Pewaris Tahta Yang Di Anggap Hina

Pewaris Tahta Yang Di Anggap Hina
Balas Dendam Episode - 22


__ADS_3

Jam pada saat itu telah menunjukkan Pukul 08:30. WIB. Vino sudah kembali dari kota "A" Dan sekarang tengah berada di kamar Suite nya, sembari menikmati santap siang, yang di antar langsung oleh kepala Cafe, dan Exsekutif koki, dan di dampingi oleh 10 pramusaji yang selalu melayani Vino. Setelah selesai makan siangnya, lalu Vino berencana ingin mengistirahatkan badannya sambil berendam di Jacuzzi yang mewah, yang berisikan air busa. Saat itu, ia berniat untuk berendam terlebih dahulu. Karena semua telah di persiapkan oleh pelayan yang khusus di datangkan ke kamarnya.


Setelah mereka semua keluar, Vino membuka pakaiannya, dan segera masuk ke dalam Jacuzzi, kemudian berendam di sana.


"Uuhh... Segar...!" Katanya lirih.


"Badanku rasanya sangat nyaman setelah berendam di


tempat ini." Sebaiknya aku sudahi mandiku, Dan segera untuk tidur. Kebetulan badan aku sakit semua, rasanya. Setelah hampir 1 Minggu ini aku terus merencanakan tugasku."


"Biar ku serahkan saja pada orang-orang ku untuk melaksanakan semua itu."


"Aku tidak perlu turun tangan langsung, tinggal perintah maka semua urusan, beres. Sungguh, hidup ini benar-benar berkelas." "Hahaha..." Kata Vino sambil tertawa lepas. Beberapa saat stelah berendam, ia pun segera menuju ke kamar tidur nya untuk beristirahat.


Singkat cerita:


******


Tak butuh waktu lama, Vino pun tertidur pulas. Hampir


2 Jam ia tertidur pulas. Bergegas ia melihat Jam tangan yang ia kenakan. Ternyata waktu sudah menunjukkan tepat Pukul : 11:40 WIB.


"Ukhhh, masi ada waktu setengah jam lagi, untuk mereka menikmati kenyamanan hidup, setelah itu,


"Bom-bom, boom!" Hancur seperti debu.


"Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana reaksi


orang-orang serakah itu, pasti mereka tidak akan percaya. Apa yang telah menimpa mereka. Saya jadi semakin penasaran, tak sabar aku untuk melihat bagaimana kehancuran orang-orang itu."


"Sebaiknya aku keluar dari bilik ini, dan mencoba untuk pura-pura tidak tahu. Bahwa di hari ini, adalah hari di mana bahagianya Anggeline dan Brayen berserta keluarga nya yang tidak lama lagi berubah kehancuran. Dan akhir dari kejayaan keluarga mereka."


"Aku ingin segera melihat kepanikan di wajah-wajah mereka, begitu mengetahui menantu yang sangat di bangga banggakan oleh keluarga Anggeline itu, diseret-seret seperti mafia berkelas kakap oleh para aparat petugas kepolisian. Atas perilaku bejat nya dalam melakukan penggelapan uang perusahaan ku."


10 Menit berselang,vino sudah berada di loby hotel.


Melihat para tamu undangan yang sudah ramai berdatangan, dan langsung memasuki ruang resepsi melalui pintu khusus menuju ruang tersebut.


Vino juga ingin mencoba peruntungan, dengan ikut-ikutan masuk ke dalam ruangan tersebut. Berlagak seperti layaknya tamu undangan juga.


Tidak ada rintangan yang berarti, yang Vino temui.


Karena pada saat itu, dia sedang memakai pakaian yg


sedikit bagus, walau tidak kelihatan begitu berkelas.


Tapi sebenarnya lebih dari kata berkelas. Karena harga nya yang sangat fantastis akan tinggi nya.


Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui beberapa harga pakaian yang ia gunakan. Karena penampilan nya saat ini cukup rapih dan bagus. Maka para petugas yang sedang mengkawal jalannya resepsi pernikahan mantan nya itu,ia pun sangat di perbolehkan untuk masuk.


Setelah dia masuk, Vino terpana akan ruangan resepsi


yang begitu mewah, dan megah tersebut. Dengan hiasan khas pengantin, yang di dominasi warna hijau,


dan putih, disertai balutan warna biru muda. Di tambah lagi dengan adanya ornamen-ornamen cantik, dan bunga-bunga hidup, serta bunga sintetis, menambah kelengkapan ruangan pesta tersebut.


