
Untuk sejenak mereka melupakan pembicaraan tentang Vino. Saat ini, yang ada dalam pikiran mereka adalah, bagaimana cara mendapatkan makanan dalam situasi seperti itu?".
Untuk keluar tentu saja takut, apa lagi Brayen status nya saat ini adalah buronan yang sedang di cari cari oleh pihak kepolisian.
Lagi pula kondisi di tempat itu gelap, dan jauh dari keramaian, di tambah lagi dengan di tangan mereka saat ini, hanya ada beberapa lembar uang, yang mungkin tidak cukup kalau ingin membeli makanan.
"Kevin!, kau pergilah cari makanan, gunakan lah uang yang tidak seberapa ini, beli makanan yang benar benar mengenyangkan, jangan lupa membeli air minum juga." Ucap nenek Robin sudah mulai mereda akan kemarahan nya.
•••••••••
Hotel tempat Vino menginap.
Setelah kejadian itu, di mana sosok tuan Brayen yang sombong dan Anggeline yang matre tersebut tertangkap, Dan mereka di nyatakan takluk juga tunduk pada Vino, kekacauan yang terjadi di ruang pesta pernikahan, telah usai dengan suasana memilukan.
Di tempat lain, Novita dan bersama yang lain sedang mengadakan rapat dadakan untuk mengumumkan bahwa adanya pergantian pimpinan dan Manejer hotel dan pemilik perusahaan Prataxsa Group.
Setelah semuanya selesai, mereka bertujuh di panggil untuk datang ke kamar Vino. Setelah semuanya berkumpul, Vino di situ memberikan sebuah instruksi kepada mereka dan berkata:
"Hubungi petugas yang telah menangkap Brayen dan Anggeline, katakan kepada mereka untuk segera melepaskan Brayen dan Anggeline dengan cara licik.
"Buat seolah olah terjadi kecelakaan di jalan ray, yang membuat penjagaan mereka menjadi kendor, hingga pada saat itu adalah kesempatan bagi salah satu di antara mereka dapat melepaskan diri."
"Karena aku, masih ingin bermain main dengan salah satu di antara mereka, tapi tetap lakukan pengawasan yang ketat pada Brayen, dan jangan sampai lepas."
"Kata kan juga dengan petugas kota itu, untuk melepaskan Anggeline setelah 3 hari di kurung di sana." Mereka tentu tahu, bagaimana caranya untuk melaksanakan instruksi ini." Ucap Vino mantap.
Segera Novita melaksanakan perintah tuannya Vino, dan dia segera menghubungi petugas kepolisian yang saat ini sedang membawa Brayen dan Anggeline untuk di antar ke kantor polisi.
Seperti yang sudah di instruksikan oleh Vino, petugas yang di hubungi oleh Novita mengatur siasat seolah olah kendaraan yang sedang membawa mereka mengalami kecelakaan di jalan raya.
Dan benar seperti yang di katakan oleh Vino, Brayen, berhasil meloloskan diri dari mereka, saat ini sedang bersembunyi di bangunan rumah kosong, yang keberadaan nya sudah di ketahui oleh pihak kepolisian dan juga orang orang nya Vino.
****
Apa yang sedang perbuat oleh mereka.
__ADS_1
"Ini makanan dan minuman yang bisa di beli dari uang yang ibu berikan tadi." Ucap Kevin lemah.
"Makanan apa yang kau beli?" Dulunya makanan ini tidak pernah kita sentuh, dan selalu kita berikan kepada anjing, tapi sekarang kau berikan ini kepada ibu!?" Bentak nenek Robin penuh emosi.
"Jadi, mau bagaimana Bu?, cuma ini yang mampu aku bisa beli, dari uang yang ibu berikan pada ku." Kata Vino membela diri.
"Yasudah!" Cuma itu kata yang keluar dari mulut nenek Robin, sedikitpun dia tidak menghargai usaha Kevin, untuk mendapatkan makan itu.
Padahal perjuangan nya penuh dengan usaha yang keras dan mendapat tatapan sinis serta penghinaan yang begitu sadis, dari orang orang yang bertemu dengan nya, di tempat dia membeli makanan tersebut.
Tapi, dia tidak mau menceritakan kepada ibunya, dia hanya memendam sakit hati yang di alami, ketika sedang membeli makanan tersebut.
Singkat cerita, mereka dengan terpaksa untuk memakan makanan yang tidak seberapa banyak itu. Makanan yang telah di beli oleh Kevin, berupa gorengan yang bisa di beli di pinggir jalan.
Satu hal yang belum pernah di lakukan oleh mereka sebelum nya. Karena kehidupan mereka selama ini, sangat bergelimang harta, tahta, kekuasaan, dan kekayaan. Jadi, untuk masalah makanan itu, sudah tidak mengherankan lagi baginya.
Setiap hari, makanan yang di sajikan di atas meja adalah berupa makanan makanan mahal, yang tidak pernah seharipun mereka makan, makanan yang berbau harga murah, apa lagi gorengan seperti itu.
Tapi, di hari ini, mereka mau tidak mau harus memakan makanan yang selama ini sangat di hinanya.
Setelah beberapa saat mereka sudah menyantap makanan tersebut, tidak terasa sudah jam dinding pun menunjukkan Pukul 11 malam. Nenek Robin, juga berserta lainnya yang sudah terbawa akan ngantuk nya itu, mereka pun memutuskan untuk tidur di ruangan yang amat sangat kotor itu.
