
"Cepat jawab pertanyaan ku! kenapa kau biarkan Anggeline di tangkap lagi." Cecar nenek Robin emosi.
Karena Brayen tidak kunjung menjawab pertanyaan barusan.
Brayen tercekat diam, ketika mendengar nenek Robin sudah semakin meninggi ketika berbicara padanya. Lalu buru buru dia berkata:
"Aku sudah mencoba menghalangi usaha mereka untuk menangkap kembali Anggeline, tapi kekuatan ku kalah jauh dengan kekuatan mereka nek."
Brayen berhenti sejenak untuk mengambil nafas kemudian melanjutkan berkata:
"Mereka bersenjata kan lengkap, sedangkan aku, hanya bertangan kosong, yang benar saja nek? maka dari hal itulah aku berusaha untuk kabur dari kejaran mereka. Dengan sebisa mungkin aku berlari dan terus berlari. Walaupun mendapat tembakan peringatan, aku terus saja berlari menghindari kejaran mereka. Untung pada saat itu sedang turun hujan, jadi sedikit banyak nya akan mempersulit kan mereka dalam menangkap ku."
Brayen kembali terdiam saat ingin mengambil nafas nya yang sudah mulai sesak, hingga membuat kesabaran nenek Robin habis.
Dengan tongkatnya dia mencoba untuk memukul Brayen, tapi cegah oleh Kevin. Brayen yang melihat kemarahan nenek Robin terhadap nya, buru buru ia melanjutkan perkataannya
"Setelah hampir 3 jam aku di kejar kejar oleh para petugas itu, akhirnya aku berhasil lepas dari pengejaran mereka, kemudian aku bersembunyi di bangunan kosong ini, sampai kalian menemukan ku di sini."
Nenek Robin juga yang lain terpaku diam, sambil mencerna penjelasan dari Brayen yang sedikit masuk akal itu. Kemudian dia berkata:
"Sungguh sial nasibku pertama penyebabnya adalah si menantu tidak berguna itu, harta benda ku seluruh nya habis tidak ada yang tersisa. Semua aset aset ku dan rumah yang telah di beli oleh Almarhum Ayah mu kini juga telah di sita oleh pihak jasa Bank. Dan sekarang kita berada di tempat kotor yang bau busuk ini.!"
"Ini semua gara-gara Vino, menantu brengsek itu!" Teriak nenek Robin yang benar-benar emosi, sehingga membuat napas nya tersengal sengal.
"Jaga kesehatan mu Buu... Kendalikan amarah ibu untuk saat ini." Ucap Kevin untuk mencoba menenangkan Ibunya.
__ADS_1
"Bagaimana ibu ingin mengendalikan emosi dan rasa sabar nya, kalau semua yang telah ibu miliki, telah direnggut secara paksa oleh orang orang yang amat keji itu."
"Aku harus balas dendam pada mereka suatu hari nanti." Ucap nenek Robin yang sudah tidak bisa mengendalikan emosi nya lagi.
Brayen yang mendengar umpatan dari nenek Robin tersebut menjadi mengerti tanpa bertanya pun, dia sudah mengetahui penyebab mereka berempat yang berada di dalam bangunan kosong itu.
Tapi, untuk lebih memperjelas keingintahuan nya itu, dia memberanikan diri bertanya kepada nenek Robin dengan berkata:
"Jadi maksud Nenek, semua kekayaan yang dimiliki oleh keluarga Anggeline telah di ambil oleh Vino, begitu?"
"Nenek juga tidak tahu, siapa sebenarnya dalang dari semua ini. Nenek juga sempat berpikiran, bahwa apa yang telah di katakan oleh Vino ketika di usir dari rumah nenek dulu, benar benar di rasakan nya saat ini."
"Tapi nenek rasa itu tidak mungkin, Vino bukan lah siapa siapa, walaupun dia berkata seperti itu, sangat tidak mungkin dia mampu melakukan nya hanya waktu dalam 4 jam. Memang nya siapa dia?" Ujarnya masih tidak percaya pada Vino.
