Pewaris Tahta Yang Di Anggap Hina

Pewaris Tahta Yang Di Anggap Hina
Kesempatan untuk ke dua satpam Episode - 52


__ADS_3

Mulut mereka Seketika terbuka sangat lebar, melongo sebab terkejut. Jumlah uang sebanyak itu, cuma di katakan lumayan, kalau dalam mata uang lokal mungkin masih bisa di terima oleh akal, tapi ini mata uang asing, US dolar, dan jumlahnya pun tidak tanggung-tanggung untuk ukuran saldo rekening pribadi atau milik sendiri.


Tapi mereka tidak berani untuk berkomentar apapun, mereka hanya bisa diam sambil melamun dan menautkan tangan kanan serta tangan kirinya, lalu meletakkan nya di perut persisi seperti orang yang baru habis di marahin.


"Direktur Arifin, dan manejer Alfian, saya sangat mengucapkan banyak terimakasih, atas pelayanannya. Dan kalau begitu saya hendak undur diri." Ucap Vino kalem.


"Tuan, ini kartu saya!. Kalau tuan memerlukan bantuan saya, kapanpun dan di mana pun, saya akan datang demi tuan." Ucap direktur Arifin sambil membungkuk.


"Dan ini kartu saya tuan, saya juga akan selalu siap, kapan saja, dan di mana saja. Jika tuan memerlukan bantuan kami." Sambung manejer Alfian, yang tidak mau kalah dengan direktur Arifin.


Sejenak Vino tercekat, ketika dua orang petinggi Bank Amex menyodorkan kartu identitas mereka sekaligus.


Demi untuk tidak mengecewakan kedua belah pihak, dengan berat hati, Vino mengambil kartu identitas mereka. Vino berpikir, mungkin pada suatu saat nanti, bantuan dari kedua petinggi tersebut akan di butuhkannya.


*****


Singkat cerita, Vino saat ini, telah berada di depan pintu Bank Amex tersebut, dia di antar oleh direktur Arifin dan manejer Alfian yang secara langsung. Dan dia juga yang membuka kan pintu untuk Vino.


Ketika mereka bertiga keluar dari dalam Bank, ke 2 satpam yang sedari tadi bersikap arogan terhadap Vino, langsung menundukkan kepalanya dalam dalam


Mereka tidak menyangka, bahwa orang yang sedari tadi di profokasinya, adalah nasabah penting bank, tempat di mana mereka berkerja.


Menyadari bahaya yang bisa kapan saja datang, dan muncul, mereka serentak seketika menjatuhkan diri, dan berlutut di depan Vino sambil menangis.

__ADS_1


Direktur Arifin yang telah melihat kejadian tersebut, tentu saja menjadi heran, dan benar benar tidak mengerti. Kenapa kedua orang satpam, yang terkenal akan kekejaman, dan juga ketegasannya itu, tiba tiba saja berlutut, dan menangis di depan Vino.


"T.. t.. tuan maafkan kami. Maafkan atas kebodohan kami, kami selaku petugas satpam di bank ini, benar benar menyesal. Maafkan kami ya tuan, maafkan atas sikap kami yang sangat tidak sopan terhadap tuan.


"Kesalahan apa, yang sudah kalian perbuat terhadap tuan ini?" Tanya direktur Arifin penasaran dengan kesan marah.


"Ampun tuan, kami mengaku kami salah tuan. Kami telah merendahkan tuan ini, dan kami terlalu meremehkan nasabah yang sangat paling istimewa ini." Jawab komandan satpam takut takut, sejenak mengambil nafas untuk menenangkan diri, lalu melanjutkan perkataannya.


"Awalnya kami hanya berniat menghalanginya untuk masuk ke dalam, karena penampilan nya yang tidak menggambarkan ia adalah nasabah penting." Sambung komandan satpam ragu ragu, karena telah berkata jujur dan apa adanya."


"Yang paling penting, dia tamu penting atau tidaknya, kalian harus menghormati nya dengan baik. Dan kalian tidak berhak, untuk melarang siapapun yang ingin masuk ke dalam Bank Amex ini. Dan satu lagi, selagi mereka tidak melakukan apa-apa, tidak melakukan hal hal yang aneh, maka kau tau sendiri tindakan apa yang harus di ambil." Sanggah direktur Arifin geram.


