
"Buk.!"
"Plak..!"
"Bufs...!"
"Ahhh...!"
Sosok tubuh terhempas keluar dan seketika mundur ke belakang, sembari memegang dadanya, mulutnya
terlihat jelas telah mengeluarkan darah segar yang cukup banyak, akibat terkena pukulan dari seseorang
yang tenaganya sangat cukup kuat.
Melihat salah satu anggotanya terluka, akibat terkena pukulan di bagian tenggorokan juga perutnya, seketika salah satu temannya menjadi murka. Lalu salah seorang dari mereka berkata dengan nada yang tidak
beretika kepada Vino.
"Kurang ajar !, berani nya kau melukai keamanan anggota hotel di sini. Kau tahu, kau sedang berada di mana!?" Ha!?"
"Aku tidak perduli dengan siapa dan mau di mana aku saat ini. Yang aku tahu, barang siapa yang mencoba coba melukai ku. Akan tahu sendiri resiko nya seperti apa." Jawab Vino sangat kesal.
"Brengsek kau Vino!" Ujar Brayen mulai emosi.
"Tak akan aku biarkan tangan tangan kotor kalian menodai kepalaku yang terfitrain ini." Sahut Vino bernada lantang.
"Dasar keparat...!"
"Kau tidak ada berhak untuk membela ataupun beralasan apapun. Yang pada intinya, kau telah membuat kekacauan di sini. Maka sebagai penjaga keamanan hotel, kami bertanggung jawab dalam hal ini.!" Agar selalu tenang, aman dari gangguan orang orang seperti anda.!" Mengerti.!"
"Sekarang menyerah lah dan segera kau berlutut, kau akan kami periksa. Kalau kau beruntung, kami akan
mu." Ujarnya dengan gaya arogan, sambil menunjuk kan tongkatnya ke arah Vino.
"Hemmm, menarik, benar benar menarik. Seorang satpam yang tidak tahu dengan siapa ia berbicara saat ini. Dengan berani nya dia menggertak dan mengatur ku. Bahkan menyuruhku untuk berlutut."
"Kau pikir kau mampu untuk memprovokasi!?" Vino benar benar muak dengan kesombongan petugas keamanan hotel tersebut..
"Diam kau!." Sebaiknya kau jangan memberontak, ketika aku dan teman teman ku menangkap mu nanti."
Gertak satpam itu penuh percaya diri.
"Begini saja, kau kalah kan aku dulu. Jika kau bisa mengalah kan ku, maka aku akan rela untuk di periksa
oleh kalian." Jawab Vino enteng.
"Kepung dia!. Jangan biarkan dia lolos. Dan kalian berlima bantu aku untuk segera meringkus tikus ini!"
Ujar salah seorang satpam dengan sikap sombong nya itu.
Namun, ke lima orang pengawal dari keluarga Robin tidak berani maju selangkah pun. Karena mereka pernah di taklukkan oleh Vino beberapa hari lalu. Mereka trauma, jika harus melawan Vino lagi.
__ADS_1
Sakit dan luka yang mereka terima tempo hari lalu saja
belum hilang sepenuhnya, apakah harus di tambah lagi, dengan luka baru lagi hari ini.? Gumam mereka dari dalam hati.
"Tuan Brayen!. Maaf, aku mengundurkan diri dari tugas ini. Dan untuk nona Anggeline serta Tuan muda Brayen
aku mohon maaf. Karena aku tidak lagi bisa melindungi kalian."
"Mulai hari ini, aku berhenti menjadi pengawal dari keluarga Robin. Dan seterusnya aku tidak lagi bertanggung jawab atas keselamatan kalian.
"Aku juga mengundurkan diri Tuan!"
"Aku juga!"
Seorang pengawal masih belum mengutarakan keinginannya, apakah juga akan mengundurkan diri,
atau tetap bersikukuh berkerja pada keluarga Robin.
Tiga orang pengawal sudah itu, sudah mulai meninggalkan ruangan itu. Dengan tatapan kebencian dari mata Brayen dan juga lainnya.
Dan tiba-tiba terdengar suara yang sama di ruangan itu, seorang pengawal yang masih tersisa, juga mengundurkan diri. Dan berhenti dari perkerjaan sebagai pengawal keluarga Robin.
Sekarang lengkap, 7 Orang pengawal yang sudah cukup lama berkerja di keluarga Robin, hari ini mereka memutuskan untuk berhenti. Di saat kehadiran mereka
benar benar di butuhkan oleh yang punya hajat hotel itu. Ke empat pengawal itu justru lebih memilih untuk
berhenti dari pekerjaannya. Dari pada harus berhadapan dengan Vino, yang kekuatannya sudah mereka rasakan beberapa hari lalu.
