
Lanjut lagi yah...
Keesokan paginya di rumah Arman.
Hani yang terbangun mendengar suara alarm hpnya, memaksa membuka mata dan mengamati sekeliling. Mengingat ingat kejadian apa yang terjadi tadi malam. Menggeliatkan tubuhnya yang terbalut selimut.
Setelah semua ingatannya tersusun rapi kembali, senyumnya mengembang menghiasi paginya.
"Ahh semalam aku bernyanyi riang di acara itu, hingga membuatku bermimpi sang rembulan. Rupanya hati ini begitu bahagianya hingga terbawa ke alam mimpi." gumam Hani kagum pada mimpinya semalam.
Di lihatnya Shasa masih memeluk guling dengan eratnya. Hani berusaha membangunkan Shasa, namun Shasa yang masih setia dengan bantal dan gulingnya itu hanya menyipitkan matanya sejenak kemudian kembali membenamkan wajahnya di bawah selimut.
"Masih ngantuk Hani... 10 menit lagi deh" ujarnya
Hani menggelengkan kepala, lalu bergegas bangun, keluar kamar untuk mandi dan sholat shubuh.
Di lihatnya beberapa rekan Arman tengah tertidur di ruang tengah, depan kamar utama milik Arman. Di liriknya Arman pun ikut serta bersama mereka.
"Betapa eratnya pertemanan mereka, kata Mas Arman.. mereka pernah berjuang bersama dalam suka maupun duka,, satu merasakan sakit, maka sakit semua, bahkan sebaliknya. Solid nian hubungan ini. " batin Hani.
Hani menghampiri Arman. Menggoyangkan kaki Arman dengan perlahan agar tidak membangunkan yang lainnya. Arman yang merasakan ada yang menggerakkan kakinya membuka mata.
Dilihatnya calon istrinya itu, kemudian Arman bangun dan berdiri. Hani mendahului Arman menuju kamar utama., untuk mandi dan sholat. Arman mengikutinya dengan mengusap wajahnya yang masih terlihat mengantuk.
Begitu Hani masuk kamar mandi, Arman kembali menghempaskan tubuhnya ke kasur.
Hani selesai mandi dan segera sholat sendiri karena melihat Arman masih berbaring di sana. Setelah sholat...
"Ahhh tidur jam berapa sih mas semalam, ayolah sholat dulu.. " kembali Hani membangunkan Arman. Arman memaksa membuka matanya dan berjalan menuruni ranjang.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua keluar kamar dengan keadaan segar habis mandi dan sholat. Hani dan Arman menuju dapur, membantu Hani membereskan dapur sekalian memasak untuk sarapan.
Waktu berlalu dengan cepat, kini semua rekan Arman setelah mandi dan sarapan, mereka berpamitan pulang.
Arman pun juga mengantar Hani dan Shasa untuk pulang. Arman sengaja mengantar Shasa terlebih dahulu karena masih akan mengajak Hani ke suatu tempat.
Setelah Shasa berpisah dengan Hani dan Arman di depan rumahnya, mobilpun segera melaju ke tempat yang akan di kunjungi.
"Kita mau ke mana mas..? " tanya Hani sambil membuka layar ponselnya.
__ADS_1
"Nanti kamu akan tahu dek.. "jawab Arman singkat dengan posisi masih konsen pada laju kendaraannya.
Arman berhenti di sebuah toko bunga, dan meminta Hani untuk menunggunya di mobil sementara Arman turun sendiri.
Sekembalinya dari toko bunga, Arman membawa beberapa buket bunga, dan menaruhnya di jok belakang mobil.
Hani ingin bertanya pada tunangannya itu tapi niatnya terbendung saat Arman mengangkat panggilan telepon dari seseorang. Dari nada bicaranya terdengar bahwa yang menelponnya adalah pasti orang di kantor Arman., karena Arman menjawab dengan sangat sopan, menerima perintah.
Kemudian Arman melanjutkan perjalanan.
Hingga tiba di suatu tempat yang tidak asing bagi Hani. Ya.. tempat dimana ayah Hani di makamkan.
"Mas Arman tahu darimana makam ayah? rupanya dia mengajakku ke sini. " batin Hani yang masih diam tertegun.
Setelah memarkirkan mobilnya, Arman mengajak Hani turun.
"Mas... darimana mas tahu ayah di makamkan di sini? " tanya Hani pada Arman.
"Dari ibu dek.. kita akan menikah, alangkah baiknya kita berkunjung dulu ke makam ayah, kemudian ke makam kedua orangtuaku nanti setelah ini. Meskipun kita tahu pasti bahwa kedua orangtua kita sama sama merestui pernikahan ini, tapi tetap saja ini penting sayang, meminta doa restunya di sini" ujar Arman sambil membawa buket bunga dan satu tangan lainnya menggandeng tangan Hani.
Sesampainya di depan makam ayah Hani. Hani dan Arman memanjatkan doa dengan Khusyuk.
Arman menaruh buket bunga tadi di dekat nisan makam.
"Ayah bahagiakan di sana.. Aku tau ayah tidak bisa mendampingi Hani menikah tapi Hani percaya ayah akan selalu ada di dekat Hani, mendoakan Hani dan ikut merasakan kebahagiaan ini. Ayah.... seandainya ayah masih ada.... pasti ayah bangga.Restuilah pernikahan kami berdua ayah....... " buliran airmata Hani mulai mengalir di pipi putihnya.
