Pewaris Tahta Yang Di Anggap Hina

Pewaris Tahta Yang Di Anggap Hina
Perdebatan dan kebebasan Anggeline Episode 37


__ADS_3

Tak lama sesudah itu, dia berkata yang di tujukan kepada mereka berempat:


"Apa kalian fikir, ada orang yang mau memberikan tempat tinggal di luaran sana? Ha!" Mikir...!" Nggak akan ada orang yang mau memberikan tempat tinggal. Jangankan tempat untuk tinggal, untuk kita menumpang berteduh saja, kita di usir bagaikan tikus sampah tau!?"


"Jadi, singkirkan ketakutan kalian itu. Aku jamin, tempat ini tidak seram dan tidak seburuk yang kalian fikirkan." Ucapnya sambil rebahan, dengan bersandar kan dinding bangunan itu.


Nenek Robin juga yang lainnya tidak ada jalan lain lagi, selain mengikuti anjuran Brayen. Mereka duduk dengan bersandar kan dinding, dan sesekali melirik tumpukan peti mati yang ada di hadapan mereka.


•••••


Singkat Cerita...


Rumah sakit Vita Harapan, berlangsung nya sebuah pesta. Verdi yang saat itu sudah babak belur akibat di hajar oleh Vian, telah di larikan ke rumah sakit, dan di tempat kan di ruang UGD, untuk mendapatkan pertolongan darurat. Seluruh tubuhnya penuh dengan luka lebam yang berada di mana mana, akibat terkena tamparan, pukulan dan tendangan dari Vian, hingga membuat nya tidak sadarkan diri


Di hari ke 5, kesadarannya telah pulih, setelah di nyatakan sudah melewati masa krisisnya, kata dokter yang merawat nya saat itu. Malam ini, di hari ke 5 malam ke 6 terlihat sebuah jarum jam menunjukkan Pukul :20:50 Wib. Verdy telah di pindahkan ke ruang rawat inap kelas melati, dia tidak bisa tidur, pikirannya terus menerawang ke hari di mana dia di hajar oleh Vian dengan brutalnya.


Dia mempersoalkan deretan peristiwa yang telah di alami nya, dan pada akhirnya bermuara pada sosok diri Vino yang sangat di bencinya. Ingin rasanya dia mencabik cabik tubuh Vino, hingga menjadi beberapa potongan potongan kecil, lalu di berikanya pada anjing jalanan. Ia mengira Vino adalah orang yang selama ini penyebab dari kacaunya pesta kakak sepupunya Anggeline, dan penyebab kenapa dia saat ini berada di rumah sakit.


"Awas kau Vino! Setelah aku sembuh, aku akan mencari mu, dan membuat perhitungan dengan mu!" Tunggu saja waktu nya!". Ucap Verdy dalam hati geram, sambil mengekspresikan kemarahannya, dengan mencengkram kuat besi pembatas temapt tidurnya.


Andai saja saat itu, ada orang yang mendengar perkataan dalam hatinya, mungkin orang tersebut akan berkata juga:


"Verdy, Verdy...! Kau pikir, kau siapa saat ini.?" Tak tahu kah kau, bahwa Vino bukanlah orang yang bisa kau singgung seenaknya lagi. Jika kau ingin membuat perhitungan dengan nya, maka kau sendiri yang akan mengantarkan nyawa mu kepadanya."

__ADS_1


"Lagi pula, kau sekarang bukan lah siapa siapa, kau sekarang sudah menjadi gembel, karena semua harta benda nenekmu telah di sita oleh perusahaan Kizawa Prataxsa Group. Dan pihak Bank."


"Dasar, orang bodoh!, tidak tahu di untung.! Sok paling berkuasa dari segala kuasa.!"


Begitulah mungkin kalimat kalimat yang akan di lontarkan oleh orang orang tersebut, sebagai mana menggambarkan tentang kejengkelan nya, akibat mendengar perkataan Verdy, yang tidak tahu diri itu.


******


Hari di mana Brayen dan Anggeline di tahan


Pesta pernikahan yang di gadang gadang, akan menjadi sebuah acara pesta yang meriah dan penuh kejutan, telah menjadi kacau, dan berubah menjadi ajang pembantaian oleh orang orang kepercayaan Vino.


Nenek Robin juga yang lain, di usir secara kejam dari ruangan pesta tersebut, sedangkan Verdy saat itu, tidak ketahui akan nasibnya seperti apa.


Brayen dan Anggeline, telah di tuduh. Karena mereka telah berhasil menggelapkan uang perusahaan, dan mereka berdua langsung di ringkus, dan di bawa ke kantor polisi, untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka.