"Berhenti...! Kalian tidak bisa seenaknya mengatakan mundur di saat seperti ini. Dasar manusia pecundang!"
Seorang yang menjadi komandan pengawal tersebut
tiba tiba menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah Prily. Dengan tatapan yang begitu sangat tajam. Prily yang di tatap tiba tiba melangkah mundur ketakutan.
Biasanya pengawal pengawal itu selalu bersikap hormat dan tunduk pada Prily, tapi kali ini sikapnya mereka sangat berlawanan sekali.
"Aku bisa saja membunuhmu saat ini, tapi karena kau pernah menjadi majikan ku, untuk kali ini aku memaafkan mu. Tapi lain kali aku tidak bisa menjamin
apa kah aku akan bersikap baik atau kasar padamu."
Kata komandan pengawal itu mengancam.
Prily tidak bodoh, sewaktu ia melihat dengan mata kepala nya sendiri, ia melihat Vino saat itu berada di ruangan pesta tersebut, dan dia bergegas untuk menghubungi seseorang yang cukup di takuti di kota "A" Untuk segera datang ke Vino Hotel.
Prily ingin menjalankan sebuah pesan dari nenek nya,
untuk mencelakai Vino, menantu yang kurang ajar itu.
Tapi, karena berhubung jalanan ramai, dan berbagai macam kendaraan, menyebabkan mereka terlambat,
hingga saat ini, mereka belum juga datang.
__ADS_1
•••••
"Keributan apa ini? Kenapa acara pesta belum juga di mulai?" Kata seorang yang baru saja datang, dan sedang berdiri di dekat pintu masuk, di dampingi oleh
salah seorang pria paruh baya yang ternyata adalah
Abram, selaku ayah kandung Anggeline.
"Nenek...!" Syukurlah nenek datang tepat waktu.
Lihatlah Vino si bajingan itu, dia telah berani mengacau di pesta ini."
Prily terus saja mengadukan hal hal yang mengganjal dihatinya, berharap nenek akan mengambil tindakan,
berhenti sejenak, kemudian melanjutkan perkataannya
"Tujuh orang pengawal itu, telah dengan beraninya menyatakan berhenti dari pekerjaannya sebagai seorang pengawal di keluarga kita."
Nenek Robin sekilas menatap ke arah Vino, kemudian
beralih ke arah 7 Orang pengawal keluarganya. Matanya melotot, menandakan sebuah kemarahan yang tidak terbendung lagi atas perbuatan mereka.
"Dasar manusia miskin. Manusia yang tidak tahu membalas budi. Inikah janji kesetiaan yang telah kalian ikrarkan kepada suami ku, beberapa tahun silam!" Teriak nenek Robin keras, hingga membuat 7 Orang pengawal itu tersenyum kecut. Lalu salah seorang di antara mereka berkata:
"Janjiku hanya pada tuan Abram, dan tuan Robin. Bukan pada seluruh keluarga, karena tuan yang baik hati itu telah tiada, maka kami tidak mempunyai kewajiban apa apa lagi pada kalian."
"Berani nya kau bicara seperti itu kepada nenek!"
"Dasar kampungan, dan tak tahu membalas budi!''
Teriak Prily sudah mulai berani melontarkan kata-kata
pahitnya terhadap 7 Pengawal itu, karena kehadiran neneknya akan menjadi tumpuan baginya.
Geram dengan ucapan yang sangat merendahkan itu,
komandan pengaman tersebut berniat ingin memukul
Prily dan membuatnya cacat.
Nenek Robin berusaha mencegahnya, tapi tidak di perduli kan oleh pengawal tersebut, dia tetap maju mendekati Prily dengan tangan terkepal erat.
Setelah dekat, ia mengayunkan tangannya ke arah Prily, tapi tiba-tiba terdengar teriakan yang membahana di pintu masuk ruangan itu.
"Berhenti..!"
Seketika semua orang tercekat, terkecuali Vino. Buru buru mereka mengalihkan perhatiannya ke arang orang yang baru saja berteriak tadi.
Terlihat puluhan orang berjalan dengan gagahnya menuju ke arah mereka. Yang di pimpin oleh laki laki
yang bertubuh tinggi dan tegap, serta berwajah sangar
__ADS_1
Dengan wajahnya yang sangat sangar itu, membuat suasana sesaat hening. Ada rasa takut yang menghampiri jiwa mereka masing-masing. Rombongan orang orang yang baru datang itu, berhenti tepat di depan komandan pengawal yang sedang mengangkat tangannya di udara.
Tangan pengawal yang tengah berada di udara itu mendadak berhenti. Lalu dia menoleh ke arah orang yang baru datang tersebut, dan dia mengenali siapa orang yang baru datang itu.