bahwa gadis belia itu masih belum mengerti rumitnya suatu hubungan. Arman tahu semua tentang Hani yang cemburu kepada Resti dari cerita Shasa.


Sebenarnya Arman senang Hani cemburu seperti itu, namun sampai saat ini Hani belum melayangkan protesnya pada Arman. Arman ingin tahu dari Hani sendiri untuk mengakui bahwa dirinya cemburu.


Arman pun juga ingin menjelaskan pada Hani. Hanya saja Arman belum punya kesempatan untuk meyakinkan Hani. Arman berjanji membuat Hani mempercayai kesetiaannya.


Arman merasakan tangisan Hani di punggungnya. Rasanya juga sakit di dada Arman melihat kekasihnya begitu.


Biarlah semua berjalan dengan mengalir begitu saja, tidak akan ada yang di tutup tutupi dari kisah ini. Tunggu saja Hani.. Mas akan menutup lukamu dengan kebahagiaan.

__ADS_1


Bersambung dulu yah... πŸ€—πŸ€—


__ADS_2