Pewaris Tahta Yang Di Anggap Hina

Pewaris Tahta Yang Di Anggap Hina
Mencari sebuah Cafe Episode - 14


__ADS_3

"Wah,! Ternyata sudah pergi ya.? Karena satu harian kelelahan, maka saya tertidur amat pulas satu malam tadi. Gumam Vino hampir tidak


bersuara lagi."


"Sebaiknya, Aku segera bergegas mandi, lalu sarapan. Dan setelah sarapan baru deh pakai pakaian sambil menunggu Novita datang untuk


menjemput ku." Ucap Vino pada diri sendiri.


Setelah 45 menit berselang, Vino sudah selesai


mandi, berpakaian rapih, dngan celana panjang,


dan sebuah Jazz berwarna Crem. Tak lupa juga dengan sepatu pantofel nya berwarna hitam itu.


Dengan percaya diri, Vino melangkah masuk ke dalam lift yang tersedia di depan kamar nya tersebut. Ada lift khusus untuk tamu penting, yang tidak bercampur dengan lift tamu biasa.


Begitu masuk, Vino segera memencet nomor lantai dasar. Selang beberapa saat kemudian, Vino sudah tiba di tempat tujuannya. Mata nya terus mencari ke berbagai arah. Dan berkata:


"Ahh bodoh!" "Kenapa tidak bertanya kepada


karyawan hotel saja..?" "Dasar bodoh kau Vino.!"


Batinnya menyesali kebodohan dirinya sendiri.


"Excuse me,!" Katanya ketika berpapasan dengan seorang karyawan wanita di hotel itu, tapi tidak memakai nama.


"Yaa tuan.! Apa yang dapat saya bantu tuan.?" Tanya karyawan itu sopan.


"Ini saya sedang mencari letak sebuah Cafe di


hotel ini. Kalau boleh tau, di mana ya?" Tanya Vino benar-benar tidak mengerti dengan menggunakan bahasa formal.


"Kalau boleh tahu? Tuan menyewa kamar jenis apa ya?" Tanya karyawan itu tanpa menjawab


terlebih dahulu pertanyaan dari Vino.


"Kebetulan sekali mbak, kamar yang saya tempati adalah President Suite, yang berada di antara lantai paling atas itu."


"Apa tuan!?"


"President Suite?" Ujar karyawan itu kaget.


Dan kemudian, dia memandang tubuh Vino, seraya membatin dalam hati.


"Apa benar,? Orang ini menyewa kamar termahal itu?" "Penampilan nya saja tak memungkinkan." Bantahnya dalam hati.


"Nona,apakah Nona tidak bisa memberi tahuku


di mana letak Cafe itu?"


Karyawan perempuan tersebut tidak segera menjawab, Tapi justru malah bersikap menyelidiki tentang jati diri Vino.


"Sebentar Tuan! Tunggu Tuan di sini, Saya akan


mencoba bertanya kepada salah satu resepsionis di sini untuk mengecek kebenaran nya."


"Untuk apa?" Tanya Vino tidak senang.


"Tuan tunggu saja di sini! Kalau boleh tau? Dengan


siapa saya berhadapan?" Tanya karyawan itu.


"Vino ruang President Suite, lantai teratas"


Jawab nya tanpa ragu-ragu.


"Ok baik..! Saya tunggu di sini!"


"Ok Tuan!"


"Oh ya, Dengan siapa saat ini saya berbicara??

__ADS_1


"Rita, Tuan bisa memanggil ku dengan nama itu." Jawabnya sambil berlalu.


"Uuhh di mana-mana ada aja masalah. Apa kah karena penampilanku sehingga mmbuat orang-orang di sekeliling ku selalu meragukan jati diriku?"


"Apakah aku harus merubah nama panggilan ku, dengan membuang kebiasaan selalu berpakaian sederhana" Tanya Vino pada diri sendiri.


"Keadaan ini justru membuat ku jadi pusing.!" Gerutunya kesal.


