
Tapi nasi sudah menjadi bubur, niat baik dari hatinya, justru menjadi sebuah permasalahan seperti itu. Sebenarnya Vino sudah bosan, dengan hidup yang penuh akan masalah dan juga kekerasan. Kalau bisa dia lebih memilih untuk berdamai
jika itu menjadi jalan satu satunya.
Akan tetapi, orang orang yang tengah di hadapinya, terus saja memprovokasi dan merendahkannya. Sekali di perlakukan seperti itu, kemungkinan dia bisa mencoba sabar tapi, lama lama hilang juga rasa kesabaran nya.
Vino membatin dari dalam hati sambil berfikir. Api saat ia kecil di permainkan, di anggap remeh, ketika ia besar otomatis ia pasti akan menjadi lawan yang sulit untuk di kalahkan. Apa lagi dia yang hanya mengandalkan sifat sombong, kikir, dan arogan nya itu. Tapi yasuda lah, apapun masalah yang terjadi, dia siap menerima resikonya. Kemudian mendorong pintu kaca, dan masuk ke dalam Bank tersebut.
Keributan yang telah terjadi beberapa jam, di depan pintu Bank Amex, tentu saja menimbulkan rasa perhatian terhadap nasabah Bank yang berada di dalam, beserta para karyawan nya. Tapi, mereka sangat percaya, 9 Orang satpam kuat yang menjaga pintu masuk, akan bisa mengatasi masalah kecil seperti itu. Tapi siapa sangka, orang yang di kira kuat, ternyata sekarang sudah terduduk tidak berdaya di depan pintu masuk Bank tersebut.
Ketika Vino mencoba masuk ke dalam, tentu saja mereka tidak bisa menghalang halangi Vino lagi. Dan akhirnya Vino pun masuk ke dalam, di temani dengan tatapan semua nasabah juga para karyawan Bank tersebut dengan kesan tidak senang.
Sebelumnya, orang-orang yang melihat kericuhan di depan pintu Bank Amex itu, seketika itu juga mereka sangat heran, kenapa 9 orang satpam yang terkenal akan kebringasan nya begitu sangat mudahnya di taklukkan dan di robohkan, oleh orang orang yang di anggapnya laki laki lemah, dan juga pecundang.
Tapi itulah kenyataannya. Kalau di pikir- pikir kejadian itu, bukan sepenuhnya adalah kesalahan Vino, Vino saat itu hanya berniat untuk mengecek saldo tabungannya di Bank tersebut, dan rencananya akan sesuai prosedur. Datang, masuk, lalu ambil nomor antrian dan menunggu panggilan begitu saja. Akan tetapi kenyataannya tidak sesuai dengan harapan, 9 orang satpam yang menjaga pintu masuk Bank itu, mereka tidak mengizinkan Vino untuk masuk, serta memprovokasi serta menghina Vino habis habisan. Hal itulah yang telah membuat kericuhan itu terjadi.
Mereka hanya melihat penampilan orang saja, tetapi tidak melihat isinya, padahal saat itu, Vino berpakaian cukup rapih, walaupun dengan memakai Jaz, karena pada dasarnya, Vino tidak begitu suka untuk berpakaian formal seperti kebanyakan orang orang kaya dan lain sebagainya.
Manejer bank yang telah mendapat laporan telah terjadi sebuah kericuhan di depan pintu masuk, buru buru ia turun ke bawah, tapi begitu dia sampai, keributan tersebut sudah usai, dan orang yang membuat keributan sudah tidak ada lagi di luar di mana dia.?
Dia mencoba untuk mencari dalang keributan tersebut, untuk apakah orang yang datang tersebut ingin bertransaksi di bank tersebut atau tujuan lain. Setelah 5 menit kemudian dia mencari, dia tidak berhasil menemukan keberadaan orang tersebut. Kemudian dia menghampiri karyawan bank, dan menanyakan, apakah orang yang membuat kericuhan di luar tadi masuk ke dalam, atau meninggalkan bank tersebut.
__ADS_1
Karyawan yang di tanya segera mengedarkan pandangannya ke loby bank, dan matanya terhenti, ketika melihat orang yang telah membuat kericuhan di luar tadi, sedang duduk dengan santainya sedang menunggu sebuah antrian.
