
Letak tanah milik Govin tadi, kalau di perhitungkan dari keberuntungan usaha, memang sangat strategis. Letak seluruh nya menghadap langsung ke timur, menyongsong terbitnya matahari.
Pantas saja si Vian manusia brengsek itu, sangat ngebet sekali ingin memiliki lahan tersebut, bagaimanapun caranya.
Sampai-sampai ia mengerahkan sejumlah tukang pukul, untuk memaksa Govin agar melepaskan tanah itu kepadanya.
Tapi apapun usaha yang telah di lakukan oleh Vian dan para anak buahnya, Govin tidak bergeming. Dia tetap beristeguh dengan prinsipnya, bahwa dirinya tidak akan pernah memberikan tanah itu kepada Vian, orang yang dulu pernah menghiyanatinya.
Govin lebih senang, apa bila melepaskan tanah itu, kepada orang yang tepat. Govin menyadari, bahwa tanahnya itu, letaknya sangat strategis. Kalau di ambil dari istilah luar Feng shui tanah tersebut, yang letaknya sangat strategis itu, akan banyak mendatangkan hoki atau keberuntungan besar.
Keberuntungan itulah yang selalu di cari oleh para pengusaha, ketika mau membuat sebuah perusahaan atau pabrik di dalamnya.
Vino yang sudah mengetahui keberuntungan baik itu, ia pun tidak mau membuang kesempurnaan yang sangat langkah tersebut.
Dengan luas tanah yang mencapai 77.000 meter persegi, sudah sangat mencukupi untuk membuat sebuah pabrik sebesar apapun. Kalau tadi di katakan, Vino telah mengelilingi seluruh areal tanah tersebut, itu hanya dilakukan nya di permukaannya saja, Vino dan orang-orangnya hanya mengelilingi areal yang sudah terbuka. Sedangkan areal sisanya, masih dalam bentuk hutan yang tidak begitu lebat pun, hanya terdiri dari deretan pohon-pohon kecil, yang sangat mudah di bersihkan dengan alat berat.
Setelah melakukan pembayaran, Vino terlihat senang, bibirnya menyungging senyum yang sangat manis, sehingga tanpa sadar anak gadis Govin yang bernama Laras Dewi Santi sekilas melihatnya.
Ada getaran halus yang timbul di hatinya, dengan malu-malu, dia juga tersenyum ke pada Vino tanpa di sadari nya. Sedari tadi dia dan kakaknya hanya diam saja, mendengarkan perbincangan antara ayah, dan tuan muda Vino, karena bagaimanapun, mereka tahu diri dan tempat.
Tapi, setelah semua transaksi selesai, Laras melihat Vino si tuan muda, tersenyum manis ke arahnya, dan itu di sangka tertuju hanya padanya. Tetapi sebenarnya Vino bukan kepada Laras, tapi dia tersenyum karena dia senang, karena apa yang dia inginkannya sekarang telah tercapai.
__ADS_1
Walaupun tanpa di sadari nya, di tersenyum ke arah Laras, maka Laras menjadi salah sangka padanya. Kasihan kau Laras!
Tapi nasi sudah menjadi bubur. Laras yang sudah kesemsem berat dengan senyuman Vino sekilas tadi, di hatinya mulai tumbuh bunga-bunga indah dan langsung bermekaran di sana.
Selama ini Laras terkenal dengan sebutan si gadis bisu dan tertutup, di desa tempat ia tinggal. Hal itu terjadi, karena dirinya sangat jarang sekali dan bahkan tidak pernah memperlihatkan dirinya di khalayak ramai. Dia hanya keluar kalau ada hal penting yang sangat mendesak, dan itupun wajahnya di tutupi oleh selendang.
Apa bila ada warga, terutama laki -laki yang menegurnya, dia hanya bisa menyahutnya dengan menganggukkan kepalanya, dan tidak bersuara sedikit pun.
Oleh sebab itulah dirinya di cap sebagai wanita si bisu berhati batu oleh warga desanya. Tapi saat dia tanpa sadar keluar bersama dengan ayahnya waktu di desa itu, tanpa penutup kepala dan wajahnya, semua orang terpana, mereka tidak percaya, kalau ada seorang gadis yang begitu cantik, melebihi kecantikan seorang Dewi dari kayangan di desanya.
