
Vino tidak menggubris pertanyaan dari mulut Asyila, tapi ia justru mengalihkan pandangannya, ke arah nenek Robin kemudian berkata:
"Mana sifat angkuh mu nenek Morita?" Ujar Vino menyebutkan nama asli nenek Robin, yang sudah lama ia ketahui, dari sang kakek suami sah dari nenek Morita tersebut.
"Dulu kau begitu sombong, angkuh, kikir, dan tidak kenal akan sebuah kalimat takut. Tapi sekarang, kau justru tak lain adalah bagaikan seekor binatang, yang lebih menjijikkan dari pada seekor kecoak yang ketakutan, ketika berhadapan dengan tuannya." Ucap Vino merendahkan kedudukan nenek Robin, atau Morita.
Seketika pada saat itu juga, yang bersangkutan spontan menjadi marah, dan rasanya ingin menjawab pertanyaan pertanyaan Vino, tapi Vino segera memotong perkataannya yang cukup mengena di hati.
Tanpa blas kasihan, ia juga berfikir jernih, kau membiarkan anak anak mu, juga beserta para keturunan mu menghina ku sesuka hati, dan pada akhirnya, kau termakan oleh kebodohan mereka sendiri." Ucap Vino tegas, lalu terus melanjutkan ucapannya.
"Kau nenek keriput yang tidak punya fikiran. Kalau pun kau punya, pasti tidak kau jalankan dengan baik. Kau termakan bujuk rayu mereka, sehingga kau dengan sangat tega nya mencampakkan diriku dari rumahmu. Bahkan kau juga sangat keji karena kau telah merusak rumah tangga putri mu sendiri dengan menantu laki laki mu ini. Serta kau dengan piciknya menyiratkan ku dan meminta ku untuk menceraikan istri yang sangat aku cintai dulu."
"Semua itu di landaskan oleh sifat keserakahan mu akan tahta dan harta, tapi apa buktinya?, harta yang kau bangga-banggakan itu, sekarang mana?" Ucap Vino sambil berteriak cukup keras, kemudian berkata lagi...
"Kau tidak sadar, bahwa dunia ini berputar, sama seperti perputaran nasib manusia, kadang di atas dan terkadang pula berada di bawah."
"Dulu kalian dengan kekayaan yang melimpah ruah, perusahaan ada di mana-mana, dengan bangganya mengklaim, bahwa kalian adalah keluarga paling terkaya nomor 3 di kota Y ini."
"Semua orang berduyun-duyun menjilat kalian, apakah setelah kalian menjadi gembel seperti ini, apakah mereka datang membantu kalian?" Tanya Vino melepaskan kekesalannya selama ini. Selang berapa lama kemudian, dia melanjutkan perkataannya
__ADS_1
"Nah!. Karena dulu kau dengan sombongnya mengusirku dari rumahmu, maka sekarang giliran ku mengusir kalian dari sini, karena tempat ini sudah aku beli, dan aku akan mendirikan sebuah perusahaan di sini." Ucap Vino mengarang cerita.
Lepas sudah segala ganjalan yang selama ini ada di benak Vino. Beberapa detik ia mengambil nafas dan mencoba menenangkan diri, untuk memberi sebuah kesempatan kepada mereka untuk merenungkan semua perkataannya yang di ucapkan nya tadi.
Hasilnya mereka berlima tadi, yang telah mendengar ucapan dari mulut Vino terdiam terpaku, terpana, membisu, dan tidak bisa berkomentar sedikitpun.
Apa yang di katakan oleh Vino itu semuanya benar. Kekayaan, kekuasaan, dan nama besar itu, mirip seperti gula, ketika dia menumpuk, banyak semut yang datang. Dan berduyun-duyun, untuk mencicipinya. Tapi, ketika gula itu mulai habis, maka semut itupun pergi. Seperti itulah nasib maupun takdir yang mereka alami sekarang ini.
Nenek Robin, yang telah mendengar semua perkataan yang keluar dari mulut Vino, ia pun tak kuasa menahan nya. Kemudian dengan berderai air mata yang secara perlahan jatuh membasahi pipi, nenek Robin pun berjalan secara tertatih-tatih, dengan bantuan tongkat nya menuju ke arah Vino.
