
Winds dan ke sembilan temannya termasuk Novita memalingkan wajah nya ke arah lain, seperti memberi isyarat untuk Vian melakukan niatnya.
Vian mengerti akan kode itu, dia segera bangun dengan amarah yang sudah di ujung tanduk. Kemudian memandang tubuh Prily kuat kuat.
Buk.. buk.. buk...!
Tiga kali tendangan Vian mendarat di tubuh juga wajah Prily yang masih tergeletak di lantai, hingga membuat tubuh nya terlempar menabrak kaki meja hingga patah.
Kursi kursi yang ada di situ berserakan dan hampir mengenai Vino. Dia yang sedang asyik makan. Untung saja tidak mengenai meja tersebut.
Kesadaran Prily masih ada setelah di tendang oleh Vian. Mulut nya saja yang masih mengeluarkan darah yang cukup banyak.
Prily yang dengan sisa tenaganya, mencoba menggerakkan kepalanya dan menoleh ke arah Vino,
dengan aura kebencian yang begitu dalam. Dia begitu heran kenapa orang orang itu tidak menyentuh Vino, padahal tamu tamu yang lain di suruh keluar oleh mereka, tapi kenapa Vino di biarkan saja berada di situ. Justru malah asyik sedang makan.
"Siapa sebenarnya Vino, hingga tak satu pun dari mereka yang berani mengganggunya. Mungkinkah orang yang di katakan telah di singgung oleh Brayen adalah Vino, tapi tidak mungkin." Batin Prily berkecamuk sendiri.
Vino adalah menantu sampah yang tidak berguna di keluarga nya, kerjanya setiap hari adalah memasak, menyapu, mencuci piring, mencuci pakaian, dan berbelanja kebutuhan dapur di pasar. Segala perkerjaan rumah yang harus di lakukan oleh wanita malah sebaliknya Vino la yang mengerjakan itu semua.
"Tidak mungkin manusia mulia itu adalah Vino." Batin Prily lagi.
Tapi, lamunan nya terhenti lagi, tatkala tubuhnya di tarik keluar dari bawah meja oleh seseorang yang bertubuh tinggi dan juga kekar itu. Orang itu adalah Vian, Orang yang sangat dendam padanya. Gara gara Prily lah, dia sekarang terseret dalam masalah yang begitu besar, Bahakan bisa menghancurkan karirnya di dunia geangstaer.
Dengan kemarahan yang meluap-luap, Vian memukul, menendang, juga menampar wajah Prily, hingga membuat beberapa buah giginya tanggal, hidungnya patah, pipinya bengkak dan engsel kakinya terlepas.
Keadaan Prily saat itu sungguh amat menyedihkan, dia pingsan setelah mendapat penyiksaan yang tiada tara nya itu.
Winds juga teman temannya menyadari akan hal itu, mereka melihat kemarahan Vian terhadap Prily. Walau pergelangan tangan kirinya patah akibat berbenturan dengan kepala Vino, dia masih mampu membuat tubuh Prily remuk redam, hampir hingga hampir tidak bisa di kenali lagi.
Setelah puas menyiksa tubuh Prily, Vian kembali berlutut di lantai. Dengan nafas terengah engah, dia menunggu hukuman apa yang akan di timpakan padanya, juga anak buahnya.
"Apakah pertunjukan sudah di mulai?" Ujar Vino tiba tiba bersuara. Dan melangkah ke arah Winds juga Vian dan Novita.
"Tuan muda...!"
"Tuan muda...!"
__ADS_1
"Tuan muda...!"
Seluruh orang orang nya Vino termasuk juga Novita, serentak menundukkan kepalanya ke arah Vino dengan sikap hormat.
Vian yang menyaksikan kejadian itu, tiba tiba merinding ketakutan, ternyata orang yang telah di provokasinya adalah tuan dari orang orang yang sangat di junjung tinggi dan amat di muliakan olehnya.
Kalau mereka saja sudah sangat berkuasa. Bagaimana sebaliknya dengan tuannya itu.?
"Untung aku tidak jadi membunuhnya, kalau tidak habislah aku, juga anak buah ku, apa lagi geng Naga api milikku?".
"Dia raja di atas raja. Orang yang tidak bisa di singgung atau di remehkan. Perkataan nya adalah titah. Aku harus mendapat pengampunan darinya." Batin Vian dari dalam hati.
Menyadari akan semua hal itu, Seketika itu juga Vian merangkak mengarah Vino, dan dengan sisa keberanian nya, dia mengangkat wajahnya ke arah Vino dan berkata:
"Mohon ampuni hamba tuan, sungguh hamba tidak tahu, ada langit yang lebih tinggi dari pada langit itu sendiri." Ujar Vian sambil menempelkan dahinya di lantai.
Dia sudah tidak peduli lagi dengan harga diri dan kekuasaan. Karena orang yang sedang ada di hadapannya adalah orang yang paling berkuasa dari pada dirinya. Vian berharap, dengan memohon seperti itu, apa lagi dengan kondisi kepala berada di lantai seperti itu, tentu orang yang melihatnya akan tersentuh hatinya. Tapi benarkah begitu.?