Begitu juga yang terjadi, ketika dirinya baru keluar dari helikopter yang membawanya, semua orang yang belum pernah melihat nya juga sangat terpanah, tapi tidak termasuk Vino, walaupun dalam hatinya juga kagum dengan kecantikan gadis tersebut.
Di sebuah ruangan gedung tinggi di kota Y, terlihat seorang pria berumur sekitar 37 tahun, dengan angkuhnya duduk di kursi kebesaran belakang mejanya.
Tangan sebelah kirinya sedang memegang sebuah heanpone, seperti tengah menelfon seseorang, sedangkan tangan di sebelah kanannya, sedang memainkan sepucuk senjata laras pendek berbentuk revolver
Wajahnya menegang, matanya melotot, dan gigi-giginya saling bertaut, seperti sedang memakan sesuatu, pertanda geram dan marah.
Bagaimana tidak marah, lahan yang selama ini di incarnya, telah di beli dan di milik oleh orang lain. Dia menganggap bahwa orang yang telah membeli lahan tersebut, sengaja ingin membuat permusuhan dengan nya secara terang-terangan.
Dia mendapatkan berita itu, dari seorang mata-mata khusus yang selalu disebar olehnya. Mata-mata itu bukan dari anak buahnya Vian, tetapi pengawal khusus yang sengaja di sewa dari sebuah gangster lain di kota Y.
__ADS_1
Sedari awal kedatangan Vino, dia terus mengawasi keberadaan nya, tetapi saat itu, dia belum mau menunjukkan diri kepada Vino. Mata-mata itu lebih memilih untuk tetap bersembunyi dan memantau aktivitas apa yang akan di lakukan oleh Vino di lahan tersebut, melalui teropong jarak jauh nya.
Sebenarnya Deon sudah menyadari akan kehadiran para mata-mata tersebut, tetapi dia lebih memilih untuk mendiamkannya saja, dan tidak melaporkannya kepada tuan muda Vino.
Dia lebih memilih menunggu, apa reaksi dari para mata-mata tersebut , setelah mengetahui apa yang sedang terjadi di lahan bekas bangun pabrik milik Govin.
Lagi pula, saat itu dia di perintahkan oleh Vino untuk menjemput Govin di kota C, maka mau tidak mau, dia mengacuhkan para mata-mata tersebut.
Tapi, walaupun demikian, dia tetap menugaskan kepada para anak buahnya, untuk terus mengawasi tindak tanduk dari mata-mata itu, dan tidak boleh kendur sedikitpun.
Hal itu di lakukan agar mereka tidak kehilangan kesempatan untuk menjebak para mata-mata itu. Tapi satu hal yang mereka lupa adalah, pengintai itu terus menerus memperhatikan segala aktivitas yang terjadi di lokasi tersebut, melalui teropong jarak jauhnya, walaupun samar.
Puncaknya adalah, ketika Govin menerima penawaran dari Vino, untuk melepaskan tanahnya dengan harga setengah lebih tinggi dari harga pasaran.
Saat itulah mata-mata tersebut,melaporkan nya kepada Vian, tentang apa yang sudah terjadi. Tentu saja Vian sangat marah.
Dia segera memerintahkan kepada 350 anak buahnya, yang terdiri dari 170 anak buah Vian, dan sisanya adalah pembunuh bayaran dari group gangster Naga Api. Untuk pergi ke lahan yang selama ini di incarnya.
Begitu mendapat perintah dari Govin, mereka segera bergegas pergi ke lokasi yang di maksud. Dengan mengendarai puluhan mobil Van, motor crf, dan beberapa bus besar untuk membawa mereka kesana.
Mereka yang berangkat telah di persenjatai berbagai senjata tajam, seperti pedang panjang, katana, pisau, dan beberapa pucuk senjata api laras pendek berbentuk revolver. Tentu saja hal itu hanya di pegang oleh Govin dan 5 anak buahnya yang lain.
__ADS_1