
"Vino aku adalah sepupu dari istri mu Anggeline, memandang wajahnya, tolong ampuni aku. Aku sungguh tidak tahu tengah berhadapan dengan siapa saat ini." Ucapnya memelas.
Vino yang mendengar perkataan nya dari Yara, Anggeline tersenyum sinis, lalu berkata: "Anggeline adalah masa laluku, dan aku tidak perduli lagi dengan nya, apa lagi kau!" Jawab Vino dingin.
"Vino! tolong pertimbangkan perasaan nenek ku, tentu dia akan merasa sangat sedih dan hancur, jika melihat cucu putri kesayangannya telah mendapat perlakuan hina seperti ini."
"Siapa yang menghina mu?, bukankah kau sendiri yang mencari gara gara dengan ku?. Kau dengan sengaja ingin mempermalukan ku di tempat umum. Sekarang rasakan pembalasan itu!."
"Vino!, tolong aku, tolong ampuni aku!, aku berjanji pada mu kalau aku tak akan melakukan hal itu lagi pada mu, atau pun ke orang lain." Rengek Yara memohon ampun kepada Vino.
"Dasar pembual!, perempuan ****** seperti mu, memang sangat layak, mendapatkan penghinaan seperti ini." Ucap Vino sambil berlalu menuju ke mobil Lamborghini nya.
"Vino, tolonglah aku, jangan biarkan mereka menyentuhku. Aku sepupu istrimu Anggeline." Teriak Yara berusaha menghentikan langkah kaki Vino.
Vino yang mendengar perkataan Yara tersebut menjadi geram. Kemudian, dengan emosi dia berkata:
"Anggeline, bukan istri ku lagi!, dan dia bukan siapa siapa ku lagi!, dia beserta keluarga nya sekarang telah menjadi gelandangan di jalanan. Dan kau sebentar lagi akan menyusul mereka.!" Ucap Vino geram.
"Doni!, untuk kali ini, kau dan beserta anak buah mu itu, dapat aku maafkan. Juga terkhusus adik mu itu. Tapi jika lain kali masih berani melakukan itu kepada orang orang yg lemah, maka kau tau sendiri akibatnya seperti apa.!" Ancam Vino tegas.
"Dan satu lagi, jika aku masih melihat, adik mu itu berhubungan dengan perempuan ****** itu, jangan tanyakan lagi, apa yang akan ku perbuat ke padamu." Kata Vino penuh ancaman. Kemudian pergi, menuju ke mobil Lamborghini nya.
Sepeninggal Vino, Doni memerintahkan kepada anak buahnya, untuk menyingkirkan Yara dari hadapannya dan berkata:
__ADS_1
"Cepat urus perempuan biadab itu!. Aku sudah muak melihat wajah nya yang sombong itu!." Perintah Doni kepada anak buahnya.
"Baik, Boss.!" Jawab mereka serentak, dan langsung memegangi tangan Yara, dan memegangnya lalu menyeret nya agar menjauh dari Williams.
"Sayang..! Tolong aku..!"
"Jangan biarkan mereka membawa ku untuk jauh dari mu!.." Ucap Yara memelas meminta pertolongan kepada Doni.
Tapi Williams yang di mintai pertolongan terhadap kekasihnya, tidak berbuat apa apa, karena dia juga berada di bawah tekanan. Sekarang dia sudah mengetahui siapa diri Vino yang sebenarnya. Setelah melihat, bagaimana Doni yang selalu di kaguminya itu, tertunduk hormat dan berlutut kepada Vino.
Jika bosar, sudah melakukan hal yang memalukan seperti itu, berarti orang yang di depannya, bukanlah orang yang tidak bisa di singgung seenaknya, dan ia bukanlah orang yang sembarangan.
Maka ketika Yara di seret untuk menjauh dari nya Williams hanya diam saja, dia lebih memilih mencari aman, dari pada harus berurusan dengan kakaknya, apa lagi dengan Vino.
Kini drama penghinaan itu telah usia, orang orang yang menonton pun serentak pun semua membubarkan diri.Yang tinggal hanya orang orang Doni, yang sedang mengurus Yara.
Sekarang Vino sudah berada tepat di depan pintu Bank Amex, akan tetapi ketika dia hendak ingin melewati scurity, salah seorang dari mereka membentak Vino dengan kasar.
