
Mengetahui akan kesuksesan diri Vino sekarang, mereka pun memiliki niat busuk, untuk memanfaatkan kedatangan Vino pada saat itu. Tanpa berfikir panjang lagi, nenek Robin yang memiliki sifat licik dan serakah itu, ia pun mengusulkan sebuah ide jahatnya dengan berkata:
"Aku ada ide!." Sambung sebuah suara yang secara tiba tiba menengahi pertikaian Vino, dengan Brayen.
"Hei Vino!, ingat satu hal. Dulu kau pernah menumpang makan pada kami, dan tinggal bersama kami juga selama dua tahun lebih, dan kau juga pernah menjadi menantu bagi putri saya Anggeline, maka kau harus mengganti apa yang telah kau makan, dan kau tumpangi itu." Ucap nenek Robin senang. Tidak berhenti di situ saja, dia kembali mengucapkan kata kata licik kepada Vino.
Serahkan mobil, kunci, dan surat suratnya kepada ku. Lumayan bisa di jual, dan uang nya bisa aku pergunakan untuk belanja, membeli rumah dan lain sebaginya." Sambung nenek Robin semakin senang.
Brayen yang otak nya sangat kotor, dan hati yang penuh dengan kedengkian, menyetujui apa yang nenek mertua nya ucapkan tadi. Dengan kegembiraan yang meluap luap lalu ia pun berkata tanpa rasa malu: "Benar itu, Nek. Si brengsek itu, wlaupun hidupnya sekarang sudah kaya, tapi dia tetap saja masih berhutang pada keluarga kita."
"Maka dari itu, sangat di wajibkan bagi dia untuk membayar segala hutang hutangnya, dengan cara memberikan mobil mewah nya itu kepada kita."
"Kalau dia menolak, akan ku patahkan kedua tangan nya." Ucap Brayen dengan sikap sombong nya.
Dia lupa, akan siapa Vino yang sesungguhnya.
Prily yang sedari tadi lebih memilih untuk diam, seketika itu ia pun mulai mencoba untuk ikut ikutan, dalam niat memberi sebuah dukungan kepada ibu mertua nya dengan tersenyum.
"Aku setuju bu, jika si tikus sialan itu, harus mengembalikan apa yang telah ia makan. Dan membayar uang sewa, selama 2 tahun lebih tinnggal bersama di rumah ibu." Ucapnya sambil menjilat.
Kevin yang biasanya hanya diam saja, kali ini dia benar benar mati kutu, tidak bisa berkomentar apapun, tetapi tiba tiba perutnya di sikut oleh istri nya, agar ikut berkomentar, maka mau tidak mau diapun berkata.
"Kami sebenarnya tidak tahu bagaimana kau bisa memiliki mobil itu, padahal selama ini kau di kenal sebagai gembel, parasit, pecundang, laki laki sampah yang tidak berguna."
"Tapi, pada hari ini, dengan mata kepala kami sendiri, kami melihat, bahwa kaulah yang mengendarai mobil mewah itu, dan kami tidak tahu apa tujuan mu datang kemari."
__ADS_1
"Untuk menghargai, dan juga menghormati mantan nenek mertua mu itu, maka serahkan mobil itu kepada nenek, jika tidak?..." Ucap Kevin menggantung.
Vino yang mendengar kata kata tersebut, hanya bisa tersenyum sinis, kemudian ia berkata:
"Sekarang aku baru tahu, ternyata ada gembel mantan orang kaya, yang masih tetap saja serakah, walaupun sudah jatuh miskin." Ucap Vino memprovokasi mereka, lalu melanjutkan berkata:
"Aku ingin lihat, sampai di mana kekuatan kalian untuk merebut mobil mewah ku itu." Tambah Vino lagi.
"Dan satu hal yang harus kalian catat, dan kalian ketahui, kalian tidak perlu susah paya mencari tahu, bagaimana aku bisa bangkit dari keterpurukan ku, setelah kalian campakkan aku dari rumah kalian, dan kalian telantarkan aku di jalanan." Ucapnya sambil menahan marah.
"Sekali Vino, maka seterusnya tetap lah menjadi seorang Vino. Apapun yang telah di ucapkannya, akan tetap di laksanakan, walau sesulit apapun." Ucap nya mantap, dan tidak kenal akan rasa takut.
Brayen yang mendengar ucapan tersebut, seketika emosinya menjadi naik, begitu juga dengan yang lain. Dengan geram ia berkata: "Berani nya kau, berbicara seperti itu kepada nenek.!" Ucapnya masih dengan sikap sombong, sambil mengarahkan jari telunjuk nya ke arah Vino.
