Pewaris Tahta Yang Di Anggap Hina

Pewaris Tahta Yang Di Anggap Hina
Nasib Yang Terlunta-lunta. Episode - 32


__ADS_3

Sekarang mereka berempat, kembali berada di jalanan, berhujan hujanan, tidak ada payung, dan tidak ada tempat untuk berteduh bagi mereka. Tidak peduli dengan hujan yang turun membasahi tubuh mereka, mereka tetap saja berjalan hingga tanpa di sadari, mereka berempat telah berada di depan bangunan hotel megah nan tinggi, dan sepertinya mereka baru menyadari, bahwa bangunan itu adalah hotel yang pernah mereka datangi sebelumnya. Sementara itu, kondisi tubuh nenek Robin yang sudah renta tersebut sudah pucat, pasti menggigil kedinginan. Sungguh sangat terlalu Kevin itu, sebagai laki laki satu satunya di kelompok itu, tidak bisa mengambil keputusan tepat walau sekedar membawa ibunya untuk berteduh sementara dari hujan di tempat lain. Tapi ini terus saja berjalan membawa ibunya yang sudah kedinginan itu, hingga sampai di depan pintu gerbang bangunan yang super tinggi dan megah itu. Dengan takjub, keempat nya terus memandangi hotel tersebut, walaupun kondisi tubuh mereka basah kuyup terkena hujan yang sangat amat deras itu.


Tidak terasa, sudah hampir 10 menit mereka berdiri di sana, tanpa berani untuk masuk atau berteduh. Kebetulan hujan yang turun tadi sudah mulai redah, walau masih menyisakan gerimis kecil di sekitarnya. Nenek Robin, Kevin, Tiara, dan juga Prily merasa senang akan kondisi itu.


Namun, di tengah mereka asyik sedang berdiri di dekat pintu gerbang masuk hotel, tiba tiba lewat beberapa buah mobil mewah, yang melewati mereka berempat. Kemudian setelah sampai, salah seorang pengawal keluar menggunakan payung yang lumayan cukup besar, menuju kesebuah mobil tersebut.


Begitu pintu terbuka, keluarlah seseorang yang berpenampilan necis, berjas merek mahal, dan juga bersepatu mahal juga dengan gagahnya. Di wajahnya bertengger kaca mata hitam yang terlihat sangat mahal, yang di dampingi oleh seorang wanita cantik yang selalu setia menemani nya.


Setelah dia keluar, dari dalam mobil, sekilas dia mengedarkan pandangannya ke arah pintu gerbang, dan mendapati, ada empat orang yang sedang berdiri di sana, dengan kondisi yang sangat memperihatinkan yang tadi sempat di lihatnya.


Di wajah laki laki itu, terlihat senyum sinis, ketika menatap ke arah mereka khas orang orang kaya pada umumnya. Kemudian, dia berlalu begitu saja dan tidak menoleh sedikitpun pada mereka.


"Ibu lihat itu!" Teriak Prily terkejut dan penasaran.


"Bukankah itu Vino?" Kata ibunya menyahut, ketika mengenali orang yang mirip dengan laki laki yang pernah di hina oleh nya. Tapi, hatinya seakan akan masih menimbulkan rasa ragu.


"Ya benar. Itu memang Vino. Tapi apa yang sedang dilakukan nya di hotel sebesar ini?" Jawab Prily dengan rasa penasaran nya terhadap laki laki tersebut.


"Tidak mungkin, itu mungkin hanya kebetulan saja. Ada orang yang mirip dengan nya." Sambung Kevin menimpali percakapan mereka.


"Kalau bukan Vino, lantas siapa lagi?".


"Kenapa kalian berdiri di situ? apa kah kalian sedang mengemis di sini?" Bentak seorang satpam dengan garang nya, sambil melotot ke arah mereka.

__ADS_1


"Jangan sembarangan kalau ngomong. Tak tahu kah kau dengan nyonya Robin, orang terkaya nomor 3 di kota ini." Tangkis Kevin meradang.


"Tidak perduli siapa kalian, tapi yang jelas, cepat pergi kalian dari sini?, sebelum tuan muda murka, karena melihat gembel seperti kalian ada di hotel ini.


Satpam itu adalah orang baru, jadi dia tidak mengenali sama sekali, siapa mereka berempat. Sedangkan 7 satpam sebelumnya telah di pecat, dan sekarang sedang menikmati kesombongan mereka di dalam bui tahanan.


