
Begitu sampai di belakang mobil yang di tumpangi oleh Vian, Vino langsung berkata dengan suara keras:
"Apakah sekarang kau sudah menjadi pengecut, sehingga kau bersembunyi di sini Vian?". Ucap Vino mengejutkan Vian, juga 15 anak buahnya yang lain, yang dengan setia mengawal mobil yang sedang di tumpangi oleh bos nya itu.
Vian dan anak buahnya menoleh ke arah belakang, dalam sekejap dia menyadari, ada ancaman yang sangat besar, sedang menuju kearah nya.
Sepuluh orang yang di tugaskan, untuk mengawal bos Vian, serentak menghadang Vino, dengan sikap waspada. Mereka siap melakukan apa saja, demi untuk melindungi bos nya.
Vian yang melihat kejadian itu, buru buru turun dari mobil nya, dan berjalan menuju ke arah Vino, kemudian segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan Vino, dengan lutut dan tubuh gemetaran. Lalu dia berkata:
"Ampuni hamba tuan, sungguh hamba tidak tahu, kalau tuan ada di sini." Ucapnya ketakutan.
"Lalu, kalau aku tidak ada di sini, apakah kau akan tetap bersikap arogan, dan menyuruh anak buah mu untuk menghancurkan Restoran ku?". Tanya Vino geram.
"A.. apa. Restoran i.. ini milik t.. tuan?" Tanya Vian gugub.
"Bukan hanya restoran ini, tapi seluruh tempat ini adalah milikku, tak ada satupun orang yang boleh berbuat kurang ajar di sini!, termasuk kau.!" Ucap Vino benar benar geram.
"Kau sudah ku beri pengampunan pada saat itu, tapi kau sekarang berbuat keonaran lagi, dan ini di tempat Restoran saya!, kau tahu hukumannya Vian!?"
"Dan lagi, siapa 10 orang yang telah mengawal mu itu, apakah mereka termasuk anak buah mu?" Tanya Vino tidak senang.
"Be.. be, benar tuan. Mereka semua adalah anak buah ku, yang di tugaskan khusus untuk mengawal ku, mereka semua adalah pengawal pengawal pribadi ku yang baru tuan."
"Kalau benar begitu, kenapa mereka tidak berlutut seperti mu?" Tanya Vino cuek.
Vian baru menyadari, 10 orang yang telah mengawal nya itu, masih tetap berdiri dan tidak ikut berlutut kepada Vino. Dengan marah, dia memerintahkan kepada mereka untuk segera berlutut mengikuti nya.
__ADS_1
Tanpa basa basi lagi, mereka segera berlutut di belakang bos nya, sambil menundukkan kepalanya dalam dalam. Sungguh mereka tidak menyangka, bahwa orang yang ingin mereka celakai tadi, adalah orang yang sangat di takuti oleh bos besar mereka.
Kalau bosnya saja sudah sampai setakut itu, berarti orang yang ada di hadapannya, bukanlah orang sembarangan, itu pikir mereka.
Setelah hening sejenak, Vian mencoba untuk memberanikan diri, dan berkata kepada Vino:
"Ampuni hamba tuan, sungguh hamba tidak tahu , kalau tempat ini milik tuan. Hamba mengaku hamba bersalah tuan." Rengek Vian dengan memohon.
"Apakah orang orang bodoh yang di dalam itu juga adalah anak buah mu!?"
"Benar, tuan..." Mereka belum pernah sama sekali melihat tuan, karena waktu kejadian di hotel itu, mereka tidak ikut bersama ku."
"Apakah kau tidak mengajarkan sopan santun terhadap anak buahmu!?. Sehingga mereka berani membentak ku, dan mengatai ku sebagai kecoak WC." Tanya Vino penuh dengan emosi.
Setelah beberapa saat, situasi tiba tiba menjadi hening. Vian tidak berani mengangkat kepalanya, dan terus menunggu apa yang akan di katakan oleh Vino berikutnya.
"A... aa.. ampuni hamba tuan. Hamba tidak menyuruh untuk menghancurkan Restoran tuan, tapi hamba..."
"DIAM...!!!" bentak Vino dengan suara membahana.
