
Brengsek dasar bajingan kalian semua, kalian benar benar iblis, persetan kalian semua tak punya prikemanusiaan!" Teriak Tiara dan Prily emosi ketika memaki mereka. Teriakannya itu tentu di dukung oleh nenek Robin, juga menantu putra nya, tapi hanya dalam hati.
Sedangkan Tiara masih merengek dan menangis sesenggukan, akibat di perlakukan tidak manusiawi oleh orang orang itu, dia sekarang sedang duduk di pinggir jalan, bersandar di tekat tiang listrik yang lokasinya tepat berada di depan rumah nya itu.
"Brukk.. bruk..!" Bunyi sesuatu jatuh ke tanah, benda yang jatuh ke bawah tanah tersebut tidak lain adalah sebuah bungkusan kain lusuh yang membelit barang di dalamnya. Sekarang di depan mereka terdapat 3 buntalan kain lusuh yang lumayan besar yang mungkin itu adalah bungkusan pakaian mereka.
"Bawa buntalan itu, dan nikmati kemakmuran serta kesombongan kalian di jalanan. Renungkan bahwa selama ini, kalian telah menganggap orang lain hina, parasit, pecundang, kampungan, laki laki yang tidak berguna. Dan sekarang, rasakanlah apa arti dari omongan kalian dulu ke pada orang yang dulu perlakuan seperti itu.
Brakk...!" Pintu gerbang di tutup dengan kerasnya, sehingga menyisakan kebisuan bagi orang orang yang telah terusir dari rumah mereka sendiri.
Seketika itu, nenek Robin terduduk lemas tidak berdaya. Tubuh yang sudah mulai rentan tidak dapat lagi ia tahan, dan tidak mampu menahan dinginnya udara di luar. Di tambah lagi sekarang ini, dia sudah tidak mempunyai tempat tinggal lagi.
Menantu putra dan Tiara istri dari Kevin mereka berdua hanya bengong saja, tidak berusaha untuk menolong anak nya apa lagi ibunya. Mereka sibuk dengan pikiran masing masing, sehingga tiba tiba terdengar suara teriakan yang begitu sangat keras dari nenek Robin.
"Apakah kalian semua telah menjadi orang orang yang tidak berguna, sama seperti Vino!?" si laki laki kurang ajar itu ha!" Nenek Robin marah pada Kevin dan Tiara. Dari matanya mengalir air mata penyesalan, tapi entah apa yang disesalkannya. Kevin dan Tiara yang di bentak baru menyadari nya, bahwa ibu nya telah menangis. Buru buru mereka mendekatinya, dan berusaha untuk menolong ibunya untuk berdiri.
"Tidak ku sangka, nasib ku akan berakhir seburuk ini."
Rumah yang telah di beli oleh Almarhum suamiku, sekarang telah di rebut oleh manusia yang memiliki sifat kejam dan serakah itu."
Sambil berjalan dengan di papah oleh Kevin, dia pun bergumam seperti itu. Kemudian melanjutkan berkata:
"Aku harus membalaskan rasa sakit hatiku ini pada mereka semua." Gumamnya pelan.
__ADS_1
Tiara yang sudah berdiri tegak sejak nenek Robin berteriak tadi, sekarang tengah di papah oleh Kevin sambil bersungut-sungut dan meracau tidak menentu. Kondisi keempatnya persisis seperti gembel, yang terlunta lunta di jalanan. Mobil dan kendaraan lain yang lalu lalang di jalanan, pengendaranya pun sedikit pun tidak mau menoleh ke arah mereka.
"Ibu, sekarang kita mau pergi kemana?" Tanya Kevin tiba tiba.
"Percuma kamu sebagai menantu ku, tapi tidak bisa berbuat apa apa di saat seperti ini. Kau berfikir lah, gunakan akal sehat mu itu. Berfikir bagaimana kita dapat berteduh."
"Lihat, langit sudah mulai mendung, pertanda akan turun hujan, cepat bawa nenek dan lainnya untuk berteduh!".
"Itu ada gazebo yang kosong, mari kita kesana." Ujar nenek Robin senang. Dia sudah sangat yakin sekali bahwa mereka bisa kesana untuk sekedar berteduh dari hujan yang akan turun dengan derasnya.
