
Jadi ketika gerombolan utusan Vino datang, dia mengambil sikap hati-hati, walau sudah di beri tahu oleh nona Novita. Hal itu di lakukan semata-mata, hanya untuk melindungi warganya dari intimidasi pihak luar.
"Jadi apakah kami bisa menemui tuan Govin sekarang?" Tanya Deon, membuyarkan lamunan kepala desa tentang banyak hal di desanya
Dengan gelagapan dia menjawab, "T.. te, tentu saja tuan!, kebetulan rumah nya berada di ujung tanah lapang ini. Jawab kepala desa gugup dan takut-takut, sambil menunjukkan jalan bagi rombongan tersebut. 10 menit kemudian, rombongan itu, sudah berada di depan pintu rumah Govin yang pintunya masih tertutup rapat. Rombongan itu, di dampingi oleh kepala desa dan perangkat nya yaitu kepala distrik serta seluruh orang-orang yang datang bersama nya tadi. Tak lupa pula sebagian besar warga desa, yang penasaran ingin mengetahui tujuan mereka datang ke desanya.
Begitu rombongan itu sampai, Kepala desa mengetuk pintu depan rumah Govin perlahan, takut mengejutkan penghuninya. Sebenarnya Govin sudah mengetahui kedatangan para utusan Vino itu, karena dia juga sempat melihat ada empat Helikopter yang mendarat di tanah lapang yang tak jauh dari rumah nya itu.
Tapi dia tidak mengetahui dengan pasti, siapa orang yang datang ke desanya tersebut. Dia hanya menduga-duga nya saja, bahwa orang yang baru datang itu adalah orang suruhan Vian, yang selalu mencari gara-gara dengan nya
Untuk berjaga-jaga dalam melindungi anaknya dari gangguan orang-orang suruhan Vian tersebut, Govin bergegas pulang kembali ke rumah dari sawah miliknya, dan langsung menutup pintunya rapat-rapat.
Akan tetapi, begitu melihat orang-orang desa, berikut kepala desa, juga kepala distrik dan rombongan nya datang ke rumah nya, mengiringi utusan Vino itu, keningnya berkerut, dan sempat tidak percaya.
Dari balik jendela, dia dan anak gadisnya sangat mengamati rombongan itu, yang terus berjalan mendekati rumahnya, sampai tangan kepala desa, mengetuk pintu depan rumah nya perlahan, baru lah mereka berdua tersadar.
Govin buru-buru membukakan pintu, dan keluar dari rumah nya, di iringi oleh anak gadisnya yang cantik nan rupawan. Kedatangan mereka berdua, sempat membuat suasana yang awalnya heboh menjadi sepi senyap.
Mereka semuanya terpana, begitu melihat ke arah anak gadis Govin, yang memiliki wajah sangat cantik, dengan postur tubuh yang sangat profesional.
Kulit putih, rambut sebahu, hidung mancung, leher panjang, bibir tipis, mata bulat indah, di hiasi pula dengan betis yang cantik, dan pinggul yang menawan, menambah kecantikan nya, bak seperti Dewi yang turun dari kayangan.
__ADS_1
Tak terkecuali Deon, Farhan, Roni, Guntur, serta seluruh pengawalnya, juga turut terpana, dengan mulut menganga lebar, ketika memandang keindahan yang terpampang di depan matanya.
Hampir 2 menit itu berlangsung, sehingga membuat Govin, dan juga anak gadisnya menjadi tidak enak hati. Untuk memecahkan keheningan itu, Govin membuka suara dan bertanya.
"Ada gerangan apakah tuan-tuan datang berkunjung ke rumah ku?. Apakah ada hal yang begitu penting yang ingin tuan-tuan bicarakan?" Ucapnya sopan dan terkesan penasaran.
Deon yang pertama kali menyadari kebodohannya, buru-buru ia mengalihkan pandangannya ke arah Govin, kemudian menjawab pertanyaan nya.
