
Sementara itu, ke sepuluh orang yang kini sedang berada di belakang Novita, mereka pun di perintahkan untuk maju ke depan, dan menghampiri Vian dengan tatapan kematian.
Aura yang di keluarkan dari mulut ke sepuluh nya itu, sangat menakutkan, mereka adalah para panglima perang, atau si tangan besi, dan si tangan kilat, juga si dewa kematian. Vian yang mendapatkan tatapan kematian itu seketika berubah pucat dan tubuh nya mendadak gemetaran, hingga terkancing kencing di celana, kemudian jatuh berlutut menghadap ke sepuluh nya, bau menyengat segera menyebar di ruangan itu. Kurang ajar sekali dia.
Anak buahnya yang melihat kejadian itu menjadi heran, kenapa bos nya yang selama ini terkenal kuat, kejam dan tak mengenal kata ampun, sekarang sudah berlutut dan gemetaran seperti itu.
"Cepat semuanya berlutut." Teriak Vian mengingatkan seluruh anak buahnya. Dia takut kalau ke sepuluh orang yang sangat di takuti itu, akan membinasakan mereka semua.
"Kau cukup berani juga Ferry!"
"Kau telah mencoba membunuh orang yang seharusnya tidak boleh kau singgung." Kau tahu hukumannya apa" Tanya salah seorang dari ke tujuh nya yang ternyata adalah Winds, komandan kepala seluruh pengawal keluarga Kizawa yang bergelar si tangan besi.
"A... a.. ampuni diri ku tuan. Aku tidak tahu. Siapa orang yang tuan maksut." Jawab nya memelas ketakutan.
"Apa kau tahu, siapa orang yang sedari tadi ingin kau bunuh, dia adalah tuan ku, tuan bagi kami semua". Kata salah seorang pengawal.
"A.. apa..!" Mohon ampuni aku tuan..." Mohon maaf kan diriku. Aku tidak tahu tentang diri nya. Aku hanya menjalankan tugas ku, yang di berikan oleh mereka."
Katanya sambil menunjuk Prily.
Situasi sudah mulai kacau, Prily yang di tunjuk oleh Vian menjadi sangat ketakutan. Dia tidak kenal Winds,
karena dia tidak pernah berurusan dengannya. Tapi begitu melihat, betapa Vian yang cukup di takuti di kota Y gemetaran ketika berhadapan dengan Winds,
tentu latar belakangnya lebih hebat dari pada Vian
Winds sekilas memandang Prily dengan tatapan mengancam, dia mengedarkan pandangannya kepada semua tamu yang hadir, memberi kode agar mereka keluar dari ruangan itu. Melihat tatapan mereka yang tidak main main itu, seluruh tamu yang tidak ada kena
__ADS_1
mengenanya dengan mereka, berebut keluar melalui pintu masuk, dan berdesak desakan saling mendahului
satu dengan lainnya.
Mereka takut akan terseret dengan masalah, jadi ia lebih memilih untuk keluar, walau pesta belum juga di mulai. Sementara itu, nenek Robin begitu melihat para tamu undangan beranjak meninggalkan ruangan pesta, menjadi marah dan mengamuk. Sambil berkata:
"Siapa yang mengizinkan kalian masuk kesini, dan mengacaukan pesta pernikahan cucuku." Teriaknya jumawa, tidak tahu situasi saat itu.
"Plaakkk...!"
"Arrrrkkhh...!"
Entah kapan datangnya seseorang yang berpakaian seperti pendekar perang, yang tiba tiba saja muncul, dan menampar wajah nenek Robin. Hingga membuat nya terbalik ke belakang, kalau di lihat dari posturnya,
pendekar tersebut seperti seorang wanita.
"Kenapa kau memukul nenek ku!? Dasar wanita murahan...!" Ujar Tiara emosi.
"Plaakkk.. buk.. buk..!"
Tubuh Tiara terdorong sangat jauh,sejauh 5 meter, Akibat mendapat pukulan dari wanita pendekar itu. Mulutnya mengeluarkan banyak darah. Kedua orang yang baru saja di tampar, tidak berani lagi bersuara.
