
Seketika itu nenek Robin tercekat, dan menelan saliva nya dalam dalam, tapi hanya itu yang bisa di lakukan nya. Mau marah, tapi takut terkena pukulan lagi.
Jadi dia lebih memilih diam, ketika melihat cucunya di pukuli sampai terjatuh. Hingga membuat pakaian pesta yang dikenakannya menjadi kotor, begitu juga dengan pakaian Brayen yang terkena darah nya sendiri.
Ibu dan ayah nya Anggeline yang berada di situ pun juga ikut gemetaran, tapi keduanya tidak bisa berbuat apa apa di depan mereka. Mereka juga takut akan keberingasan orang orang itu.
Tidak mau mengalami peristiwa lebih buruk lagi, nenek Robin pun berbicara kepada mereka.
"Tolong ampuni cucu saya tuan. Tolong beri muka pada nenek yang tua ini. Kami sungguh sungguh tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi di sini."
"Kami mohon penjelasan. Kenapa kalian memukuli cucuku? padahal hari ini adalah hari bahagia mereka."
Ucap nenek Robin mencoba menengahi pertikaian itu.
"Kamu ingin tahu, kenapa si Brayen, Tiara ,Prily, Vian, dan juga Anggeline di perlakukan seperti itu." Tanya Novita menggantungkan perkataan nya.
Hening sesaat, tak seorang pun yang berani berbicara, tapi tak lama sesudah itu, nenek Robin angkat bicara.
"Tolong beri muka kepadaku. Aku kepala keluarga Robin. Keluarga No 2 di kota Y ini." Ucapnya mencoba menyombongkan diri. Berharap agar orang orang yang mendengarnya menjadi takut, dan berpikir dua kali untuk berurusan dengan nya. Tapi apalah daya, Novita yang mendengar itu hanya tersenyum meremehkan, lalu melanjutkan perkataannya, kali ini adalah puncak penentuan akan takdir dari keluarga mereka, terutama bagi Brayen dan Anggeline.
__ADS_1
"Pertama, kalian dengan sengaja nya menghina seseorang yang seharusnya tidak boleh kalian singgung. Karena dia terlalu mulia dan suci akan hal itu. Apa lagi kalian telah berani mencari masalah dengan nya."
"Kedua, Brayen dan Anggeline! Kalian berdua telah terbukti bersalah, dengan diam diam menggelapkan uang perusahaan untuk keperluan pribadi."
"Ketiga, atas tuduhan yang sudah seratus persen terbukti itu, maka mulai hari ini, kalian berdua telah di pecat dari perkerjaan dan jabatan kalian di perusahaan
Kizawa Prataxsa Group. Dan di wajibkan bagi kalian untuk mengembalikan uang yang telah kalian gelapkan itu, dengan menyita semua aset aset kalian berdua."
"Ke empat, memberi izin kepada pihak kepolisian, untuk segera mengamankan kalian berdua. Dan menyeret kalian ke dalam sel tahanan, hingga membusuk di sana."
"Poommm...!"
Brayen, Anggeline, Tiara, Nenek Robin, Abram, dan Ibu nya Anggeline. Seketika itu mereka semua sangat terkejut atas pemberitahuan itu. Brayen mencoba berbicara kepada Novita untuk memberikan testimoni kepada nya.
"Nona Novita, tolong beri muka kepada kami berenam, juga keluarga Robin. Hari ini adalah hari bahagia kami, lagi pula kami tidak tahu siapa orang yang telah kami singgung dan provokasi itu."
"Aku juga tidak pernah menggelapkan uang perusahaan, apa lagi Anggeline istriku. Jadi tidak ada alasan bagi nona untuk menangkap kami."
Brayen berkata seperti itu, karena ia menyadari, bahwa uang perusahaan yang telah di gelapkan nya, telah terendus oleh pihak otoritas perusahaan, tapi dia masih mencari alasan yang di anggapnya masuk akal agar dia dan Anggeline terlepas dari tudingan itu. Tapi Novita tetaplah Novita, dia tidak bergeming sedikitpun mendengar testimoni Brayen yang di tunjuk kan padanya, dia tetap dengan pendiriannya. Bahwa Brayen dan Anggeline bersalah, karena telah menggelapkan dana perusahaan dalam jumlah yang sangat sangat besar itu.
__ADS_1
Tidak mau kalah, si otak jenius mengambil peranan nya sebagai hackers, dan meretas sistem penyiaran dokumentasi pesta Brayen dan Anggeline. Dan tiba tiba sebuah layar putih besar yang ada di dinding seketika menyala, dan menampilkan sebuah cuplikan video, di mana Brayen dan Anggeline, sedang memberi arahan pada manejer ke uangan untuk segera mentransfer sejumlah uang ke rekening mereka berdua, dan masih banyak lagi potongan potongan peristiwa tentang mereka berdua.
Brayen dan Anggeline tercekat diam. Tidak bisa berkata apa apa lagi, bukti telah terpampang sangat jelas di hadapan mereka semua. Lemas sudah seluruh tubuh mereka berdua, dan tidak menyangka hari bahagia nya mereka berubah dengan mala petaka yang mereka tuai sendiri.
"Tunggu apa lagi, cepat tangkap mereka berdua.! Dan bawa ke kantor polisi untuk segera di lakukan interogasi!" Teriak Novita lantang, memerintahkan kepada beberapa orang petugas, yang tidak menggunakan pakaian dinas. Ternyata mereka sudah berada di sana cukup lama, menyamar sebagai tamu undangan.
Tubuh Brayen gemetar, apa lagi Anggeline. Nenek Robin pingsan, Tiara juga gemetaran, Prily juga pingsan seketika. dan beberapa anggota keluarga besarnya lemas dan terjatuh ke bawah sambil menangis sesenggukan. Mereka takut terseret akan masalah.
Petugas yang mau menangkap Brayen dan Anggeline di halang halangi oleh ayah nya Anggeline Juga beberapa anggota keluarga nya, tapi apalah daya, tenaga mereka kalah jauh dengan orang orang itu. Sekali tolak, tubuh mereka seketika ambruk ke lantai. Mengaduh, menangis kesakitan. Akhirnya Brayen dan Anggeline di bawa pergi oleh pihak kepolisian untuk segera di lakukan interogasi.
Tiara yang sedari tadi bersikap arogan, sekarang bagai tikus yang terkena perangkap. Dengan tubuh kaku, lidah kelu, dia berdiri gemetar, sehingga tidak terasa, ada rasa panas di ************ nya, ternyata dia ngompol. Karena rasa takut yang teramat sangat mengerikan itu.
Tiara dan Prily yang tidak berdaya itu, di bawa keluar oleh orang orang Winds, begitu juga dengan nenek Robin yang pingsan. Sedangkan Tiara, masih di tahan di ruangan itu, Vino hanya diam dan malah asyik menikmati hidangan yang sangat banyak di atas meja
yang tersedia di sana.
Sekilas Tiara memandang ke arahnya dengan pandangan kebencian yang besar. Gara gara dia, pesta yang tadinya akan segera di mulai : 15:30. WIB. Jadi hancur berantakan. Tapi, apa yang mampu di perbuatnya saat ini. Orang orang Vian saja tidak berkutik sama sekali. Mereka masih saja berlutut di lantai, tidak bergerak, tidak bersuara menunggu nasib apa yang akan menimpa nya.
"Bukan kah kau tadi sangat jumawa? Mana kesombongan mu itu Tiara?" Tanya Robin sambil menatap tajam pada mata Tiara. Hingga membuat nya mundur kebelakang, tapi naas dia justru menabrak tubuh Vian yang sedang berlutut itu, hingga terjatuh. Vian dalam hati nya sangat marah pada Tiara, kalau saja saat ini, dia sedang tidak ingin mencabik- cabik tubuh Tiara menjadi beberapa potong.
__ADS_1
Saat itu tubuhnya masih gemetar akibat menahan marah, telapak tangan nya terkepal erat, pertanda ingin memukul Tiara, untuk melampiaskan kemarahannya. Kemudian, dia mencoba memberikan diri untuk mengangkat wajahnya ke arah Winds, seperti meminta izin padanya untuk melampiaskan kemarahannya pada Tiara.