Ketika jaraknya sudah mulai dekat, tiba-tiba saja langkah kaki nenek Robin terhenti, dan ia pun berkata:
"Vino, mengahadaplah kepada nenek. Sekarang nenek bukanlah siapa siapa lagi. Walaupun kau adalah bekas mantuku, tapi bagaimana pun, kau telah berhutang Budi kepada nenek."
Suatu hal yang belum pernah, dan suatu kepantangan baginya, kini ia dengan terpaksa hati melakukan hal itu kepada Vino. Demi untuk kelangsungan hidup semata.
Vino yang mengetahui akan niat picik nya nenek Robin, tentu saja Vino tidak menggubrisnya dengan sikap yang serius, justru dirinya menjawab dengan sinis.
"Atas dasar apa, aku menyerahkan mobil mewah ku itu?".. Kalian sungguh tidak pantas untuk memilikinya." Jawab Vino cuek.
__ADS_1
Nenek Robin yang mendapat jawaban seperti itu, menjadi emosi dan kesal. Kemudian meluapkan kemarahannya. Dia lupa dengan tujuannya yang semula untuk mendekati Vino.
Yang pada dasarnya nenek Robin mudah sekali tersinggung, dan mudah sekali marah, begitu di provokasi dengan kata-kata yang merendahkan harga dirinya.
"Ternyata, kau manusia yang tak mengang budi!.. Aku benar benar menyesal, karena telah menerima mu sebagai cucu menantuku dulu." Balas nenek Robin ketus bercampur geram.
Tidak mau kalah, dan terus menerus di rendahkan oleh nenek Robin, Vino balas berakata: " Siapa yang sudi menjadi cucu menantu mu. Kalau bukan karena permintaan dari kakek Robin, maka aku tidak akan pernah sekalipun untuk menikah dengan Anggeline, si wanita ****** itu!." Ucap Vino tak kalah ketus dari perkataan nenek Robin.
Kevin yang mendengar Vino berkali kali mengatakan Anggeline sebagai wanita ******, Kevin pun menjadi emosi dan geram, kemudian dia mendekati Vino untuk menamparnya. Tapi belum sampai di hadapan Vino, Vino terlebih dulu menatap Kevin, dengan tatapan maut yang mematikan, sehingga membuat langkah Kevin terhenti, dan secara refleks mundur ke belakang dengan rasa takut yang tidak terukir.
"Sekali lagi kau berani mengancam ku, maka aku tidak akan segan segan untuk mematahkan tanganmu dan membalikkan kepala mu hingga terbalik kebelakang.!" Ucap Vino dingin terkesan mengancam Kevin, lalu dia berkata lagi.
"Walaupun kau dulu pernah menjadi seorang ayah mertuaku, tapi sekarang, aku tidak akan lagi dan tak akan pernah untuk menghargai orang seperti mu lagi!." Kata Vino berkata tegas.
"Sekarang pergilah dari sini!, sebelum pikiran ku berubah!." Ucap Vino mengancam mereka semua.
"Dan jangan lupa juga, bawa si keparat itu pergi jauh jauh dari hadapan ku!."
"Vino tolong maafkan nenek. Nenek benar-benar sangat menyesal, karena telah memaksa Anggeline untuk bercerai dengan mu, dan mengusir mu dari rumah nenek dulu." Ucap nenek Robin bersiasat dan berharap agar Vino dapat mengasihaninya.
__ADS_1
Ucapan nenek Robin juga di dukung oleh Prily. Dia dengan bermuka manis mendekati Vino dan duduk bersebelahan dengan nenek Robin dan kemudian mereka berdua berkata: "Ibu juga sangat menyesali Vino, karena ibu terlambat untuk menyadarinya. Selama ini ibu telah di butakan oleh harta dan kedudukan, sehingga sedikitpun kami tidak menghargai akan keberadaan mu di rumah itu." Ucapnya penuh dengan penyesalan, walaupun sebenarnya palsu.
"Sebagai permintaan maaf ku, dan memandangku sebagai orang yang pernah menjadi ibu mertua mu, tolong berikan mobil mewah mu itu kepada ibuku ini. Agar ia bisa menjualnya, untuk berbelanja segala kebutuhannya sehari-hari." Katanya merendah penuh dengan kepalsuan dan juga tipu daya, sambil mengedipkan matanya ke arah Vino.