
Vino yang mendengar penjelasan dari Govin, yang panjang dan tulus tersebut, menjadi tidak enak hati. Govin telah berhutang budi kepada kakeknya, tetapi bukan kepada dirinya.
Walaupun yang dikatakan oleh Govin itu, tapi tidak mungkinlah bagi dirinya, untuk mengambil tanah itu secara cuma-cuma. Vino tidak mau ada hutang budi kepada orang lain.
Memikirkan semua itu, dengan tenang Vino berkata.
"Tadi aku sudah melihat-lihat lokasi ini, dan mengetahui keseluruhan luasnya. Lokasi ini sangat cocok untuk pengembangan usaha baruku nanti." Ujarnya.
"Anak buahku ini, sudah mendata luas seluruh areal tanah milikmu, karena letaknya sangat strategis, harga tanah permeter nya juga tinggi, dan dia sudah mengkonversikan ke dalam mata uang setempat."
"Aku akan membayar mu setengah kali lipat dari harga pasaran tanah di kota ini, dan anda harus mau menerima nya tanpa alasan apapun." Ucap Vino terkesan memaksakan kehendak nya.
"Saya tidak berani menentukan harga tuan muda. Jika tuan muda memang benar-benar ingin membeli tanah ini, maka bayarlah sesuai harga pasaran tanah." Ucap Govin gemetar, tak lama kemudian, ia melanjutkan perkataannya.
"Saya takut, apa bila saya menerima penawaran anda yang sangat tinggi tersebut, saya akan di cap sebagai orang yang tidak tau membalas budi." Ucap Govin merendah.
"Anda jangan mempunyai prasangka yang buruk seperti itu. Aku sungguh menginginkan tanah mu ini, karena lokasinya yang begitu strategis. Jadi wajar, apa bila aku menawar tanah mu dengan harga yang sangat tinggi." Ucap Vino sambil menoleh ke arah Govin.
"Anak buahku, akan mengurus manusia brengsek itu nanti, dan itu bukan merupakan hal yang begitu berat bagiku." Ucap Vino tegas, kemudian membalikkan badannya ke arah Vian dan menatapnya dengan tatapan berkesan mengancam.
Vian yang di tatap oleh Vino menjadi gemetar, dan sesungguhnya dia tidak tahu, untuk apa mereke membawanya kemari menghadap Vino. Tapi setelah dia mendengar perkataan dari Vino, dia sudah sangat mengerti akan duduk permasalahannya. Ternyata adik sepupu nya Govin, manusia brengsek itu, yang telah menyebabkan semua ini terjadi.
Vian tahu bagaimana kuatnya Vino dan orang-orangnya. Vian juga faham. Apa yang akan terjadi pada sepupu jauhnya itu. Jika dia Bernai menentang Vino, dan beserta orang-orang nya, maka dia dan seluruh keluarga nya akan habis saat itu juga. Menyadari akan semua itu, Vian dengan terburu-buru menjatuhkan lututnya ke tanah menghadap Vino, kemudian dengan gemetar ia berkata.
__ADS_1
"Tuan muda. Masalah Govin sepupu ku itu, tidak ada sangkut pautnya dengan ku. Selama ini, dia tidak pernah mengatakan apa-apa padaku tentang permasalahannya."
"Dia hanya memakai beberapa anak buah ku, untuk pergi melakukan negosiasi dengan pemilik tanah ini." Ucap Vian membela diri untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
"Brengsek..! Apakah kau tahu Vino!?, apa yang telah dilakukan oleh anak buahmu itu?."
"Sungguh aku tidak tahu, apa yang telah dilakukan oleh sepupuku itu, dengan beberapa anak buah ku itu tuan. Karena aku jarang sekali bertemu dengannya." Jawab Vian ketakutan, kemudian menyambung lagi berkata.
Selama ini dia cuma mengatakan, sedang menggarap sebuah lahan kosong, yang akan di jadikannya sebagai perumahan elit. Itu saja yang aku tahu tuan." Ujarnya.
Sungguh aku tidak tahu akan masalah ini, ternyata lahan yang dikatakan kosong itu, adalah bekas pabrik milik tuan Govin itu." Kata Vian mengakhiri penjelasannya.