"Kami mengaku salah tuan, dan kami pantas untuk di hukum. Akan tetapi kami mohon maaf kan kami, ampuni kesalahan kami untuk yang terakhir kalinya." Ucap salah seorang satpam masih dalam posisi berlutut, kemudian teman mereka yang lain menyambung perkataannya.


Manejer Devan yang melihat kejadian itu, sedikitpun tidak tersentuh hatinya, dia malah dengan garang berkata:


"Kalian memang manusia yang nggak punya etika, percuma kalian di didik untuk menjadi satpam di sini, tapi kelakuan kalian tidak menggambarkan kalau kalian itu manusia yang beretika, dan berwibawa." Ucap manejer Devan geram.


Kedua satpam tersebut langsung terdiam, dan tidak bisa menjawab apapun. Karena mereka menyadari, bahwa mereka tadi, telah bertindak di luar batas kewajaran manusia, dan melewati kewenangan mereka sebagai anggota pengamanan bank tersebut.


Direktur Arifin tampil kedepan, dan berkata dengan sikap garangnya: "Kalian sudah tidak pantas lagi berada di bank ini, sebaiknya kalian pergi, aku tidak mau melihat kalian ada di sini lagi!" Ucapnya meradang.


"Maafkan kami direktur!... Kami berjanji tidak akan mengulangin kesalahan itu lagi." Ucap komandan satpam itu merengek, sambil menyesali atas perbuatannya.

__ADS_1


"Jika kedepannya kami melakukan perbuatan keji itu lagi, maka kami akan rela hati, untuk di hukum. Apa pun itu hukumannya. Jadi saya mohon tuan, maafkan kami, maafkan kami tuan direktur dan manejer yang terhormat." Pinta mereka kepada direktur Arifin,dan juga manejer Alfian. Terutama kepada Vino.


Direktur Arifin mengarahkan pandangannya ke arah Vino, menunggu keputusan apa yang akan di ambilnya.


Vino yang di tatap pun paham, dan kemudian ia berkata:


"Kali ini, aku akan memberikan kalian kesempatan kepada kalian berdua, untuk tetap berkerja di bank ini, tapi ingat satu hal, jika saya mendapatkan sebuah laporan dan laporan itu buruk. Dan laporan itu tentang keburukan kalian, maka aku tak akan segan segan untuk melenyapkan kalian dari bank ini.!" Ancam Vino dengan aura yang menakutkan.


"Terima kasih tuan, kami berjanji, tidak akan mengulangin perbuatan tak terpuji seperti itu lagi." Jawab mereka serentak, sambil kembali menempelkan keningnya di lantai.


Direktur Arifin dan manejer Devan. Aku sudah memaafkan kesalahan mereka, tapi sesuai dengan janji ku tadi, apa bila mereka suatu saat nanti ketahuan mengulangi perbuatannya, maka aku tak akan segan segan untuk melenyapkan mereka berdua. Termasuk kalian berdua juga.!" Ucap Vino dengan suara sedikit keras, kemudian kembali berkata:


"Percayalah, tidak sulit bagiku untuk menukar atau mengganti pimpinan di bank ini kapan saja!." Ucap Vino dingin.


"Baiklah kalau begitu tuan. Kedepannya kami akan mencoba mendidik mereka, agar lebih bersikap sopan, dan beretika terhadap para nasabah." Jawab direktur Arifin gemetaran.


Dia bersikap demikian, karena mereka menyadari posisinya saat ini. Jabatan nya bisa kapan saja di copot, kalau nasabah yang sangat istimewa dan penting seperti Vino, mengadukan klaim atas ketidak puasannya terhadap layanan bank tersebut.


Maka ketika Vino mengucapkan ancaman itu, mereka cukup mengerti dan akan berusaha melakukan yang terbaik untuk melayani tuan Vino.


Setelah beberapa saat terdiam, Vino pun berkata:


"Kalau sudah tidak ada masalah lagi, aku ijin pamit undur diri." Kata Vino sambil melangkah, menuju ke dalam mobilnya. Yang kebetulan dia parkir tidak di halaman bank, tetapi ia parkir di tempat biasa yang berada di lokasi pinggir jalan. Tanpa menunggu jawaban dari Devan dan Arifin ia pun beranjak pergi meninggalkan mereka.

__ADS_1


__ADS_2