Bergegas keempat nya berjalan menuju gazebo yang kosong itu. Tapi begitu mereka duduk, datang 3 orang yang mengenakan pakaian layak nya seorang pelayan sambil berteduh di bawah payung yang mereka bawa
"Selamat sore... Apa ada yang bisa kami bantu?" Tanya pelayan itu sesopan mungkin.
Tanya Tiara menjawab pertanyaan mereka.
"Maaf, ini bukan tempat untuk berteduh secara geratis, ini Cafe, dan bagi yang duduk di sini ia harus pelanggan yang sudah memesan makanan di Cafe ini. Apakah kalian akan memesan sesuatu.?" Tanya pelayan itu masih dengan sikap hormat.
"Tolong lah, kamu tidak ingin memesan sesuatu, kami hanya ingin berteduh saja, mohon izinkan nona." Kali ini nenek Robin yang menjawab.
"Kalau tidak memesan sesuatu, alangkah baik nya kalian semua tinggal kan tempat ini, karena ada 3 orang yang akan menempatinya." Jawab pelayanan itu sudah mulai ketus.
"Jangan kurang ajar ya.!" Kau tahu nenek siapa itu? dia nenek Robin orang terkaya di kota Y ini." Tiara tidak tahan lagi untuk tidak bersuara, setelah mendengar perdebatan yang amat sangat panjang mereka itu.
__ADS_1
"Kalau kalian benar benar orang kaya, tidak mungkin kalian basah kuyup begini."
"Mana mobil kalian!?" Tangkis pelayanan itu ketus. Kemudian, melanjutkan berkata:
"Dasar gembel..!"
"Cepat pergi dari sini, sebelum saya panggil pihak keamanan disini untuk mengusir kalian semua." Bentak pelayan itu, sambil menutup payung nya.
Dengan payung itulah, ketiga pelayan tersebut telah mengusir mereka berempat, untuk segera meninggalkan gazebo tersebut. Dengan di paksa dan di dorong keluar dari sana layaknya seperti sekelompok pengemis.
Miris. Benar benar miris!
"Kalian sungguh tidak punya hati dan perasaan!, sedikitpun rasa kasihan melihat tubuh ibuku yang suda kedinginan ini." Teriak Kevin marah. Baru kali inilah dia bersuara, dalam membela ibunya yang tengah di dorong seperti itu.
Mendengar pembelaan seperti itu bukan membuat pelayan tersebut menjadi iba, tetapi malah emosi dan mengeluarkan kata kata kasar dengan mimik mengancam dan menghina.
"Cepat pergi dari sini!". Kalau tidak, saya akan memanggil security untuk segera mengusir kalian dari sini.!" "Dasar gembel.!"
"Sudah la Kevin, mari kita pergi, lagi pula mbak ini benar, ini bukan tempat umum, yang sembarang orang bisa masuk, kalau tidak memesan makanan di sini." Ujar nenek Robin pada menantu nya Kevin. Dan setelah itu mereka sudah mulai mengalah dengan situasi yang memanas.
Sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, mereka memutuskan untuk pergi dari situ secepatnya. Bagai sebuah sinetron yang telah di usir dari tempat manapun, di tengah jalan, pasti turun hujan. Hal itupun juga terjadi pada mereka berempat. Tapi kali ini, hujan yang turun adalah hujan beneran, dan ini bukan sinetron, tapi benar benar nyata yang telah menimpa mereka.
Maka sekarang, jadilah mereka gelandangan yang terbuang, yang tidak satupun orang peduli akan nasib mereka berempat. Sungguh benar benar sangat teragis dan kasihan setelah melihat mereka terlunta lunta seperti itu di jalanan. Di tambah lagi derasnya air hujan yang membasahi baju mereka.
__ADS_1
Setiap kali ingin berteduh di emperan tokoh, selalu saja mereka di usir dari sana dengan kasarnya seperti di sengaja oleh pemilik pemilik tokoh tersebut. Sedang orang lain bebas saja berteduh, lalu ada apa sebenarnya?