
Lanjut......
Masih di dalam mobil....
Hani melihat calon suaminya menolong korban kecelakaan tersebut. Hani yang melongok ke jendela dari dalam mobil,,,, memperhatikan dengan seksama.
"Apakah aku perlu turun.? dan membantu om menolong wanita itu? melihat lukanya tidak terlalu parah, hanya luka kecil di bagian kaki., ah sudahlah aku juga gak mau di marahi lagi seperti tadi di mall." kata Hani menuruti apa yang di perintahkan Arman untuk diam dan menunggu di mobil.
Namun Hati Hani tak bisa membiarkan hal itu terjadi, dia tetap ngoyo ingin menyusul tunangannya itu. Hani meraih handle pintu mobil dan segera keluar.
"Ahhh kalo di marahi biar saja, toh aku juga ingin menolongnya." seru Hani dalam hati.
Hani berjalan menuju kerumunan orang yang melihat korban dan kecelakaan tersebut.
Hani mendekati calon suaminya, namun Arman tidak sadar jika ada Hani di belakangnya.
Diperhatikannya wanita itu., tengah meringis kesakitan. Sementara seorang ibu ibu warga sekitar memberinya air mineral.
Arman jongkok dan melihat luka di kaki wanita muda itu.
Hani menafsir usianya sekitar di bawah Arman beberapa tahun. Saat ini Arman berusia 29 tahun.
"Aduhhhhh.... sakit Arman... ini sakit sekali." rintih wanita itu saat Arman memegang pergelangan kakinya.
Hani terheran... wanita itu memanggilnya Arman berarti mereka berdua saling kenal. Pantas saja Om Arman tadi langsung menghentikan mobilnya.
Hani masih memperhatikan dengab seksama, dia berusaha tidak mendekat, karena tahu Hani tidak mau mengganggu konsentrasi Arman menolong wanita itu.
"Tahan Resti.... kakimu terkilir....." kata Arman masih dengan posisi tetap memijat pergelangan kaki wanita tersebut.
"Resti... jadi namanya Resti.. mereka saling kenal.. " Hani diam seolah kejadian di depannya itu menghipnotis dirinya.
Biasanya Hani kalo ada kejadian macam itu akan heboh. Kali ini Hani tertegun.
Lamunan Hani pecah ketika mendengar suara tangis wanita bernama Resti..
"Sakit sekali Arman aku sudah tidak sanggup.. " Wanita itu memeluk Arman di depan Hani. Posisi Hani berada di belakang Arman sehingga tidak menyadari jika Hani turut hadir di situ.
"Ommm......." Hani memanggil nama Arman lirih namun terdengar jelas. Desir darah di dada Hani bergejolak. Tiba tiba seluruh badannya panas memuncak sampai di ubun ubun. Melihat lelakinya di peluk di depan mata tentu saja membuat Hani terlihat kesal.
Arman mendengar suara lirih itu dan menoleh ke belakang.
"Masyaallah Hani..., "Arman menatap Hani kaget dan dalam keadaan wanita tersebut memeluk Arman.
Sepertinya akan ada bendungan airmata yang akan banjir. Hani menggigit bibirnya, memandang tajam pada Arman. Tak kuat menahan Hani segera pergi meninggalkan mereka berdua...
Samar samar terdengar suara orang orang yang berkerumun di belakang...
__ADS_1
"Bawa pulang saja mas istrinya... kasian nanti kakinya itu makin bengkak.. " kata salah seorang warga. Dan hal itu terdengar oleh Hani yang berlari dengan cepat menuju mobil. tanpa memperhatikan lalu lalang kendaraan yang bisa membahayakan keselamatannya.
"Iya pak, saya sudah menghubungi suaminya, dia ini istri teman saya." jawab Arman pada warga tadi. Namun perkataan Arman yang terakhir ini tadi tidak terdengar oleh Hani yang sudah terlanjur salah paham.
Arman ingin sekali mengejar Hani, Arman tahu Hani sedang marah. Tapi keadaannya sekarang masih dalam situasi seperti ini.
Hani masuk ke dalam mobil. Membanting pintunya denga keras. Tak terasa buliran airmata mulai deras mengalir. Jebol juga bendungan airmatanya.
Rasanya sakit sekali melihat wanita lain yang tidak Hani kenal memeluk Arman.
Tak selang beberapa lama, sebuah mobil bewarna silver datang. Dan keluarlah laki laki menuju tempat Arman dan Resti.
Laki laki tadi menggendong Resti ke dalam mobil dengan di bantu Arman. Namun Hani yang sedang sibuk dengan airmatanya tidak melihat kejadian itu.
Hani merebahkan kursi duduknya di mobil agak ke belakang sehingga posisinya bisa untuk tidur.
Hani membelakangi setir dan kursi Arman.
Menangis dan merasakan sakit untuk pertama kalinya.
Arman sudah selesai menolong wanita tadi, lalu bergegas masuk ke dalam mobil. Arman merasa bersalah dan khawatir pada calon istrinya itu.
Dibukanya pintu mobil, masuk, dan duduk di belakang kemudi.
Melihat Hani yang membelakangi dirinya dengan posisi meringkuk memeluk kakinya.
