Pewaris Tahta Yang Di Anggap Hina

Pewaris Tahta Yang Di Anggap Hina
Insiden Di Taman Kota Episode 38


__ADS_3

"Kalau kau bukan pengemis, lalu kau siapa? kenapa kau mengacak acak rambut mu sendiri seperti orang tidak waras?"


"Jangan sembarangan kalau bicara.! Aku benar benar bukan orang peminta minta, apa lagi pengemis. Aku hanya berniat duduk di sini, dan melepaskan kekesalan ku terhadap salah seorang yang sangat aku benci, tahu kau!"?


"Bagiku itu, sama saja. Pakaian kamu memang bagus, seperti nya kau habis dari pesta, apakah pasangan mu selingkuh, dan kau lari darinya, atau...?"


"Atau apa!?" Jangan asal bicara kamu!" Bentak Anggeline marah.


Orang yang di bentak seketika mundur berlalu kebelakang sebab ketakutan, dia tidak mengira, bahwa pertanyaan nya akan menyulut emosi dari lawan bicaranya. Sementara Anggeline, benar benar marah, ketika dirinya di cap sebagai pengemis. Padahal dia hanya berniat untuk duduk di dekat taman itu, untuk sekedar melepaskan lelah nya. Walaupun sejujurnya, perut nya sangat lapar. Tapi, dia tetap tidak mau minta minta, hanya sekedar untuk mendapatkan makanan.


Sedangkan anak tertua dari pasangan itu, memang benar benar kurang ajar. Dengan umur yang terpaut jauh, tapi sikapnya kepada orang yang lebih tua sangat tidak sopan.


Itu bukan salahnya juga, dia dan keluarganya, saat itu sedang menikmati indahnya taman pada malam hari, yang diterangi dengan lampu jalan yang berwarna warni.


Saat mereka sedang lewat di trotoar, jalan taman itu, tanpa sengaja, mereka melihat ada seorang wanita yang sedang mengacak acak rambut nya, sambil menggerutu tanda kesal. Atas kelakuannya itulah, maka salah seorang dari mereka mengira, bahwa wanita yang dilihatnya itu, adalah pengemis, atau orang gila yang tidak mendapat kan jatah makanan.


"Maafkan atas sikap anak gadis ku ini ya nona, memang kadang kadang, dia sembarangan bicara. Mohon jangan di ambil hati." Kata bapak nya terkesan bijaksana.


"Kami kebetulan lewat di tempat ini, dan tanpa sengaja kami menemukan nona yang seperti nya benar benar sedan marah."


"Lalu apa hubungannya dengan marah? sama niat kamu memberi makanan kepada ku, dan sedikit uang yang kau berikan padaku. Apa aku ini seorang pengemis!?" Tanya Anggeline marah.


"Bukan seperti itu maksutnya nona, kami hanya sekedar berbagi, kami lihat nona seperti nya kehausan, atau mungkin kelaparan, maka kami berinisiatif untuk memberikan makanan dan minuman, serta sedikit uang ini kepada nona, siapa tau nona membutuhkannya".

__ADS_1


Sungguh kata kata yang bijaksana dan menyejukkan. Emosi Anggeline seketika mereda, kemudian sekilas dia memperhatikan orang tua itu, dan sepertinya dia kenal, atau pernah bertemu pada di suatu tempat, yang entah di mana, dia sudah lupa.


"Terimakasih kalau begitu, dan maafkan atas sikap ku juga yang tidak sopan." Ujar Anggeline merendah, kemudian dia mengambil makanan, dan minuman, yang di berikan nya tadi. Peristiwa itu, tentu saja tidak lepas dari pantauan orang orang Vino, yang sengaja di sebarkan di setiap sudut kota, gunanya adalah untuk memantau pergerakan dari orang yang ingin dia berikan pelajaran.


"Kenapa jadi begini nasibku?, aku kira, setelah lepas dari Vino, hidup ku akan jauh lebih baik dan damai. Tapi, semua dugaan ku ternyata salah. Lihat sekarang, hidupku bukannya tambah makmur, justru tambah lebi hancur!, dan kini hidup ku bagaikan sampah yang tidak berguna!" Aku jadi merasa sangat menyesal telah menyakiti Vino selama ini."


"Bodoh.. bodoh.. bodoh...!" Ucap Anggeline yang sudah semakin emosi akan perbuatannya selama ini.


