
Ternyata sebelum penggrebekan itu terjadi, Vino berhasil melepaskan diri dari sekapan penculik tersebut. Melalui jendela yang kebetulan tidak terkunci. Karena kecerobohan anak buah penculik itu sendiri, Vino berhasil kabur, dan berlari sekencang mungkin ke arah dalam hutan, yang ada di belakang pondok tempatnya di sekap.
Entah sudah berapa jam berlari, dia saja suda tidak tau
Pakaian yang dikenakannya koyak di sana sini.
karena ketakutan nya, Vino berlari tanpa memperhatikan, bahwa di depannya ada aliran sungai yang sangat deras. Kondisi pada saat itu sangat gelap gulita. Vino tidak menyadari, kalau dia sedang menuju aliran sungai dan tiba-tiba tubuh Vino sudah terseret oleh derasnya air sungai yang mengalir.
Tak lama sesudah itu, Vino tidak sadarkan diri, di karenakan kepalanya membentur sebuah bebatuan yang berada di sungai tersebut. Pagi pun menjelang Vino masih tidak sadarkan diri, yang pada saat itu tubuh Vino tersangkut di dahan kayu yang cukup besar. Tapi pada saat itu juga arus sungai tidak sederas dan sedalam semalam.
Kalau pada malam harinya, tubuh Vino seperti berada
di tengah-tengah sungai, tapi sekarang, tubuhnya suda berada di tepian sungai. Ternyata aliran sungai tadi malam itu sangatlah tinggi, sehingga meluap sampai di persawahan. Karena banjir kiriman dari sungai lain.
"Tubuh siapa itu, apakah ia sudah mati? atau masih hidup? Baik aku lihat saja. Syukur syukur ia masih hidup." Ucap seorang pria paruh baya dengan wajah penasaran.
"Oh ternyata anak ini masih hidup." Walau ia masih kecil, tapi daya tahan tubuh nya sangat cukup kuat.
"Aku harus segera menyelamatkannya."
Lelaki paruh baya tersebut sejenak mengamati tubuh Vino.Terdapat banyak luka di beberapa bagian tubuh nya, kepalanya juga berdarah, walaupun sudah mengering.
"Sebaiknya anak ini ku bawa saja ke rumah ku. Nanti stelah dia sadar, baru aku tanya tentang jati dirinya"
*********
Tak terasa sudah tiga hari Vino tidak sadarkan diri, dan selama tiga hari orang tua itu, selalu di bantu oleh istrinya dalam merawat Vino hingga ia benar-benar sembuh total. Berbagai macam cara, dan teori mereka gunakan, untuk membuat mereka sadar. Tapi sekuat apapun mereka berusaha, tapi tetap saja tidak berhasil membuat Vino sadarkan diri.
Ada niat untuk membawa Vino keluar kota, dan di bawa kerumah sakit, tapi jarak tempat tinggal mereka sangat jauh dari kota. Mereka hanya hidup berdua di dalam hutan. Yang berprofesi sebagai petani, sekaligus nelayan pinggir sungai.
Walaupun sebenarnya, ada perkampungan lain di sebrang sungai, yang tak begitu jauh dari tempat tinggal mereka. Di sebuah perkampungan itu terdapat juga pusat kesehatan, meski terlihat kecil sekolah dan tempat tempat umum lainnya.Tapi mereka sudah terbiasa hidup menyendiri. Lebih tenang dan damai. Itulah alasan mereka kalau ada yang bertanya.
Jadi mereka tetap tidak membawa Vino ke kampung
sebrang yang jarak nya hanya tiga kilometer dari rumah nya untuk berobat. Mereka hanya berharap agar Vino dapat siuman dari pingsannya.
Di hari ke 4, tepat pada pukul 9:30 Pagi. Vino baru siuman dan tersadar dari pingsannya itu, tapi keluarga
yang terisolir itu, tidak tahu akan kondisi Vino, karena mereka sangat sibuk di kebun.
__ADS_1
Setelah Vino sadar, hal yang pertama di lihatnya adalah sesuatu yang terlihat aneh di matanya.
"Di mana aku..? Kenapa tempat ini begitu lain..? Apa kah aku sudah mati...?" Gumam Vino lirih.
Lalu Vino mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tempat dia terbaring, tapi yang di dapati oleh nya adalah dia sedang berada di sebuah kamar yang sangat sederhana itu.
"Siapa pun tolong aku...!!" Teriak Vino ketakutan sendiri.
Mendengar teriakan tersebut, istri dari petani itu bergegas datang ke kamar Vino, dan mendapati anak yang di tolong oleh suami nya telah siuman.
