
Seperti biasa sepulang sekolah Ana mulai kembali bekerja di tempat nya yang dulu, awal nya Ana menelpon teman kerja nya disana dan teman nya itu memberitahu Ana jika dirinya di terima kembali. Rasa syukur tak pernah henti-henti nya Ana ucapkan
Pesanan demi pesanan telah Ana antarkan ke para pengunjung yang datang
"aku seneng An, kamu balik lagi kerja di sini, " ucap salah satu teman Ana
"aku juga seneng bisa kerja kesini lagi," balas nya dengan ramah
"sepi banget tau An, pas kamu ga ada, aku aja gampang bete,"
"masa si segitu nya?"
"gapercayaan banget si jadi orang, kita kenal kan udah setahun lebih An,"
"iya iya percaya, aku jadi makin seneng punya temen kaya kamu. Soalnya.. di sekolah aku ga punya temen, kecuali ... Danil,"
"gapapa An, Danil udah cukup dari segalanya, kamu beruntung banget bisa deket sama Danil,"
~~
tok tok tok
Sebelum pulang kerumah, Arka menyempatkan pergi kerumah Ana terlebih dahulu, sebab seharian ini dirinya tidak bertegur sapa dengan Ana sama sekali, alih-alih dirinya takut jika Ana benar-benar marah padanya. Padahal kan kalo tidak cinta... ngapain harus takut ya? Demi menjaga hati Stella, Arka tega menyakiti perasaan Ana.
Tidak ada sahutan sama sekali oleh si pemilik rumah, jika dirinya masuk ... ia merasa tidak enak dan kalo pun menunggu dirinya tidak yakin pintu di depan nya ini akan terbuka, sebab ibu Ana kan lumpuh, sehari-hari nya hanya bisa terbaring di atas kasur.
Soal Stella, Arka menyuruh nya untuk pulang bersama Gavin, karena hati teman-teman nya akan bermain di rumah Arka. Sejujur nya Arka tidak memberi tahu siapapun jika dirinya akan ke rumah Ana, karena Arka takut menyakiti hati Stella. Lagi dan lagi hanya Stella lah yang di jaga hati nya, sedang kan Ana? tidak. Alih-alih Arka berbohong kepada teman nya untuk berkunjung ke suatu tempat terlebih dahulu, mau tidak mau teman-teman nya itu pun percaya saja dengan Arka.
"apa Ana belum pulang? terus sekarang dia kemana?" Arka bermonolog sendiri
"ga mungkin kan lagi sama si kutu Danil?"
"ini ga boleh di biarin! Ana ga boleh deket-deket lagi sama si Danil! ga boleh !!"
__ADS_1
Benar-benar ya Arka jahat banget, bukan hanya kebahagiaan Danil saja yang di renggut, tapi juga kebahagiaan Ana. Kedua nya sama-sama tersakiti dalam bentuk cara yang berbeda.
Chat maupun telepon Arka pada Ana tidak ada yang di respon sama sekali," huft, lo kemana si An?"
"masa iya gue nanyain Ana ke si Danil?"
"ogah ah,"
"dari pada lama nunggu Ana yang ga tau pulang nya kapan ... mending nanti balik lagi deh kesini, kasian juga Stella di rumah,"
~~
Kamar Arka yang semula rapi, bersih, kini berantakan seperti kapal pecah, ah dasar ya jika teman-teman nya bermain.. selalu saja kamar nya yang menjadi korban.
"berasa rumah angker ini kamar gue, udah ga berbentuk," celetuk Arka yang baru masuk ke dalam kamar nya
"udah dateng aja lo Ar?" tanya Bayu
"gimana mau sadar? orang lo semua pada sibuk main ps," yap Bayu dan Gavin memang tidak pernah absen jika bermain ke rumah Arka, yang pertama di cari oleh mereka adalah ps." ngomong-ngomong... Stella mana?"
Arka tida mendapati Stella di dalam kamar nya, kemana perginya cewe itu?
"lagi ke dapur ambil cemilan," sahut Gavin yang masih fokus pada game nya
"lo beli apaan tuh?" tanya Bayu yang melihat Arka membawa sesuatu di belakang punggung nya
"kepo," Arka melangkahkan kaki nya menuju dapur untuk menemui Stella
"hai cantik," sapa Arka sambil memeluk Stella dari arah belakang," ngapain?"
"mau ambil cemilan Ar, kapan pulang?"
"baru aja, nih buat kamu," Arka memberikan beberapa tangkai bunga mawar merah yang indah dan harum
__ADS_1
Stella yang diperlakukan manis oleh Arka pun merasa senang, ia bahagia jika dengan Arka, hanya Arka yang selalu memahami dirinya." makasih Arkaaaaaaa," Stella memeluk erat tubuh Arka," kamu selalu bisa buat aku seneng Ar,"
"aku akan selalu buat kamu bahagia Stel, tapi .. aku juga bingung sama perasaan aku kepada Ana," ucap nya dalam hati sambil mencium puncak kepala Stella
Arka mau pun Stella memang menaruh perasaan yang sama, namun bedanya.. Arka yang tidak berani mengungkapkan perasaan nya, sebab takut merusak nama persahabatan, sedangkan Stella dengan setia menunggu Arka mengungkapkan perasaan nya.
"kita ke atas lagi yu Ar, ga enak sama mereka," ajak Stella
"ayo, sini biar aku aja yang bawa cemilan nya,"
ceklek
Dengan tidak sopan nya Arka melempar cemilan kepada kepala Bayu
"punya dendam apaan si lo Ar sama gue? tega bener," ujar nya se dramatis mungkin" ketawa lagi lo! asyu emang,"
"gue ga liat si Danil dari tadi Ar? kemana dia?"tanya Gavin yang penasaran tentang keberadaan Danil
"palingan juga jalan-jalan sama bokap gue, dia kan pinter banget nguras harta," celetuk Arka tanpa beban
"iya ya, dia sering bareng jalan keluar sama bokap lo," sahut Bayu," tapi aneh nya ga pernah bawa apa-apa kalo pulang?"
"jangan bahas dia, mood gue bisa hancur,"
"kita kan mau happy-happy disini, jadi jangan bahas yang bikin suasana ga nyaman oke?" timpal Stella," kamu juga Ar, gaboleh berfikiran burut sama Danil, ga baik tau, siapa tau mereka keluar karena ada urusan,"
"kalo emang ada urusan, kenapa sampe seminggu 2 kali Stel? Dan papah ga pernah cerita masalah apapun sama aku,"
"salah kamu sendiri yang terlalu acuh Ar,"
"ya harus nya papah punya inisiatif sendiri lah," Arka tetap tidak mau kalah,
Danil benar-benar pintar sekali mengambil simpati papah nya, hingga dirinya semakin terbuang jauh. Dikit-dikit Danil yang di cari, entah apa yang sudah Danil berikan kepada papah nya, hingga papah bisa sesayang itu.
__ADS_1