Pewaris Tahta Yang Di Anggap Hina

Pewaris Tahta Yang Di Anggap Hina
PULUHAN PENGAWAL VIAN episode - 63


__ADS_3

Di rombongan itu, ada juga yang membawa sebuah besi panjang, yang ukurannya sepanjang 2 meter, yang tujuannya adalah sebagai alat pemukul, atau alat penangkis. Yang apa bila sang lawan menyerang. Tak lupa juga membawa sebuah kayu berupa pemukul bisbol.


10 menit setelah transaksi pembelian tanah selesai, tiba-tiba saja Vino baru mendapatkan sebuah informasi dari salah satu ana buahnya, bahwa ada puluhan mobil Van, belasan motor CRF, dan 10 buah bus, sedang menuju ke arah mereka dengan kecepatan tinggi.


Begitu mendapatkan informasi tersebut, Vino langsung saja memberikan instruksi kepada Roni dan orang-orangnya untuk mempersiapkan diri untuk menyambut para rombongan yang baru datang tersebut.


Berdasarkan informasi yang di berikan oleh para anak buahnya, orang yang sedang menuju ke arah mereka, adalah para gangster yang di komandoi oleh Vian


Jarak mereka tidak begitu jauh lagi, dan kemungkinan, dalam 3 menit akan sampai di lokasi tersebut.


Vino bukannya takut, tapi malah senang, terbukti dengan senyuman nya yang terukir di bibir, tak lama setelah itu dia berkata dengan antusias.


"Kebetulan mereka sendiri yang datang kesini, jadi kita tak perlu bersusah payah lagi untuk mendatangi mereka." Ujarnya tenang. Kemudian melanjutkan instruksi nya.


"Roni..! Persiapkan orang-orang mu, untuk menyambut mereka, tempatkan mereka di lokasi yang sangat strategis.


Ungsikan dulu parasit ini, aku ingin melihat, apa yang akan di lakukan oleh si kecoak itu, bersama dengan orang-orang yang ada di sini."


"Dan kamu Deon!, kamu lindungi tuan Govin dan juga kedua anaknya, dan untuk Farhan juga Show Young kalian perkuat pertahanan orang-orangnya Roni, dan jangan menampakkan diri dulu, karena aku ingin sedikit bermain main dengan psikopat itu." Ujar Vino memberi instruksi pertahanan untuk menjebak tikus itu."


"Dan untuk para lainnya, bergabung la dengan Deon untuk melindungi Vian di sana." Ucap Vino menambahkan pertahanan penting pada mereka.


"Roni..! Kamu tinggalkan 15 orang mu disini, dan para yang lain menyebar membentuk kurungan agar mereka terjebak di tengah-tengah areal ini nanti." Bunyi instruksi Vino penuh perhitungan.


Setelah masing-masing mendapatkan instruksi dari tuan mudanya, mereka segera menyebar dan membentuk formasi seperti apa yang telah di perintahkan oleh Vino.


Kini tinggallah Vino dengan beberapa orang pengawalnya. Govin dan kedua anaknya, berikut Novita, Bunga, dan lainnya yang mereka masih berada di areal terbuka itu.

__ADS_1


Tak lama kemudian, puluhan mobil van, dan bus, serta belasan motor CRF, memasuki areal bekas pabrik tersebut, dengan suara mesin yang meraung-raung memekakkan telinga.


Beberapa saat kemudian, ratusan orang keluar dari dalam mobil van, dan bus, dengan membawa persenjataan mereka, dan langsung mengambil posisi mengepung


Sementara yang mengendarai motor CRF, masih tetap berada di atas motornya, di punggung mereka, tergantung sebuah senjata berbentuk katana, yang masih berada di sarungnya masing-masing.


Dengan pongahnya mereka menggeber motor CRF nya, tanpa memperdulikan suara bising yang memekakkan telinga semua orang di situ.


Vian dan orang-orangnya, perlahan mendatangi Vino, yang sedang berdiri diam, di depan bawahannya yang lain


Tapi, ketika jaraknya sudah tinggal 7 meter lagi dari Vino, Vian berhenti, dan mengalihkan pandangannya dari Vino. Matanya mencari cari keberadaan orang yang ingin sekali di temuinya, yaitu Govin. Setelah ketemu, Vian tersenyum kemudian berjalan menuju ke arahnya.


Langkahnya yang tenang, dengan tubuh tegap, menggambarkan bahwa, Govin mempunyai rasa percaya diri yang sangat besar saat itu. Senyumnya mengembang, begitu dia melihat ke arah Govin. Tetapi saat kemudian, keningnya seketika berkerut, matanya melotot, mulutnya menganga. Ketika bersitatap dengan seorang gadis cantik yang ada di belakang Govin.