Hari, minggu, bulan dan tahun pun berlalu. Kini sudah hampir 12 tahun Vino hidup bersama dengan mereka.
Vino pun sudah menamatkan pendidikan nya. Dan sekarang dia melanjutkan nya ke jenjang sekolah yang
lebih tinggi, tapi ia harus ke kota, karena jenjang sekolah yang lebih tinggi itu adanya di kota.
Di tahun ke 5, Vino memutuskan untuk melanjutkan pendidikan nya ke kota. Untuk itu dia lebih memilih
tinggal di sebuah panti asuhan. Yang tidak begitu jauh
dari sekolah yang diinginkannya. Tiga atau 7 bulan sekali Vino pulang kerumah orang tua angkatnya.
Tentu kedatangan Vino di hidup mereka, membuat mereka sangat bersyukur dan bahagia. Karena sejatinya, mereka tidak mempunyai keturunan jadi
Vino lah tumpuan kasi sayang mereka.
Kini vino sudah berada di tingkat terakhir sekolah
menengah atas level pertama, tinggal beberapa bulan
lagi akan lulus dan meneruskan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi lagi. Dan di tahun ke 6, ketika dia
tengah berada di jenjang sekolah atas, saat itu usia vino 19 tahun. Musibah menimpa keluarga kecil nya,
yang selama ini telah di anggap sebagai orang tuanya.
Kedua orang tua angkatnya meninggal satu persatu
karena faktor umur dan kesehatan nya yang terus
__ADS_1
menerus menurun. Dan sekarang tidak ada lagi yang bisa di harapkan oleh Vino untuk terus tetap tinggal di rumah mereka. Vino memutuskan untuk pindah permanen ke kota, dan menyelesaikan pendidikan nya di sana.
Waktu terus berlalu, kini Vino telah beranjak dewasa.
Dan sudah menyelesaikan pendidikannya di perguruan
tinggi, tinggal mencari kerja pikirnya.
Saat itu Vino tidak lagi tinggal di panti asuhan, tapi dia lebih memilih untuk tinggal di rumah kontrakan nya
sendiri, sambil berkerja paruh waktu, sehingga tidak terasa dia telah menyelesaikan pendidikannya.
Ketika dia sedang berusaha mencari kerja, Tiba-tiba
Vino di hadang oleh sekelompok pria dewasa yang seumuran dengan nya. Lalu mereka tiba-tiba mengeroyok Vino. Tapi seorang Vino yang telah menyelesaikan pendidikannya dalam bidang pencak silat, dengan sigap Vino mencoba melawan mereka dengan keahliannya dalam silat tangan kosongnya, hingga mendapat kan ban hitam tertinggi di perguruan pencak silat tersebut. Berhasil merobohkan semua pengeroyoknya, hingga tidak berdaya.
Atas kekalahan nya, mereka terus berupaya mencelakai Vino dengan berbagai cara. Orang-orang yang berniat mencelakai Vino adalah teman semahasiswa yang iri melihat prestasi Vino di kampus, dan kedekatannya dengan seorang primadona kampus tersebut, dan menyelamatkan gadis itu.
Hal itulah yang membuatnya mereka sakit hati, dan dendam pada Vino. Mereka berniat mencelakai Vino.
Maka ada satu kesempatan, mereka berhasil meracuni Vino, melalui orang suruhan mereka, hingga Vino tidak berdaya. Dengan kondisi keracunan tersebut, Vino berlari tak tentu arah. Di tengah pelarian itulah, tubuh Vino seketika ambruk, di depan sebuah rumah besar,
walaupun tidak kelihatan mewah. Dan selang beberapa lama Vino di tolong oleh seseorang lelaki tua yang mengobati dan hingga sembuh.
5 bulan sesudahnya setelah dia sembuh, Orang tua tersebut langsung menikahkan Vino dengan cucunya
sendiri yang bernama Anggeline itu.
Belum genap 3 minggu usia mereka menikah, musibah datang lagi, lelaki yang menyelamatkan hidup Vino meninggal dunia karena terkena serangan jantung. 3 Tahun tak terasa usia pernikahan mereka,
namun ada lagi musibah yang menimpa mereka.
Pernikahan mereka kandas, karena desakan dari pihak
keluarga, juga istri nya.
Akhirnya Vino pun sekarang menjadi laki-laki bebas, yang saat ini sedang berada di ruang kakeknya, Tuan Birakazawa, untuk menerima mandat, serta kekuasaan
dari kakek nya itu.
__ADS_1