****


Setelah makanan yang telah di berikan oleh bapak tua itu habis, Anggeline belum memutuskan untuk beranjak pergi, dari tempat duduknya. Dia masih senang duduk di sana. Sehingga tiba tiba...:


30 buah mobil mewah berhenti, tepat di seberang taman kota itu, yang tidak begitu jauh dari tempat duduk Anggeline, cuma di pisahkan oleh jalan yang cukup lumayan lebar. Begitu pintunya terbuka, penumpang nya segera berhamburan keluar, membentuk sebuah barisan seperti pagar, baik di kiri, maupun di kanan mobil mewah nomor 3, yang bentuknya berbeda dari mobil yang lainnya.


Begitu pintu mobil ke 4 terbuka, terlihat kaki kanan yang keluar duluan. Dengan menggunakan sepatu yang terlihat mahal, kemudian menyusul kepalanya, dan akhirnya, seluruh tubuh penumpang mobil itu, terlihat dengan jelas.


Penampilan nya yang begitu tenang, dan maskulin tersebut, tentu membuat nya sangat berkharisma, kaca mata hitam yang bertengger di atas hidung dan menutupi matanya menambah kharisma orang tersebut menjadi jelas terlihat.


Sekilas dia mengedarkan pandangannya ke sekitar, kaca mata yang di pakai nya masih tetap melekat di wajah nya, setelah dia membalikkan badannya, kaca mata yang di pakai nya, baru di lepas. Kemudian di kawal oleh 25 pengawal, lalu dia memasuki gerbang sebuah tempat yang mungkin Restoran mahal.


Anggeline yang melihat orang yang baru keluar dari dalam mobil mewah tersebut, tercekat diam. Dalam hatinya berkata:


"Benarkah orang yang baru keluar dari dalam mobil mewah tersebut, itu adalah Vino, atau orang lain?"

__ADS_1


"Tapi, tidak mungkin, kalau itu memang benar benar Vino?" Sejak kapan, dia menjadi orang kaya seperti itu!" Kata batinnya lagi.


"Lalu kalau bukan dia, lantas siapa?... Aku mengenal betul postur tubuh Vino. Ya, aku yakin, itu pasti dia. Tapi bagaimana mungkin?"


"Aku harus menemuinya!, untuk membuktikan penglihatan ku." Kata hati nya mantap.


Bergegas dia berdiri, dan sedikit berlari menyebrang jalan, untuk menyusul orang yang di kiranya itu adalah Vino. Tapi belum juga ia masuk ke dalam pintu gerbang itu, Anggeline telah di hadang oleh beberapa orang pengawal yang tadi mengawal orang yang mirip dengan Vino tersebut.


"Aku Anggeline. Dan aku kenal dengan orang yang kalian kawal itu, izinkan aku untuk menemuinya." Ini sangat penting!" Ujarnya sedikit memaksa.


"Gembel seperti mu mengaku kenal dengan tua muda?, sebaiknya kau berkaca dulu nona, dan melihat bagaimana penampilan mu itu." Jawab salah seorang pengawal tersebut ketus. Bukan Anggeline namanya, kalau dia menyerah, hanya karena di bentak seperti itu.


Dia tetap memaksa untuk masuk, dan bertemu dengan orang yang di kiranya Vino itu.


Bagaimana pun caranya, dia harus bertemu dengan orang itu, untuk memastikan bahwa orang yang sedang di lihatnya tadi itu memang benar Vino. Tapi, sekuat apapun dia berusaha, dia tetap tidak di perbolehkan untuk masuk, dan pada akhirnya dia memutuskan untuk menunggu di depan pintu gerbang saja.


Keributan yang terjadi di depan pintu gerbang itu, tentu saja menuai perhatian beberapa orang yang ada di dalam bangunan besar tersebut, yang ternyata adalah sebuah restoran mewah.


"Cantik cantik tapi gembel, sayang sekali, mana bau lagi.!"


"Wajahnya boleh cantik, tapi kalau mental nya sakit, buat apa juga, dan buat malu saja."


"Bukankah ini Restoran kelas atas, hanya orang orang kaya yang mampu masuk ke sini, tapi kenapa gembel itu memaksa untuk masuk?"

__ADS_1


Bermacam komentar muncul dari pelanggan restoran tersebut, yang saat ini, sedang duduk di meja mereka masing masing sambil menikmati makanan pesanan mereka. Sementara Vino, saat ini sedang berada di ruangan VIP, dengan pengawal yang cukup super ketat. Dengan manejer restoran tersebut yang langsung melayaninya.


__ADS_2