Pernikahan Kilat

Pernikahan Kilat
Bab 40 Sementara


__ADS_3

Lanjut yuk... simak yah..


Di bataliyon.


Suasana sore itu cerah, namun kesan haru mewarnai keadaan di markas tersebut.


Keluarga Hani dan keluarga Arman sudah menunggu di sana. Ibu Hani dan Aldo, sementara Shasa, Bundanya dan juga Arya Ayah Shasa.


Pemandangan sore itu terlihat berbeda dari biasanya. Beberapa keluarga tengah mengantarkan keberangkatan pasukan TNI untuk bertugas ke Papua.


Begitu pula dengan keluarga Arman dan Hani pun turut serta akan mengantar pelepasan pasukan.


Tak beberapa lama, mobil Arman parkir di halaman parkir bataliyon. Arman keluar mobil bersama Hani. Dengan berpakaian lengkap plus ransel di pundaknya. Seluruh keluarga menatap kedua pasangan ini yang berjalan ke arah mereka.


Setelah saling bertegur sapa, dan bersalaman dengan seluruh anggota keluarga. Arman pun meminta ijin untuk bergabung dan membuat laporan bersama pasukannya di dalam area bataliyon.


Arman memegang pipi Hani, dan menepuk nepuk sesaat...


"Sebentar ya mas tinggal ke dalam." Kata Arman disertai dengan anggukan Hani.


Hani memandang kepergian Arman dengan tatapan kosong. Aldo sang adik memegang pundak kakaknya. Dia tahu betul kesedihan Hani saat ini.


"Hani.. kamu baik baik saja kan? " Tanya bundanya Shasa.


"Hani baik kok tante.. Insyallah" jawab Hani.


"Jangan manggil tante,, kan Hani sudah menjadi istri Arman, adik tante. Panggil mbak saja.. " kata Arni meminta.


Hani tersenyum seraya memegang tangan Arni.. "Masih butuh proses tante, lama lama Hani akan terbiasa memanggil mbak ke tante.. " Jawab Hani tenang.


"Nduk apa sudah makan? " tanya Ibu Hani kemudian. Hani menggelengkan kepala.


"Hani tidak lapar bu" jawab Hani dengan lesu.


Semua yang ada di situ menghela napas panjang.


Shasa sahabat sekaligus keponakan ipar Hani mendekat... "Beb makan dulu yuk,, sepertinya upacaranya masih lama.. kasian para orangtua kita tuh udah nunggu dari tadi, biarkan mereka duduk di mobil sambil menunggu, kalo kamu gak mau bekal yang kami bawa,, kita makan bakso aja yuk di sana" bujuk Shasa sambil menunjuk ke arah penjual bakso dekat parkiran mobil.


Hani menoleh pada Shasa.. dan berkata.. "Sha... aku belum lapar, ajak bunda ke mobil dulu.. mari kita menunggu di sana. "

__ADS_1


Akhirnya mereka menunggu di mobil sambil melepas lelah. Lumayan semenjak pagi acara akad nikah Hani dan Arman menyita begitu banyak tenaga dan pikiran. Sementara sore ini masih berlanjut mengantarkan dan menghadiri acara pelepasan pasukan menuju tempat tugas.


Acara resepsi pernikahan Arman dan Hani yang sedianya di adakan di aula gedung yang sudah dipesan untuk beberapa waktu yang lalu, sementara masih di undur sampai batas waktu tidak di tentukan. Menunggu kedatangan Arman sepulang bertugas. Hal ini sudah di atur oleh keluarga Shasa, yang tentu saja di setujui oleh Ibunda Hani.


Aldo menyodorkan kue dorayaki yang sempat mereka beli sebelum tiba di markas tadi kepada kakaknya. Kue dorayaki kesukaan Hani, bahkan mereka tak jarang bertengkar memperebutkan kue kesukaan doraemon di acara kartun TV.


Saat ini dengan sukarela Aldo membaginya bersama Hani. Aldo mendengar percakapan ibu dan kakaknya jika belum makan sedari siang tadi. Dia sedikit mengkhawatirkan kakaknya itu. Selama ini Aldo sangat dekat dengan Hani, meskipun usia mereka terpaut jauh, Aldo banyak mencontoh sikap dewasa kakak perempuannya tersebut.


Hani menerima kue pemberian adiknya, tersenyum dan membuka bungkus roti tersebut. Shasa pun ikut menikmati aneka kue yang di belinya tadi.


Satu gigitan... mengunyah perlahan,, namun Hani tak bisa segera menelannya, serasa susah sekali mendorong makanannya itu hingga masuk ke dalam tenggorokan.


"Mas Arman belum makan sesuatu bu.., apakah masih ada kuenya? " tanya Hani pada ibunya.


Ibu Hani yang duduk di samping putrinya pun memberikan kotak kue yang berisi donat beraneka macam topping. Hani menerima kotak kue itu lalu mengambil ponselnya dan menelpon Arman.Lama panggilan telepon Hani tidak segera diangkat.


"Rupanya sedang sibuk Mas Arman" batin Hani mengakhiri panggilannya.


Semua yang ada di situ memahami sikap Hani, mereka ingin menghibur tapi apalah daya, Hani masih fokus dengan rasa yang satu ini.


Suara terompet apel berbunyi nyaring.. menandakan semua pasukan segera berkumpul di lapangan. Upacara pelepasan pemberangkatan pasukan akan segera di mulai.


Semua keluarga yang hadir di sana turut berdiri dan menyaksikan upacara tersebut.


"Mudah mudahan Allah memberi kelancaran dan keselamatan pada kita semua... semangat kalian pasukan muda Indonesia berjuanglah demi bangsa tercinta ini, kutunggu pengabdianmu pada negara ini. Jaga nama baik institusi kita,, semangat... " begitu sekilas wejangan dari komandan bataliyon.