Ruangan pesta itu, juga di lengkapi dengan sebuah layar lebar yang menempel di dinding yang gunanya untuk menampilkan sebuah bentuk potongan peristiwa pernikahan, dan lain sebagainya.


Ketika tengah asyik menikmati kemegahan ruangan itu, sambil berjalan pelan Vino di kejutkan oleh sebuah


suara yang tiba-tiba terdengar di belakangnya.

__ADS_1


"Berhenti,!" Teriak sebuah suara yang menggelegar


dari belakang nya, hingga membuat tamu undangan


menoleh ke tempat peristiwa itu terjadi.


"Siapa yang mengizinkan kamu masuk ke dalam ruangan ini.?" "Dasar pengemis!" "Cepat keluar.!


kau tidak pantas berada di tempat ini.!"


"Kau hanya akan membuat seluruh tamu-tamu yang ada di sini muntah, karena telah melihat mu.!"


"Cepat, segera panggil penjaga, untuk menyeret gembel ini dari sini.!" Teriak nya keras, sambil menunjuk-nunjuk kan tangannya ke arah Vino. Vino yang telah di usir tidak memberi perlawanan, namun tatapan mata nya yang sadis mengisyaratkan akan kematian untuk dirinya. Vino segera membalikkan badannya, dan melihat orang-orang yang barusan menegurnya tak lain adalah Brayen. Musuh bebuyutan nya selama ini.


Ia adalah salah seorang target utamanya yang akan di


hancurkan. Seketika itu Vino justru hanya memberikan senyuman setelah mendapat kan teguran dari orang


orang brayen. Teguran yang sangat merendahkan jati diri vino.Namun, ketika Vino ingin menjawab, tiba-tiba


muncul kelebatan sebuah bayangan tangan yang akan


menamparnya secara bersamaan.


Mereka tidak tahu, jati diri Vino yang sekarang seperti apa. Vino bukanlah orang yang lemah, dan Vino bukan lah laki-laki pecundang, bukan lah laki-laki gembel yang dulu pernah mereka tindas. Dan Vino bukan lah orang yang gampang untuk di usik, apa lagi rendah kan.


Dengan sedikit mencondongkan kepalanya ke arah belakang,tamparan tersebut lewat begitu saja,dan hanya mengenai angin. Melihat tamparan mereka yang


tidak mengenai sasaran, membuat orang-orang yang berada di sekitar, terbengong. Dan seketika itu juga


orang yang akan menampar tersebut, menjadi murka,


kemudian, mengeluarkan kata-kata kotor kepada Vino.


"Wow, ternyata kau masih hidup!?" Kata salah seorang wanita yang mau menampar Vino tadi. Dan ia pun berkata:


"Dasar sampah! Cuuiiihhh.! Parasit, Kampungan!


laki-laki miskin yang tidak berguna.!


"Bagaimana kau bisa masuk ke dalam ruangan ini!?"


"Tak tahu kah kau, Bahwa tempat ini, hanyalah untuk orang-orang terhormat seperti kami.!"


"Dan kau,! Kau tidak di undang sama sekali. Tapi dengan lancang nya kau memasuki ruangan pengantin!"


"Dasar brengsek!" Sampah! Cuuiiihhh.!"


"Kau itu siapa.? Dan kenapa begitu lancang nya kau


masuk ke sini? Tanpa di undang. Apakah kau kesini hanya untuk memungut sisa-sisa dari makan para tamu undangan? Hakh,! Betul begitu!?"


"Ini adalah ruang resepsi pernikahan anakku Anggeline, Kau itu bukan siapa-siapa lagi. Keluar!"


"Kau tidak di butuhkan di sini." Teriak seorang wanita


berpakaian mewah, yang di sampingnya juga ada wanita muda, yang juga berpakaian mewah.


Mereka yang barusan ingin menampar Vino adalah Tiara Ibunya Anggeline dan beserta beberapa adik nya yang ikut campur. Sementara mantan mertua laki-laki


nya tidak kelihatan, sedang tidak berada di ruangan itu.

__ADS_1


Brayen yang punya hajat, semakin geram dan muak


dengan tingkah laku Vino, yang tidak tahu malu tersebut, padahal hari ini adalah hari bahagia nya bersama dengan istrinya Anggeline, yang sudah di nikahi dengan mahar tinggi.