Prily yang mendengar ucapan dari ibunya itu, jadi kepikiran pula tentang Vino, lalu berkata:
"Bisa jadi juga itu memang dia. Selama ini, dia menyembunyikan status nya dari keluarga kita, mungkin Vino sebenarnya adalah keturunan dari keluarga kaya di kota Y ini."
Nenek Robin tercekat ketika mendengar perkataan dari mulut putri nya itu, di hati dan di benak nya pun dia berfikiran sama seperti Prily. Tapi di hati kecilnya tetap saja menyangkal akan keberadaan Vino. Hati nya sudah seperti membatu akan kebenaran yang sesungguhnya.
Arini juga tidak tahan untuk berbicara dalam perdebatan itu, kemudian dia membuka suara dengan berkata:
"Aku sudah sangat yakin, orang yang kita lihat di depan hotel besar itu, itu adalah Vino. Aku mengenali bentuk tubuhnya, dan cara jalannya."
"Walau penampilan nya sudah berubah, dan wajah nya di tutupi dengan kacamata, tapi aku benar-benar sangat yakin itu memang Vino." Ucapnya sangat percaya diri.
__ADS_1
Nenek Robin sudah mulai goyah akan pendirian nya setelah mendengar perkataan dari Arini barusan, lalu dia menimpali perkataan Arini cucunya.
"Kalau benar, itu memang Vino, lalu dari mana dia mendapatkan semua kekayaan dan kekuasaan itu?" Apakah dia selama ini, dia telah menyembunyikan status nya dari kita?" Ucapnya masih mengandung keraguan yang sangat dalam pada Vino.
Arini tidak mampu menjawab pertanyaan dari nenek nya di benaknya bergelayut fikiran seperti itu. Kalau benar yang di lihat nya adalah Vino, lalu dari mana dia bisa mendapatkan kekayaan itu dalam sekejap.?" Pikirnya demikian.
Lagi pula dia tahu siapa sebenarnya Vino. Ketika Vino di temukan oleh kakek nya yang pada waktu itu Kondisi Vino sangat memprihatinkan. Hari itu ia di temukan oleh kakek saat dia tengah mengapung di sungai tidak tau apa sebab nya ia sampai berada di sana.
Jadi, kaku yang di lihatnya itu adalah memang benar benar Vino, tapi ada orang yang kebetulan yang mirip dengan dia, lalu siapa orang yang mereka lihat di depan hotel itu?"
Brayen yang mendengar perdebatan mereka, akhirnya ingin tahu juga tentang apa yang sedang mereka bicarakan.
"Apa yang sebenarnya kalian bicarakan dan kalian sembunyikan dari ku?, dan ada apa dengan Vino sebenarnya?". Tanya Brayen penasaran.
Mereka berempat semuanya diam setelah mendengar
pertanyaan dari Brayen tersebut, tanpa berusaha untuk menjawab pertanyaannya. Sampai membuat Brayen tidak sabar, lalu mengajukan pertanyaan lagi.
Tolong katakan, apa yang sebenarnya terjadi?, dan ada apa dengan Vino?," Tanya Brayen masih tetap ngotot, untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan nya, tapi tiba tiba, terdengar sebuah suara aneh.
Kruukk.. kruukk...
Suara perut yang berasal dari salah seorang ke empatnya yang menandakan dia antara mereka sedang merasakan kelaparan. Suara itu berasal dari perut Brayen, yang suda satu harian ini, belum mengkonsumsi makanan sedikitpun.
"Ada apa dengan mu Brayen?" Tanya nenek Robin geli. Walaupun dia sendiri sedang menahan lapar juga. Sudah satu harian ini, belum kemasukan makanan sedikitpun.
__ADS_1
"Sudah seharian ini, sejak berhasil lolos dari kejaran aparat kepolisian, perut ku belum kemasukan makanan sedikitpun, jangankan makanan, air saja aku tidak punya." Jawab Brayen enteng dan juga malu malu