Pewaris Tahta Yang Di Anggap Hina

Pewaris Tahta Yang Di Anggap Hina
Mengungkap sang pemilik kartu Eksklusif Episode- 51


__ADS_3

Tok... tok.. tok..!


"Iya, silahkan masuk.!" Pinta suara seseorang dari ruangan mewah di bank tersebut, yang ternyata adalah direktur Bank Amex yakni Arifin Ronaldo. Orang yang mengetuk pintu ruangan direktur, setelah mendapat izin, segera membuka pintu, dan masuk ke dalam, dan langsung menyapa dengan sikap yang hormat.


"Selamat pagi tuan.." Sambutnya dengan sikap yang amat sangat ramah. Sambil menundukkan kepalanya ke arah direktur Arifin, yang sedang duduk di kursi di samping meja kerjanya.


Direktur Arifin spontan menghentikan pekerjaannya, kemudian mengangkat kepalanya, ke arah orang yang baru datang tersebut.


Keningnya sedikit berkerut ketika melihat seseorang yang datang tersebut, mereka terdiri dari 2 orang yang salah satu di antara mereka ada yang di kenali.


Untuk menjawab keinginan tahuan, dan keheranannya, maka direktur Arifin segera berkata: "Ohh, manejer Alfian Ada keperluan apa ni datang kemari, apa hanya sekedar jalan jalan, atau sengaja ingin bertemu dengan saya. Dan siapa orang yang sedang bersama mu itu.?" Tanya direktur Arifin keheranan, sambil mengamati penampilan Vino dari atas hingga ke bawah.


"Ini tuan. Saya membawa tamu istimewa ke bank kita, dan urusannya adalah beliau yang awalnya datang kemari berkeinginan untuk mengecek saldo beliau, akan tetapi ketika beliau hendak ingin masuk ke sini, beliau di hadang oleh salah satpam yang kebetulan sedang bertugas. Tapi bapak tenang saja, masalah itu sudah teratasi dengan baik." Jawab manejer Alfian, dengan menjelaskan secara terperinci dan sikap bijaksana nya. Kemudian ia kembali menunduk kan kepalanya ke arah direktur Arifin.


Direktur Arifin sesaat kembali mengamati penampilan Vino mulai dari atas hingga sampai bawah. Sedikitpun ia tidak melihat kelebihan yang ada pada diri Vino.


Penampilan nya memang cukup rapih, bersih, dan cool. Tapi, belum cukup untuk menggambarkan, bahwa ia adalah seorang tamu yang amat sepesial di bank tersebut. Akan tetapi demi menghargai serta menghormati manejer Alfian, yang sudah dengan amat susah payah membawa orang yang di katakan tamu penting tersebut, maka direktur Arifin bersikap profesional di hadapan mereka berdua, kemudian bertanya.


"Ada perihal penting apakah, sampai sampai manejer Alfian membawa orang ini ke hadapan ku, untuk menyelesaikan urusannya?". Tanya direktur Arifin, dengan sikap dingin, dan terkesan merendahkan.


"Urusan ini tuan." Jawab manejer Alfian, sambil menyodorkan sebuah kartu petak tipis berwarna kuning emas yang amat sangat mengkilap kepada direktur Arifin


"I.. i, ini kartu ekslusif bank amex, bagaimana bisa kartu ini ada di tanganmu manejer?" Tanya direktur Arifin keheranan dan gugup

__ADS_1


"Kartu itu milik orang ini tuan." Jawab manejer Alfian sedikit tak enak hati kepada Vino.


Direktur Arifin kembali mengamati Vino, keningnya pun seketika berkerut semakin dalam, antara rasa percaya atau tidak. Pikiran nya berkecamuk, apakah harus mempercayai kenyataan, bahwa kartu ini milik Vino, atau bukan.


Baginya untuk memiliki kartu itu, setidaknya nasabah harus mempunyai setoran awal, 20 atau sampai 110 miliar mata uang setempat, dan belanja minimal 2 miliar pertahun.


Tidak mau kehilangan momen yang berharga, direktur Arifin buru buru bertanya kepada Vino dengan sikap nya yang seprofesional mungkin.


"Apakah kartu ini milik tuan?" Tanya direktur Arifin sudah mulai bersikap sopan dan terhormat kepada Vino.