"Itu orangnya tuan." Ucap karyawan bank tersebut dengan sopan.
Manejer bank yang di bertanya tadi, dengan sigap membalikkan badannya, ke arah orang yang ditunjuk oleh karyawan yang di tanya olehnya tadi.
Begitu dia melihat keadaan Vino, dia tidak yakin, apakah orang tersebut yang telah mampu mengalahkan 9 orang satpam bank itu.?
Vino kelihatanya sangat amat tenang, dan tidak ada tanda tanda yang mencurigakan. Sebelumnya, manejer tersebut ingin melaporkan kejadian tersebut ke polisi, untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan. Tapi nalurinya berkata, bahwa Vino bukanlah sebuah ancaman, tetapi mungkin sebagai anugrah yang di kirim oleh langit kepada Bank tersebut.
Lalu dengan tenang nya ia melangkah ia mendekati Vino dan berkata:
Vino menolehkan kepalanya, ke arah yang sedang berdiri tepat di sisi kirinya, kemudian menjawab.
"Oh, ya. Aku sudah mengambil nomor antrian dan 15 orang lagi, maka aku akan mendapatkan pelayanan dari bank ini." Jawab Vino santai. Manejer bank tersebutpun menanggapinya, kemudian bertanya kalau boleh tahu, dan ini maaf. Kenapa anda membuat keributan di luar seperti tadi.?
"Aku sebenarnya tidak ingin membuat keributan atau kerusuhan di bank ini, tapi salah satu satpam yang bertugas di sini telah menghambat perjalanan ku, mereka tidak memberikan ku izin untuk masuk ke dalam Bank ini. Mungkin mereka mencurigaiku, karena melihat penampilan ku seperti ini." Ucap Vino merendahkan diri.
"Aku faham kalau begitu. Tapi apakah anda ingin bertransaksi, atau hanya ingin mengecek saldo di rekening.?" Tanya manejer bank tersebut masih tetap sopan
"Ya, benar. Kalau boleh tau, saat ini saya sedang berbicara dengan siapa.?" Tanya Vino juga sopan.
__ADS_1
Perkenalkan nama saya Alfian Halfaridzi. Bisa di panggil dengan sebutan Fian bisa, Alfi juga bisa. Saya adalah seorang manajer di bank ini." Jawabnya merendah, kemudian melanjutkankan perkataanya.
"Kalau begitu, dengan siapa saat ini saya sedang berhadapan..?" Tanya Alfian kepada Vino.
"Aku Vino. Kedatangan ku kesini hanya untuk sekedar mengecek saldo, apakah kartu ku ini masih berfungsi atau tidak, sekaligus ingin mengetahui jumlah saldo yang ada di rekening nya, kalaupun ada." Ucap Vino tenang.
Manejer bank, begitu melihat kartu yang di keluarkan oleh Vino adalah kartu emas, seketika lututnya mulai gemetar, dan kuning berkerut, tanda dia memahami, siapa orang yang tengah di wawancarainya itu. Sudah belasan tahun ia berkerja di bank tersebut, sedikit banyaknya ia sudah mengetahui tentang adanya kartu emas, yang di keluarkan oleh bank tempat ia berkerja. Kemudian dengan gugup dan sopan dia bertanya.
"Apakah kartu ini milik tuan?" Tanya manejer tersebut ragu ragu.
Vino menyadari atas keraguan dari manejer bank tersebut, kemudian dia menjawab,
"Ya, benar. Kebetulan sekertaris ku yang telah memberikannya beberapa saat yang lalu. Ada apa ya?" Tanya Vino keheranan.
"Kalau begitu, mari ikut saya tuan. Untuk nasabah terhormat seperti tuan, tempat nya bukan berada di sini, tapi langsung di ruangan direktur Pak Sofyan. Saya sendiri yang akan mengantarkan tuan kesana." Ucapnya sopan.
"Aku rasa tidak perlu, biarkan aku menunggu antrian saja." Jawab Vino tenang.
"Tidak bisa tuan. Di loby ini, tuan tidak akan bisa bertransaksi. Satu satunya agar kartu dan rekening tuan bisa di aktifkan, adalah di ruangan direktur, karena hanya dialah yang berhak untuk mengaktifkannya.
"Baiklah kalau begitu. Mari tunjukkan jalannya."
__ADS_1