Posessif Arka

Posessif Arka
episode 56


__ADS_3

Mata indah nya memandang kosong ke arah jendela yang dengan jelas dapat melihat banyak nya gedung menjulang tinggi di sekeliling nya.


Ana dan ibu nya kini berada di Apartemen milik Danil dari hasil hadiah ulang tahun dari Papah nya 2 tahun yang lalu.


Danil memaksa Ana dan ibu nya tinggal di Apartemen. Semua yang Danil lakukan semata-mata hanya untuk berjaga-jaga terhadap sesuatu yang tidak di inginkan terjadi.


Setelah menimbang-nimbang permintaan Danil .. Ana pun mengiyakan, sebab diri nya juga takut jika si peneror itu berulah lagi.


Selain itu .. Ana juga berhenti bekerja, karena gosip di sekolahan nya menyebar luas kemana-mana, dan untung nya .. ibu Ana sangat pengertian, jadi .. Ana merasa dunia nya tidak hancur dengan sempurna.


Hari sudah sore, langit pun terlihat mendung, sama seperti suasana hati nya sekarang.


Rintikan hujan mulai turun membasahi bumi.


"Minum An," Danil membawakan secangkir teh hangat untuk Ana minum.


Sedangkan ibu nya berada di kamar seraya tertidur, karena hanya itulah yang bisa di lakukan oleh Ibu Ana selama ini. Meskipun begitu .. Ana tetap sangat menyayangi sang ibu tanpa tapi.


Ana menoleh ke arah Danil yang duduk di samping nya sambil melemparkan senyuman," Makasih, kamu terlalu banyak bantu aku Nil, tapi aku malah sering nyakitin kamu,"


"Harus nya kamu gausah peduli sama cewe yang ga tau diri kaya aku," lirih nya merasa malu dengan sikap Danil yang masih sama seperti dulu ia kenal.


Danil meraih tangan Ana dengan lembut, tangan nya Ana dingin, mungkin karena efek dari cuaca.


"Aku ga bisa untuk engga peduli sama kamu An, dan aku juga engga peduli sama semua yang udah terjadi" sorot mata Danil sangat teduh dengan penuh kehangatan.


Sudut mata Ana mengeluarkan air mata, dirinya terharu dengan sikap Danil yang sangat dewasa.


Ternyata Ana salah telah menyia-nyiakan cowo sebaik Danil.


Danil tidak pernah memarahi Ana sama sekali sedari dulu, cowo itu selalu menggunakan intonasi rendah dalam situasi apa pun.


Tapi dengan tega nya .. Ana justru berpaling dan malah jatuh cinta kepada cowo yang sering melukai hati nya yang tak lain adalah Arka.


"Maaf," cicit nya," Maaf Nil, aku cewe bodoh yang udah tega nyakitin kamu,"


"Ssstt," Danil mengusap air mata yang Ana keluarkan tanpa henti sedari tadi," Jangan di bahas lagi, ya? Aku gamau denger apa pun lagi,"

__ADS_1


"Cantik nya Danil gaboleh nangis, abis ini .. kamu harus banyak senyum, aku ga mau liat kamu nangis kaya gini lagi,"


Ana mengangguk pelan seraya mengiyakan,"Kamu manusia berhati malaikat yang pernah aku temui Nil,"


"Aku ga sebaik itu juga An, aku cuma manusia biasa yang engga luput dari kesalahan,"


"Kamu sempurna Nil, ga kaya aku," ucap nya yang tersenyum kecut


Danil tersenyum simpul dengan arti lain kepada Ana.


Danil tidak sesempurna yang Ana katakan, justru .. Danil menyimpan banyak luka yang di sembunyikan dari orang banyak.


"Kalo ada apa-apa langsung hubungi aku ya? Dan oh ya, aku udah siapin bahan makanan di kulkas untuk keperluan kamu dan ibu kamu selama sebulan," ujar Danil mengalihkan pembicaraan agar suasana tidak terlalu larut dalam kesedihan.


"Aku janji Nil akan ganti semua yang udah kamu kasih ke aku,"


"Apaan si An, aku ga butuh itu, yang aku inginkan ... kamu selalu ada di sisi aku selama aku hidup," ucapan Danil seakan memiliki arti lain di pendengaran Ana.