Arman mengusap usap lembut punggung Hani. Mencoba menenangkannya.Hati Arman trenyuh.
"Ayah mertua.. saya Arman.. Insyaallah saya akan menjaga putrimu dengan sepenuh jiwa, ijinkan saya membahagiakannya dan mendampinginya sampai jannah nanti." Arman berkata lirih di depan makam ayah mertuanya.
Setelah mereka berdua berdoa lalu kembali beranjak pergi menuju makam orangtua Arman, yang letaknya tak jauh dari situ.
Doa mereka panjatkan untuk kedua orangtua Arman.
"Bapak.. ibu.. Arman datang bersama menantu cantik kalian. Doakan kami hingga nanti.. doakan kami Insyaallah till jannah.., " kata Arman kemudian meletakkan buket bunga di makam ayah dan ibunya yang berdampingan.
Arman mengajak Hani meninggalkan makam. dan kembali ke mobil untuk pulang.
Perjalanan hening sejenak memecah keramaian kota siang itu. Hani dan Arman yang masih sama sama larut mengingat akan kepergian orang orang yang mereka kasihi di sepanjang kehidupan mereka.
__ADS_1
Arman mengajak Hani mampir ke sebuah rumah makan di tepi pinggiran kota, suasana yang sejuk dengan nuansa alam pedesaan menambah kesan romantis bagi pasangan yang datang kesana.
Arman memilih sebuah tempat di dekat saung dengan hamparan sawah buatan yang asri.
"Pesanlah dek.. mau makan apa? " Arman menyodorkan menu masakan kepada Hani.
Setelah memesan beberapa menu makanan Hani pun mengajak Arman berfoto bersama.
Setelahnya....
"Mas.. ada yang mau Hani bicarakan mumpung kita ada waktu berdua sebelum pernikahan.. " Hani membuka pembicaraan.
Arman memperhatikan dengan seksama apa yang calonnya akan bicarakan.
"Mas... mas kan tahu pernikahan ini terjadi begitu cepat, apakah Hani bisa meminta sesuatu pada Mas Arman? " Hani menatap tunangannya.
"Katakan.. Insyaallah mas berikan jika Mas mampu dek.. " jawab Arman.
"Mas... setelah pernikahan ini apakah Hani masih bisa kuliah? Hani ingin sekali bekerja mas itu cita cita Hani setelah lulus sekolah, namun Hani sadar, dan tahu diri, Hani tidak meminta di luar batasan ini, tetapi Hani hanya ingin Hani bisa kuliah, kuliah online saja mas dari rumah hingga tidak mengganggu pekerjaan rumah tangga. Hani janji βπ» Hani bakalan bagi waktu dengan baik ya.. boleh ya mas... Nanti Hani juga bakalan hidup hemat agar biaya kuliah Hani tidak membebani Mas Arman.. " kata Hani penuh harap.
Arman tertawa melihat tingkah Hani yang memohon padanya itu.
"Hani sayang... ku kira akan meminta bulan dan bintang,, ternyata calon istri mas yang imut ini minta kuliah setelah nikah.. tentu saja boleh dong, Mas dukung, mas senang Hani mau terus belajar meskipun sudah menikah. Oh ya masalah biaya, Hani jangan ikut memikirkannya. Insyaallah ada rejekinya." Arman memberikan jawaban yang membuat Hani senang bukan main.
"Hani juga bisa nanti membantu Usaha mas bersama Mbak Arni. Usaha keluarga peninggalan orangtua. Hani hanya perlu fokus belajar saja, mengurusi rumah tangga kita tentunya tanpa harus memikirkan darimana besarnya biaya untuk kuliah oke.. asalkan Hani janji untuk lebih mengutamakan urusan rumah tangga. " Arman meluluskan permintaan Hani lalu memegang tangan Hani.
Hani mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Senang nian rasanya. Tak di sangka ternyata calonnya ini mendukung keinginan terbesar Hani.
Pesanan tiba dan mereka berdua menikmati menu dengan lahap.
Tak selang beberapa lama, ponsel Arman kembali berdering, dan Arman segera mengangkatnya. Untung saja mereka berdua telah menyelesaikan makannya.
Tiba tiba Wajah serius Arman muncul tegang. Membuat Hani penasaran. Setelah membayar Arman bergegas mengajak Hani pulang dengan tergesa gesa.
Sepanjang perjalanan Arman tidak mengeluarkan sepatah katapun, Begitu juga Hani. Dia tidak mau mengganggu calon suaminya itu. Karena Hani tau di saat muka serius itu muncul akan mengerikan baginya untuk bertanya ini itu.
Sesampai di depan rumah Hani, Arman ikut turun mengantar Hani dan berpamitan pada ibu, mengatakan tidak bisa mampir karena tergesa gesa akan ke markas. Ibu Hani paham dan mengantarkan kepergian menantunya itu sampai halaman depan rumah.
Hani berpamitan pada ibunya yang sedang menata bunga di teras untuk segera masuk dan membersihkan diri mandi lalu melakukan kewajibannya menghadap Tuhan.
__ADS_1
Karena kelelahan dan kurang tidur, Hani pun tertidur diatas sajadah setelah sholat dengan posisi mukena masih dia kenakan.
Bersambung dulu yah... π€π€