Vino yang mendengar penjelasan dari Vian tersebut, menjadi terdiam. Vino mengamati raut wajah Vian sekilas, dan benar saja, Vino mendapati bahwa Vian sedang tidak berbohong. Itu terlihat jelas dari gestur tubuh nya yang sedang gemetaran, diakibatkan rasa takut yang teramat sangat kemarahan Vino nantinya, jika dia kedapatan kerja sama dengan Govin brengsek itu.
"Aku mempercayai ucapanmu, tapi jika kedepannya kedapatan, bahwa kau telah berani berbohong padaku, maka bersiap-siaplah untuk ku cabut nyawamu saat itu juga." Ancam Vino tegas.
"Baik, Tuan.!" Jika aku berkerja sama dengan Govin itu, maka aku bersedia di hukum apa saja hukuman yang akan diberikan oleh tuan muda." Jawab Vian sudah mulai lega.
Kini satu masalah telah terselesaikan. Vian yang di jemput secara paksa oleh anak buah Roni, saat ini telah mengakui, bahwa dia tidak berkerja sama dengan sepupunya, untuk menakuti dan mengintimidasi Govin.
Sekarang Vino mengalihkan pandangannya pada Govin, tanpa memperdulikan keberadaan anak-anaknya, untuk meminta kepastian, apakah Govin ingin melepaskan tanahnya dengan harga yang di tawarkan oleh Vino tadi.
Govin yang di tatap oleh Vino, tubuhnya menjadi gemetar, dia tidak memperdulikan lagi akan situasi di sekitarnya. Untuk sesaat, Govin lupa kepada kedua anaknya.
__ADS_1
Dengan gugup, dan terbata-bata, dia mengucapkan akan sesuatu yang sangat penting, dalam situasi yang mencekam di tempat itu.
"Mohon maaf sebelumnya tuan muda, karena saya takut di katakan orang yang tidak tahu membalas budi, maka tadi saya sangat memohon,. agar tuan muda menebus tanah ini, dengan harga yang pasaran yang ada saat ini."
"Tetapi, karena tuan muda sendiri yang telah menaikkan setengah harga pasaran, maka saya, Govin tidak bisa berbuat apa-apa, dan intinya saya setuju, jika tuan muda mengambil alih lokasi pabrik ini."
"Mengenai surat-surat nya, akan saya urus di bank yang ternama di kota Y ini. Dan setelah transaksi selesai, maka saya akan menyerahkannya pada tuan muda." Ucap Govin lega.
"Baik!, aku juga adalah orang yang tidak suka menunda-nunda sesuatu, jika sudah berkehendak." Sabung Vino tegas.
"Show Young. Transfer sejumlah uang ke rekening tuan Govin, sekarang juga.! Ucap Vino tegas.
"Siap..! Laksanakan tuan muda.!" Jawab Show Young cepat.
Setelah instruksi itu di berikan, hanya membutuhkan waktu beberapa detik, terdengar bunyi notifikasi di heanpone milik tuan Govin, yang menandakan transaksi berhasil dan uang masuk ke dalam rekening.
Govin sangat heran, dan terkejut, bagaimana tuan muda Vino, bisa mengetahui rekeningnya yang ada di dalam bank, tanpa terlebih dahulu bertanya padanya.
Kejadian itu sukses membuatnya semakin kagum dan takjub kepada Vino. Kinerja orang-orangnya, patut di acungi 2 jempol. Hanya dalam waktu beberapa detik saja. Sejumlah uang pembayaran pembebasan lahan tanah miliknya, telah masuk ke rekening pribadinya saat itu juga.
Dengan tangan yang mulai gemetar, Govin mencoba membuka aplikasi perbankan nya, dan mengecek jumlah uang yang di transfer oleh Vino barusan.
Begitu dia melihat jumlah nominalnya, lutut Govin gemetar, karena melihat sejumlah uang yang sangat banyak di aplikasi banknya.
__ADS_1
Luas tanah milik Govin saat ini adalah 70 hektar atau sekitar 670 ribu meter persegi. Sedangkan harga per meter nya adalah 1 Juta uang setempat. Jadi bisa di bayangkan, berapa yang telah di dapatkan oleh Govin atas penjualan tanahnya tersebut.