Seakan tidak percaya dengan penglihatannya, Vian berusaha mengucek kedua bola matanya sendiri, untuk membuktikan bahwa apa yang telah dilihatnya itu memang benar-benar nyata.


Tapi di dalam hatinya membatin, setelah membereskan Govin dan beserta para orang-orangnya, yang di kira adalah pengawalnya, maka dia akan membawa si wanita tersebut untuk dijadikan simpanannya.


Govin sangat yakin dengan kekuatan para pasukannya karena mereka telah dipersenjatai dengan senjata tajam, di tambah dengan hadirnya puluhan assassin, yang sudah terkenal cukup kuat dan lincah tersebut.


Kemudian dengan pongah, angkuh, dan sombongnya, dia semakin mendekati Govin, ketika jaraknya hanya tinggal 2 meter, dia berhenti lalu berkata. "Beraninya kau melangkahi ku, dan menganggap ku tidak ada Govin.!! Bukankah kau sudah tahu, bahwa selama ini, aku sangat menginginkan tanah mu ini?, tapi kenapa kau justru lebih memilih melepaskannya kepada orang lain?" Ujarnya sambil berkacak pinggang.


"Sudah aku katakan, bahwa aku tidak akan pernah melepaskan tanah ini kepada orang bajingan seperti mu..!" Jawab Govin tanpa kenal takut, lalu ia berkata lagi


"Lebih baik aku mati, dari pada harus patuh pada perintah dan sifat serakah mu itu!" Sambung Govin geram, dengan gigi saling bertaut, hingga samar-samar terdengar suaranya


"Oh,! Jadi kau lebih memilih mati!, dari pada harus patuh dengan kemauan ku..!" Tanya Vian sambil menyeringai.

__ADS_1


Govin tidak pernah menanggapi pertanyaan itu, justru ia malah tersenyum sinis ke arah Vian, menyayangkan bahwa sebentar lagi dirinya dan berserta para cecunguk nya akan binasa.


Govin berani bersikap seperti itu, karena adanya Vino dan orang-orangnya. Dia sangat yakin, tuan muda Vino akan mampu melindunginya dan juga kedua putrinya yang masih gadis.


Walaupun jumlah pengawal Vian sedikit lebih banyak dari pada pengawal Vino, tapi Govin yakin, bahwa kekuatan orang-orangnya Vino, jauh lebih unggul di bandingkan dengan lawannya.


Sebaliknya, Vian yang tidak mendapatkan jawaban memuaskan dari Govin menjadi kesal, dengan emosi yang memuncak, serta merta dia mengeluarkan sepucuk senjata dari balik bajunya, dan mengarahkan nya pada Govin.


Mengetahui akan hal itu, si tangan kilat yang berada di sebelah Govin tidak merespon acungan senjata tersebut, dia malah tersenyum sinis ke arah Vian dan berkata.


"Dasar tikus, belum menyerah juga kau ternya!."


"Apakah senjata mu itu, lebih cepat dari pisau ku ini.?" Tanya si tangan kilat dengan mimik wajah berkesan meremehkan.


Govin yang mendengar ucapan si pengawal tersebut, ia menggelengkan kepala, kemudian dia berkata, "Sebelum terlambat, sebaiknya kau pergi dari sini Vian, dan bawa para cecunguk mu itu dari sini.!" "Selamat kan nyawa kalian masing-masing." Jawab Govin justru memberi peringatan kepada Vian, dan tidak menjawab pertanyaan si pengawal Vino tersebut.


Tapi, apa bila situasi tidak bisa di kendalikan lagi, maka Vino akan turun tangan, beserta para bawahannya, juga orang-orang penting lainnya


Via dan orang-orangnya masih saja tetap tertawa, walaupun sudah tidak sekeras tadi, lalu sesaat kemudian, Vian berkata.


"Ah sudahlah!.. Aku tidak mau membuang waktuku di sini.! Yang aku minta, serahkan cepat!, surat-surat tanah mu ini ke padaku!, kalau tidak? kau dan anak gadis mu itu, akan mati secara mengenaskan!." Ucap Vian mengancam dan membalikkan badannya ke arah Vino.


Kemudian secara cepat, dia mengarahkan moncong senjatanya ke arah Vino, dan bersiap menarik pelatuk nya, tapi tiba-tiba Vian memekik kesakitan.


"Aaaaarrrghhhhhkk.!" Teriak nya keras


"Tanganku..! Tanganku..!" Ujarnya kemudian sambil memegangi punggung tangannya kuat-kuat.

__ADS_1


__ADS_2