Kemarahan nya kini benar benar sudah memuncak, karena ada orang yang telah berani, ingin menghancurkan restoran kebanggaan nya itu, sekaligus kebanggaan di kota Y ini. Kali ini, Vino benar benar ingin memberi pelajaran kepada Vian. Agar supaya ia jera, dan tidak menganggap ancamannya hanya bulanan semata.
"Berhenti!. Dasar bajingan!. Apa yang akan kau lakukan kepada Bos Vian?. Berani nya kau!?." Teriak seseorang yang tiba tiba datang dengan tergesa gesa.
Ketika Vino ingin mengambil tindakan terhadap kekurangajaran Vian, tiba tiba terdengar sebuah suara seperti itu di belakang nya, yang membuat Vino terhenti untuk melakukan aksinya.
Tapi sebelum Vino memalingkan wajahnya, dan membalikkan badannya, ke arah orang yang bersuara itu, orang tersebut menyambung perkataan nya.
__ADS_1
"Tuan adalah ketua Geangstaer terhormat, yang sangat di takuti di kota Y ini. Kenapa tuan berlutut kepada kecoa WC seperti dia?" Ucap seorang yang baru saja datang itu dengan sombongnya.
Vino yang mendengar perkataan yang sangat merendahkan dirinya tersebut, masih berusaha menahan diri, walau kemarahan nya sudah mencapai titik jenuh, tapi dia tidak menjamin. Apakah dia masih bisa menahannya lebih lama lagi?
Dengan tangan terkepal, Vino pun berkata:
"Kau bilang aku kecoa WC!? Sini akan ku ajarkan cara bagaimana masuk dari lobang terkecil melalui jalan fikiran otak mu yang bodoh itu!" Ucap Vino mengancam.
"Hahahaha... Memangnya, siapa kau!" Berani memprovokasi ku!." Ucapnya sambil melihat bos besar
beserta 10 orang pengawal nya, sedang berlutut ke arah Vino.
Vian yang melihat kelakuan dari anak buahnya itu, ia pun menjadi geram, kemudian dengan kasar, dia berkata: "Dasar bodoh! Idiot...! Cepat berlutut!, kalau tidak aku akan mati di tangannya, cepat..!" Pinta Vian benar benar marah.
Wakil bos Geangstaer itu, belum juga menyadari situasi. Walaupun bos nya suda memerintahkan nya untuk segera berlutut, tapi dia masih merasa enggan untuk mengikuti perintah bos nya tersebut. Lalu iapun berkata:
"Atas dasar apa aku harus berlutut kepada nya tuan?. Sekarang tuan bangunlah. Tuan tida pantas berlutut kepada kecoa WC seperti dia itu." Jawabnya enteng dan terkesan menghina Vino.
Vino terpancing emosi, dan tidak mau lagi menahannya. Kemudian dengan tenang, dia melangkah ke arah wakil ketua Geangstaer itu. Dengan aura kemarahan yang sangat mematikan.
Begitu sampai di depannya, dengan gerakan yang tidak bisa terbaca dan di ikuti oleh mata, Vino melayangkan pukulannya ke arah bawah dagu lawan, dan telak mengenainya.
Sedikitpun dia tidak sempat untuk mengantisipasi serangan itu. Dagunya kini menjadi korban, dari keganasan tangan Vino yang bergerak dengan sangat cepat, hingga membuat beberapa giginya terlempar keluar dari dalam mulutnya. Tidak sampai di situ saja, tubuh komandan, atau wakil dari bos Geangstaer tersebut, terangkat sekitar 40 Cm dari permukaan tanah, mirip seperti boneka yang di lambung kan ke udara oleh sang pemilik nya.
Ketika tubuhnya saat terangkat itulah, Vino melayangkan tendangan kaki kanannya, ke arah dada lawan, hingga tubuhnya terbang sejauh 5 meter, dan menabrak sebuah pot bunga hingga pecah.
Tubuhnya tidak bergerak lagi, pingsan, atau sudah mati. Tidak ada satupun yang tahu dengan pasti. Sedangkan dari mulut wakil ketua na'as itu, mengalir darah segar yang cukup banyak.
__ADS_1