••••
Pagi pun menjelang, Sinar matahari yang bersinar di pagi hari itu, telah menembus ruangan tempat mereka tertidur. Sinar matahari pagi hari itu masuk melalui ventilasi dan lubang lubang yang menganga di bangunan tersebut. Tidak seperti biasanya, di pagi hari itu, mereka sedang tidak melakukan aktivitas sama sekali, terkecuali mereka hanya duduk termenung, dengan fikiran masing masing.
Dan tiba tiba, terdengar suara perut yang berasal dari perut nya Arini. Arini pun berkata kepada nenek:
"Nek, Arini laper nek. Apa tidak ada makanan lainnya.?" Rengek Arini sambil mencengkram perut nya yang telah melilit kesakitan.
"Tidak ada makanan apapun di sini?. Kalau kau mau makan, maka keluar kau dari sini. Dan berusaha mencari kerja di luaran sana. Jangan taunya hanya merengek saja!" Bentak nenek nya kasar.
"Arini tidak tau, kerja apa yang ada di luaran sana. Kan selama ini, Arini tidak di perbolehkan untuk mencari pekerjaan oleh nenek." Ucapnya membela diri. Sehingga membuat nenek nya semakin emosi, dengan mengeluarkan ucapan yang seperti nya tidak pantas, di keluarkan oleh kepala keluarga seperti dirinya.
"Kau boleh menjajakan dirimu di luaran sana, karena kau selama ini selalu mengutamakan kecantikan mu, tanpa berusaha untuk membujuk nenek, agar mengizinkan mu berkerja." Sahut nenek semakin geram. Tapi, dasarnya Arini yang IQ nya di bawah rata rata, dia masih saja tetap bersikukuh dalam beragumen untuk membantah perkataan nenek.
__ADS_1
"Di sini kan ada kak Brayen, ada ayah juga. Mereka berdua kan laki laki, dan bisa berkerja dengan cepat." Ucapnya masih tetap nyolot.
"Dasar bodoh!, mereka memang benar laki laki. Tapi, apa kah kau tidak berfikir, bahwa Brayen saat ini sedang di kejar kejar oleh pihak kepolisian.?" Kata nenek nya semakin emosi. Ingin rasanya nenek menempeleng mulut cucunya tersebut.
"Kalau begitu, biar ayah saja yang mencari perkerjaan di luar, ya, itung-itung untuk sekedar mencukupi kebutuhan kita sehari hari." Ucap Arini merasa tidak bersalah.
"Diam kau Arini!, berani berkata lagi, akan nenek tampar mulut mu!" Ancam nenek Robin marah, marah sejadi jadinya pada Arini.
"Arini yang di bentak, dan di ancam oleh neneknya, seketika saat itu tercekat menjadi diam membisu. Dan membungkuk di sudut ruangan. Dengan rasa ketakutan.
Prily yang melihat kejadian itu, mendekati anaknya dan mengusap pucuk kepala Arini, dan ia berusaha merayunya untuk diam.
****
"Laporkan pengembangan kehidupan keluarga Robin itu, segera!" Ucap Vino dingin memerintahkan kepada Winds dan juga orang orang yang ada di kamar nya tersebut.
Kemudian si mata dewa, mencoba memberanikan diri untuk memberikan penjelasan kepada tuannya, dengan berkata:
"Sampai detik ini, di hari ini, orang orang kita yang di tempat kan di sana, masih belum melihat aktivitas dari ke lima nya".
"Semalam hanya terlihat satu orang yang keluar dari bangunan itu, untuk mencari makanan, tak lama sesudah nya, dia kembali lagi kesana." Ucapnya hormat, sambil menundukkan kepalanya ke arah Vino.
"Beri enaknya saja dulu. Setelah 3, 4, hari, atau lusa mereka berada di sana, bawa alat alat berat dan gusur bangunan itu."
Berlagak lah, seperti kalian tidak mengenal mereka. Jika mereka mencoba memberontak, gertak dengan ancaman untuk melaporkan kalian ke polisi."
"Brayen yang tahu akan posisinya, tentu tidak mau hal itu terjadi. Aku yakin, dia dan beserta keluarga barunya itu, akan segera hengkang dari tempat tersebut."
"Intinya, aku akan tetap berkeinginan untuk mereka terus dalam keadaaan seperti itu, terlunta lunta di jalanan, dan benar benar menjadi pengemis, demi untuk mencari sesuap nasi, guna mengganjal perut mereka dari kelaparan yang akan terus menerjang mereka."
"Terus awasi, dan ikuti mereka. Pastikan mereka terus berada di jalanan. Dan katakan pada semua pemilik toko si seluruh kota Y ini, untuk mengusir mereka, ketika mereka berusaha untuk berteduh di emperan toko nya."
"Jika sang pemilik toko enggan atau menolak, akuisisi perusahaan mereka, dan usir mereka dari kota Y ini. Aku tidak mau tau, apa pun yang akan terjadi kedepannya."
"Jangan berikan kekendoran sedikit pun, untuk membuat mereka benar benar sengsara, sampai mereka memutuskan untuk berlutut di bawah kaki ku ini." Ucap Vino berapi api, yang menyiratkan dendam yang begitu dalam.
__ADS_1