
Sepeninggal Vino, direktur Arifin dan manejer Devan memandang kedua satpam tersebut dengan perasaan bercampur aduk, kemudian melepas kan kekesalannya
"Dasar bodoh..!" Siapapun adanya yang datang ke mari, jangan la bersikap arogan. Kalian di pekerja kan di sini, bukan untuk menunjukkan kesombongan kalian, tapi untuk menjaga keamanan di tempat ini. Paham.!" Bentak direktur Arifin geram.
"Dan untuk kalian ketahui, dan harus kalian fahami, kalau orang yang kalian halang halangi tadi, adalah orang yang sangat penting, dan istimewa bagi di bank ini."
"Hanya dengan sekali ucapannya saja, kita semua akan berakhir. Paham kalian!" Dasar dungu!" Bodoh.!" Bentak direktur Arifin sambil menggerutu.
kedua satpam yang di bentak oleh pimpinan tertinggi di bank tersebut, seketika detik itu juga nyalinya menjadi ciut, mereka hanya diam ketika di marahi oleh direktur Arifin. Apa pun yang di katakan oleh nya, mereka tidak berani untuk membantahnya.
Setelah panjang lebar di marahin, dan juga di ceramain, oleh direktur Arifin, komandan satpam mencoba memberanikan diri, dan berkata:
"Kami mengerti direktur, mohon sekali lagi, untuk memaafkan atas kesalahan yang telah kami perbuat." Ucapnya dengan amat tulus.
"Baiklah, dan ingat!, kalian sudah mendapatkan peringatan pertama, dan tidak akan ada lagi peringatan ke dua, apa bila kalian berdua melakukan nya lagi, maka persiapkanlah mental kalian untuk menghadapinya." Ucap direktur Arifin sambil melangkah masuk ke dalam loby bank.
"Terimakasih direktur." Jawab mereka serentak, sambil membungkukkan setengah badannya ke arah direktur Arifin yang sedang memasuki loby bank hotel tersebut.
****
Setelah menyelesaikan urusannya di bank, cabang Amex kota Y, Vino memutuskan untuk berkeliling kota, sembari melihat kemungkinan adanya peluang usaha untuk sebuah bisnis investasi.
Tujuan utamanya tentu saja adalah mencari tanah kosong, yang di peruntukkan untuk membangun sebuah fasilitas pabrik besar, dalam pembuatan berbagai jenis alat elektronik yang canggih, yang sama sekali belum ada di kota Y ini.
__ADS_1
Vino tertarik dengan usulan dari dewa strategi, dan investasi, guna untuk memperlebar sayap kekuasaannya, di bidang pengembangan IPTEK berskala internasional
Oleh karena itulah, setelah urusan nya di bank tersebut kelar, Vino saat ini, tengah mengendarai mobil mewah nya, menuju suatu bangunan bekas pabrik sepatu, yang berlokasi di sebuah tanah lapang yang sangat luas, dan sudah lama di tinggalkan oleh pemiliknya.
Tapi sebelum Vino pergi ke lokasi bekas pabrik sepatu itu, dia terlebih dahulu menghubungi orang orang nya, untuk menyusul ke lokasi yang di tunjuk, setelah itu dia melanjutkan perjalanan nya menuju lokasi tersebut
Setelah sampai di lokasi, Vino segera memarkirkan mobilnya, di depan sebuah bangunan yang terlihat masih bagus, dan terawat, kemudian ia pun bergegas keluar dari dalam mobil mewah nan megah nya itu.
Setelah keluar dari dalam mobil, keningnya sedikit berkerut, begitu dirinya melihat salah satu bangunan yang tidak begitu besar dan masih utuh, berdiri dengan kokoh nya, di tengah tengah kerangka bangunan pabrik yang terbengkalai dan hampir roboh itu.
Tapi tanpa di sadari, kehadiran nya telah menarik perhatian banyak orang yang berada di dalam bangunan yang masih utuh itu. Antara percaya atau tidak, orang yang ada di dalam bangunan terpaku, dan diam, dengan mata melotot, dan rahang yang terjatuh, menganga lebar karena terkejut.