"Benar, kartu ini adalah milikku sendiri, sudah hampir 2 tahun lebih bersama ku. Dan tidak pernah aku gunakan, apa lagi untuk mengecek jumlah saldonya." Jawab Vino penuh percaya diri, kemudian melanjutkan berkata.


"Kalau boleh tau, apakah aku bisa mengaktifkan kartu tersebut, dan melihat isi saldo di rekening nya? Tanya Vino dengan sikap kalemnya.


"Tentu tuan. Pertama saya akan mengecek identitas kartu, dan ini maaf, bukan berarti saya tidak mempercayai tuan, tapi saya hanya menjalankan prosedur saja."


Setelah selesai menjelaskan prosedur, untuk mengaktifkan kartu ekslusif tersebut, direktur Arifin segera memerintahkan kepada manajer Alfian, untuk segera mengambil mesin pembaca kartu di dalam brankas miliknya.


Tak lama kemudian, mesin pembaca kartu tersebut datang, dan di letakkan di atas mejanya, saat itu juga, dia memasukkan kartu emas Vino, ke dalam mesin pembaca kartu tersebut. Dan butuh waktu beberapa detik saja terdengar suara nyaring yang keluar dari mesin pembaca kartu itu. "Kliingg..." Pertanda kartu emas itu berhasil terbaca oleh si mesin pembaca kartu tersebut.


Mesin pembaca kartu itu mengeluarkan indikator berwarna biru, pertanda meminta verivikasi dari bank tersebut pula. Direktur Arifin segera memferivikasi kartu emas milik Vino, dan kemudian menyodorkan mesin pembaca kartu tersebut kepada Vino. Untuk memasukkan password atau kata sandinya.


Vino segera mengaktifkan kata sandi, setelah selesai, mesin pembaca kartu menunjukkan indikator lagi, pertanda meminta verifikasi akhir dari direktur Bank Amex.

__ADS_1


Setelah direktur Arifin memasukkan kode bank, dan memferivikasi akun bank pemilik kartu berwarna emas tersebut, di layar leptop direktur Arifin terpampang angka yang sangat fantastis sekali.


"I... i.. ini sangat luar biasa sekali!" Ucap nya gugup, sambil berdiri dari kursinya, dan berjalan menuju ke arah Vino.


"T.. t. tuan maafkan kami yang ceroboh ini, karena tidak menyambut kedatangan tuan dengan semestinya." Ucapnya sambil sedikit membungkuk kan tubuhnya ke arah Vino.


"Bangunlah direktur.! Kamu tidak perlu seperti itu." Kata Vino tidak enak hati, kemudian melanjutkan berkata.


"Apakah kartu emas ku itu masih berfungsi dan aktif.?" Tanya Vino sekedar memastikan.


"Masih tuan, bahkan sudah aktif sejak lama. Bank Amex cabang ini, hanya memferivikasi ulang akun bank tuan." Jawab Arifin sesopan mungkin


"Bisakah anda sebutkan total jumlah keseluruhan saldonya?"


Pinta Vino kepada direktur Arifin.


Bisa tuan, dan bahkan itu wajib, karena tuan harus mengetahui, berapa saldo yang ada di rekening tuan sekarang ini." Jawab Arifin dengan nada terburu buru, kemudian berjalan ke arah kursinya, untuk mengambil laptop yang ada di meja kerjanya.


Manejer Alfian yang sejak dari tadi hanya terdiam saja, sempat melihat jumlah saldo yang ada di rekening tabungan Vino. Setelah itu, mulut nya menjadi kaku dan lututnya gemetar.


Dia tidak percaya, seseorang yang berpenampilan sederhana, walaupun rapih tersebut, adalah sang pemilik saldo yang teramat sangat banyak itu. Apa yang di lihat nya dalam laptop tersebut sudah tidak wajar lagi, dan bukan dalam bentuk mata uang setempat pula, tapi dalam bentuk mata uang USD(Dollar), yang jumlahnya sangat banyak sekali.


Apa yang di lihat oleh direktur Arifin dan manejer Alfian sama, yaitu jumlah saldo tabungan Vino yang tertera sebesar 140 miliar US dolar, suatu jumlah yang sangat fantastis sekali.

__ADS_1


"Mari tuan, inilah jumlah saldo tuan yang ada saat ini." Ucap direktur Arifin terkesan hati hati.


"Hem, lumayan cukup banyak." Ujar Vino lirih, tapi ucapan nya sempat di dengar oleh direktur Arifin manejer Alfian, juga beserta manejer lainnya.


__ADS_2