Di saat itulah Brayen dan Anggeline mencoba kabur dari kejadian itu. Tanpa menghiraukan keberadaan Anggeline, yang masih berada di dalam mobil tahanan itu.


Apalah daya selaku wanita lemah, seperti Anggeline, dia tidak mampu berlari cepat, seperti suaminya, maka dengan perasaan sedih, dia hanya pasrah, ketika di tinggal oleh Brayen begitu saja.


Sementara bagi Brayen, begitu ia berhasil melarikan diri dari dalam mobil tahanan itu, sedikitpun dia tidak menoleh ke belakang. Untuk sekedar melihat keadaan istrinya. Dia terus berlari dan berlari, dan entah sampai kapan itu akan berakhir.


Begitu menyadari hal itu, Anggeline menjadi begitu sedih, dia tidak menyangka, bahwa suami baru nya itu, begitu teganya dan mencampakkan dirinya sendirian. Seketika itu, Anggeline merasa marah!, ia pun berkata:

__ADS_1


"Dasar laki laki yang tidak punya moral, tidak punya rasa tanggung jawab pada istrinya sendiri!, biadab..!"


"Dasar Laki laki yang hanya mementingkan dirinya sendiri.!" Awas saja kau Brayen!" Ungkap Anggun emosi dari dalam hatinya.


"Setelah 1 Minggu Anggeline di beri penangguhan penahanan oleh pihak kepolisian. Dengan jaminan, bahwa dia tidak akan melarikan diri, dan tidak berusaha menghilangkan bukti. Dan malam ini nasib nya benar benar terlunta lunta di jalanan. Tidak tahu arah, dan tujuan untuk ia melangkah. Hidup, yang terlunta lunta di kota, tanpa seorang pun yang perduli akan nasibnya di luaran sana. Berkali kali ia mencoba menghubungi kerabat dekatnya, namun tidak ada yang menggubris kabar tentang keberadaannya. Sungguh nasib yang begitu na'as bagi seorang Anggeline.


Malam semakin gelap gulita, cahaya sinar lampu jalanan yang menyinari langkahan kaki kecil seorang wanita, berjalan tersoyo soyo, dengan wajah yang sudah mulai pucat.


Pada saat itu, Anggeline tiba tiba terjatuh, dan secara perlahan ia bersandar di sebuah tiang lampu jalanan.


Ia mencengkram perutnya kuat kuat, menandakan ia sedang merasakan kelaparan. Sebab selama ia di penjara ia tidak nafsu makan.


"Aduuhhh perutku..."


"Perut ku lapar sekali, bagaimana aku mendapat kan makanan?, sedangkan saat ini, aku tidak punya uang sama sekali. Benar benar sial!" Umpatnya lirih, sambil menahan nyeri di bagian lambung. Sesaat kemudian ia memperlihatkan jari manisnya, dan tanpa di duga nya, Cincin kawin yang di berikan oleh Brayen, sudah tidak ada lagi di sana.


"Sejak kapan cincin kawin itu, tidak ada lagi di jari manis ku?". Apakah petugas itu, atau orang orang yang ada di dalam pesta yang telah mengambil nya?". Kata Anggeline dalam hati, sambil menggerutu kesal.


"Uuuhhkh, sial. Sudah malam malam begini, malah pakek acara lapar segala' lagi." Gerutunya lirih, kemudian dia duduk di bangku panjang dekat taman kota. Seketika wajahnya menengadah ke langit, dan tangannya di letakkan di atas kepala, sambil mengacak acak rambut tanda kesal, hingga membuat rambutnya berantakan.


Tanpa dia sadari, ada beberapa orang yang sedang berdiri di dekat nya. Mereka terdiri dari 4 orang pria. Berusia yang cukup tua, dan 5 orang wanita dewasa, yang berbeda usia. Sepertinya mereka adalah sebuah keluarga kecil, dengan 2 istri, 2 laki laki 2 di antara pria tersebut adalah orang tua mereka, dan 3 orang dewasa di antara nya adalah anak anak mereka.


Tanpa mengucap sepatah kata pun. Salah seorang wanita dari mereka mengulurkan tangan dan memberikan sebuah makanan, dan beberapa uang kepada Anggeline. Mereka mengira Anggeline adalah seorang gadis peminta minta, alias pengemis.

__ADS_1


"Apa maksudmu ini?"


"Kenapa kamu memberikan makanan kepada ku, dan uang ini juga. Apa maksutnya ini?" Ingat ya saya bukan pengemis!". Teriak Anggeline marah.


__ADS_2