Berkali kali mereka mengucek matanya, untuk memastikan apakah orang yang barusan keluar dari dalam mobil mewah adalah orang yang selama ini di cap sebagai benalu, pengemis, gembel, gelandangan, dan sampah tidak berguna di keluarga besar pak Robin.
Setelah memastikan berkali kali, dan melalui perdebatan yang sengit di antara mereka berlima, akhirnya mereka sangat yakin, bahwa orang yang barusan keluar dari dalam mobil mewah tersebut adalah Vino.
Dengan tenang, Vino mencoba berjalan mendekati bangunan tersebut, mengamatinya, dan mencoba untuk mengintip ke dalam, untuk memastikan apakah di dalamnya ada orang atau tidak.
Ketika sedang asik asik nya mengintip ke dalam, tiba tiba saja ia di kejutkan oleh sebuah jendela yang terbuka cukup lebar, hingga membuatnya terperanjat mundur menjauh dari jendela.
"Keparat, dasar berengsek.! Sekali sampah tetap sampah." Rutuk seseorang yang barusan tadi membuka jendela karena marah.
Tak lama sesudah itu, dia keluar melalui pintu depan, dan langsung menghardik Vino dengan kasar.
__ADS_1
"Dasar sampah!. Berani berani nya kau mengintip ke dalam rumahku. Apakah kau mau di hajar?." Hardik orang yang baru saja keluar dari bangunan tersebut.
Sekilas Vino melihat ke arah orang yang baru saja membentak, menghina, dan sekaligus menghardiknya. Tapi alangkah terkejutnya Vino, begitu melihat siapa orang sedang di hadapinya itu.
Di tengah keterkejutan nya itu, muncul lagi 5 orang yang sudah sangat dikenal oleh Vino. Mereka tak lain adalah nenek Robin, Kevin, Tiara, Atika, dan Prily. Dan orang yang barusan tadi membentaknya adalah Brayen.
"Kau!". Ucap Vino singkat dan keheranan.
"Ya, Aku kenapa?. Ini adalah rumah dan tanah kami, berani beraninya kau datang ke sini." Ucap Brayen sombong, dan tak tahu diri, mengaku ngaku hak milik orang lain sebagai miliknya.
"Ternyata kalian di sini. Aku sungguh tidak menyangka, orang yang dulunya kaya, bergelimang harta. Sekarang menjadi gembel, gelandangan seperti ini." Ucap Vino merendahkan mereka semua. Dia penasaran, kenapa informasi Seperti ini, tidak di laporkan kepada nya.
"Apa perdulimu?, dan ingat!, kami bukan gelandangan, kami hanya terusir dari rumah kami sendiri akibat ulah mu sendiri." Jawab Brayen membela diri.
"Apa bedanya?!" Sanggah Vino sambil tersenyum sinis.
Brayen yang mendapat sanggahan seperti itu terdiam, matanya jelalatan memandang ke satu titik, di mana di tempat itu, mobil Vino terparkir dengan gagahnya, kemudahan dia berkata:
"Tunggu dulu!. Sepertinya kau sekarang sudah beruntung dan kaya, walau aku tidak tahu dari mana kekayaanmu itu." Sambungnya lagi. Diam sejenak kemudian melanjutkan berkata kembali.
"Tunggu!." Ucapnya sambil mengingat akan sesuatu.
"Jangan-jangan kau yang telah merampok semua harta harta kami, dan kau sengaja melakukan ini semua, karena kau ingin membalaskan dendam mu kan?!" Ujarnya asal tuduh.
__ADS_1
"Aku ingat!, ketika di dalam pesta itu, orang orang yang datang begitu menghormati mu, dan tak satupun yang berani mengganggumu. Jangan-jangan mereka adalah orang-orang mu, yang kau janjikan untuk di bayar, agar bisa merampok harta kami." Ujar Brayen berbicara sekenannya, dan terus menerus menyambung perkataannya, dengan kemarahan yang meluap luap.
"Kalau tidak, bagaimana kau bisa membeli mobil mewah itu?, dan yang selama ini menjadi perbincangan di kota Y." Kata Brayen terkejut, begitu juga dengan yang lainnya. Walaupun mereka tadi sudah melihatnya, tapi sekarang baru sadar kembali, bahwa Vino adalah pemilik mobil itu