Vino yang menjadi sasaran tunjuk itu, dengan santai ia berkata: "Dan kau sang pengantin malang, sudahlah acara pesta mu berujung tragis, di tambah lagi hidup mu dan keluarga mu sekarang hancur berantakan, setelah itu kau di tangkap oleh pihak kepolisian. Hari ini kau masih saja bisa berkoar koar, dan mencoba mengancam ku.!" Jangan mimpi kau!. Ucap Vino merendahkan Brayen.
"Kurang ajar kau!!." Ucapnya marah, sambil berlari kencang ke arah Vino. Dan mencoba melesatkan sebuah pukulan ke arah wajah Vino, akan tetapi....
Plak.. Bukk.. plak... buk..!
Aaaaarrrghhhhhkk...!" Teriak Brayen kesakitan, dengan tubuh terdorong mundur beberapa langkah ke belakang.ulut nya seketika mengeluarkan darah segar, akibat terkena tamparan oleh Vino. Badannya sedikit membungkuk, karena merasakan sakit yang teramat sangat nyerih di perutnya, akibat terkena tendangan yang cukup lumayan kuat dari Vino.
Tiara yang melihat kejadian itu seketika menjadi emosi, dan berteriak marah dengan memaki Vino, tanpa memikirkan lagi perasaannya.
"Dasar keparat kau!. Anjing saja kalau di kasih makan, akan tetap setia kepada tuannya, tapi kau lebih hina dari pada anjing itu." Teriak Tiara benar benar marah.
__ADS_1
"Benar..!" Kau itu lebih menjijikkan dari pada seekor anjing. Percuma kami selama ini memberi kau makan, memberi kau tempat tinggal, ternyata kau adalah binatang yang tidak bisa membalas budi.!" Sambung Prily juga emosi.
Vino yang di hina habis habisan, oleh mantan keluarga nya, menjadi sangat marah, ingin rasanya dia merobek mulut kedua perempuan tersebut, tapi pantang baginya untuk menjatuhkan tangan kepada perempuan, kalau tidak terpaksa.
Namun emosinya sudah tidak bisa tertahankan lagi, dengan tenang dia berjalan mendekati Brayen, yang saat ini bukan sedang menunduk, tapi sedang berlutut di tanah sambil meringis kesakitan.
Brayen tidak menyadari kedatangan Vino, tiba tiba saja dia merasakan kerah baju bagian belakangnya, di tarik oleh Vino dengan keras, sehingga wajahnya mendongak ke atas mengarah kepada Vino.
Sementara dia memfokuskan diri, untuk melihat siapa yang telah berbuat seperti itu kepadanya, tiba tiba tamparan yang sangat kuat menimpa wajahnya, sehingga membuat dia terjatuh, dan berguling-guling di tanah. Tak cukup sampai di situ, Vino kembali menyiksa Brayen, dengan menendang bagian perutnya kuat kuat, hingga menambah penderitaan Brayen semakin menjadi jadi.
Nenek Robin, dan Kevin tidak bisa berbuat apa apa, apa lagi Prily, dan Tiara. Mereka sudah tahu akan kekuatan Vino, kalau mereka maju membantu Brayen, maka mereka juga akan di siksa oleh Vino dengan kejamnya.
Dengan mata kepala sendiri, mereka menyaksikan, bagaimana Vino dengan tega dan tanpa blas kasihan, menganiaya Brayen, yang tubuhnya sudah terluka, lemas, dan sempoyongan menahan kesakitan itu.
Tamparan, dan tendangan Vino, yang cukup kuat tadi, berhasil membuat tubuh Brayen terbang menjauh, dengan luka yang semakin parah. Darah segar masih tetap keluar dari mulutnya yang bengkak, 3 giginya tercabut dengan paksa akibat terkena tamparan maut itu.
Setelah selesai menyiksa Brayen, Vino mengalihkan pandangannya ke arah mereka berlima, hingga membuat tubuh mereka gemetaran, lutut seketika menjadi kaku, seperti tidak bisa di gerakkan lagi.
Seperti tadi, dengan tenang dan mulut menyeringai, seperti psikopat, Vino melangkah perlahan mendekati mereka berlima, setelah dekat, dia menatap keempatnya dengan tatapan mata yang mengancam.
Nenek Robin. Kevin, Prily, Asyila, semakin ketakutan, tubuh kelimanya tidak mampu untuk di gerakkan, akibat aura kematian yang di pancarkan oleh mata Vino.
Sekitar 2, 3 menittan hal itu berlangsung, Vino masih tetap.tidak bersuara. Dia hanya menatap mereka berlima dengan tatapan kebencian yang sangat teramat dalam.
Mendapat tatapan yang mematikan itu, Asyila mencoba memberanikan diri, dan kemudian berkata:
__ADS_1
"Mau apa kau!?.." Teriaknya sangat kuat dan takut-takut.