Vino yang di harapkan, dengan perlahan hatinya pun mulai tergerak untuk memaafkan Vian, justru tidak menggubris perkataan nya sama sekali, dia malah beralih dari hadapan Vian, dan mengedarkan pandangannya ke arah anak buah Vian, yang sedari tadi juga masih di posisi berlutut.
Sama seperti Boss nya, mereka juga merasakan ketakutan, mau melawan justru kalah, selain kalah jumlah, mereka juga kalah akan kekuatan, jadi mereka lebih memilih tetap berlutut, dan menunggu titah apa yang akan di berikan oleh raja di atas raja itu.
"Apa yang harus di lakukan terhadap mereka tuan muda?"
"Kau lebih tau dari ku paman Winds, karena sudah jamak di dunia mafia, untuk menyatakan tunduk, apa yang harus dilakukan terhadap mereka." Jawab Vino bersungguh sungguh.
Winds memandang Robin dan para lainnya untuk mendekat padanya dan berkata:
"Kalian tahu apa yang tuan ingin kehendaki?. Jadi, kerja kan secepat mungkin." Ujar Winds dingin.
Kemudian, si tangan besi, memberi kode kepada belasan anak buahnya yang lain untuk segera membantu mereka melaksanakan perintah tuan muda mereka. Dia juga memandang ke dua orang pendekar yang sedang memegang katana untuk melaksanakan titah baiknya tersebut. Dan tanpa berlama lama mereka yang di perintah, segera bergegas melakukan tugasnya tanpa rasa beban, dan hasilnya.....
Craasss.. crass. crash.!
Crass..! craasss...!
Aaahrrkhhkh... Aaaahhhkh!"
__ADS_1
Aaaaaaa aaaaa!"
Teriakan menyayat terdengar dari mulut anak buah Vian secara bersamaan, setelah dua jari tangan mereka di potong secara paksa oleh si dewa kematian.
Tanpa beban, dan tanpa kenal ampun. Memotong jari tangan puluhan orang seperti memotong tempe saja. Benar benar sadis. Tapi itu adalah resiko di mana harus mereka tanggung sendiri sendiri, karena telah berani melawan tuan kita vino.
Sementara Vian ketakutan, sampai tubuhnya gemetaran, sekali lagi dia terkencing di dalam celana.
Tak tahan melihat penderitaan anak buahnya
Syuutt...tuk tuk... craasss...! tuk.. tuk..!
Seberkas cahaya putih kecil memanjang. Menyambar, menyelimuti bagian tubuh Vian, tapi dia tidak menyadari nya.
Dia hanya merasakan tangan kiri dan kanannya tiba tiba menjadi dingin. Vian mencoba menyentuhnya, tapi...
Pluukk.! Pluuukk.!
Ada sesuatu yang jatuh di kakinya. Mata Vian melotot seketika tidak percaya, sebuah tangan dari siku sampai ke telapak tangan, tergeletak di sanah. Dengan darah yang mengalir amat deras. Apa yang sebenarnya telah terjadi?..
"Tanganku...!!" Teriaknya histeris, kemudian melihat sebuah tangannya telah buntung dari setengahnya.
Seketika itu Vian juga menjerit:
"Aaahrrkhhkh....! Teriaknya panik, sambil memegang siku tangan kirinya yang terpotong.
"Ampuunnn... ampuni kami tuan muda. Tolong jangan bunuh kami." Brayen memohon demi tidak di bunuh.
"Itu peringatan bagi kalian, karena telah berani beraninya mencelakai tuan muda".
"Jika kedepannya kalian dan terutama kau Vian masih mencari masalah dengan tuan muda Vino, maka percayalah. Maka di saat itu jugalah diri kalian musnah bagai butiran debu yang tertiup angin kencang."
Winds berkata demikian, karena ingin menegaskan bahwa tuan muda Vino, berada dalam lindungannya dan tidak bisa di ganggu serta di remehkan
"Terimakasih tuan muda. Terimakasih." Vian mengucapkan kalimat tersebut sambil menahan rasa sakit di bagian siku tangan kanannya. Sedaya upaya dia tahan agar tidak pingsan, tapi pandangan mata nya mulai kabur, karena kehilangan darah yang cukup banyak. Dia tidak ingin pingsan di depan mereka. Anak buahnya juga demikian.
Ketakutan di diri mereka, mengalahkan rasa sakit yang mereka alami. Sama seperti Boss nya. Mereka berusaha menahan nya, walau sebenarnya sudah tidak tertahankan lagi. Ada belasan orang yang pingsan, karena tidak mampu lagi menahan rasa sakit. Melihat kejadian itu, bukan membuat Vino panik, apa lagi anak buahnya, dia cuma mengangguk, memberi kode agar membereskan masalah itu.
__ADS_1
Dalam kumpulan orang orang Vino, ternyata ada lima orang petugas medis, yang sengaja di persiapkan untuk mengantisipasi peristiwa seperti itu.
Setelah semuanya telah di obati, Vino melangkah maju ke depan mereka dan berkata: