
Tak lama setelah Vino mengucapkan perintah itu, orang orang yang di perintahkan oleh Vino tadi, untuk tidak menampakkan diri, tiba-tiba keluar dari persembunyiannya dan langsung membentuk formasi mengepung dari segala arah, sehingga posisi Vian dan anak buahnya, sekarang berada di tengah-tengah.
Vian yang melihat akan kejadian itu, tentu saja sangat terkejut, dia tidak menyangka Govin akan membawa pengawal sebanyak itu.
Vian masih tetap menyangka, bahwa orang orang yang mengepungnya tersebut, tak lain adalah para pengawal Govin, dan dia tidak habis pikir, bagaimana caranya Govin mendapatkan orang-orang seperti itu.
Dalam pandangan Vian, dan seluruh anak buahnya, orang-orang yang barusan keluar tadi terlihat sangat kuat, walaupun mereka tidak kelihatan memegang senjata, tetapi tampaknya mereka masih tenang-tenang saja, dan tidak ada rasa takut dan gugup sedikitpun.
Menyadari posisinya yang di kepung, Vian masih mempunyai keyakinan, bahwa orang yang di bawanya itu, akan mampu dalam menghadapi orang yang sedang mengepung mereka.
Dengan lantang Vian memberi perintah kepada seluruh anak buahnya, untuk bergerak dan menghabisi orang orang yang di sangka adalah para pengawal Govin itu.
Ketika perkelahian akan pecah, tiba-tiba terdengar sebuah suara dari belakang orang yang mengepung Vian tersebut.
"Berhenti.!" Teriak sebuah suara yang cukup keras dari arah belakang mereka. Spontan Vian dan anak buahnya berhenti, dan mengalihkan pandangannya ke arah orang yang barusan tadi bersuara
Dan alangkah terkejutnya Vian, apa lagi ratusan anak buah yang di sewa oleh nya. Ke 150 orang itu, tentu saja mengenal itu siapa yang barusan tadi berteriak tersebut.
Serempak mereka mundur, dan keluar dari kelompoknya Vian, lalu membentuk barisan sendiri, dan menunduk takut-takut sambil berkata.
"Bos.!" Ucap mereka serempak
"Buk! Plak! Poum! Des!"
"Bammm..! Bammmm..!"
__ADS_1
Hanya Sura itu yang terdengar di lokasi tersebut, ketika dengan marahnya Vian melampiaskan kekesalannya, pada puluhan anak buahnya, yang berada di paling depan, dalam barusan tersebut.
Aura kemarahan nya benar-benar terasa, dia tak menyangka, bahwa mereka akan mau diperalat oleh adik sepupu nya sendiri, walaupun sejatinya mereka telah di bayar dengan harga yang sangat tinggi
Tetapi dalam kasus ini, Vian tidak berani melakukan apa-apa, karena ia menyadari, apa yang akan terjadi padanya juga anak buahnya nanti. Jadi untuk menunjukkan keseriusannya tersebut, Vian dengan ganasnya menghukum anak buahnya sendiri, sebelum Vino sendiri, yang akan menghukum mereka.
Tanpa rasa ragu sedikitpun, dia melaksanakan hukuman sesuai versinya sendiri, terhadap perbuatan anak buahnya itu. Dengan beringasnya dirinya menendang, menerjang, memukul, menampar anak buahnya sendiri dengan sangat keras sekali.
Akibat tindakannya tersebut, belasan bahkan puluhan anak buahnya tumbang, terkapar di tanah, akibat terkena pukulan yang cukup keras dari bos nya sendiri.
Govin yang melihat kejadian tersebut menjadi terpana, dan terdiam, dia tidak menyangka, bahwa Vian akan datang ke tempat itu secara tiba-tiba, dan langsung memukul anak buahnya sendiri, hingga terluka amat sangat parah.
Kemudian dengan terbata-bata dia berkata.
"Ka.. k... Kakak...! Kenapa kau ada disini?, dan kenapa kau justru memukul anak buahmu sendiri.? Tanya Govin keheranan
"Kau tahu, akibat apa yang akan aku alami setelah ini!?, dasar brengsek...!" Sambung Vian lagi, dan benar-benar marah kepada Govin.
"Kakak,! bukankah aku sudah mengatakan, bahwa aku meminjam anak buahmu untuk merebut kembali tanah ini." Tanya Govin membela diri.
"Apa kau bilang!?. Kau menggunakan anak buah ku untuk merebut tanah yang bukan milik mu ini.! Apa kau masih waras?, dan apa kau tahu, apa yang telah kau ucapkan itu?". Tanya Vian geram.
"Apa maksudmu kak?. Tanah ini memang seharusnya menjadi milikku, karena bagaimanapun juga, dulunya aku berkerja sama dengan si pemilik sebelumnya. Jawab Govin enteng.
Jadi, sedikit banyaknya, aku memiliki hak terhadap tanah ini, karena dulu aku juga menanamkan modalku pada perusahaannya." Sambung Govin lagi, semakin tak tahu malu.
__ADS_1
"Kau bilang apa!?, apa aku gak salah mendengar nya?. Apa yang telah kau lakukan padanya!?" Sanggah Vian semakin marah kemudian berkata lagi.
"Kau dengan tak tahu malunya mengklaim, bahwa tanah ini adalah milikmu juga, tapi tahukah kau? Kau adalah penghianat bajingan yang selama ini aku kenal.!" Ucap Vian meluap-luap, sambil mengepalkan tangan kanannya erat-erat.
Tapi dasar manusia tidak tahu malu, walaupun sudah di caci dan di maki oleh saudara sepupunya sendiri, Govin masih tetap menjawab dengan keyakinannya yang tinggi.
"Kakak,! aku telah menyewa 175 anak buahmu dengan bayaran yang lumayan cukup tinggi. Aku tidak mau rencanaku gagal, hanya gara-gara perihal masalah sepele seperti itu." Ujarnya.
"Tutup mulutmu bajingan! Tak tahukah kau, sekarang ini kau sedang berhadapan dengan siapa?. Tanya Vian sangat emosi.
"Aku tidak perduli dengan siapa saya berhadapan, tetapi aku hanya perduli, bahwa tanah ini, biar bagaimanapun caranya, harus menjadi milikku. Jawab Govin tidak mau kalah.
"Dasar brengsek." Ucap Vian marah, sambil berlari dengan cepat ke arah Govin, kemudian...
"Plak..! Plak...! Plak...! Buk...! Des..!"
Pukulan bertubi-tubi telah di layangkan oleh Vian ke tubuh Govin, hingga membuat nya jatuh tersungkur ke tanah. Terlihat dari sudut bibirnya mengucur darah segar keluar, akibat terkena tamparan dari Vian yang cukup kuat ke wajahnya
Masih dalam posisi duduk di tanah Govin berkata dengan intonasi tinggi. "Kakak!... Selama ini aku menghargai keberadaan mu, tapi tidak aku sangka, pada hari ini, kau telah mencelakai saudaramu sendiri." Ucap Govin marah.
"Apa kau bilang!, saudara?. Tahu kah kau!. Aku tidak pernah mempunyai saudara bodoh, sepertimu, dan aku malu telah menjadi salah satu dari pada sepupumu!" Jawab Vian terus terang.
Dia melakukan itu, karena dia sadar, bahwa kemarahan Vino akan jauh lebih mengerikan dari pada kemarahan siapapun. Karena dia tahu betul bagaimana sifat Vino, yang sesungguhnya.
Dia orang yang tidak mau di singgung dan di hina oleh siapapun sekarang ini. Atas pertimbangan itulah, maka Vian dengan geramnya menghajar Govin, yang di anggapnya telah menjerumuskannya ke jurang kematian yang sangat dalam.
__ADS_1
Anak buah Govin, yang melihat kejadian itu, tidak bisa berbuat apa-apa, karena mereka menyadari, bahwa Vian lebih mengerikan dari pada Govin sendiri.
Tapi belasan orang yang berpakaian kesatria, yang saat ini masih tetap berada di motor CRF nya menjadi geram, walaupun mereka sendiri tahu siapa Vian itu, tetapi mereka telah di bayar dengan bayaran yang sangat tinggi oleh si Govin untuk melindungi nya