"Cepat pergi dari sini..!"


"Dasar gembel...!"


Bentak Satpam tersebut sambil mendorong tubuh Kevin kuat kuat. Seketika itu tubuh Kevin terjatuh tersungkur ke aspal bersamaan dengan sebuah buntalan kain yang di ikatnya itu. Dan ikatan kain tersebut hingga lepas, sehingga memperlihatkan beberapa potong pakaian mereka.


"Dasar gembel, kemana mana selalu membawa buntalan kain seperti itu. Kemas pakaian kalian dan segera angkat kaki dari sini. Sebelum tuan muda keluar dari hotel ini.


"Cepat..!"


"Bangunan apa ini?. Mungkin kita bisa berteduh di sini untuk sementara waktu." Ucap nenek Robin sedikit senang.


"Kevin,! Cepat periksa bangunan ini. Apakah ada orang atau tidak di sini. Kalau ada orang kita minta izin terlebih dahulu untuk sekedar berteduh sementara. Kalau tidak ada, kita jadikan tempat sementara." Ucap nenek Robin.


"Baik bu," Jawab Kevin lemah.


Kondisi di dalam ruangan itu cukup sangat gelap, tidak ada penerangan sama sekali, hanya mengandalkan cahaya yang masuk dari lampu jalanan yang cukup jauh, yang menembus ruangan tersebut.

__ADS_1


Setelah di periksa oleh Kevin, ternyata tidak ada siapapun yang tinggal di sana, lalu mereka semuanya masuk dan mengamati ruangan yang cukup luas itu, meski gelap gulita.


Airin, selaku adik ipar Tiara mengambil sebuah heanpone nya untuk menghidupkan sebuah cahaya senternya yang kebetulan pada saat itu ponsel milik Airin tidak terkena hujan. Karena ponsel Airin di simpan di dalam kantong plastik dan di masukkan ke dalam saku bajunya, dan kemudian ia menyalakan lampu nya. Tapi, tanpa mereka sadari ada 4 mata yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik mereka berempat. Dengan tatapan penuh nafsu, dan niat jahat, sudah 3 jam lebih dia tidak berani keluar dari ruangan itu. Saat ini dia sedang kelaparan sekali.


"Ada makanan empuk yang datang sendiri ke sini, aku benar benar beruntung hari ini."


"Hahahaha..." Kata orang itu sambil tertawa kecil.


Kemudian dengan mengendap endap, dan berhati hati dia mendekati salah seorang dari keempat nya. Setelah dekat, dia mencoba menangkap Airin dari belakang, tapi begitu dia melihat ke arah belakang, dan melihat siapa yang di tangkapnya, seketika itu orang orang tersebut sangat terkejut sekali.


"Kau.!" Teriaknya kaget dan melepaskan dekapannya lalu mundur secara cepat.


Airin yang tadi di dekap dari belakang, juga terkejut ketika melihat siapa orang yang telah mendekapnya barusan.


"Kak Brayen..! Ba ba bagaimana kakak bisa sampai di sini?" Tanya Arini shock.


Nenek Robin, Kevin, Tiara begitu mendengar Arini menyebutkan nama seseorang yang sangat mereka kenal lalu keempat nya mendekat, dan sama sama terkejut, begitu melihat wajahnya.


"Brayen.!" Ternyata kau. Bagaimana kau bisa sampai di sini? Di mana Anggeline?", apakah dia bersama mu?" nenek Robin mencecar kepada Brayen dengan pertanyaan yang bertubi tubi dengan perasaan emosi.


Nenek, mungkin saat ini Anggeline masih berada di kantor polisi. Dan aku berhasil kabur dari mereka, ketika mobil yang membawa kami berhenti mendadak karena menabrak mobil lain, pada saat itulah aku dan Anggeline mencoba untuk kabur dari mereka."


"Tapi sayang, Anggeline berhasil mereka tangkap kembali, dan sekarang aku tidak tahu di mana dia sekarang." Jawab Brayen seperti tidak bertanggung jawab.

__ADS_1


"Jadi kau biarkan begitu saja Anggeline di tangkap oleh mereka?" Tanya nenek Robin masih penuh emosi.


Namun, seketika itu Brayen hanya terdiam membisu, dia malah menatap mertua nya Prily, seperti meminta penjelasan. Kenapa mereka bisa berada di sini?"


__ADS_2