Pewaris Tahta Yang Di Anggap Hina

Pewaris Tahta Yang Di Anggap Hina
Penggusuran Episode- 35


__ADS_3

Novita yang melihat emosi Vino yang tidak terkendali itu, menjadi khawatir, begitu juga dengan bawahannya yang lain. Yang di lakukan oleh Novita adalah, tuannya akan termakan oleh dendam nya sendiri, padahal orang yang telah membuat nya sengsara selama ini, telah mendapatkan balasan yang setimpal, tapi dia masih bersikukuh ingin bermain main dengan mereka.


Sungguh mengerikan sekali dendam tuan muda. Demi untuk membalaskan dendamnya, atas penghinaan yang selama ini dia alami, Vino melakukan banyak hal yang sudah di luar batas kewajaran. Tapi yang nama nya perintah, selamanya akan tetap perintah yang harus di patuhi. Mereka lebih menghargai tuan muda mereka, dari pada terus merasa kasihan dan bersalah, kepada orang yang selama ini menindas tuan muda mereka.


Maka mereka mau tidak mau, harus melaksanakan perintah dari tuan mudanya, kalau mereka menolak, maka mereka lah yang akan menjadi korban dari pelampiasan ke marahan tuan muda tersebut


Maka terjadilah seperti yang di katakan dan di perintahkan, serta sudah di gariskan oleh Vino, bangunan yang di tempati oleh nenek Robin dan keluarganya, hari ini setelah 3 hari, waktu yang telah di berikan, tepat pukul 3 sore, bangunan itu di robohkan, dengan alasan mengganggu keindahan kota.


Tapi, sebelum peristiwa itu terjadi ada insiden kecil yang mengawalinya. Ketika alat berat datang, dan hampir merobohkan bangunan tersebut penghuninya marah dan berkata:


"Berhenti...! apa yang kalian lakukan? Tidak tahu kah kalian, ini tempat tinggal kami". Hardik nenek Robin bermuka garang. Salah seorang manajer maju melangkah, mendekati nenek Robin, dengan berlagak tidak mengenalnya, dan bersikap sedikit sopan.


"Kalau benar, ini adalah tempat tinggal kalian, bisakah tunjukkan surat surat tanah dan bangunan nya?" Ucap manejer itu menohok dan langsung pada intinya.


Nenek Robin, seketika gugub. Tentu saja tidak mungkin baginya, untuk menunjukkan surat surat tanah yang di maksut, karena dia sendiri juga tidak tahu, bangunan siapa yang dia tempati selama 3 hari ini. Kemudian, dengan terbata bata dan memelas dia berkata: Tuan, aku mohon jangan robohkan bangunan ini, cuma bangunan inilah yang tersisa untuk kami berteduh dan terik nya matahari dan dinginnya hujan."


Pintanya menghiba, meminta belas kasih dari sang Manejer tersebut.


Tapi apa yang di katakan oleh sang manajer tersebut setelah nya, membuat nenek Robin juga yang lain menjadi diam. Sedangkan Brayen hanya diam saja, dia lebih memilih untuk bersembunyi di balik pintu ruangan tersebut, dari pada berdebat dengan manejer itu.


Sesaat kemudian manejer itu berkata: Maaf, aku hanya menjalankan perintah dari atasan ku. Karena kalian tidak bisa menunjukkan surat bukti kepemilikan tanah dan bangunan ini, maka dengan berat hati, aku mempersilahkan kalian untuk meninggalkan tempat ini segera." Ucapnya sedikit mengancam. Ucapan tegas dan terkesan sedikit memaksa dari manejer proyek itu, telah menghempaskan harapan terakhir nenek Robin.


Tidak ada lagi yang bisa di lakukan nya, kecuali menuruti saran dari kepala proyek itu.

__ADS_1


"Baiklah, aku dan keluargaku akan pergi dari sini. Tapi aku mohon jangan tergesa gesa dulu, masih ada yang perlu kami persiapkan terlebih dahulu." Kata nenek Robin mencoba mengulur ngulur waktu, agar Brayen bisa menyamarkan keberadaan nya.


Kevin yang mendengar percakapan ibunya dengan salah seorang manajer tersebut, memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan kepadanya.


"Kalau kami pergi dari sini, lalu di mana kami harus tinggal tuan?" Tanya Kevin putus asa.