Hani yang menyadari kehadiran Arman tidak menyahut dan tetap diam menghadap pintu mobil sisi kiri.
"Wanita itu istri teman om, dia istri teman om satu leting. Tadi om melihat yang kecelakaan itu Resti mana mungkin om tidak menolongnya... Om tadi menghubungi suaminya, memintanya untuk menjemput Resti. " Arman menjelaskan pada Hani.
Hani mulai berhenti menangis mendengar sedikit demi sedikit penjelasan Arman.
"Maafin om ya sayang udah bikin Hani begini" kata Arman kemudian.
Hani yang mulai reda emosinya.. berbalik dan menatap Arman dengan mata sembab...
"Apakah setiap kali menolong wanita haruskah mereka memelukmu sperti tadi ?" tanya Hani pada Arman.
"Betapa polosnya calon istri kecilku ini" batin Arman, .. " Sayangku kamu cemburu...? " tanya Arman pada Hani mengusap sisa sisa airmata di pipinya itu.
Hani tak menjawab dan diam saja. Hani berpikir rasa sakit itu pertama dia rasakan "apakah ini rasa cemburu ? ahh bodohnya aku mengapa aku terlihat cengeng"
"Tidak tidak aku tidak cemburu.... "sahut Hani.
Hani tidak mau terlihat lemah.
Arman memeluk tubuh Hani, menenangkannya. Hani yang diam tak dapat berbuat banyak saat tubuh kecil di dekap Arman.
__ADS_1
"Dek... makasih ya uda cemburu.. tandanya sayang banget sama om.. " kata Arman sambil senyum.
Entah ada apa setiap kali Hani berada dalam dekapannya selalu merasa nyaman. Hani membenamkan kepalanya di dada Arman.
Beberapa menit setelah itu, Hani melepaskan pelukan itu, Arman yang merasa Hani telah tenang terlihat lega.
"Kita pulang yah ini sudah waktunya sholat dhuhur. Kita pulang dulu ke rumahku dek,, karena om gak mau lihat Ibu di rumah kaget melihatmu berantakan begini. Kita sholat dulu di rumah" kata Arman. Hani mengangguk pelan, Hani tahu benar ibunya akan sedih jika melihat wajah Hani habis menangis.
Sesampainya di rumah Arman....
Arman dan Hani masuk ke dalam rumah. "Duduklah ...apakah adek manis ini mau minum atau makan sesuatu ?"goda Arman.
"Nggak om.. Hani gak mau apa apa, Hani hanya capek pengen istrahat. Hani masih belum bisa sholat om..Hani masih halangan" kata Hani pada Arman.
"Oke kalo mau istrahat, tidurlah di kamar.. " Arman menggandeng tangan calonnya itu menyuruhnya beristrahat.
Kali ini Arman menyuruh Hani beristirahat di kamar utama yaitu kamar Arman.
"Kok di sini om, bukannya ini kamar om.. kemarin aku kan di kamar sebelah waktu Hani sholat bareng Shasa. " Hani bertanya.
"Ini akan jadi kamar kita bukan setelah menikah nanti. Sekarang atau nanti sama saja kamar ini memang kamar om dek tapi kan sekarang beda. Istrahatlah... Om akan mandi dan sholat dulu ya.. " Arman menyuruh Hani segera beristirahat.
"Om sebentar... Hani dulu yang mau ke kamar mandi... boleh gak? " tanya Hani polos.
"Hani mau mandi? emmm baiklah Hani duluan. Itu kamar mandinya dek" Arman menunjuk pintu kamar mandi dekat lemari pakaiannya.
Arman berjalan menuju lemari mencari sesuatu dan menemukannya lalu menyerahkannya pada Hani.
" Ini kaos om, pakailah. ,, gantilah bajumu itu dek lalu segeralah beristirahat,, om gak mau ibu khawatir melihat sembab di wajahmu itu." Arman menyodorkan kaos pada Hani dan mempersilahkan Hani mandi.
Hani segera beranjak ke kamar mandi. Di guyurnya tubuh Hani dengan air, terasa segar nian. Arman yang menunggu di kamar sambil membuka ponselnya, teringat sesuatu, dia lupa tidak memberikan Hani Handuk.
"Hani... ini handuknya, tadi om lupa " Arman mengetuk pintu kamar mandi.
Hani mendengarnya lalu membukanya sedikit menjulurkan tangannya menerima handuk yang Arman berikan di balik pintu.
Beberapa saat kemudian Hani selesai mandi. Dengan kaos yang Arman berikan rupanya kebesaran tapi ini membuat Hani nyaman.
"Om.... Hani sudah selesai, gantian gih Hani mau istirahat dulu boleh ya. " kata Hani sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk.
Arman melihat Hani dengan kaos kebesaran tertawa..lalu mendekati dan berjalan menuju Hani.
Hani yang sadar Arman mendekat, mundur beberapa langkah dengan perlahan.
Arman terus berjalan pada Hani, sedangkan Hani melangkah mundur, sampai tubuhnya mentok di buffet tempat foto dan buku buku Arman..
"Ommmmmm.... "
__ADS_1
bersambung dulu ya..... 😍