Acara pun usai, dan para prajurit diberi waktu, dipersilahkan untuk berpamitan pada keluarganya masing masing.


Hani menunggu Arman di tengah lapang bersama ibu, adik, dan keluarga Arman.


Datanglah sosok yang dia tunggu dengan memanggul ranselnya,, berlari tergopoh gopoh menghampiri mereka.


Tak membuang waktu lama,, Arman segera meminta restu pada kakak perempuannya, Ibunda Shasa., diapun memeluknya erat...


"Titip istriku mbak,,, titip tolong jaga dia baik baik.. aku sangat menyayanginya. Mbak juga jaga diri, jangan terlalu capek, ajak Hani mengurusi usaha keluarga kita seperti yang pernah kita bicarakan kemarin. " bisik Arman pada Kakaknya.


Arni mengangguk sambil menahan airmatanya.. sebenarnya tak hanya sekali dia merasakan perpisahan seperti ini. Arman sering sekali di kirim tugas ke luar pulau selama ini. Dan dia selalu mengantar keberangkatan Arman bertugas, Hanya saja kali ini berbeda. Adik yang baru saja melangsungkan akad tadi pagi, sore ini harus pergi meninggalkan istri dan keluarganya...


Arman bersalaman dengan Arya kakak iparnya...Arya memeluk erat adik iparnya. Kemudian menuju Ibu Hani...

__ADS_1


"Ibu mohon doanya... Maafkan Arman ya bu, titip adek.. " kata Arman mencium punggung tangan mertuanya kemudian memeluknya.


Ibu Hani pun trenyuh... mengusap usap punggung menantunya.. "Doa ibu slalu ada nak... berangkatlah dengan hati yang lapang dan ikhlas..jangan ditinggal 5 waktunya " nasehat Ibu Hani.


Kini giliran berpamitan kepada istrinya, yang sedari tadi mencoba menahan bendungan airmatanya.


Dipandangnya wajah imut Hani dengan senyum yang lebar. Arman berusaha tidak menangis di depan istrinya itu.


"Maafin mas ya sayang.. melewati malam pertama kita. Mas harap Hani bisa jaga diri jangan lupa makan, jangan lupa sholat. Mas minta jaga kesehatan demi mas. Mas gak mau jika pulang nanti Hani terlihat kurus. Oke sayang.. " Arman memeluk erat Hani, saking eratnya sampai badan Hani seperti ikut terangkat.


Tangis Hani pecah lagi, tak mau melepas dekapan suaminya itu. Tak terasa airmata Arman menetes dan segera di hapus sebelum Hani melihatnya.


"Hani sayang.. mas hanya sebentar,, Hani gak boleh cengeng ya ndukk.. Hani bukan lagi anak SMA,, Hani sekarang istri seorang prajurit jadi kudu tabah... yo... tunggu mas di sini lagi besok ..kasik senyum manisnya..buat sangu nanti... . " Arman mengusap kepala istrinya,, dan terpaksa melepas dekapan Hani. Mencium kening Hani dan mengulurkan tangan pada istrinya, Hani pun mencium punggung tangan Arman.


Dafa dan Agus yang sedari tadi berdiri mematung ikut merasakan kesedihan pasangan pengantin baru itu.


Dafa dan Agus sengaja ikut Arman menemui keluarganya, karena keluarga mereka berdua tidak bisa datang mendadak untuk ikut acarao pelepasan. Mereka ingin meminta doa kepada keluarga Hani dan Arman yang sudah mereka anggap keluarga sendiri, pengganti keluarga yang tidak bisa hadir.


Keluarga Dafa tinggal di Aceh, sementara keluarga Agus hanya tinggal ayah dan kakaknya saja di Magelang. Ayah Agus sedang sakit stroke otomatis kakaknya tidak memungkinkan untuk ikut hadir melepas keberangkatan Agus bertugas ke Papua. Hanya doa dan saling komunikasi saja yang bisa mereka lakukan.


Saat Dafa dan Agus berpamitan kepada Hani, Hani berkata.. "Titip Mas Arman yah.. tolong ingatkan dia jika lupa sholatnya, lupa makannya.. kalian sudah ku anggap kakakku jadi tolonglah jaga suami adik kalian ini.. " pinta Hani pada mereka berdua.


"Siap bu.. " jawab Dafa memberi hormat.


Tentu saja kelakuan Dafa mengundang senyum keluarga.


Sekali lagi kedua pasangan pengantin baru ini saling menatap, Arman mengepalkan tangannya dan berkata.. "Semangat Hani"


Hani berusaha memberikan senyuman yang manis, yang di minta Arman. Meskipun hatinya tercabik.


Arman, Dafa, Agus menghampiri Shasa dan Aldo..


Arman merangkul sekaligus kedua anak itu.


Memeluknya erat..


Dan berpesan.. "Jaga diri kalian baik bajk.. jangan nakal, jangan menyusahkan orangtua, mas nitip Kak Hani yah le... dan kamu Sha.... jangan manja... semangat terus tes nya, mudah mudahan sukses nduk" Keduanya mengangguk dan menyalami Arman.


Saat Dafa bersalam dan berpamitan dengan Shasa, Shasa tak kuasa menahan rasa sedihnya. Dengan malu malu dia mengatakan.. "Semangat ya... cepat pulang jangan krasan di sana.. ingat di sini ada yang menunggu.. "

__ADS_1


Dafa tersenyum malu dan menganggukkan kepala. Agus hanya berdehem melihat sahabatnya sedang kesengsem.


Bersambung dulu yah... 🤗


__ADS_2