"Heyy...heyy...heyy... Apa yang kau lakukan disini!?" Tanya salah seorang wanita yang tiba-tiba mengejutkan nya, yang datang secara tiba-tiba dengan nada menghina.


Vino tentu saja terkejut, lalu menoleh ke arah suara tersebut.


"Kenapa kau selalu mengganggu ku Brayen? Kemarin di Showroom mobil, Dan sekarang di hotel.! Apa mau mu sebenarnya!?" Tanya Vino kesal.


"Kau tanya apa mau ku? Kau ingin tahu?


ngaca kau Vino! Kau itu siapa? Kau itu tak lain cuma parasit, sampah, laki-laki pecundang


yang kagak berguna! ngerti!"


Kata Brayen terus memprovokasi Vino.


Vino tak mau meladeni Brayen, yang terus-terusan mengganggu nya. Dia justru lebih memilih untuk pergi dari situ, Dan menemukan sendiri letak Cafe hotel yang sedari tadi di carinya.


Sambil melangkah, dalam hatinya berkata:


"Kau yang akan menjadi target atas kekuasaan


ku brayen. Akan ku buat nasib mu serta seluruh


keluarga mu menjadi miskin, gara-gara terus


mengganggu ku. Tunggu saja!" Batin Vino penuh dengan dendam.


"Heyy...Heyy..hey.!! Mau kemana kau? Aku sedang berbicara dengan mu." Kata Brayen merasa di acuhkan oleh Vino.


Tapi Vino terus melangkah, tidak memperdulikan


di sana menoleh ke arah Vino Dan Brayen bergantian. Mereka heran, Apa yang telah terjadi pada mereka berdua. Mendapat tatapan heran dari orang orang yang ada di situ, Seketika pada saat itu Brayen menjadi geram, kemudian berkata dengan suara lantang.


"Bukan urusan kalian!"


"Pergi!" Bentaknya kasar.


Seketika itu Orang-orang yang tadinya berkerumun pun akhirnya bubar, Sambil bersungut-sungut kesal. Tapi mereka tidak berani mencari masalah dengan pria yang arogan tersebut. Sementara di pihak Vino, dia terus melangkah menyusuri ruang-ruang yang kemungkinan adalah Cafe yang sedari tadi ia cari.


"Hukhh, terlalu luas hotel ini. Sehingga aku tak bisa menemukan letak Cafe hotel yang aku cari." Keluh Vino kelelahan.


Hingga jam telah menunjukkan angka :12:20: wib. Vino tak kunjung menemukan apa yang di carinya. Sementara bagi seluruh karyawan hotel, yang tadi di temui oleh Vino, telah kembali dengan Seorang wanita yang tidak asing lagi wajah nya.


Wajah mereka menegang, pucat, pasi, berjalan kesana kemari, mencari keberadaan Vino. Namun wanita itu telah mengetahui kebenarannya bahwa memang benar, Vino adalah penghuni ruang President Suite di lantai paling atas itu.


Mereka berdua terus mencari keberadaan Vino, Tapi sekian lama, Tak kunjung menemukan


nya, Hingga General Manager Farel datang, Dan


menanyai mereka.


"Kenapa wajah kalian terlihat panik? Ada masalah apa lagi!?"


"Mohon maaf Tuan, Ini adalah kelalaian saya,


karena membiarkan Tuan Vino mencari letak Cafe hotel seorang diri. Hanya sekedar ingin mengambil sarapannya Tuan."


"Apa..!? kenapa bisa terjadi..!? Bukankah seorang tamu amatlah sangat penting, Apa lagi seseorang yang menempati ruangan President Suite itu, Tidak perlu turun lantai? Semua keperluannya harus di siapkan di sana?" Tanya Tuan Farel mulai geram lagi.


"Saya tidak tahu Tuan, Saya mendapat informasi


dari Alita. Bahwa Tuan Vino turun sendiri mencari


Cafe Hotel untuk tuan sarapan siang." Jawab Alita gugup. Dia takut akan di pecat karena membuat keonaran lagi.