"Itu bukan urusan kami. Kami berkerja di bawah perintah, dan harus di selesaikan hari ini juga. Jadi saya mohon maaf ke pada kalian semua." Jawab nya sopan dan berusaha bersikap selembut mungkin, ketika saat berbicara dengan Kevin yang lebih tua dari nya.


"Baiklah, kami akan pergi." Ucap nya lemah.


Beberapa saat berselang, mereka pun telah berada di jalanan, dan seorang Brayen telah menyamarkan penampilan nya. Jaz yang ia kenakan, di pakai secara terbalik, kemudian di gunakan untuk menutupi kepalanya.


10 menit kemudian, mereka sudah pergi lumayan jauh, dari bangunan yang selama 3 hari ini mereka tempati.


"Jangan duduk di sini, keberadaan kalian telah mengganggu pelanggan kami. Dasar gembel, hus hus, pergi sana!" Ucap seorang pelayan toko garang, seperti sedang mengusir kucing yang lagi mencuri makanan nya.


"Jangan kurang ajar, kalian tidak tahu siapa aku!?" Jawab nenek Robin jengkel. Baru kali ini dia di usir, dengan cara yang benar benar sangat keji itu selama hidup nya.


"Memang nya siapa kau nenek tua!?. Ratu, orang kaya atau gembel?" Tangkis nya mengejek.


"Kurang ajar..!" Apa kau tidak bisa bersikap lebih sopan pada orang tua?" Teriak nenek Robin marah.


"Hah, sudahlah pergi dari sini!" Ucap seorang pelayan semakin emosi. Dan sambil mendorong tubuh nenek yang suda renta itu sampai terjatuh.

__ADS_1


Arini yang mendengar dan melihat perdebatan, serta perlakuan pelayanan tokoh pada nenek nya menjadi geram. Dengan kasar, dia balik mendorong pelayan tokoh tersebut hingga terjatuh.


Pemilik toko melihat keributan itu, segera keluar dan melerai perkelahian tersebut, kemudian dengan suara yang sangat tegas dia berkata:


"Pergi dari tokoh ku sekarang juga, jangan mengotori pemandangan pelanggan yang ingin datang kesini.!" Ujarnya sarkasme


"Sial, benar benar sial.!" Teriak Prily geram, sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah wajah pelayan tersebut. Kemudian berlalu dengan gontai.


Kejadian itu terus saja berlangsung, setiap kali mereka ingin berteduh atau menumpang, tapi di saat itulah mereka juga di usir.


Tidak terasa Jam sudah menunjukkan Pukul 18:10 Malam. Tubuh mereka sudah sangat letih dan lemas, hari sudah semakin gelap, pertanda akan berganti malam. Namun, sampai saat ini tidak ada makanan yang masuk ke dalam perut mereka. Mau membeli makanan, uang tidak ada. Dengan terpaksa, mau tidak mau mereka harus mengemis di jalanan.


"Duhhh, sungguh benar benar miris nasib mereka sekarang, orang yang dulunya kaya, sombong, dan paling yang berkuasa, Sekarang telah berubah menjadi gelandangan yang tidak berguna.


Tidak satu orang pun yang enggan menolong mereka. Termasuk juga para saudara nya yang lain. Mereka justru malah bersikap acuh alias tidak perduli akan kesengsaraan kalian. Yang dulu nya mereka ada orang yang paling terkaya di kota Y ini, tapi sekarang bagai tikus tikus yang tidak berguna.


Nenek Robin, juga sudah berusaha untuk menghubungi yang lain. Agar bisa memberi tumpangan untuk mereka berlima meski bersifat sementara. Tapi, jawaban yang di terima nya justru membuat hati nya semakin hancur berkeping keping.


Sementara Brayen, nasib nya juga tidak kalah jauh berbeda dengan keluarga baru nya itu.


Brayen selama ini, ia tinggal sendiri di kota Y, Ia tinggal bersama Ibunya berdua tanpa di dampingi oleh tulang punggung keluarga.


Detik, menit, Jam pun berlalu, jarum jam sudah menunjukkan angka 19:00 Malam. Nenek Robin juga yang lain masih juga berada di jalanan. Tidak ada tempat untuk berteduh, apa lagi kamar untuk mereka tidur.

__ADS_1


__ADS_2