Gawat menurut mereka.
"Nona Novita, kalau saya boleh tau, kenapa kalian datang kesini?" Apakah kalian datang untuk menghadiri pesta pernikahan ku?" Atau ada masalah lain?" Ucap Brayen penuh tanda tanya, kemudian melanjutkan berkata:
"Manusia brengsek itu yang telah merusak hari kebahagiaan ku, dia adalah mantan suami dari istri ku Anggeline, dan orang yang sedang berlutut itu, mereka adalah para ketua Genk naga api, yang sangat di takuti di kota A."
__ADS_1
"Aku takut, kalau kalian akan mendapatkan masalah karena telah memprovokasi nya anak buahnya tentu tidak akan tinggal diam, melihat bos nya di lukai seperti itu."
Plak... plak... plak...!
Tanpa ba bi bu, mulut Brayen di tampar oleh seseorang yang tiba tiba muncul di depan nya.
Sama seperti kedatangan perempuan sebelumnya, kali ini orang itu juga datang secara misterius, dan langsung menampar mulut Brayen yang kotor tersebut hingga berdarah.
"Ada apa ini?, kenapa kau menamparku?.. Bukankah yang ku dapat kan saat ini semuanya adalah fakta. Laki laki brengsek itu telah datang ke acara pesta pernikahan ku yang tanpa di undang. Dia telah membuat pesta ku menjadi kacau."
"Manusia anjing itu, adalah mantan suami yang telah di buang dari keluarga besar Pak Robin, juga orang orang Vian yang telah menyadari nya. Dia ingin melihat bagaimana orang orangnya menyelesaikan masalah kecil itu. Dan salah seorang bawahan Vino maju melangkah secara perlahan, dan sedikit menundukkan kepalanya ke arah Vino. Tapi tidak ada seorang pun dari keluarga pak Robin, juga orang orang Vian yang menyadari nya." Ujar Vian merendahkan Vino.
"Mulut kamu pedas juga. Apakah orang tua mu tidak mengajarkan mu bertutur yang sopan, dan beretika!?"
"Aku melihat mu memiliki kepribadian yang sombong, angkuh, dan tamak, pantas saja tak ada kesopanan di jiwa mu.!" Ujar Novita dingin.
"Siapa kau? kenapa kau ikut campur? kau sama rendah nya dengan bajingan itu. Kau tahu siapa aku?" Ucap Brayen sedikit kelewatan, dan sudah mulai berani memprovokasi lawannya.
"Mulut mu ternyata benar-benar busuk.! Aku ingin melihat apakah tubuhmu setangguh mulut mu itu."
Ujar bawahan Vino, Winds dan langsung cepat menampar wajah Brayen dengan kecepatan bagai sebuah sambaran kilat itu.
Plaakkk... bukk pamm...!
Sebuah tamparan dan pukulan keras yang di layangkan oleh Winds, membuat tubuh brayen terpental beberapa meter, dan menabrak sebuah meja makan yang penuh dengan makanan, hingga hidangan yang ada di atasnya itupun terlempar, berhamburan ke mana mana. Seketika ruangan tersebut hancur berantakan. Beberapa makanan tersebut mengenai Pakaian Brayen dan Gaun pengantin yang di kenakan oleh Anggeline. Sehingga gaun pengantin yang Anggeline pakai menjadi kotor dan menjijikkan.
Anggeline yang melihat suaminya di aniaya seperti itu, ia pun tidak terima. Dan berusaha memukul Winds dengan tangan kanannya, tapi bukan si tangan kilat nama nya, kalau tidak bisa mengantisipasi hal kecil seperti itu. Tamparan Anggeline lewat begitu saja, karena hanya sedikit menggeser tubuhnya ke belakang, tamparan itu tidak mengenainya.
__ADS_1
Winds tidak melawan atau membalas pukulan Anggeline, karena dia tidak ingin memukul seorang wanita. Tapi, tiba tiba wanita yang berpakaian pendekar itu muncul di hadapan Anggeline, dan serta merta melayangkan tinjunya ke arah wajah Anggeline, hingga membuat nya terbalik ke belakang.