__ADS_1


"Cepat panggil Manejer Cafe itu. Untuk segera


menghadap ke saya,!" "Segera!!"


General manajer hotel menjadi geram, sambil


berkata dalam hati.


"Ada masalah apa lagi hari ini!?" "Huhh dasar


bodoh,! Apa sebaiknya aku pecat saja mereka!?"


Tak lama berselang, dua Orang terdiri dari Manejer Cafe, Dan Exsekutif koki Cafe, datang menghadap Tuan Farel dengan wajah tegang nya.


"Apa kerja kalian selama ini? Kenapa kalian membiarkan seorang tamu penting datang sendiri untuk mengambil keperluan nya.?"


Tanya Tuan Farel emosi.


"Kami tidak lengah Tuan, Makanan serta sarapan


telah di antar ke ruangan President Suite. Di antar oleh 5 Orang pramusaji."


Tapi mereka tidak menemukan nya di Suite itu, jadi mereka meninggalkan sarapan itu tetap tersaji di atas meja makannya. Jawab kepala Cafe mencoba membela diri.


''Cepat cari dan temukan keberadaan nya! Kalau tidak ketemu? Kalian berdua aku pecat!" Teriaknya emosi.


Mendapat teriakan dan ancaman seperti itu, mereka berdua ketakutan, Dan buru-buru prmisi


untuk mencari Vino


"Ukhhh..! Merepotkan saja!" Batin mereka serempak.


Sayangnya mereka belum pernah ketemu dgn


Vino, jadi mereka tidak tahu, bagaimana wajah seorang Tuan Vino yang sedang mereka cari. Di tengah kepanikan mereka, secara tidak sengaja. Mereka menyenggol salah seorang hingga termundur sedikit ke belakang karena terburu-buru.


"Apa kau tidak punya mata!? Hingga kau berjalan


tidak melihat keberadaan kami.!" Haa! Tanya salah seorang Manajer Cafe dengan membentak nya


'''Bukan kah kalian sendiri yang menabrak ku? Aku sedari tadi diam saja di sini, tidak bergerak sama sekali. Tapi kalian yang lari-lari tanpa melihat ada orang yang sedang berdiri di sini." Jawab pria itu dengan prasaan sedikit kesal.


'’'Aahr, Banyak bacod kau!" Hardiknya sambil mendorong tubuh Vino kasar, untuk menyingkir tanpa mau mengakui kesalahannya.


Tepat pada saat itu, Olivia Dan Alita barulah datang dengan tergopoh-gopoh dengan raut wajah yang telah pucat. Tapi betapa terkejutnya mereka, begitu melihat orang yang sedang mereka cari, tengah di intimidasi oleh kepala Exsekutif juga Manejer Cafe.


"Hentikan! Apa yang kalian lakukan pada nya!?"


"Kau bukan siapa siapa lagi Olivia!?" Dan kau tidak layak berbicara dengan ku." Ujar mereka meremehkan.


"Baik, Setelah kalian tahu siapa Tuan ini, Apa kah kalian masih berani untuk bersikap sombong kepada nya?"


"Memang nya siapa manusia ini!?" Jawab nya sambil meremehkan Vino."


"Ia adalah Tuan Vino, Tamu yang paling penting. Yang tinggal di ruang President Suite. Selama 3


hari. Dengan harga sewa kontan kamar 2,95 miliar.


Jawab Olivia gemetar menahan marah.


"Booumm.!!"


Bagaikan langit runtuh di atas kepala mereka.


Tubuh mereka berdua menjadi limbung seketika. Lalu terjatuh lemas, Dan berlutut di hadapan Vino sambil


memohon maaf padanya.


"Tuu, Tuan. Mohon maaf kan kami berdua, kami benar-benar salah. Dan tidak tahu tentang diri tuan."


Vino tidak menanggapi permintaan maaf mereka. Dia malah sibuk sendiri berkata dalam hati

__ADS_1


"Sepertinya masalah hotel ini, Dan beserta Orang-orang yang berada di sini harus segera di evaluasi."


__ADS_2