"Selamat pagi tadi Govin!. Perkenalkan nama saya Deon, ini Roni, ini Farhan, ini Guntur, ini Novita, dan itu Winds. Dan ke 25 orang pengawal ini adalah pengawal keluarga besar tuan Birakazawa dari kota Y." Kata Deon memperkenalkan diri dan orang-orangnya kepada Govin, sambil sedikit membungkuk ke arahnya.
Tapi apa yang terjadi?. Govin menjadi sangat terkejut, ketika mendengar, bahwa mereka adalah utusan dari orang yang selama ini sangat di kagumi dan di hormatinya.
Mereka semua, yang ikut bersama rombongan itu, tentu saja terkejut melongo, ia tidak percaya. Bagaimana seorang Govin yang di kenal oleh warga desa sebagai orang yang kuat dan tegas, juga merupakan bekas seorang taipan pada masanya dulu, membungkuk hormat ke arah utusan Vino tersebut, walau salah sasaran.
Deon, Roni, Farhan, yang menyaksikan kejadian itu, juga terkejut dan merasa tidak enak hati, buru-buru Deon datang menghampiri Govin dan berkata
"Sungguh kami tidak pantas menerima penghormatan mu itu tuan Govin, karena yang pantas menerima penghormatan seperti itu adalah tuan muda kami, dan tuan besar Birakazawa." Ucapkan Deon terus terang.
"Tuan muda!. Siapakah dia?" Tanya Govin penasaran
"Anda akan tahu siapa tuan muda yang di maksud. Kedatangan kami kesini adalah untuk menjemput tuan, agar bisa di pertemukan pada tuan muda kami, karena ada suatu urusan yang ingin dia bicarakan dengan anda." Jawab Deon panjang lebar.
__ADS_1
"Ada urusan penting apakah sehingga tuan muda kalian ingin menemuiku. Apakah ada hubungannya dengan bidang pekerjaan yang sekarang kau geluti ini?" Tanya Govin semakin penasaran.
"Kami tidak bisa menjawabnya di sini. Nanti setelah tuan di pertemukan dengan nya, maka anda akan tahu, urusan penting apakah itu. Tapi yang jelas, tidak akan merugikan anda dan juga keturunan anda" Jawab Deon sedikit tegas.
"Jadi apa yang harus saya lakukan?" Tanya Govin hati-hati.
"Tuan hanya perlu ikut kami, naik helikopter itu. 20 menit kemudian, anda akan di pertemukan dengan tuan muda Vino, yang saat ini sedang menunggu anda dengan tidak sabar." Jawab Deon sekali lagi dengan tenang.
Baiklah kalau begitu. Aku akan bersiap-siap , dan kalau di izinkan, aku akan membawa anak gadisku, serta satu anak ku, yang sekarang masih ada di dalam rumah ini." Kata Govin tidak enak hati.
"Terserah tuan saja." Jawab Deon tenang.
Govin dan anak gadisnya, kemudian memasuki rumah, dan tidak lama kemudian, keluar sambil menuntun seorang pemuda, yang berjalan dengan tongkatnya.
Tak lama kemudian, mereka di arahkan, untuk menaiki salah satu helikopter yang di bawa oleh para rombongan itu. Setelah berpamitan, dan bersalam-salaman dengan kepala desa, kepala distrik, dan para petugas yang berwenang, serta yang lain, rombongan utusan Vino itu, lalu mereka menyusul masuk ke dalam helikopter, dan segera terbang meninggalkan desa tersebut diiringi lambaian tangan dari warganya.
Mereka sangat berharap kepada tuan Govin, agar sekembalinya dia dari kota Y, dan bertemu dengan tuan muda dari rombongan itu, bisa membawa angin segar bagi desanya nanti.
****
Sementara itu, Vino yang pergi melihat lihat areal bekas pabrik sepatu tersebut merasa cukup puas. Dan kini tekad nya semakin yakin, untuk memiliki areal tersebut, untuk di bangun sebuah pabrik modern yang bergerak di bidang IPTEK dan lain sebagainya.
__ADS_1