Pewaris Tahta Yang Di Anggap Hina

Pewaris Tahta Yang Di Anggap Hina
Pemakaman. Episode - 36


__ADS_3

Pada malam hari itu, mereka semua sudah putus asa, dengan kelima nya terus saja bergerak menyusuri jalanan yang sangat senyap dan sepi itu. Dan selang beberapa saat kemudian, mereka pun tiba di sebuah taman kota yang pemandangan nya cukup asrih, dan nyaman.


Tubuh nenek Robin sudah sangat lemah, karena dari pagi dia tidak mau makan, atau tidak ada makanan yang bisa di makan sama sekali. Akhirnya mereka memutuskan untuk duduk di kaki lima, yang di tepinya ada tembok tinggi, tidak jauh dari taman kota yang ada di situ. Kondisi mereka mirip dengan pengemis, yang sedang meminta minta di jalanan.


Orang orang yang berlalu lalang, sedikit tersentuh melihat tubuh tua yang sudah renta nenek Robin, yang sedang bersandar di pagar itu. Mereka dengan sukarela mengulurkan tangannya dan memberikan makanan dan sedikit uang kepada mereka.


Satu, dua, tiga, dan seterusnya, berbondong bondong orang memberikan uang recehan kepada nenek tersebut, dan ini terlihat sedikit aneh. Karena banyak orang yang datang, dan memberikan makanan, serta uang, tangan nenek Robin, mau tidak mau, tangannya terulur juga untuk menerima pemberian mereka.


Hal tersebut juga berlaku pada Kevin, Brayen, Arini, dan Tiara. Tangan mereka juga secara terpaksa terulur, untuk menerima pemberian dari orang orang yang lalu lalang di dekat mereka, walaupun dengan rasa malu yang tak terukir lagi.


Sekarang, lengkaplah sudah, nenek Robin juga beserta keluarga nya, sudah benar benar menjadi seorang pengemis di jalanan. Suatu hal yang sangat tabu baginya.


•••••


Tapi sekarang, dalam kondisi yang memaksa, mau tidak mau, mereka harus menerima status baru itu. Status berupa gelar pengemis di jalanan.


Seperti yang tuan Vino inginkan, sekarang mereka telah benar benar menjadi seorang pengemis baru di kota ini.


"Tidak ada yang berani dan mau menolong mereka, kecuali perintah tuan sendiri."


"Bagus, biarkan mereka sendiri yang merasakan, bagaimana rasanya menjadi gembel, dan pengemis. Seperti apa yang selalu cetuskan kepadaku sewaktu dulu!" Ujar Vino merasa senang.


"Apakah kalian sudah menemukan keberadaan Anggeline?"


"Sudah tuan, aku dan beserta orang-orang ku, telah berhasil melacak keberadaan nya. Dan saat ini dia juga telah berubah menjadi sosok gembel cantik, sama seperti nenek Robin dan Brayen dan juga seperti yang lainnya."

__ADS_1


"Terus atur keadaan mereka seperti itu. Jangan biarkan mereka mendapatkan sesuatu yang tanpa izin dari ku terlebih dahulu."


"Mengerti!?""


"Mengerti tuan." Jawab mereka serentak.


"Siapa yang memberikan instruksi seperti itu, kalau bukan Vino, yang sekarang, yang telah berubah 290 derajat menjadi orang paling terkaya di kota Y, dan di kota A. Dengan kekayaan dan kekuasaan nya ia begitu mengandalkan apa yang saat ini menjadi kepemilikan nya. Sehingga ia dapat memobilisasi secara menyeluruh dengan sumber daya yang ia punya, untuk melakukan segala apa yang ia inginkan. Tapi dia masih ingat akan batasan batasannya. Vino cuma ingin, orang yang selama ini menghina nya, juga merasakan kepahitan yang ia jalani seperti dulu mereka lakukan padanya. Dan hal itu, memang di sengaja oleh nya. Dia ingin memberikan pelajaran yang berharga pada nenek Robin, juga berserta para keluarga nya yang lain, agar kedepannya, mereka tidak lagi seenaknya menghina dan merendahkan orang miskin.


••••••••


Pada malam hari itu, jarum jam sudah menunjukkan Pukul 21:00 Malam. Mereka yang berada di pinggir tembok dekat jalan tadi, sudah mulai merasakan ngantuk yang menghantam mereka.


"Arini sudah mengantuk, tapi di mana kita akan tidur?" Tanya Arini memecahkan suasana sunyi di sekitar mereka.


Brayen yang mendengar perkataan dari mulut Arini itu, seketika ia bangun dan berkata:


"Tapi, apakah tempatnya dekat dari sini?" Tanya Arini penasaran.


"Kalau kita berjalan dengan langkah kaki yang sedikit lebih cepat, maka dalam waktu tidak sampai dalam 20 menit, kita sudah tiba di sana. Tapi kalau menggunakan kendaraan, hanya membutuhkan waktu kurang lebih 10 menit." Jawabnya asal asalan.


"Tempat apa itu?" Tanya nenek Robin juga penasaran.


"Kita ke tempat duduk itu dulu nek." Setelah tiba di sana, baru akan aku kasih tau, tempat apa itu." Jawab Brayen sudah mulai malas menjawab.


Singkat cerita, mereka pun sekarang sudah berada di lokasi yang Brayen maksut, tapi seluruh kening mereka tiba tiba berkerut. Kecuali Brayen tanda takut.

__ADS_1


Nenek Robin yang mulai menyadari, bahwa saat ini mereka sedang berada di mana. Kemudian dengan marah, dia bertanya kepada Brayen:


"Bukankah ini pemakaman? Kenapa kau bawa kami kesini Brayen?" Kata nenek Robin marah, walau sedikit gubub, tapi Brayen yang di tanya hanya tenang tenang saja, baru kemudian dia menjawab.


"Inilah tempat yang aman untuk kita tidur malam ini nek. Aku yakin, kita tidak akan di usir lagi oleh siapa pun."


Nenek Robin dan yang lain tidak merespon perkataan Brayen, mereka malah termenung, dan berdiri serta melangkah dengan rasa penuh keraguan, sampai terdengar sebuah suara yang lumayan cukup keras, terdengar di telinga mereka.


"Kenapa bengong saja. Ayo masuk kebangunan itu, di dalamnya pun ada listrik, Ayo.." Ucap Brayen kuat, hingga membuat mereka terbangun dari lamunannya.


Dengan ragu ragu, mereka terpaksa masuk ke dalam bangunan yang di maksud oleh Brayen.


Setelah pintu di buka, alangkah terkejutnya mereka, ketika melihat di dalam bangunan tersebut, terdapat banyak sekali peti mati yang berbaris di sana dengan rapih.


Arini dan Tiara, yang pada dasarnya adalah manusia penakut, seketika itu juga tubuh mereka berdua menggigil sebab ketakutan, dan berusaha merapat ke Kevin dan Brayen.


Ternyata bukan hanya mereka berdua yang takut, tapi Kevin dan Brayen pun juga merasa takut, ketika memandang dan memperhatikan pemandangan yang ada di hadapan mereka saat itu, Pemandangan yang begitu sangat menyeramkan sekali.


"Kenapa kau bawa kami kesini kak Brayen?" Apa kakak tidak tahu, ini tempat apa?" Apa kakak sengaja ingin mencelakai kami semua? Iya?" Ucap Arini emosi.


Melihat sikap Arini yang emosi, Brayen hanya bersikap santai saja dan mencoba bersikap acuh pada Arini dan sambil berkata:


"Kalian tenanglah, tempat ini jauh lebih baik, dan jauh lebih aman. Peti mati yang tersusun rapih itu, itu semua nya kosong. Dan tidak ada isinya sama sekali."


Prily, yang mendengar penjelasan dari Brayen seketika protes, dan mengeluarkan pendapat nya. Tapi, walau bagaimanapun, ini bukan tempat yang aman bagi kita.

__ADS_1


Apa lagi untuk tidur, Kakak juga tahu, situasi saat ini bagaimana?, situasi yang sangat menyeramkan bukan?, lebih baik kita keluar saja dari sini." Kita cari tempat lain, asal jangan tidur di sini.!" Ujar Prily dengan rasa takut bercampur emosi.


"Brayen sedikit geram, ketika Prily membantah atas usulan dari mertua Prily, namun saat itu juga Brayen berusaha untuk tidak meladeni nya, dan berusaha tetap dalam sikap tenang.


__ADS_2