Pernikahan Kilat

Pernikahan Kilat
Bab 16 Aneh..


__ADS_3

Ketemu lagi.....


Beberapa jam berlalu, Hani yang tengah sibuk dengan belajarnya tidak menyadari bahwa ibu dan Bi Imas telah tiba di rumah.


"Assalamualaikum... " Ibu memberi salam.


Hani yang mendengar ibunya menjawab...... " Waalaikumsalam"


Ibu dah datang rupanya bergegas dia menyusul sang ibu yang sudah berjalan mendahului menuju dapur. Bi Imas sibuk mengeluarkan belanjaan. Hani mengekor ibunya.


"Apakah putri ibu selesai belajarnya nak?" tanya Ibu Hani yang masih sibuk dengan barang belanjaannya.


" Alhamdulillah masih dalam proses bu. .. materi yang diberikan lumayan banyak, harus sering di ulang." jawab Hani.


Ibu mengangguk dan memahaminya.


"Ini kue pesanannya Mbak Hani.. " kata Bi Imas sambil menyodorkan bungkusan daun.


" Wahh makasih ya bi... " Hani senang sekali.


Ya saat ibu dan Bi Imas akan ke pasar, Hani sempat memesan "Cenil" jajanan pasar yang manis dengan sirup gula merah di atasnya.



Hani sangat menyukainya.


Dan mengucapkan terima kasih pada ibu dan Bi Imas. Hani segera membuka dan memakannya hingga habis.


Kesibukan di dapur pagi menjelang siang itu, membuat Hani ingin berisitrahat.


Tiba tiba perutnya terasa tidak enak. Hani meminta ijin untuk berisitirahat di kamar.


Setelah tiba di kamar Hani berbaring, lalu mengambil ponsel pintarnya. Menatap layar berharap mungkin akan ada pesan wa masuk dari seseorang.


Tiba tiba Hani ingat jika Shasa hari ini akan pulang. Hani bangun lalu menuju dapur, meminta ijin pada Ibu Hani untuk pergi ke Rumah Sakit. Ibu menyetujuinya dan menyuruh Hani untuk segera ganti pakaian. Karena ibu akan mengantarnya sekalian menjemput Aldo di sekolah.


Ibu juga sempat menitipkan beberapa kotak kue untuk di sampaikan kepada Tante Arni.


Selang beberapa menit, keduanya melaju dengan motor maticnya. Hani di turunkan ibu di Rumah Sakit,. Beliau menitip pesan pada Ibunya Shasa bahwa tidak bisa ijut mampir karena akan ada pesanan yang akan di ambil untuk acara sore nanti.


Mita menitip salam pada Shasa dan semua keluarganya. Hani menyalami ibunya. Dan Mita segera berlalu meninggalkan Hani untuk menjemput Aldo.


Hani masuk ke dalam halaman Rumah Sakit. Saat melewati parkiran mobil,tiba tiba ada yang memanggil namanya.


" Hani.......... "


Hani mencari sumber suara,, dan melihat ke kanan ke kiri. Karena tidak melihat siapapun dia melanjutkan jalannya.


Tiba tiba ada yang memegang pundak Hani, sontak membuat Hani kaget.


Rupanya Arman sudah berdiri di sana, di samping Hani. Hani yang masih syok sudah di kagetin ditambah lagi ternyata Arman yang sempat membuatnya galau semalam sekarang ada di sampingnya. Dengan senyuman mautnya Arman datang dengan penampilan yang sederhana. Mengenakan Kaos Polo berkrah warna putih dengan di padu celana jeans. Di tambah jaket yang menawan.

__ADS_1


Penampilan Arman membuat hati Hani terpesona.


"Kalo seperti ini kok gak kayak om om ya,,, " batin Hani.


" Dek... apa kabarmu? "Arman menyapa Hani, membuyarkan lamunannya.


Hani yang kaget mendengar pertanyaan Arman.. segera menjawab " Alhamdulillah sehat Om.. Om sendiri bagaimana? "


" Alhamdulillah tidak kurang suatu apapun hanya saja.... ada yang kurang sebenarnya.. " kata Arman menghentikan perkataannya.


" Apa om,, om kenapa? om sakitkah? apa om terluka? apa om kenak tembak ? apa om cidera waktu dinas kemarin? Aku mengkhawatikan dirimu om,, " pertanyaan Hani membabi buta pada Arman, dan nampak wajah Hani yang khawatir sekali.


Arman tertawa lepas mendengar celoteh Hani yang begitu mengkhawatirkannya.


" Ehhh jangan salah dek,, lihatlah kalo om terluka kena tembak ya om gak berada di sini dong, di samping calon istri om yang cantik ini,.. " Kata Arman sambil menunjuk menyentuh hidung Hani.


Hani pun tersipu malu.. " Bodohnya aku,, kepo banget sih habisnya jadi terlihat bodoh kan.. emmm" gumam Hani.


" Lalu apa yang kurang om ? kenapa om berkata begitu tadi? " lanjut Hani.


" Biar saja si calon istri tentara ini kepo ya... yuk jalan masuk ke dalam " Arman tertawa sambil mengajak Hani segera masuk menuju tempat Shasa di rawat.


Tangan Arman tetap memegang pundak Hani. Hani yang tidak pernah sekalipun dipeluk di bahu pundaknya sambil berjalan itu menjadi berbunga bunga sekali.


Maklumlah namanya masih ABG dan memang belum pernah berteman sedekat apapun dengan tema laki lakinya. Wajar saja Hani begitu. Sambil membawa kotak kue dari ibunya tadi Hani berjalan berdampingan dengan Arman. Beberapa pasang mata melihat ke arah mereka, memperhatikan mereka.