"Stopp..!" Ada perihal apa kau ingin masuk ke Bank ini.!" Hardiknya kasar terkesan merendahkan Vino.
Vino yang mendapat perlakuan kasar seperti itu, ia pun langsung mengeluh dari dalam hati dan membatin. "Lagi lagi ada masalah, masalah dan terus masalah. Mau sampai kapan begini terus. Apa memang seperti ini perilaku orang orang yang ada di kota Y ini."
Semua di pandang dengan harta, tahta, kekayaan serta kekuasaan. Kalau begini taunya, aku jadi sangat menyesal. Karena tidak mengizinkan mereka untuk mendampingi ku tadi. "Apa yang harus aku lakukan saat ini.?" Batinnya.
__ADS_1
Melihat Vino tidak menjawab pertanyaan dari salah satpam tersebut, seketika itu juga, salah seorang komandan mereka menjadi murka, kemudian menghampiri Vino dan membentak nya.
"Apakah kau tuli!?, hingga kau tak mendengar pertanyaan anak buahku!. Sekarang aku minta kau jawab pertanyaan dari anak buah ku, apa maksud kedatangan mu kemari!?" Tanya salah seorang komandan satpam dengan nada tinggi bersikap emosional itu.
Mendapat perlakuan kasar seperti itu, Justru Vino tak menjawabnya, melainkan ia memberikan tatapan mata yang begitu tajam dan sadis, tatapan yang langsung ia arahkan ke komandan yang arogan tersebut.
"Dasar parasit, pecundang, gembel..!" Ucapnya memprovokasi Vino, sambil tangannya terulur, ingin menampar, atau mendorong Vino, agar supaya menjauh dari pintu Bank tersebut.
Mendapat perlakuan kasar seperti itu lagi, bukannya membuat Vino takut, tapi malah mendekatkan diri kepada komandan tersebut kemudian menyodorkan wajah nya meminta untuk di tampar.
"Mau menamparku?, kenapa berhenti?, ini wajahku, silahkan tampar!" Ucap Vino memprovokasi.
"Kurang ajar kau! di tanyak baik baik, malah kau ingin mencoba melawan kami semua!." Jawab komandan satpam tersebut semakin marah. Seketika itu tangannya terangkat, dan melayang menuju wajahnya, kemudian mendorong nya kuat kuat, sehingga ia jatuh tersungkur ke depan.
Karena posisi komandan satpam itu kurang stabil, sehingga membuatnya terdorong ke belakang, dan menabrak anak buahnya sendiri hingga terjatuh ke belakang.
9 orang satpam yang tersisa, hanya bisa melongo, melihat komandan, serta rekannya jatuh, akibat hanya di dorong ringan oleh Vino. Tetapi 5 detik kemudian, kesadarannya mereka kembali, dan mencoba untuk membalas perlakuan Vino kepada komandan ya tadi.
Serentak ke sembilan nya mengambil sebuah balok yang berukuran cukup lumayan besar, yang di pegang oleh mereka masing masing, kemudian mengangkatnya, berkesan menakut nakuti Vino, bertujuan agar ia mundur.
Kalau bukan Vino, pasti orang yang di takuti tersebut menjadi ketakutan, tapi berbeda dengan Vino, dengan santai nya Vino menangkap, dan merebut beberapa balok yang di genggam oleh mereka. Dan secepat kemudian, balok balok tersebut di banting ke tanah. Di iringi dengan pukulan serta tendangan yang gerakannya tidak bisa di ikuti oleh siapapun. Gerakan yang cukup fantastis dan elastis, cepat, akurat, dan tepat.
Vino kali ini benar benar membulatkan tekadnya. Padahal kesembilan satpam itu, hanya sekedar menakut nakuti Vino. Agar dirinya menjauh, tapi justru ia malah terpancing emosi, karena ketidak pahaman nya.
__ADS_1
Hal itu, mungkin buntut dari kejadian di sebuah toko yang pernah di singgahi nya tadi. Sehingga peristiwa barusan yang terjadi di depan pintu masuk Bank Amex, telah membuatnya salah faham.
Perasaan Vino saat ini, sangat mudah tersinggung. Apakah dia sudah benar benar berubah?. Tidak bisa menahan emosi nya lagi, walau itu hanya sesaat sekali pun.