"Ta ..."


"Ga ada tapi-tapi an, cukup nurut aja sama aku, oke?"


"Sampai semua nya selesai, kamu sabar ya? Aku bakalan usut tuntas masalah ini, supaya kamu bisa beraktifitas kaya biasa lagi,"


"Tapi aku mau sekolah lagi Nil, mimpi aku seakan ga bisa aku gapai lagi sekarang,"


"Home schooling mau?" tawar Danil


"Hm?" seumur-umur, Ana tidak pernah membayangkan jika dirinya akan merasakan yang nama nya Home Schooling.


"Aku ga akan biarin siapapun untuk mengetahui keberadaan kamu sekarang ini An, jadi aku rasa .. kamu lebih baik Home Schooling aja, gapapa kan?"ujar nya," Sekalian .. supaya kamu bisa jaga ibu dengan leluasa,"


Meskipun ragu .. tapi Ana tetap mengiyakan tawaran Danil.


"Makasih Danil," balas Ana sambil memeluk Danil dengan erat, dirinya beruntung sekali di pertemukan dengan cowo seperti Danil.


"Udah ah, makasih mulu,"ucap nya sambil mencium puncak kepala Ana."Aku pulang ya? Soal nya udah mau malem," pamit Danil ketika melihat jam yang melingkar di tangan nya menunjukkan pukul 6 sore,"

__ADS_1


"Aku bakal sering-sering ke sini, kamu tenang aja,"


"Aku anter sampai depan ya?" tawar Ana


"Jangan!" tolak Danil mentah-mentah, sontak hal itu pun membuat Ana kebingungan." Nanti ada orang yang liat kamu An, aku gamau siapa pun melihat keberadaan kamu di sini, mengerti?"


"Aku langsung pulang, salam juga buat ibu kamu,"


"Hati-hati, dan makasih udah jadi pelindung terbaik buat aku,"


"Sebagai pacar .. aku memang harus melakukan itu bukan?" goda Danil sambil menaik turunkan kedua alis nya


Ana sampai menahan senyum akibat tingkah Danil yang membuat nya salah tingkah.


Sebelum benar-benar pergi .. Danil menyempatkan diri mengusap kepala Ana dengan sayang.


~~


"Abis dari mana?" Papah nya yang sedang sibuk membaca koran kini pandangan nya teralihkan menatap sang putra yang baru pulang, dan parah nya .. masih menggunakan seragam sekolah.


"Eh Papah, maaf pah Danil pulang telat, soalnya ada urusan dulu di luar,"


Papah nya mengangguk pelan dan tidak ingin bertanya lebih jauh lagi." Besok jangan lupa," ucap nya seraya mengingatkan


"Pah .." tatapan nya menjadi sendu dalam seketika


"Langsung pulang, jangan kemana-mana, ini demi kebaikan kamu,"


Ternyata percakapan sang Papah dan Danil terdengar oleh Arka yang berada di bawah tangga, karena niat nya ingin mengambil air minum ke dapur.


"Besok?" gumam nya yang tidak dapat di dengar oleh siapa pun," Ada apa dengan besok? Dan kenapa muka si Danil berubah lesu ketika mendengar kata besok?" sontak hal itu membuat Arka malah berpikir keras dan melupakan niat nya yang ingin ke dapur, alhasil ..niat mengambil minum nya Arka urungkan dan malah kembali menaiki tangga untuk menuju kamar nya.


Ketika sampai di depan pintu kamar nya .. Arka tidak langsung masuk, melainkan bersandar di tembok.


Arka teringat sesuatu, mungkin ucapan Papah nya itu adalah mengajak Danil pergi seperti biasanya, mereka kan selalu pergi seminggu dua kali, dan mungkin itulah yang Papah nya maksud.


Tapi yang menghantui pikiran nya adalah .. kenapa Danil tidak terlihat senang? Apa mungkin sudah bosen?

__ADS_1


Dari pada sibuk memikirkan hal itu .. lebih baik diri nya merebahkan diri di kasur tercinta nya.


__ADS_2