Tapi kehadiran Vino telah membuat pesta pernikahan


nya menjadi kacau. Karena Vino dengan tidak tahu malu ikut masuk ke dalam ruangan tersebut, sebagai


tamu yang tidak di undang


Sebenarnya Vino bukan bermaksud untuk mengacaukan pesta itu, tapi dia hanya ingin melihat


bagaimana situasi yang akan terjadi, ketika si sombong Brayen di bawa paksa oleh petugas kepolisian untuk mempertanggung jawabkan atas perbuatannya.


Tapi begitu dia masuk ke dalam ruangan itu, perhatiannya teralihkan oleh kemegahan ruangan tersebut, walau dia tahu itu adalah miliknya.


Sebuah ruangan khusus yang telah di desain oleh pemilik hotel bintang empat, untuk melangsungkan pesta bersekala besar, dan khusus untuk orang-orang kaya saja. Ruangan itu berada di lantai tiga, mengambil tempat hampir mencapai seperempat dari ruang lantai tersebut. Ruangan yang sengaja di desain


secara khusus untuk acara pesta. Jadi tidak heran jika ruangan tersebut terlihat sangat mewah dan juga megah, entah berapa harga sewa ruangan itu.


Ketika tengah asyik menikmati kemegahan dan kemewahan ruangan itu, tiba-tiba Vino terlihat oleh Brayen, Tiara, juga Ibu Anggeline.


"Apa yang kau tunggu!? Cepat keluar sebelum aku panggil petugas keamanan untuk mengusirku dari sini." Brayen semakin marah melihat Vino malah santai-santai saja, dan seperti tidak menganggap mereka ada.


"Aku juga di undang oleh Anggeline, untuk datang di acara pernikahannya." Vino mengarang cerita, sebenarnya dia hanya mengulur ngulur waktu saja, sampai orang-orangnya datang


"Aku tidak mengundang mu, dan aku tidak mau kau datang mengotori pesta pernikahan ku ini." Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang mematahkan alasan Vino datang di acara pesta pernikahan tersebut.


"Oh oh...! Ternyata kau Anggeline, kukira siapa." Jawab Vino cuek. Sedikitpun tidak ada tersirat sisa-sisa cinta


di matanya, malah seperti menyiratkan aura kematian


begitu memandangnya.


Sudah hilang, rasa cinta, rasa sayang, dan perhatian Vino pada mantan istrinya, yang dulu selalu di perlihatkan padanya.


"Kau kira kau siapa ha!.. Kau tidak berhak berkata seperti itu. Dasar laki-laki sampah. Sebaiknya kau pergi sebelum kesabaran ku habis!" Tantang seorang pria berpenampilan parlente, yang ternyata adalah Tiara. Musuh bebuyutan nomor 3 nya


"Aku laki-laki sampah, lalu kau sendiri apa, bangkai?"


Celutuk Vino sekenanya, tidak ada rasa takut pun oleh


Prilly.


"Kurang ajar!. beraninya kau!" Teriak Prilly emosi dan


merasa terhina. Dia berniat maju untuk menampar Vino. Tapi dia teringat betapa kuatnya Vino, waktu dia mengalahkan para penjaga keluarga Robin dengan mudahnya. Seketika itu Prilly membatalkan niatnya sembari mundur beberapa langkah, diam dan tak bersuara lagi.


Dan pada saat itu, 6 Petugas keamanan hotel dan 8


orang pengawal keluarga Robin datang tergesa gesa.


Mereka datang atas adanya sebuah laporan dari salah seorang tamu undangan, bahwa telah terjadi kekacauan di ruangan pesta.


Petugas keamanan tersebut, belum pernah melihat Vino, dan tidak mengetahui siapa Vino yang sebenarnya.


Melihat petugas keamanan hotel datang, seluruh tamu yang hadir lega, pati orang yang telah membuat pesta


ini menjadi kacau dan terkendala, akan segera di paksa keluar, dan syukur syukur masih hidup setelahnya.


"Bagus sekali kalian datang. Cepat, usir parasit ini, dan seret ia keluar, bila perlu patahkan lehernya." Seru Brayen geram.

__ADS_1


Seorang petugas keamanan sekilas memandang ke arah Vino, lalu dengan pongahnya melangkah ke arahnya, sambil mengayun ayunkan tongkat penjaganya di udara. Ketika jaraknya tinggal setengah meter lagi dari Vino, tanpa ba bi bu lagi, dia mengayunkan tongkatnya ke arah kepala Vino. dan...


__ADS_2