Setibanya di kamar Shasa. Hani menyalami Arni dan Arya di sana, lalu menyerahkan kotak kue titipan Ibu Hani tadi.


Rupanya sudah siap siap mau pulang. Hani pun membantu berkemas. Arni sangat senang melihat calon adik iparnya dengan cekatan membantu Shasa memakaikan jaket, dengan telaten dan sabar.


" Alhamdulillah.. ternyata tak salah pilihanku memilihkan Arman seorang istri, meskipun msaih sangat muda tetapi Hani berperilaku sangat dewasa dan sopan meskipun terkadang manja dan sedikit keras kepala seperti yang Mita ceritakan padaku, aku yakin Arman dapat mengimbangi gadis polos itu" batin Arni.


Setelah selesai semuanya Shasa dan keluarganya meninggalkan kamar rawat inap di paviliun Anggrek tersebut. Sedangkan Arni meminta pada Arman untuk mengurus surat kepulangan dan surat kontrol dokter pada bagian administrasi rumah sakit. Hani ikut dengan Arman, sedangkan Shasa pulang bersama Ayah dan bundanya ke rumah terlebih dahulu, karena takut Shasa pusing jika harus menunggu mengurus surat kontrol dokternya.


Setelah selesai mengurusi semuanya. Arman mangajak Hani pulang menuju rumah Shasa. Arman kali ini tidak membawa mobil, dia membawa motor sportnya. Arman segera mengeluarkan motornya dari jejeran motor yang lain di parkiran. Dan rupanya Arman membawa helm untuk Hani, yang memang sengaja Arman siapkan sejak dari rumahnya.


"Wah om tinggi sekali bagaimana Hani naik? mana Hani pake rok lagi" tanya Hani bingung,


Arman tersenyum lalu berkata.. "Pegang pundak om sambil injak pijakan kaki ini lalu naiklah! " kata Arman sambil memasangkan helm di kepala Hani.


Hani paham lalu mencobanya pelan pelan. " "Bismillah... " lirihnya gemetar.


" Tahunya naik motor begini tadi aku pake celana kan enak " batin nya lagi.


Baru kali ini naik motor seperti milik Arman.


Setelah selesai, Arman menyuruhnya berpegangan lalu segera melajukan motor besarnya tersebut. Hani memegang pundak Arman, saat Arman menyuruhnya berpegangan.


Di tengah perjalanan Hani sangatlah tegang. Arman dapat melihat wajah calonnya iti di spion.


Tiba tiba Arman mengerem mendadak. Sontak membuat Hani terkejut dan posisinya otomatis membentur punggung Arman dengan posisi seperti memeluk dari belakang.

__ADS_1


" Maaf Hani... Om mengerem mendadak ada kucing akan menyebrang" Arman meminta maaf karena telah membuat Hani kaget.


" Mau copot jantungku om,, Ya Allah.. Jadi kram perutku " Hani meringis menahan kaget sekaligus sakit di perutnya.


Posisi Hani masih tidak berubah melingkarkan tangannya di pinggang Arman bukan tanpa sebab. Hani sedang kram perutnya, tapi dia berusaha tidak memperdulikannya khawatir Arman akan bingung dan tidak konsentrasi berkendara.


Arman merasa senang Hani berpegangan seperti itu. " Tumben gadis ini diam saja biasanya dia cerewet " batin Arman.


Padahal yang di gonceng di belakang,sedang kram perutnya dan berusaha menahannya dengan menyadar ke belakang punggung Arman.


15 menit sesampainya di rumah orangtua Shasa. Hani turun dengan pelan sambil meringis menahan sakit, namun dia menyembunyikannya dari Arman.


Mereka berdua masuk ke dalam rumah Shasa disambut Arni da Arya. Hani menuju kamar Shasa seperti yang Arni perintahkan pada Hani, untuk menemui sahabatnya. Sedangkan Arman, Arya dan Arni duduk di ruang tengah sambil menikmati kue dari ibu Hani.


Hani menemui Shasa, dan mengobrol tentang sekolah. Rasa kram di perut Hani berangsur menghilang sedikit...


Setelah setengah jam kemudian saat Hani akan meminta ijin sholat dhuhur, perut Hani tiba tiba kembali kram. Kali ini lebih sakit dari di jalan.


Wajah Hani pucat, sambil menunduk di pinggir ranjang Shasa sahabatnya. Shasa yang melihatnya panik. Dan segera memanggil Arman.


Arman mendengar panggilan Shasa masuk ke dalam kamar keponakannya itu.


Melihat Hani yang pucat Arman ikut panik. "Hani kenapa? " tanya Arman mengelus pipi Hani.


"Hani hanya kram perut om, ini udah biasa kok " jelas Hani.


" Kita ke dokter ya sayang... " Ajak Arman.


" Gak usah om.. Hani mau pulang saja,, Hani gak papa kok. " kata Hani.


Arman memaksa membawa Hani ke dokter, tapi Hani tetep keras kepala tidak mau, Shasa yang hapal karakter Hani, menoleh pada Arman dan memberikan kode untuk tudak memaksa Hani.


Akhirnya Arman membawa pulang Hani ke rumah.


Setelah berpamitan, Hani dan Arman menaiki motor.


Hani masih bersandar di punggung Arman.


Arman melajukan motornya pelan perlahan.


" Om.... mampir sebentar boleh? " tanya Hani kemudian.


" Kemana dek? " jawab Arman.


" Pengen beli cilok yang pedas.. biasanya kalo kram obatnya cilok pedas" Kata Hani lagi.


"Aneh... Jangan pedas pedas ya,, nanti tambah sakit perutnya." kata Arman menurut meskipun kedengarannya aneh tapi Arman masih belum tau kebiasaan calonnya itu.


Aneh ya.... hehehe


bersambung dulu ya ...🤩

__ADS_1


__ADS_2